Ke Yogya Naik Kereta Lodaya

Ke Yogyakarta naik kereta api adalah pilihan yang patut dipertimbangkan karena PT KAI telah melakukan berbagai perbaikan agar penumpang bisa menikmati perjalanan. Kali ini saya ingin bercerita tentang kami tiga bersaudara dengan pasangan suami istri sehingga menjadi rombongan kecil para lansia berjumlah enam orang, melakukan perjalanan Bandung – Yogyakarta pp. Perbaikan PT KAI dimaksud adalah semisal sejak dari Bandung ditemukan beberapa kemudahan seperti stasiun kelihatan lebih tertib, lebih bersih, tidak ada calo tiket, dan tidak ada pedagang asongan yang biasanya berseliweran.

Entah karena apa mungkin angka harapan hidup orang Indonesia naik, ketika mulai masuk gerbong ternyata banyak teman sesama seragam uban. Betul-betul seperti sepasukan “laskar tak bergune” alias sekumpulan para pensiunan. Menjadi lansia usia diatas 60 tahun tidak selalu berwarna kelabu tapi banyak hal yang membawa kebahagiaan. Misal harga tiket KA mendapat potongan 20%, harga tiket kelas eksekutif yang seharusnya Rp 185.000, hanya membayar Rp 148.000 saja.

Di setiap stasiun yang dilewati memang lumayan nyaman tidak direcoki oleh pedagang asongan, tapi disisi lain tidak bisa menikmati kuliner khas tempat yang disinggahi kereta api tersebut.

Maksud utama kami ke Yogya adalah mengunjungi saudara yang sedang sakit. Bepergian rombongan para nini dan aki perlu persiapan yang matang seperti transportasi, penginapan, dan makanan harus yang relatif baik, sehat, aman, dan murah… apa ada ya? Ada misal penginapan, menemukan homestay yang bangunannya bergaya kolonial bernama penginapan “Ndalem Suratin” yang terletak di jalan AA Sangaji Yogyakarta. Tarif per malam disebut “Tulip Room” Rp 298.000 dengan perlengkapan biasa ac, water heater, free coffee, dan sarapan pagi, tempatnya untuk keluarga ok, hanya sayang agak jauh dari Stasiun harus naik kendaraan minimum naik beca.

Meskipun maksud utama bersilaturahmi tapi ketika segala urusan sudah beres maka seperti peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, atau jangan kena ungkapan “ke Mekah tak ke Madinah” maka sekalian ke Yogya tidak lupa plesiran ke Solo untuk sedikit belanja oleh-oleh di Pasar Klewer dan tidak lupa wisata kuliner.

Sewa kendaraan kijang 12 jam Rp 275.000, tambah bensin Rp 150.000, ngajak sopir makan, dan tip Rp 50.000. Dan kami pergi ke Solo tak lupa kaum ibu membeli pakaian batik, terus karena dapat informasi kuliner kami tidak ingin melewatkan kesempatan bagitu saja. Yang kami nikmati adalah serabi Notosuman yang rasanya emh kenyal dan lembut, terus Soto Gading memang istimewa dan enak rasanya, satu lagi sosis Solo yang beda dan gurih. Dua jam saja kami di Solo.

Di Jogya pun kami mencoba berbagai gudeg pertama gudeg “Bu Citro” yang agak kering dan hebat, kemudian gudeg “Yu Djum” yang untuk oleh-oleh, dicoba juga gudeg pinggir jalan penjualnya si mbok yang ngambil ayamnya dengan tangan begitu saja, tapi ya enak dan nikmat juga.

Demikian perjalanan 2 hari para gaek ke Yogyakarta, perjalanan yang cukup memuaskan dan relatif tidak menemukan kesulitan.

Ka Malang, Ya KA Malabar Lah..!

Tempo hari saya telah menulis mengenai Jadwal Perjalanan Kereta Api Malabar  singkatan dari Malang Bandung Raya. Beberapa informasi sudah saya dapatkan, dan rencana sudah dimatangkan. Rencana dari Bandung datang ke Kota Malang adalah untuk menghadiri akad dan resepsi pernikahan keponakan yang tinggal di Yogyakarta akan tetapi calon  istrinya putri Malang.

Alasan lain adalah sa-umur-umur sayabelum pernah menginjakan kaki di Kota Malang, padahal sudah ada kesempatan, hitung-hitung rekreasi, meski usia saya, istri, dan seorang kakak sudah lansia, asal sedang kondisi sehat happy-happy saja dong untuk jalan-jalan. Jadi karena kami sudah berumur diatas 60 tahun, maka mendapatkan potongan harga tiket sebesar 20%. Akan tetapi agak kecewa karena ternyata meskipun perjalanan selama 17 jam tapi kami tidak mendapatkan pembagian makanan gratis dari restorasi.

Perjalanan dengan Kereta Api menurut saya lebih menyenangkan, karena bisa duduk santai, bisa berdiri, bisa berjalan-jalan, dan juga bisa ke kamar kecil yang disediakan meskipun masih jauh dari memuaskan. Naik KA juga jadi teringat nyanyian Naik Kereta Api:

Naik Kereta Api

Tut tut tut siapa hendak turut

Ke Bandung Surabaya

Bolehlah naik dengan percuma

Ayo kawanku lekas naik

Keretaku tak berhenti lama.

Kata orang he he he mengapa dulu KA sering merugi karena nyanyian ini, karena ada kalimat:  “Bolehlah naik dengan percuma”, jadi banyak yang ingin gratis, itu dulu sekarang harus alias kudu membeli karcis jika ingin naik kereta api.

Nah, inilah tiketnya sudah saya beli

Tiket KA Bandung - Malang

Harga tiket Eksekutif sebesar Rp 265.000 akan tetapi karena mendapat potongan untuk lansia harganya menjadi Rp 212.000.

Inilah Kereta Api Ekspres Malabar:

KA Malabar BDG-Malang Siap Berangkat

Kereta Api sudah siap berangkat. Ketika sedang memotret KA saya sempat ditegur oleh satpam yang sedang bertugas di situ, katanya kalau bukan penumpang dan jika ingin memotret harus mempunyai izin dahulu. Tapi karena saya penumpang KA tersebut jadi boleh saja! Sumprit baru tahu aturannya begitu.

Persis jam 15:30 KA Malabar mulai bergerak dan selanjutnya berjalan dengan lancar, dengan suara kereta api yang monoton, jugjreg.. jugjreg.. jugjreg!

Inilah bagian dalam gerbong eksekutif:

KA Malabar Gerbong Eksekutif

Dan di bawah ini adalah gerbong Kelas

KA Malabar Gerbong Kelas

Gerbong eksekutif memakai AC, sedangkan gerbong kelas memakai kipas angin.

Karena sudah saya sebutkan bahwa selama perjalanan tidak diberikan makanan, untung istri saya membawa persiapan konsumsi cukup memadai sehingga urusan perut beres sudah. Memang iya bisa makan di restorasi akan tetapi tarif makanannya cukup mahal, lihat saja harga dari menu di bawah ini:

Menu Makanan di KA Malabar

Setelah lewat Tasikmalaya di luar KA hari sudah mulai gelap, tidak ada lagi yang bisa dilihat, meski berhenti di beberapa stasiun lagi seperti Stasiun Banjar, akan tetapi tetap saja tak kelihatan, oleh karena itu setelah cukup makan, membaca koran, dan juga membaca dua buah buku tipis bawaan sampai tamat.. lalu mata sudah tidak kuat lagi menahan kantuk, dan ahirnya tertidur. Sementara KA terus berjalan Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Kertosono.

Dan.. sampailah pagi hari di Kediri, baru di luar terang benderang, kereta api tetap bersuara monoton jugjreg.. jugjreg.. jugjreg..! lalu Blitar, dan.. sampailah di Stasiun Baru Malang, inilah tanah Kota Malang yang untuk pertama kalinya saya injak.

Bersambung..

 

Menjadi Tua.. Biasa Saja!

Apa yang dikerjakan dan direncanakan masa lalu dinikmati hari ini, dan apa yang dikerjakan dan direncanakan saat ini  untuk dinikmati nanti kemudian hari, demikian kalau tidak salah kutip kata Pak Mario Teguh. Riwayat hidup masa lalu saya dilalui dengan penuh rencana dan kehati-hatian, selalu menyebutkan dan berfokus kepada masa depan. Ada dua keuntungan yang wajib saya syukuri pertama saya mempunyai pasangan hidup yang sama dengan saya berorientasi ke masa depan. Terus yang kedua saya bersyukur selama 25 tahun terakhir bekerja di perantauan di sebuah perusahaan yang juga memikirkan pekerjanya untuk masa depan.

Misal bagaimana yang saya maksudkan dengan hidup penuh kehati-hatian, yakni tidak bermain-main dengan kehidupan rumah tangga, saling menjaga kerukunan perkawinan. Anak-anak selalu diutamakan, misalnya pendidikannya adalah nomor satu dan itu harga mati. Juga dalam memilih pekerjaan ketika sudah dirasakan tempat pekerjaan yang baik maka itu dipertahankan mati-matian, yang saya maksudkan adalah tidak sembarangan keluar dari pekerjaan karena hal-hal sepele misal bertengkar dengan atasan tentang suatu masalah. Itulah sebabnya bekerja dituntaskan sampai pensiun tidak incah balilahan maksudnya tidak memilih pensiun dipercepat dengan pesangon yang besar ketika ada penawaran dari perusahaan kepada setiap pegawai dalam rangka merampingkan jumlah pegawai.

Disamping serius dalam bekerja dan mendidik anak-anak, juga jangan dilupakan kejujuran jelasnya jangan mencoba mengunakan uang atau fasilitas perusahaan dengan tujuan untuk keuntungan diri sendiri dengan cara tidak baik. Dengan bekerja penuh kejujuran rasanya hidup demikian tenang dan tidak takut dan ragu dalam berbicara dan bertindak karena sudah merasa berada di jalur yang benar. Dan satu lagi jangan lupakan bawa seluruh keluarga untuk tawakal berpasrah dalam beribadah kepada Allah SWT.

Ketika masa pensiun usia 55 tahun, demikian ringannya meninggalkan pekerjaan untuk dilanjutkan oleh generasi muda berikutnya. Apalagi saya bekerja di perantauan saat pensiun itu sangat dinantikan karena sudah punya rencana lagi untuk tinggal di kampung halaman. Ketika memasuki masa pensiun, anak-anak sudah selesai pendidikannya sesuai rencana, terus dikawinkan satu persatu, sehingga sudah pada menyumbang kebahagiaan dengan memberikan cucu-cucu.

Demikian masa tua dirasakan dengan bahagia, memang iya ada saja kerikil tajam dalam melanjutkan kehidupan ini, tapi itu dianggap biasa sebagai romantika kehidupan. Karena sudah menjadi ketentuan alam bahwa kita akan menjadi tua, maka karena perencanaan masa muda yang baik dan matang kemudian menjadi tua tidaklah menjadi menakutkan.

Barangkali memang ketika muda merasa was-was dengan masa tua akan tetapi sekali lagi jika dengan perencanaan atau planing yang baik, insya allah semuanya akan sesuai dengan yang direncanakan.

Ternyata ketika menjadi tua perasaan merasa lebih sejahtera, menjadi lebih banyak pengalaman hidup, lebih realistis, mempertimbangkan sesuatu juga merasa lebih ringan karena sekali lagi pengalaman hidup yang mengajarkannya. Ketika menjadi tua juga akan lebih toleran, lebih menghargai pekerjaan dan pikiran orang lain, menghargai pendapat dan karya orang lain, dan satu lagi sangat menghargai proses step demi step sesuatu yang dihasilkan.

Kita menjadi lebih bisa menggunakan sisa usia dengan melihat segala sesuatu dengan jelas dan menghargai proses dari mana kita berasal, bagaimana kita dapat sampai di sana, dan apa saja yang telah kita capai di sepanjang jalan.

Demikian juga saat ini pada usia 65 tahun saya lebih banyak tinggal di rumah, kemudian hanya tinggal berdua bersama istri, terus berupaya agar sisa-sia umur dilalui berdua dengan penuh kedamaian dan menciptakan kebahagiaan baru berdua.

Lansia Harus Memberi Keteladanan

Dalam undang-undang tentang kesejahteraan lanjut usia, bahwa lansia mempunyai kewajiban, karena sudah gaek kewajibannya irit saja hanya tiga  yakni:

  1. membimbing dan memberi nasihat secara arif dan bijaksana berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, terutama di lingkungan keluarganya dalam rangka menjaga martabat dan meningkatkan kesejahteraannya;
  2. mengamalkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada generasi penerus;
  3. memberikan keteladanan dalam segala aspek kehidupan kepada generasi penerus.

Saya hanya akan membahas khususnya butir ke 3 yaitu keteladanan dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini saya ingin memberikan contoh tentang seseorang yang kebetulan saya kenal dekat. Beliau yang sudah almarhum, meninggal pada usia 82 tahun, adalah seorang purnawirawan Kepolisian, pangkat terakhir adalah Brigjen (ada sebutan lain untuk pangkat itu ya?).

Beliau yang rajin membaca, berpengalaman luas, ide-idenya selalu segar. Pada setiap pertemuan dengan siapapun selalu bercerita atas pengalaman dan pandangan-pandangannya di segala aspek kehidupan pada saat kini. Beliau yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda secara fasih, sering juga membagikan pengalamannya ketika mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri.

Cara beliau memberikan keteladanan adalah dengan tetap bersemangat hidup,  memberikan nasihat-nasihat tentang segala kebaikan dan mengutamakan mendorong generasi penerus untuk berbudi pekerti dan berakhlak yang baik. Beliau yang sampai usia 82 tahun tidak pernah pikun, pada saat terakhir masih bisa mengemukakan pendapatnya tentang Ahmadiyah.

Beliau yang hidup sederhana pada usia pensiunnya memberikan teladan kepada penerusnya bahwa beliau selama masa dinas di Kepolisian itu, tidak pernah melakukan korupsi.

Saya kira inilah contoh bagi generasi penerus yang penting, jangan melakukan korupsi! Sebab bagaimana akan memberikan contoh yang baik jika ketika masa dinas menjadi pelaku korupsi. Jika kita bukan koruptor maka ketika dipanggil oleh Yang Maha Kuasa kita dalam keadaan akhir yang baik.

Inalillahi waina illaihi roziun, selamat jalan Pak Jenderal!

Menyambut HULN (Hari Usia Lanjut Nasional), Menjadi Seorang Pensiunan

Menjadi seorang pensiun tidaklah sulit, sebab mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, usia kita akan terus bertambah secara otomatis. Dan ketika sampai umur 55 tahun (umumnya) jadilah kita seorang pensiunan keluar dari tempat pekerjaan alias putus hubungan kerja.

Syukur pada saat pensiun dimulai kondisi kesehatan saya dalam keadaan baik, dan bahkan rasanya  masih mampu untuk bekerja.  Alhamdulillah juga tidak kebingungan, tidak kelimpungan, biasa saja, malahan ada perasaan bahagia dan lega dimana tidak usah memikirkan pekerjaan, tidak usah melapor kepada atasan, dan tidak usah mengejar target yang harus dicapai.

Saya kebetulan bekerja di salah satu BUMN di Kalimantan Timur, jadi begitu mencapai usia pensiun langsung boyongan pindah ke Bandung. Saat prapurnabakti sebetulnya telah dibekali oleh perusahaan tempat saya bekerja berbagai keterampilan dan berbagai persiapan agar jangan kaget ketika masa pensiun tiba.

Demikian juga uang pesangon, uang asuransi, uang pindah rumah, dll, sudah diberikan dan betul-betul dilepas dari perusahaan. Begitu juga uang pensiun yang meski jauh dari besar akan diterima, sedangkan selama satu tahun sejak usia pensiun masih diberi gaji penuh tanpa harus bekerja. Tak kalah pentingnya adalah menikmati jaminan kesehatan termasuk juga untuk istri sampai kelak meninggal.

Sepertinya dan seharusnya bekal itu sudah lebih dari cukup, tapi rasanya kekurangan selalu saja ada, misal pada kenyataan mengelola usaha di masa tua ternyata banyak yang tidak berhasil, mungkin karena tidak bepengalaman memegang sebuah usaha.

Sepuluh tahun kemudian ternyata yang diterima hanya tinggal uang pensiun yang ala kadarnya itu, akan tetapi masih bersyukur masih dijamin biaya kesehatan untuk suami istri secara penuh.

Meski nilai nominal gaji yang diterima jumlahnya sedikit akan tetapi saat ini pada usia 65 tahun saya tetap bahagia karena anak-anak sudah beres kuliah bahkan sudah pada bekerja dan berpenghasilan. Bukan hanya itu saja anak-anak mulai mengirim uang kepada orang tuanya, tentu saja hal ini sangat membantu.

Dan ternyata ada yang sangat membahagiakan adalah dengan lahirnya cucu-cucu, menyebabkan terasa lengkapnya kebahgiaan. Selanjutnya berdoa semoga panjang umur dalam keadaan sehat, sambil terus beribadah kepada Allah SWT dan menunggu kelak panggilan Sang Khalik jika saatnya tiba.

Lanjut Usia, Peraturan Perundang-Undangan

Dalam rangka menyambut HULN (Hari Usia Lanjut Nasional) pada tanggal 29 Mei 2011, saya yang termasuk usia lanjut karena sudah berumur 65 tahun, memosting Peraturan perundangan yang berhubungan dengan manula. Mudah-mudahan sempat dan bisa menulis tentang manula di postingan berikutnya.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG LANJUT USIA

Deputi I Menkokesra
Empat peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan lanjut usia, yaitu :

  1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
    Yang menjadi dasar pertimbangan dalam undang-undang ini, antara lain adalah ”bahwa pelaksanaan pembangunan yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapah hidup makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah”.Selanjutnya dalam ketentuan umum, memuat ketentuan-ketentuan yang antara lain dimuat mengenai pengertian lanjut usia, yaitu seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.Asas peningkatan kesejahteraan lanjut usia adalah keimanan, dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kekeluargaan, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan dalam perikehidupan. Dengan arah agar lanjut usia tetap dapat diberdayakan sehingga berperan dalam kegiatan pembangunan dengan memperhatikan fungsi kearifan, pengetahuan, keahlian, keterampilan, pengalaman, usia, dan kondisi fisiknya, serta terselenggaranya pemeliharaan taraf kesejahteraannya.Selanjutnya tujuan dari semua itu adalah untuk memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktif, terwujudnya kemandirian dan kesejahteraannya, terpeliharanya sistem nilai budaya dan kekerabatan bangsa Indonesia serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.Lanjut usia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai penghormatan dan penghargaan kepada lanjut usia diberikan hak untuk meningkatkan kesejahteraan yang meliputi :
    1. pelayanan keagamaan dan mental spiritual
    2. pelayanan kesehatan
    3. pelayanan kesempatan kerja
    4. pelayanan pendidikan dan pelatihan
    5. kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana, dan prasarana umum
    6. kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum
    7. perlindungan sosial
    8. bantuan sosial

Dalam undang-undang juga diatur bahwa Lansia mempunyai kewajiban, yaitu :

    1. membimbing dan memberi nasihat secara arif dan bijaksana berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, terutama di lingkungan keluarganya dalam rangka menjaga martabat dan meningkatkan kesejahteraannya;
    2. mengamalkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada generasi penerus;
    3. memberikan keteladanan dalam segala aspek kehidupan kepada generasi penerus.

Siapa yang mempunyai tugas dan tanggungjawab ?
Pemerintah bertugas mengarahkan, membimbing, dan menciptakan suasana yang menunjang bagi terlaksananya upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia.
Sedangkan pemerintah, masyarakat dan keluarga bertanggungjawab atas terwujudnya upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia.

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 Tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia.
    Upaya peningkatan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia, meliputi :
    1. Pelayanan keagamaan dan mental spiritual, antara lain adalah pembangunan sarana ibadah dengan penyediaan aksesibilitas bagi lanjut usia.
    2. Pelayanan kesehatan dilaksanakan melalui peningkatan upaya penyembuhan (kuratif), diperluas pada bidang pelayanan geriatrik/gerontologik.
    3. Pelayanan untuk prasarana umum, yaitu mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, keringanan biaya, kemudahan dalam melakukan perjalanan, penyediaan fasilitas rekreasi dan olahraga khusus.
    4. Kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, yang dalam hal ini pelayanan administrasi pemberintahan, adalah untuk memperoleh Kartu Tanda Penduduk seumur hidup, memperoleh pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan milik pemerintah, pelayanan dan keringanan biaya untuk pembelian tiket perjalanan, akomodasi, pembayaran pajak, pembelian tiket untuk tempat rekreasi, penyediaan tempat duduk khusus, penyediaan loket khusus, penyediaan kartu wisata khusus, mendahulukan para lanjut usia.
      Selain itu juga diatur dalam penyediaan aksesibilitas lanjut usia pada bangunan umum, jalan umum, pertamanan dan tempat rekreasi, angkutan umum.
      Ketentuan mengenai pemberian kemudahan dalam melakukan perjalanan diatur lebih lanjut oleh Menteri sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
  2. Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 2004 Tentang Komisi Nasional Lanjut Usia.
    1. Keanggotaan Komisi Lanjut Usia terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat yang berjumlah paling banyak 25 orang.
    2. Unsur pemerintah adalah pejabat yang mewakili dan bertanggungjawab di bidang kesejahteraan rakyat, kesehatan, sosial, kependudukan dan keluarga berencana, ketenagakerjaan, pendidikan nasional, agama, permukiman dan prasarana wilayah, pemberdayaan perempuan, kebudayaan dan pariwisata, perhubungan, pemerintahan dalam negeri.
      Unsur masyarakat adalah merupakan wakil dari organisasi masyarakat yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial lanjut usia, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
    3. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dapat dibentuk Komisi Provinsi/Kabupaten/Kota Lanjut Usia.
    4. Pembentukan Komisi Daerah Lanjut Usia ditetapkan oleh Gubernur pada tingkat provinsi, dan oleh Bupati/Walikota pada tingkat kabupaten/kota.
  3. Keputusan Presiden Nomor 93/M Tahun 2005 Tentang Keanggotaan Komisi Nasional Lanjut Usia.
    a. Pengangkatan anggota Komnas Lansia oleh Presiden.
    b. Pelaksanaan lebih lanjut dilakukan oleh Menteri Sosial

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
Kedeputian I Bidang Kesejahteraan Sosial

sumber

Manusia Lanjut Usia dan Gaptek

Saat ini kelihatan banyak sekali orang usia lanjut di tempat-tempat fasilitas umum, di bank, di supermarket, di tempat-tempat pembayaran tagihan rekening listrik, pdam, telepun, dan sebagainya. Mereka bukan hanya sekedar duduk-duduk tidak ada pekerjaan namun terlibat sebagaimana aktivitas orang muda yaitu membayar dan juga melakukan transaksi lainnya. Tentu saja manula akan beda dengan manuda, masih muda.  Misalnya dalam gerakan manula tidak lagi gesit dan lincah, juga penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang. Tentu hal ini memerlukan permakluman dari orang muda, maksudnya perlu pertolongan, perlu penerangan yang jelas, dan perlu bantuan lainnya yang tentu saja hal tersebut tidak diperlukan oleh orang yang masih muda.

Karena usia lanjut itu pula banyak hal-hal yang kurang dipahami oleh pelayanan-pelayanan publik. Seperti contoh orang lanjut usia juga sering gagap teknologi karena semasa mudanya belum ada vasilitas modern nan canggih seperti saat ini. Semisal saja dalam hal menggunakan atm saat ingin mengambil uang atau transaksi lainnya. Juga sebagai misal orang lanjut usia tentu saja banyak yang tidak faham bahkan tidak mengerti penggunaan handphone, ilmu komputer, bahkan apalagi internet.

Menghadapi hal-hal ini, maksudnya hal-hal baru, banyak dari orang lanjut usia yang tidak sabaran, bahkan marah-marah kepada petugas. Tentu hal ini sekali lagi perlu perhatian dari mereka yang masih muda. Karena kelak jumlah lanjut usia semakin banyak, dan akan semakin banyak lagi yang harus dilayani dengan sedikit kesabaran.

Dan juga diharapkan orang tua lanjut usia hendaknya kalau di tempat fasilitas umum seyogianya kesabaran ditambah, dan sebaiknya tidak marah-marah di tempat umum. Juga mungkin bagi orang tua yang terlalu banyak berbicara, kadang banyak orang tua yang sok tahu, ada baiknya untuk lebih banyak diam merenung dan lebih banyak mendengarkan. Kita sudah kenyang bicara sejak  sedari muda bukan?