Harus Belajar Berani Mengatakan Tidak

Di usia senja ini saya jadi sering memperhatikan perilaku orang yang ada disekitar saya. Saya sangat ingin membahas, mengupas, bahkan menulis dengan baik mengenai perilaku orang-orang diseputar saya tersebut, tapi kendalanya saya bukan ahlinya, apalagi saya juga bukan seorang psikolog. Meski mungkin kupasan saya ngawur, tapi ingin berupaya mencoba menulisnya.

Nah, orang yang saya amati berusia 27 tahun, beristri, dan mempunyai dua orang anak masih kecil-kecil, adalah seseorang yang bekerja paruh waktu dengan saya jadi orang sederhana yang saya bicarakan ini, disamping bekerja kepada saya dia juga mempunyai pekerjaan tetap yakni sebagai salah seorang pembantu atau penjaga sekolah sebuah yayasan pendidikan. Disamping pekerjaan pokok sebagai pesuruh sekolah dan juga bekerja di saya, juga masih beberapa pekerjaan yang dia lakukan misal ngojek motor, berjualan ayam kampung, dan membantu istrinya bekerja di kebun. Perlu saya jelaskan disamping pekerjaan yang saya sebutkan tadi, juga dia sedang menyelesaikan belajar Paket C untuk SMA-nya. Sementar Paket B yaitu SMP baru saja diselesaikannya. Jadi saya melihatnya dia itu orangnya sibuk sekali.

Ada lagi, bahwa dia itu orangnya nrimo atas segala nasib yang menimpa dirinya. Saya juga ingin mengatakan bahwa dia itu tidak pernah mengeluh atas segala apa yang diterimanya. Dia selalu menceritakan hal-hal yang baik tentang cerita diri dan keluarganya. Dia tidak pernah mengeluh atas segala kesulitan yang menimpa dirinya. Walaupun saya tahu dia juga sebagai manusia banyak romantika hidup yang kadang menyedihkan.

Satu lagi, dia itu orangnya gampang kalau diminta tolong, dan jika diminta tolong oleh siapapun selalu sangup saja, selalu iya saja, meskipun kadang dia sudah super sibuk. Misal saya ingin memberi contoh karena dia bekerja sebagai pembantu di sekolah maka hampir semua guru jika perlu sesuatu pasti menyuruh dia karena orangnya jujur dan tentu saja bisa dipercaya. Disuruhnya bisa macam-macam dari minta tolong dibelikan nasi bungkus sampai mengambilkan konci punya salah seorang guru yang ketinggalan di tumahnya. Dia mau saja dan sanggup saja.

Karena sikapnya yang gampang disuruh dan dimintai tolong akibatnya dia sibuk sekali. Mungkin juga karena terlalu banyak tugas dan pekerjaan di pikirannya banyak bercabang atas tugas-tugas tersebut. Bahkan akibat dari itu dia sering lupa akan beberapa tugas yang diberikan kepadanya. Karena sebelum selesai pekerjaan yang satu sudah datang pekerjaan yang lain.

Saya juga melihatnya dia itu mempunyai sikap yang selalu ingin menolong orang lain, selalu siap saja, selalu oke saja, apabila diminta pertolongan orang lain.

Menurut saya dia harus membatasi tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Misalnya dia harus menyelesaikan tugas-tugas pokoknya yakni urusan misal kebersihan kelas di sekolah tempat dia bekerja. Kemudian ini,  seperti judul tulisan sederhana saya ini yakni harus berani mengatakan tidak terhadap suruhan-suruhan dari orang lain jika tugas yang lain sudah menumpuk.

Jikalau dia tetap “berperilaku” begitu nanti suatu saat dalam bekrja dia akan kedodoran, tidak fokus, bahkan kemungkinan akan banyak salahnya. Memang iya dari mudahnya dia disuruh, dia sering mendapatkan tip atau rizki lain yang dia dapatkan, sehingga nampaknya kalau kebutuhan-kebutuhan kecil untuk kehidupannya cukup terpenuhi.

Suatu saat jika ada waktu senggang saya sebagai orang tua ingin menasehatinya agar jangan terlalu sibuk dengan tugas yang tidak urgen, agar pekerjaannya bisa lebih baik lagi, lebih fokus, dan tidak banyak membuat kesalahan.

Advertisements

Buku Bacaan Bhs Sunda Zaman Doeloe

Dalam pengembaraan saya, hehehe.. di dunia maya sering melihat atau menemukan gambar buku-buku (meskipun hanya covernya) serta juga ilustrasinya, dimana bacaan itu sekarang sudah tidak ada lagi di pasaran. Oleh karena buku-buku tersebut pernah dilihat, diraba, bahkan sebagian besardari buku-buku tersebut pernah membacanya, jadi buku-buku lama tersebut tida pernah terlupakan. Untuk membantu kawan-kawan mengumpulkannya di dunia maya, maka saya juga ikutan memajang buku-buku lawas tersebut di sini.

Buku pawulang Basa

Ragalapayaha wasaca tadama nakaja nyangaba

Buku Pelajaran Basa Sunda 1926

Buku Pelajaran Basa Sunda 1923

Buku Basa Sunda 1936

Buku Bacaan Njonja Kawasa

Buku Bacaan "Mantri Djero"

Buku Bacaan "Diarah Pati"

Buku Bacaan "Teu Tulus Paeh Nundutan"

Buku "Roesdi jeung Misnem"

Ilustrasi karya W.K. de Bruin tentang Hindia Belanda

Ini hanya ilustrasi sawah dan saungnya

Ilustrasi karya W.K. de Bruin dalam buku Panggelar Budi (repro PB)

Sumber:

http://ambas.multiply dot com

http://tatangmanguny.wordpress dot com

Ilustrasi, tulisan: HW Setawan

Rukun dengan Sedulur dan Ramah dengan Lingkungan

Ramadhan berakhir sudah, tanggal 1 Syawal 1432 H datang menjelang umat Islam berduyun-duyun untuk berjamaah mendirikan sholat dan mendengarkan khotbah di lapangan yang biasanya banyak menekankan tentang evaluasi ibadah puasa dan dengan harapan ke depan perilaku kita akan lebih baik lagi terutama rukun dengan sedulur khususnya bangsa Indonesia.

Sholat Iedul Fitri yang sudah berulang dilaksanakan, berkumpul berjamaah di lapangan, dengan hati yang kembali ke fitrah bersih niat dengan tulus memohon maaf kepada dulur sekasur, dulur sedapur, dulur sesumur, dan dulur  selembur. Juga jangan lupa bukan hanya mohon dimaafkan atas segala kesalahan, akan tetapi juga kita juga memaafkan kesalahan orang lain.

Karena sudah rutin, sudah terbentuk tradisi-tradisi, budaya-budaya baik, yang seyogianya terus dipelihara yaitu budaya mengantri, budaya bersalaman, budaya saling memaafkan, budaya disiplin membuat barisan shaft sholat yang lurus dan rapih, semua itu adalah hal-hal baik yang perlu terus dipelihara dan dikembangkan.

Sebelum khotib naik mimbar diumumkan kepada hadirin tentang, maklum setahun sekali, cara-cara dan tata tertib dalam melakukan sholat ied dan tertib mendengarkan khotbah. Diumumkan pula oleh panitia mengenai kegiatan panitya tentang penerimaan zakat, infaq, dan shodakoh, beserta penyalurannya. Tak lupa pula mengumumkan penerimaan uang dari hasil mengedarkan kencleng Iedul Fitri tahun lalu.

Jangan meninggalkan lapangan seperti ini

Pendididkan hubungan manusia dengan Tuhannya telah sering dilakukan, namun pendidikan hubungan hablum minana naas, dan jangan lupa, hubungan manusia dengan alam, yang paling dekat adalah dengan lingkungan hidup kita. Dan yang paling konkrit adalah membuang sampah pada tempatnya.

Jadi nanti lagi sebelum sholat ied dimulai selain pengumuman yang telah rutin mengenai laporan panitia dan cara-cara melaksanakan ritual ibadah sholat ied dan mendengarkan khotbah juga diumumkan:

Rukun dengan Sedulur, Ramah dengan Lingkungan

“Kaum muslimin dan muslimat yang dikasihi dan dirakhmati Allah SWT, jangan lupa setelah sholat ied selesai diharap tidak lupa untuk membawa kembali tilam sajadah berupa koran bekas. Untuk itu kami telah menyediakan tempat sampah di setiap pintu keluar lapangan, terima kasih atas perhatiannya, wassalamu alaikum warohmatullahi wa barokatuh.

Sebagaimana membudayakan memakai helm kala naik sepeda motor dan memakai safety belt saat mengemudi kendaraan yang kelihatan sudah mulai terbiasa, adalah pada saatnya pula pendidikan membuang sampah pada tempatnya didengungkan dan dibudayakan dari masjid dan tempat sholat di lapangan.

 

Bangunan Tua, SGA Negeri II Bandung

Tempo hari saya menulis hal pendidikan guru zaman lampau yakni  “Sekolah Guru Bantu (SGB)”, postingan sekarang ini adalah mengenai pendidikan guru Sekolah Guru Atas (SGA). Mengapa dengan SGA negeri II Bandung, karena SGA ini adalah sebagai warisan budaya Bandung, keduanya pada tahun 1965 dan juga sebelumnya banyak sekali peminatnya mengikuti pendidikan guru SGA. Saat itu di kampung saya banyak sekali yang berminat menjadi guru kaka, adik, keponakan, teman sekampung banyak yang setamat SMP melanjutkan ke pendidikan guru yakni SGA,  saat ini, rata-rata sudah pensiun.  Ketiganya saya sempat menyaksikan bangunan aslinya dari SGA Negeri II Bandung ini pada tahun 1963 ketika saya mulai tinggal di Bandung.

Sekolah Mulo zaman dulu.

Inilah bangunan lama dari SGA Negeri II Bandung, lokasinya tidak jauh dari Perempatan Lima, perkiraan jaraknya tidak sampai 200 meter. Terletak di jalan Gatot Subroto atau dahulu namanya jalan Papandayan.

Bangunan ini termasuk warisan budaya Bandung seperti disebutkan pada situs Heritage.org. Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage), Tahun 1997 menyebutkan:

Nama Bangoenan: Pendidikan Guru Olahraga (asalnya SGA)
Lokasi: Jl Gatot Subroto 6
Foengsi: IEV Muloschool
Arsitek: F.J.L. Ghijsels
Tahoen: 1927
Kelas: A

Sedangkan sejarah bangunan yang terdapat pada website  SMKN 15 Bandung adalah sbb:

NO Tahun Fungsi
1. Dibangun Tahun 1919 Indo Europee Verbond (IEV) mendirikan bangunan untuk Kweek School Voor Onderwinzer dengan Bouwsubside
2 15 Pebruari 1952 Berubah nama menjadi Indoeenheidts Verbond atau Gabungan Indo Unit Kesatuan Indonesia (GIKI)
3 1 Mei 1953 SGA Negeri II Bandung
4 22 April 1978 SGA Negeri II Bandung, menjadi SPG Negeri I Bandung
5 1 September 1983 SK Kakanwil Depdikbud Propinsi Jawa Barat No. 114 b/I02/Kep/R83 SPG Negeri I Bandung digunakan untuk SGO Negeri Bandung
6 5 Juni 1989 SK Mendikbud Nomor : 0342/u/1989 tanggal 5 Juni 1989 dan SK Mendikbud Nomor : 0426/o/1991 tanggal 15 Juli 1991 SGO negeri Bandung berubah menjadi Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) Negeri Bandung
7 Tahun 1997 sesuai SK Mendikbud Nomor : 036/0/1997 Perubahan nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 15 Bandung Kelompok Kesejahteraan Masyarakat Bidang Keahlian dan Program Keahlian Pekerjaan Sosial

Bangunan tersebut saat ini telah berubah seperti foto di bawah ini yang sempat saya jepret tanggal 11 Agustus 2011. Namun karena jalan Gatot Subroto demikan sempit dan padat lalu-lintas kendaraan, jadi sukar untuk mendapatkan gambar yang utuh. Makanya memotretnya sepotong-sepotong saja.

Bagian sebalah kiri bangunan

Sebalah kiri bangunan SGA Negeri II Bandung sepertinya masih orisinil.

Bagian tengah bangunan

Bagian tengah bangunan sudah dirombak saat ini digunakan sebagai Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 15 Bandung

Bagian sebelah kanan bangunan

Sepertinya sebelah kanan bangunan masih asli

Semoga bangunan ini tetap dipelihara!

Ujian Masuk Perguruan Tinggi Harvard (UMPTH) Tempo Doeloe

Kalau di Indonesia seleksi masuk perguruan tinggi negeri dilaksanakan sejak tahun 1976 (entah sebelumnya) dengan berubah-ubah nama tergantung kebijakan yang dipakai. Misalnya, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau biasa disingkat SNM-PTN dulu dengan nama Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), terus SKALU, lalu Sipenmaru, kemudian UMPTN, berikut SPMB, dan SNMPTN.

Mengenai materi yang diujikan adalah: Tes Potensi Akademik, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Biologi, Kimia, Fisika, Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi , tergantung Fakultas mana yang ingin dimasuki.

Mengenai contoh soal yang sudah diujikan umumnya kita sudah tahu semua, karena telah dibukukan dan bisa dipelajari. Kalu juga ingin tahu searching saja di google pasti banyak soal yang disajikan.

Ini ada soal UMPTH ( singkatan iseng dari saya saja) tahun 1869 dimana pada saat itu di Indonesia belum ada perguruan tinggi apalagi tes ujian masuknya. Perguruan tinggi paling tua di Indonesia sebutlah THB (De Techniche Hoogeschool te Bandung)  yang kemudian menjadi ITB yang berada di Bandung berdiri tahun 1920.

Jika Anda ingin iseng mengerjakan soal tersebut materi yang diujikan adalah: latin, greek, history and geography, arithmetic, logarithms and trigonometry, algebra, plane geometry. Tersedia online dalam bentuk pdf di  http://graphics8.nytimes.com/packages/pdf/education/harvardexam.pdf.

Pengumuman dari Harvard

Pada 27 Sept 1870 Universitas Harvard mengiklankan bahwa 185 dari 210 calon lulus dalam ujian tersebut.

Could any of us pass the exam today?

Sumber: Easman’s on line Genealogy News

Profesi & Jaminan Sosial Guru Tempo Doeloe

Jika saya ingin menulis suatu topik, judul , tema,  atau suatu masalah, rasanya tak terlalu percaya diri jika diri sendiri tidak menjadi bagian dari apa yang akan ditulis, atau sebutlah terlibat di dalamnya. Ini juga saya ingin menulis tentang profesi & jaminan sosial guru tempo doeloe, belum apa-apa sudah wegah. Karena apa? Karena harus mencari bahan bacaan, bertanya ke sana-ke mari, termasuk searching di internet.

Jika saya sendiri  menjadi bagian dari topik yang akan ditulis, rasanya plong dan lancar dalam menulis, kadang satu jam sudah selesai. Misal saya akan menulis seperti judul di atas, kadang saya merasa “menyesal” mengapa tidak lahir zaman kolonial tempo doeloe itu, barangkali akan banyak yang bisa saya ceritakan. Belakangan baru sadar bahwa kalau saya lahir zaman kolonial Belanda barangkali sekarang he.. he..he..,  sudah almarhum alias sudah tiada, dan boro-boro bias menulis. Jadi sukuri saja apa yang telah terjadi, kalau mau menulis,  ya tulis saja apa yang tahu dan apa yang bisa diingat.

Karena saya lahir tahun 1946, maka ingatan saya mungkin mulai tahun 1952 atau sebutlah tahun 1954 ketika pertama masuk sekolah SR/SD. Dan kebetulan kakak perempuan saya adalah seorang guru SD demikian juga  suaminya juga seorang guru.

Tapi sodara, meskipun saat itu sudah tahun 50-an, nasib guru tak ada bedanya dengan 60 tahun kemudian, jaminan social dan juga gajinya sangat menyedihkan. Mengapa saya yakin betul begitu, karena saat itu kaka perempuan saya itu termasuk balangsak; jauh dari sejahtera. Apalagi sebagai keluarga muda akan tetapi anak sudah banyak, boro-boro punya rumah, tempat tinggal masih nempel sama orang tua. Dan ini, kalau habis gajian atau bulan muda,  muka mereka itu tidak cerah, karena gajinya habis dipakai membayar utang ke warung, karena sudah nge-bon duluan, kebiasaan tutup lobang gali lobang.

Cerita guru zaman sekarang dan guru tempo dulu sangatlah berbeda, seperti fakta di bawah ini, kita mulai dari pendidikan guru. Sekolah guru (Kweekschool) merupakan tindak lanjut dari keputusan Raja Belanda tanggal 30 September 1848 tentang pembukaan sekolah dasar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan gurunya, maka dibukalah sekolah Pendidikan guru berdasarkan Keputusan Pemerintah India Belanda tanggal 30 Agustus 1851.

Sekolah guru pertama dibuka di Solo tahun 1852 dan yang di Bandung dibangun taun 1864-1866. Tidak ada syarat apapun untuk memasuki sekolah guru ini, syarat satu-satunya adalah berusia 14 tahun dan itupun sering tidak dapat dipastikan karena ketiadaan akte kelahiran. Kebanyakan yang mendaftar sekolah guru adalah golongan rendah, bukan golongan priyayi/raja seperti yang selama ini disangka orang. Metode belajar di Kweekschool adalah semacam boardingschool atau sekolah asrama.

Namun, walau demikian, Lulusan sekolah guru memiliki prestise tinggi di masyarakat, mereka mendapat gelar mantri guru dan fasilitas seperti hak untuk menggunakan payung, tombak, tikar, dan kotak sirih. (kalau sekarang barangkali disebut panji-panji kehormatan). Mereka juga mendapat biaya menggaji empat pembantu untuk membawa empat lambang kehormatan itu, terbayang bagaimana wibawa seorang guru saat itu. Semua orang otomatis akan menghormatinya. Selain fasilitas, mereka juga mendapat gaji yang sangat tinggi untuk ukuran pribumi.

Murid kelas 3 atau 4 kweekschool yang menunjukan tingkah laku baik diijinkan kawin (he he he baru berumur 17 – 18 tahun), namun harus tetap tinggal dalam asrama. Dikarenakan calon pendaftar yang membludak, tahun 1871 diadakan ujian saringan masuk untuk kweekschool. Membludaknya pendaftaran, selain karena fasilitas yang ditawarkan, juga karena faktor berikut :

  1. Pendidikan guru bebas dari pembayaran iuran sekolah, bahkan siswanya mendapatkan uang saku tiap bulan sebesar f.12,- hingga f.15,- sebagai biaya pakaian dan makanan, sehingga tidak memberatkan orang tua. Segala ongkos perjalanan juga ditanggung pemerintah
  2. Para lulusan sudah dipastikan mendapat pekerjaan pada sekolah pemerintah dengan gaji lumayan yang memberikan status sosial terhormat dalam masyarakat sebagai pegawai pemerintah dan seorang intelektual.
  3. Kweekschool merupakan salah satu jalan bagi golongan menengah dan rendah Indonesia untuk menikmati pendidikan lanjutan. Akhirnya guru menjadi orang yang sangat dihormati di dalam masyarakat Indonesia saat itu.

Di tahun ke-4 murid kweekschool mengadakan praktik mengajar di sekolah luar. Di Bandung, setiap calon guru belajar mengajar di tiap kelas selama dua minggu, dari kelas terandah sampai tertinggi. Mereka yang tidak ikut praktik mengajar bisa mengikuti pelajaran bersama murid kelas III. Praktik mengajar ini disudahi dengan ujian akhir. Bahkan murid yang tidak lulus sekalipun, masih bisa diangkat sebagai guru dengan gaji yang lebih rendah yakni f.20,- sedangkan yang lulus mendapat f.40,- sebulan. Ah, enaknya menjadi guru saat itu…

Nah, kalau menyebutkan sejumlah nominal uang  gaji guru semisal

  • Para siswa pendidikan guru mendapatkan uang saku tiap bulan sebesar f.12,- hingga f.15,-
  • Murid Sekolah Guru yang tidak lulus sekalipun, masih bisa diangkat sebagai guru dengan gaji lebih rendah yakni f.20,- sedangkan yang lulus mendapat f.40,- sebulan.
  • Seorang guru yang mengajar pada sekolah milik pemerintah digaji sebesar f. 70 per bulan,
  • Guru yang mengajar di sekolah swasta digaji rata-rata 45 Florins/Gulden per bulan.

Sebagai catatan:

  •  Seorang guru Belanda yang mengajar di Kabupaten Ciamis tahun 1870 mendapatkan f 200,- per bulan
  • Guru yang hanya mengajar bahasa Belanda oleh Bupati Ciamis  digaji f 50,- per bulan
  • Paling besar gaji Bupati tahun 1870 sekitar f 6000,-per bulan

Baru berarti jika dibandingkan dengan harga sesuatu saat itu, misal yang dekat adalah di-“kurs”-kan dengan harga beras (saya nggak begitu faham tentang kurs mata uang saat ini dibanding dengan  satu setengah abad yang lalu). Harga beras saat itu per 100 Kg adalah f 8 – f 10.-

Jadi seorang guru yang fresh graduate  mendapat gaji f 40,- per bulan setara dengan Rp 2,8 juta, atau jika sudah berpengalaman gajinya menjadi  f.  70,- bearti sebesar Rp 4,9 juta.

Guru expatriate  Belanda mendapatkan Rp 14 juta. Kalau juragan Bupati  Rp 420.000.000,- per bulan.

Gaji Guru SD sekarang?

Bahan bacaan:

Sekolah Guru Bantu (SGB)

Ketika tahun 1954 saya mendaftar di SR (Sekolah Rakyat 6 tahun), syaratnya tidak ditanyakan umur apalagi surat Akte Kelahiran (saya hampir yakin bahwa diantara teman-teman seangkatan saya saat itu tidak ada satu pun yang memiliki surat Akte Kelahiran). Syaratnya mudah saja yaitu diukur dengan cara melintangkan tangan kanan atau kiri persis diatas kepala dan harus bisa menyentuh telinga. Jika tangan kanan yang dilintangkan melalui kepala bagian atas harus bisa menyentuh telinga kiri, demikian juga sebaliknya. Jika dengan cara itu telinga bisa tersentuh maka sudah sampai umur untuk masuk kelas 1 SD 6 tahun itu. Yang melakukan pengukuran itu adalah para guru SD/SR tersebut.

Nah, menurut cerita  bahwa mereka yang menjadi guru saya di SR/SD itu adalah lulusan SGB (Sekolah Guru Bantu) atau pendidikan guru lain. Guru tersebut menempuh pendidikan 4 tahun di SGB, malahan lanjut cerita bahwa mereka para murid SGB itu mendapatkan ikatan dinas dari pemerintah. Dimaksud ikatan dinas adalah mendapatkan tunjangan uang untuk kebutuhan kos, makan, dan keperluan sekolah. Masih cerita salah seorang guru, yang kebetulan saudara dekat saya bahwa dari uang ikatan dinas itu dia bisa menabung untuk membeli sepeda tentunya sepeda ontel. Setamatnya SGB bisa langsung mengajar dan menjadi PNS, apa nggak hebat tuh!

Setelah tua sekarang ini saya jadi ingin tahu perihal pendidikan guru SGB itu, ternyata Sejarah Pendidikan Guru (khususnya guru SR/SD) di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menjadi guru Sekolah Desa 3 tahun adalah lulusan CVO (cursus vur volk onderwijs , 2 tahun sesudah SD)
  2. Untuk menjadi guru SD Nomor Dua (5 tahun) adalah lulusan Normal school (4 tahun sesudah SD)
  3. Untuk menjadi guru HIS – Hollandsch-Inlandsche School (Sekolah Dasar Belanda untuk orang Indonesia dengan bahasa pengantar bahasa Belanda lamanya 7 tahun) adalah lulusan HIK (6 tahun setelah HIS). Dan lulusan Hoopdt Acte untuk menjadi guru MULO (SMP).
  4. Setelah kemerdekaan pemerintah mendirikan Sekolah Guru B (4 tahun sesudah SD), setelah tamat mereka mengajar di SD/SR 6 tahun itu.

Selanjutnya persyaratan tersebut meningkat sejak tahun 1957 bahwa guru yang mengajar di SD harus lulusan SGA (Sekolah Guru Atas) pendidikannya 3 tahun setelah SMP.

Tentunya Sekolah Guru B pun akhirnya ditutup, dan bagi mereka yang hanya memiliki izasah SGB harus menempuh pendidikan persamaan setara SGA.

Sekian mengenai Sekolah Guru Bantu(SGB)

Bacaan:

Kementrian Pendidikan Nasional