Heureuy Bandung di Lagunya Bimbo

Akhir tahun 60 sampai tahun 70-an musim ramainya bermunculan  grup band dengan vokalis yang banyak penggemarnya seperti The Rollie’s (Gito), Paramor (Jajat), Rhapsodia (Ute), AKA (Ucok), God Bless (Achmad Albar), Rasela (Dicky), Fantastique (Deddy Dores), The Pro’s (Abadi Soesman), Gembel’s, Rhythm King’s, Terncem, Golden Wing, Freedom, Giant Step, dan lain-lain.

Muncul juga sebuah grup Band “Bimbo” yang saat itu kalau didengar-dengar baik nada maupun liriknya beda dari grup-grup musik lainnya. Bimbo adalah sebuah grup musik Indonesia yang didirikan sekitar tahun 1967. Personel Bimbo terdiri atas Sam Bimbo, Acil Bimbo, Jaka Bimbo, dan Iin Parlina.

Lagu-lagunya dengan lirik bernapas balada yakni sajak sederhana yang mengharukan. Lirik yang puitik, romantik, syahdu, dan sekaligus membawa kita ke alam pedesaan, pegunungan nan mempesona. Penciptaan lagunya melibatkan misalnya siapa yang tak kenal dengan tokoh lingkungan hidup Iwan Abdurahman, sasterawan terkenal seperti Taufiq Ismail, dan penyair kenamaan dari kota Bandung Wing Kardjo.

Lagu-lagu balada Bimbo seperti Balada Gadis Desa, Balada Peminta-minta, Balada Seorang Biduan, Balada seorang Penyair. Demikian juga yang lainnya Melati dari Jayagiri, Bunga Flamboyan, Cinta, dan Citra. Kemudian lagu-lagu religius Tuhan, Rindu Kami Padamu, Sajadah Panjang, dan lain-lain.

Namun meski lagu-lagunya kebanyakan cenderung serius, sebagai orang Bandung Bimbo tidak lupa akan heureuy Bandung dimana beberapa pengamat merasa heran bin aneh lagu-lagu Bimbo yang biasanya serius tiba-tiba banyak heureuy alias canda, yaitu banyolan Bandung. Heureuy Bandung adalah jenaka tapi tak lupa kesopanan. Lagu jenakanya Bimbo diantaranya adalah lagu Kumis, Tante Sun, dan Pacar.

Dalam Lagu Sunda Bimbo juga tidak lupa bergurau, seperti contoh dua lagu berjudul “Koboy Kolot” dan “Euleuh Euy Euleuh, sedangkan liriknya seperti di bawah ini, terjemahan dalam bahasa Indonesia dicetak tebal.

Koboy Kolot | Koboy Tua

Hey koboy kolot, nyisiran di tengah jalan |
Hey koboy kolot, nyisir rambut di tengah jalan
Hey koboy kolot, leumpang entong heheotan |
Hey koboy kolot, jalan tak sambil bersiul
Hey koboy kolot, gayana siga bujangan |
Hey koboy kolot, gayanya mirip bujangan
Hey koboy kolot di imah budak nungguan |
Hey koboy kolot, di rumah anak menunggu

Calana cutbray, ngagober nyapuan jalan |
Celana cutbray, melambai menyapu jalan
Dangsana totbray, teu inget enggeus huisan |
Dansanya totbray, tak ingat sudah ubanan
Nyemprung ngadudud, tumpak motor babalapan |
Melaju cepat, naik motor berbalapan
Motorna butut, tumpakna eundeuk-eundeukan |
Motornya butut, duduknya angguk-anggukan
Hey koboy kolot, tong gumasep tengah jalan |

Hey koboy kolot, kegantengan tengah jalan
Hey koboy kolot, siga monyet eukeur dangdan |
Hey koboy kolot, mirip monyet sedang dandan
Hey koboy kolot, gayana siga bujangan |
Hey koboy kolot, gayanya mirip bujangan
Hey koboy kolot di imah budak nungguan |
Hey koboy kolot, di rumah anak menunggu

Euleuh Euy Euleuh

Euleung euy euleung, yu batur urang ka Cibatu |
Euleung euy euleung, hayu kawan ke Cibatu
Euleuh euy euleuh, buuk jabrig sayang kutu |
Euleuh euy euleuh, rambut jabrik sarang kutu
Euleung euy euleung, yu batur urang ka Cimahi |
Euleung euy euleung, hayu kawan ke Cimahi
Euleuh euy euleuh, sirah dugul endog lini |
Euleuh euy euleuh, kepala plontos telur lini ( gempa)

Pek taliktik aya Encek dagang sate |
Pek taliktik ada Encek dagang sate
Pek rek jabrig asal Encek hade hate |
Boleh mau jabrik asal Encek baik hati
Pek taliktuk ka Cikajang ka Cianjur |
Pek taliktuk ke Cikajang ke Cianjur
Pek rek dugul asal ujang hirup jujur |
Boleh mau gundul asal Ujang hidup jujur

Euleung euy euleung, ragag rigig bari rabig |
Euleung euy euleung, gerak-gerik sambil rabig
Euleuh euy euleuh, buuk jabrig jiga jurig |
Euleuh euy euleuh, rambut jabrik  kaya setan
Euleung euy euleung, yu batur ‘rang ka Jakarta |
Euleung euy euleung, hayu kawan ke Jakarta
Euleuh euy euleuh, sirah dugul siga panggal |
Euleuh euy euleuh, kepala botak kaya gasing

Sumber:

http://www.youtube.com/watch?v=FM-PVf9Fq9I (Koboy Kolot)
http://www.youtube.com/watch?v=hcQJ8UR_Jko (Basa Sunda & Euleuh Euy)
http://id.wikipedia.org/wiki/Bimbo
Majalah Bulanan Basa Sunda “Cupumanik”, Januari 2007 judul “Lalaguan Pop Taun 1970-an” oleh Supriatna

Ajaran Sejak Purba: Dilarang mencuri!

Ajaran moral atau ahlak yaitu ajaran baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb. Salah satu ajaran yang baik satu kalimat saja adalah Dilarang mencuri!  itu telah kita terima sejak kecil.

Mencuri dalam kamus KBBI, men·cu·ri v mengambil milik orang lain tanpa izin atau dng tidak sah, biasanya dng sembunyi-sembunyi. Selanjutnya sejenis itu adalah korupsi, korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Jangan korupsi, jangan korupsi, dan jangan korupsi.

Yang terus mengiang di telinga sejak masih kecil adalah bahwa mencuri itu mutlak dilarang, itu merugikan orang lain, hukumnya adalah seharusnya dipotong tangan, kelak di akhirat akan dimasukkan ke neraka. Makanya ajaran orang Sunda sejak kecil adalah namanya perbuatan buruk  “mipit teu amit, ngala teu menta”, artinya ngambil tidak berizin, membawa tidak meminta – jadi izin pemilik atau yang punya hak adalah sangat penting.

Itu barang yang sangat-sangat jelas, nyata, dan gamblang, tetapi kemudian teknologi semakin berkembang, tiba-tiba kita terlempar kepada suatu masa kecanggihan teknologi, terus saja kepada pokok masalah yang ingin aku jelaskan yakni “hak Cipta” – yang – zaman baheula mah teu hir teu walahir terpikirkan.

Sederhananya ini, sebagai pengguna computer dan umumnya internet, terus lebih khusus lagi sebagai bloger (mungkin dalam rangka belajar menulis dan belajar menuangkan ide-ide), harus mulai belajar juga tentang hak cipta – yang – sederhananya, atau kurang-kurangnya kita memperhatikan mengenai hak cipta, kalau tidak belajar tentang hakcipta kita bisa melanggar ajaran moral yang paling purba yakni Dilarang mencuri!

Lalu gunakanlah adab-adab yang baik mengenai copy paste, pendapat dan ide orang lain adalah milik yang berhak, tidak boleh asal comot, tentu dengan izin atau minimal saheulaanan (sementara) menuliskan sumbernya.

Yu kita mulai sebelum kebablasan mencuri hak cipta orang lain, belajar sedikit demi sedikit, menuliskan sumber, meminta izin, terus jangan sembarangan upload dan download dari dan ke youtube, terus jangan seenaknya copy paste sekali lagi. Ajaran ini buat umum yang palin khusus adalah buat aku sendiri. Aku sejak sekarang akan bismilah untuk Tidak mencuri.

Yu kita mulai belajar Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta pdf-nya dari Kementerian Hukum dan HAM.

Heureuy Bandung Dalam Lirik Lagu Mang Koko

Melanjutkan tulisan tentang “Heureuy (Humor) Bandung”, yakni banyak urang Bandung yang suka banyol, humor, lucu, atau jenaka. Beberapa pencipta lagu juga tak lupa menyelipkan kata atau kalimat yang bernada dagelan dalam liriknya. Salah satu dari mereka adalah Mang Koko, meskipun kebanyakan lagu seni suaranya diciptakan dengan keindahan bahasa, puitis, bahkan kadang romantik akan tetapi di beberapa lagu tetap menyelipkan heureuy Bandung.

Sedikit riwayat hidup mang Koko dengan nama lengkap H. Koko Koswara (1917 – 1985) lahir di Indihiang Tasikmalaya Jawa Barat. Pendidikan beliau HIS (1932), Mulo (1935). Pekerjaan Mang Koko terakhir tercatat sebagai Dosen luar biasa di ASTI. Beliau penerima penghargaan dari pemerintah berupa “Piagam Wijayakusumah” (1971)  sebagai Pembaharu dalam Bidang Seni Karawitan.

Salah satu lagu populer yang bernada humor adalah “Badminton”. Inilah lagu yang lengkap dari “Kantja Indihiang” Mang Koko. Bagi yang ingi mendengarkan lagunya klik di sini, selamat mendengarkan.

Liriknya seperti di bawah ini. Karena aku menulis kembali liriknya dari hasil mendengarkan lagu itu di youtube, ternyata ada kata yang kedengaran tidak jelas jadi terpaksa ditulis “tititk-titik” mungkin kelak bisa diisi oleh pembaca yang tahu. Bagi yang tidak mengerti bahasa Sunda sengaja diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan cetak tebal.

Lagu Sunda “BADMINTON” Kantja Indihiang – Mang KOKO

Kata pembuka: “Mang Endang, Mang Duleh, Mang Nandang, urang dobel meungpeung aya kok butut nya!” l Mang Endang, Mang Duleh, Mang Nandang, mari kita main dobel mungpung ada kok butut ya!”

Badminton di mana-mana l Badminton di mana-mana
Di kampung jeung di kota l Di kampung dan di kota
Badminton jeung suka-suka l Badminton dan suka-ria
Ngalipur manah brangta l Pelipur hati duka

Dismes bari ngajungkir l Dismesh sambil berjungkir
Dikap reket nyangigir l Dikap raketnya miring
Dilob apung-apungan l Dilob mengapung-apung
Bek hen ka beulah kenca l Bek hand kea rah kiri
Dismesh kana net nyangsang l Dismesh bersarang di net
Dikap bulu kok coplok l Dikap bulu kok copot
Dilob kaluar aut l Dilob keluar out
Lengpel leungeuna teh kekepehan l Lengpel tangannya dikibas-kibas

Ngulangkeun raket diatur l Mengayun raket diatur
Tingkahna maju mundur l Tingkahnya maju mundur
Latihan ngarih di dapur l Latihan nanak di dapur
Pareng ngagebug kasur l Juga pemukul kasur

Dismes bari ngajungkir I Dismesh sambil berjungkir
Dikap reket nyangigir I Dikap raketnya miring
Dilob apung-apungan l Dilob mengapung-apung
Bek hen ka beulah kenca l Bek hand kea rah kiri
Tangkop kana net nyangsang l Tangkop bersarang di net
Lengkop kahandapeun net l Lengkop kebawah net
Tengkop kana kenteng l Tengkop kena genting
Rangkok mun dismesh keuna tarang l Rangkok kalau dismesh kena dahi

Selingan kata: “Eh atuh ieu mah lain diadu, ngalatih bae ieu mah!” l “Eh itu bukan pertandingan, tapi ini hanya melatih!”

Badminton teh kaulinan l Badminton itu permainan
Nimbulkeun kasehatan l Nimbulkan badan sehat
……..  jeung pikiran l … dan pikiran
Guna keur pembangunan l Berguna buat pembangunan

Dismes bari ngajungkir I Dismesh sambil berjungkir
Dikap reket nyangigir I Dikap raketnya miring
Dilob apung-apungan l Dilob mengapung-apung
Bek hen ka beulah kenca l Bek hand kea rah kiri
Euweuh kok ku bulu entog l Tak punya kok pakai bulu entog
Reket panggebug kasur l Reket pemukul kasur
Tempat di kebon awi l Tempat di kebun bambu
Netna samping kebat tutumbuan l Netnya kain kebat disambung-sambung

Sumber:
– Kusnet (Komunitas Urang Sunda di Internet)
– Youtube

Heureuy Bandung (Guyon Bandung)

Dalam Kamus Umum Basa Sunda disebutkan heureuy, banyol, kalakuan pangangguran pikeun karesepan sorangan, ngarah gumbira nu nenjo, nungadenge  (kelakuan iseng untuk kesenangan sendiri supaya gembira yang melihat, mendengar). Atau dalam KBBI, sama dengan banyol, lucu, jenaka; berkata atau berbuat sesuatu yang lucu; berjenaka; melucu; melawak.

Orang Bandung atau urang Bandung konon suka guyon yang bahasa Sundanya heureuy,  malah populernya disebut  heureuy Bandung. Adanya ungkapan heureuy Bandung diwakili oleh pantun atau sisindiran yang kerap dijadikan nyanyian (dalam degung klasik oleh Ida Widawati) pantunnya seperti di bawah ini:

Sisindiran (Pantun) heureuy Bandung

Ari reumbeuy reumbeuy reumbeuy Bandung (Kalau campur-campur-campur Bandung)
ngareumbeuy dina jambangan
(Mencampur dalam jembangan)
ari heureuy heureuy heureuy Bandung
(Kalau-guyon-guyon-guyon Bandung)
heureuy ge jeung kasopanan.
(Guyon dengan kesopanan)

Ari lilin lilin lilin Bandung, (Kalau lilin-lilin-lilin Bandung)
geus hurung sok poek deui,
(Sudah nyala gelap lagi)
ari ulin ulin ulin Bandung
(Kalau main-main-main Bandung)
geus embung sok hayang deui
. (Sudah nolak mau lagi)

Banyak orang Bandung ketika berbicara sering menyelipkan kata atau kalimat humor, guyonan, dan perilaku yang lucu, yang disebut heureuy Bandung. Jadi harap dimaklumi jika ada sekumpulan orang Bandung atau umumnya orang Sunda sedang ger-geran atau akey-akeyan ramai tertawa, itu bukan mentertawakan Anda, tapi sedang mentertawakan diri sendiri atau kekonyolan mereka sendiri.

Heureuy Bandung nampaknya dimulai sejak dari masa kanak-kanak dengan kaulinan urang lembur (permainan anak-anak desa atau kampung, jawa dolanan) baik nyanyian maupun gerakan disampaikan dengan guyonan sekaligus lucu.

Heureuy Bandung juga diceritakan oleh penulis zaman baheula Sjarif Amin dalam bukunya “Keur Kuring Di Bandung”  menceritakan bagaimana isengnya masa kecilnya di masjid Bandung, mempermainkan merebot (Peugas pemukul beduk), dan iseng menukar-nukarkan sandal jamaah sholat masjid di Alun-alun Bandung tersebut.

Haryoto Kunto mempraktekan heureuy Bandung dalam penulisan bukunya “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” dalam bab Pembukaannya kuncen Bandung ini mengatakan: “Bahasa yang sulit, tidak selalu mewakili pikiran yang bermutu, kata penulis Belanda Edgar du Perron. Agaknya sebuah tulisan yang ingin mengungkap wajah kota Bandung, belum dapat dikatakan berhasil tanpa dibumbui heureuy Bandung”. Gaya humor orang Bandung yang segar, namun tetap dalam batas kesopanan! Humor ala Bandung inilah yang banyak mewarnai gaya penulisan buku ini”.

Heureuy Bandung juga dipertunjukkan oleh pelawak zaman lawas dalam grup lawak “4 S” beranggotakan Sup Yusup, Sam, Sofyan, dan Suryana Fatah. Berikut juga tahun 70-an sangat terkenal obrolan malam di radio Mara yang dibawakan oleh Kang Ibing Kusmayatna betul-betul matak seeleun (terpingkal-pingkal) karena kata banyolan dan ucapan heureuynya yang terang-terangan dan lugas menceritakan diri sendiri, zamannya, dan kekonyolan teman-temannya. Belakangan juga heureuy Bandung sering dibawakan Aom Kusman.

Iseng-iseng search di google, kata “heureuy” akan ditemukan sekira 137.000 hasil pencarian,. Demikian juga searching di google kata “heureuy bandung” akan ditemukan sekira 46.000 hasil pencarian. jadi cukup banyak yang nulis kata “heureuy” di internet.

Juga majalah bulanan berbahasa Sunda “Cupumanik” mempunyai pojok guyon “Landong Baeud” (Obat Cemberut). Majalah “Mangle” punya kolom jenaka “Barakatak”. Ada majalah khusus humor berbahasa Sunda bernama “Cakakak” (Mengakak),

Pencipta lagu dan pembuat liriknya banyak yang iseng memasukan heureuy Bandung, seperti Mang Koko, Nano S, Bimbo, Doel Sumbang, dan beberapa yang lainnya.

Lain kali disambung…

Pemandangan Alam Sepanjang Jalan Curug Cinulang

Meskipun aku sudah tua, sudah menjadi  aki-aki dan demikian pula istri sudah nini-nini, tapi kalau ada yang mengajak piknik atau bepergian keluar kota Bandung selalu oke saja. Mendadak segala pegal-pegal dan linu-linu hilang seketika. Jadi anda yang masih muda jangan heran kalau di tempat darmawisata banyak ditemukan rombengan maksudnya rombongan rambut beruban dan membawa tongkat itu adalah kawan-kawanku bagian dari anggota “laskar tak berguna”. Tapi yang paling berbahagia adalah jika perginya disertai keluarga dan di dalamnya ada anak cucu.

Berbicara tentang bepergian dengan keluarga karena peserta bepergiannya variatif sekali usianya dari mulai umur 3 tahun sampai umur 70 tahun, tentu saja keinginannya juga sangat beraneka ragam. Kalau aki-aki ingin yang sepi melihat pemandangan yang indah baik di pegunungan nan hijau atau pantai yang resik dengan laut yang biru. Sementara anak-anak ingin yang meriah seperti di mal, ada kolam renang, ada playing fox, ada arung jeram, ada naik kuda. Demikian juga makanan mana ada anak-anak mau makan nasi timbel dengan segala lalapan hijau lengkap dengan sambal terasi dan jangan lupa pepes ikan bibit.Anak-anak lebih banyak memilih kentucky fried chicken, pizza hut, atau hoka-hoka bento. Kalau tidak dipaksa disuapi ibunya anak-anak ada yang kuat tidak makan nasi seharian.

Meskipun rencananya sudah dimulai seminggu sebelumnya tapi pada kenyataannya menjelang hari keberangkatan belum ada kepastian kemana arah yang dituju, ya itulah syaratnya aki dan nini happy, anak-anak suka, remaja bisa berbahagia. Terus ada syarat lainnya perjalanan sehari saja jangan terlalu jauh, karena anak-anak yang hanya liburan hari Minggu saja harus cukup istirahat biar besok hari Senin pergi ke sekolah tidak rungsing alias rewel.

Rencana semakin mengerucut dari berbagai pilihan maka jatuh ke “Pondok Wisata Aki & Enin” terus rencananya dilanjut ke Curug Cinulang. Mengapa memilih itu karena menurut sedikit informasi baik bertanya kepada Google atau juga informasi dari tetangga. Kira-kira informasi singkatnya jarak dari Bandung kurang lebih 30 km, jadi bisa perjalanan sehari, kemudian ada kolam renang dan tempat bermain lainnya untuk anak-anak. Dan letaknya di dataran tingginya Bandung, bisa makan nasi timbel dan bisa leyeh-leyeh di saung yang ditambah angin semilir, para kakek bisa tertidur sementar anak-anak recet di kolam renang.

Pertengahan November 2012 baru-baru ini kami sudah berada di dalam 2 buah kendaraan, yang penumpangnya yaitu dari mulai orok sampai kakek dan nenek. Meskipun tujuan sudah pasti yaitu “Pondok Wisata Aki & Enin” dan ke Curug Cinulang, tapi tidak ada seorang pun yang pernah ke sana. Meskipun begitu pede saja pokoknya dari Bandung ke arah timur, ke arah Rancaekek dan ke arah Cicalengka, selanjutnya tinggal bertanya saja di jalan.

Bepergian keluar Bandung pada hari Minggu harus punya semangat yang membaja untuk menaklukan macetnya jalan, karena begitu keluar rumah pun sudah dimulai kemacetan itu, pasar pagi dadakan di kompleks perumahan, terus kemacetan lain di depan perusahaan tekstil pedagang kaki lima tumpah ke jalan besar. Pedagang kaki lima merasa wong cilik yang tertindas menunutut lahan usaha, lalu pengguna jalan yang juga sama-sama bukan wong gede merasa terhambat perjalanannya oleh serbuan pasar tumpah. Penguasa daerah yang berwenang, harus membuat regulasi yang baik, terapkan di lapangan, lakukan tindakan tegas kepada pelanggar.

Setelah menembus belantara kota dengan segala kemacetannya di beberapa tempat, mulailah kami memasuki jalan Curug Cinulang mesli jalan sempit pas-pasan kendaraan dua arah jika bertemu tidak saling bersenggolan. Kemacetan dan kelelahan “menyumpahi” keadaan di jalan ternyata,  yang entah kapan berubahnya, terobati oleh pemandangan yang mulai menanjak dan udara mulai dingin. Pemandangan ke dataran rendahnya Kabupaten Bandung sangatlah mempesona hamparan sawah yang menghijau terbentang luas mulai dari perbukitan bahkan pegunungan sampai ke bawah disambung dengan pilemburan khas Priangan.

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Pemandangan antara Cicalengka – Cinulang

Tengah hari menjelang zuhur kami sudah berada di “Pondok Wisata Aki dan Enin”. Pondok ini ada di bagian atasnya pesawahan, jadi hamparan sawah dataran tinggi yang kelihatan, fasilitas yang ada di lokasi yakni podok-pondok penginapan, kolam renang, permainan anak, dan terapi ikan. Ada saung-saung untuk botram dan istirahat. Masuk ke kompleks bayar Rp 10.000 per orang, kalau mau karaoke juga bayar Rp 25.000 per jam. Makan dengan variasi lauk pauk khas sunda tersedia tinggal keberanian kantongnya saja. Tapi memang tarifnya relatif murah. Di bawah ini foto-foto “Pondok Wisata Aki dan Enin”

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Pondok Wisata Aki & Enin

Berada di kompleks “Pondok Wisata Aki dan Enin” selama 3 jam sudah puas, bahkan para aki sempat tiduran di saung peristirahatan itu, kemudian makan, keliling kompleks yang tidak terlalu luas, ada yang memancing, dan panjat tebing untuk anak.

Karena jarak ke Curug Cinulang sudah dekat yakni 2,5 km saja dari “Pondok Wisata Aki dan Enin”, maka dengan kekenyangan, segera kami menuju curug tersebut. Curug adalah air terjun, seperti curug-curug lainnya yang ada beberapa tempat di Bandung seperti Curug Dago, Curug Cisarua, Curug Cilayung, dan ini Curug Cinulang.

Curug Cinulang adalah air terjun mungkin tingginya sekitar 30 m, terus karena jalan kendaraan berada di atas, maka jika mau ke dasar jatuhnya air harus berjuang menuruni tebing, yang kebetulan aku masih kuat menuruninya karena dimotivasi oleh cucu, biar cucu bangga akan kakeknya, walau nafas sudah senin kamis. Indah juga curug yang masih orisinil dan berada di hutan yang lebat. Sayang pemeliharaannya oleh dinas pariwisata kabupaten kurang maksimal, masih seadanya saja. Demikian juga di pintu masuk banyak dikerumuni “petugas” yang tidak jelas, dan juga tempat parkir kendaraan yang tidak tertib pembayarannya, nagih seenaknya alias sadaekna.

Curug Cinulang

Curug Cinulang

Demikian wisata keluarga dengan segala kekurangan dan kelebihannya asal pandai-pandai bersyukur,  kami cukup puas, menjelang maghrib sudah berada di rumah masing-masing dengan perasaan puas dan tentu saja bagi aki-aki segera tertidur kelelahan.

Catatan:  Ucapan terima kasih untuk keluarga bang Iwan

 

Nikah Urang Bandung di Bale Nyungcung

Masa kecilku tahun 50-an di kampung sana Ciamis Jawa Barat, acara pernikahan yaitu akad nikah dilakukan di masjid sedangkan resepsi pernikahannya diselenggarakan di rumah pengantin perempuan, tradisi sekarang tidak begitu terperhatikan, mungkin saja sampai sekarang masih melakukan akad nikah di masjid atau di Kantor Urusan Agama (KUA) yang biasanya terletak di dekat masjid juga.

Pelaksanaan walimatul urusy dalam hal ini akad nikahnya dilaksanakan di masjid kemudian selamatannya di rumah. Seingatku pengantin perempuan mengenakan kebaya, terus pengantin pria berpakaian sederhana saja bercelana panjang baju hem biasa, terus berkopiah hitam. Sebelum akad nikah dimulai pengantin perempuan dijajal kemampuannya atau diperlihatkan kebisaannya membaca ayat suci Alquran, beberapa ayat (tentusaja jauh sebelumnya sudah diajarkan bagaimana membaca Alquran dengan tajwid yang baik).

Setelah selesai akad nikah terus kedua pengantin dengan berjalan kaki pulang ke rumah dan dimulai acara adat biasanya acara nginjak telur, buka pintu, dan terakhir nyawer. Kemudian kedua pengantin duduk di pelaminan sederhana, terkadang duduk di bawah dengan hanya diberi tilam seadanya saja untuk menerima ucapan selamat dari para undangan.

Pangantenan di Bandung diceritakan oleh Us Tiarsa R. dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Ketika Bandung Masih Berembun). Tahunnya adalah tahun 1951, disebutnya saat itu sedang segala susah, bahkan hajatannya disebut siduru isuk (memanaskan badan pagi-pagi di depan tungku dapur) saja untuk menyebutkan kesederhanaan penyelenggaraannya. Meskipun hanya siduru isuk tapi seserahan dan upacara  adat dilakukan lengkap.

Pelaksanaan akad nikah saat itu belum lajim dilakukan di rumah akan tetapi di masjid, urang Bandung menyebutnya kaum. Ada dua kaum yang dipakai menikahkan yaitu di Alun-alun (Kaum Bandung) dan kaum Cipaganti.

Kendaraan yang digunakan untuk berangkat ke kaum adalah delman atau kretek, kereta ditarik kuda. Pakaian perempuan di kepala memakai makuta kemudian memakai sleyer yang panjang sampai ke belakang.

Waktunya menikahkan biasanya mengambil bulan Rayagung (bulan Zulhijah), jadi bulan itu ramai yang kawinan. Jika banyak yang ditikahkan terpaksa ngantri jadi penghulu sibuk dibuatnya, pengantin dan pengantar pada nunggu di emperan kaum, sudah cape dangdan dan memakai sleyer yang panjang sampai menyapu jalan, terpaksa menunggu selonjoran di emperan bahkan ada yang jajan sirop segala, calon pengantin merasa haus barangkali.

Selesai akad nikah kembali naik delman yang sudah menunggu dibariskan di depan kaum, terus kuda dipacu dan bel delman dibunyikan, nong nang, nong nang.  Umumnya pengantin dan pengiring tidak pulang dulu ke rumah tapi jalan-jalan dahulu pengantin diarak ada yang keliling kota Bandung, ada yang ke Derenten (kebun binatang), ke Situ Aksan, bahkan merasa perlu untuk lewat dulu di depan Hebe (Gedung Sate).

Masjid atau kaum itu disebut  Bale Nyungcung, bale adalah bangunan, kalau nyungcung bahasa Sunda yang artinya kerucut seperti bentuk limas runcing ke atas. Menyebut bale nyungcung di Bandung  tak diragukan lagi merujuk ke penyebutan masjid atau kaum itu. Bahkan dipercakapan hari-hari kalimat “pulang dari bale nyungcung” adalah habis dinikahkan.

Gaya Dan Mode Berpakaian Bandung Tempo Dulu

Dahulu tahun 60-an, jadi sekira 40 tahun yang lalu, gaya dan mode berpakaian ala Bandung sudah mulai aku perhatikan, yang saat itu sedang menginjak usia remaja, Misalnya ketika  itu sedang musimnya celana cut bray, dibagian paha sempit terus melebar di bagian bawah kaki sampai berkibar-kibar saking lebarnya. Terus potongan celana itu terbalik dari cut bray ke bray cut, dimana di bagian atas lebar terus bagian bawah menyempit, seperti pakaian zaman gerilya.

Potongan celana terus berkembang dari cut bray ke bray cut, terus ke bray bray betul-betul ukurannya lebar-lebar dari atas ke bawah. Demikian juga ada masanya celana tidak sampai menutupi bagian atas sepatu tapi dibiarkan menggantung seperti kekurangan bahan, itu ada maksudnya, yakni sedang mulai banyaknya warna-warni kaus kaki nylon, dan itu bagian dari bergaya perlu diperlihatkan.

Ada saatnya warna-warni pakaian juga baik pria maupun wanita seperti sepakat untuk bersama-sama memakai batik yang saat itu tidak asing lagi namanya “batik Wonogiri” dimana-mana orang berpakaian batik dengan corak bunga-bunga dengan latar kuning atau merah. Sesudah bosan itu hampir se kota Bandung mewabah baju warna biru laut, namanya  biru benhur, karena sewaktu itu sedang inn film “Benhur”.

Karena aku sudah mulai beger, senang melihat wanita cantik berpakaian menarik, jadi termasuk agak memperhatikan cara berpakaian para gadis, saat di SMA dimana seragam belum dianjurkan, sudah ada teman perempuan sekelas bermini yakni berpakaian rok mini, rok ukuran pendek di atas lutut, tidak peduli sulit duduk di beca atau di kendaraan bemo. Berikutnya tidak dipakai ke sekolah,datang musim  rok potongan midi tidak panjang dan tidak pendek yakni rok memanjang sampai setengah betis, dan sempat terperhatikan rok yang sampai menyapu jalan disebut potongan longdress, biasa dipakai pada saat-saat resmi.

Bukan hanya warna dan potongan pakaian yang dikenakan akan tetapi sejak tahun 60-an banyak bahan pakaian mulai dari bahan kain katun paling sederhana jenis mori, kaci, balacu, dan berkolin, selanjutnya sepedrill, dan berikutnya masa bahan pakaian non katun yang praktis dari bahan tetoron kadang tidak perlu disetrika. Baju kaus bahan nylon demikian kaus kakinya sangat populer saat itu.

Ternyata gaya dan mode berpakaian di Bandung ada diceritakan oleh penulis misalnya cerita zaman kolonial Belanda dalam bukunya “Braga Jantung Parijs van Java” oleh Ridwan Hutagalung ( 2008) berbicara tentang mode pakaian para nonih Belanda belanja pakaian mahal dan modern di sepanjang Bragaweg.

Berikut Syarif Amin (1907-1991) dalam bukunya “Keur Kuring Di Bandung” (Saat Aku Di Bandung) zaman baheula, beliau menulisnya sampai 8 halaman dengan judul “Prak-Prakan Dangdan” (Cara-Cara Berpakaian).

Selanjutnya sasterawan yang lebih muda adalah Us Tiarsa R. dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Saat Bandung Masih Berembun) 2011,  bercerita tentang “Modeu”, “Koboy Peot”, dan “Klirmaker”.

Buku yang menyebut tentang pakaian di Bandung zaman ayeuna  (sekarang) ada pada buku “Wisata Paris van Java” 2011 oleh Her Suganda dengan judul: “Pasar Baru Bukan Pasar Biasa”, “Jalan Tamim Sisa Masa Lalu”, “Factory Outlet”, “Distribution Outlet Supaya Tampil Beda”, “Celana Cowboy dari Cihampelas”, “Mahanagri”, sampai ke “Rajutan Dari Binongjati”, “Cibaduyut”, dan “Biar Bekas Tetap Diburu”.

Pada tahun 1900-1930 terdapat toko-toko dan butik pakaian dengan mode terbaru dari Paris misal Au Bon Marche, Au Chat Noir, dan bermacam Maison. Toko-toko yang berada di Bragaweg (jalan Braga). Orang-Orang Belanda selalu memakai djas toetoep (satu jenis jas biasanya warna putih kancingnya sampai ke atas mendekati leher) sudah merasa menjadi Belanda modis. Demikian juga para nonih Walanda yakni para juffrouw dan mevrouw berebut fesyen di kota Bandung kata Ridwan Hutagalung 2008.

Itu untuk bangsa Belanda, pribuminya tidak mau kalah untuk golongan menengah dan sekolahan tulis Syarif Amin: Saat itu sedang musimnya memakai baju tutup sejenis jas lengkap dengan kancing depan dan kancing lengan. Ada yang aneh saat memasang celana panjang katanya didahulukan memakai sepatu, baru celana (apa tidak susah masuknya ya?). Katanya bepergian masih memakai dasi berbagai cara memasangnya juga jangan lupa membawa sapu tangan dengan cara dilipat tertentu dan kelihatan nongol di saku baju depan, dan jangan lupa saat itu masih memakai tutup kepala yang bernama bendo.

Demikian sementara Gaya Dan Mode Berpakaian Bandung Tempo Dulu, ceritanya masih panjang…