“Munggah”, Sahur Puasa Hari Pertama

Dahulu selagi kecil di kampung pada tahun 50-an, kalau memasuki bulan Puasa atau bulan Ramadhan sangat-sangat senang. Dari serangkaian acara menyambut bulan Ramadhan sejak sehari sebelum puasa dimulai, suasana kampung sudah mulai hangat dan ramai.

Suara bedug atau dulag bertalu-talu, ada yang ngabedahkeun (mengeringkan kolam untuk diambil ikannya), ada yang menyembelih ayam biarpun ayam jago kesayangan, ada juga yang mencari kayu bakar untuk besok masak sahur, mengirim makanan rantangan ke sana ke mari, pokoknya lalu-lintas rantang dan makanan sungguh padat. Dan seolah seperti kesempatan makan siang terakhir segala dimasukan kedalam perut.

Saudara yang sekolah di kota, juga saudara yang sudah berumah tangga dan tinggal dekat di kampung memaksakan datang untuk merasakan “munggah” yakni sahur hari pertama puasa bersama orang tua dan saudara lainnya. Sahur pertama teman nasinya istimewa, karena semuanya akan dibangunkan mulai anak kecil sampai tentu yang sudah sewasa. Anak-anak meskipun masih belajar puasa juga dibangunkan, biarpun puasanya hanya sampai beduk zuhur, biasanya yang belajar puasa sejak pagi menanyakan jam terus. Padahal hari-hari biasa susahnya kalau disuruh makan.

Saat “munggah”,  juga bukan hanya saudara yang rumahnya dekat, akan tetapi juga yang di kota memaksakan datang untuk mengejar “munggah” dan kemarinnya habis nyekar ke makam kerabat  yang telah meninggal. Jadi sesungguhnya bagi yang haat, memerlukan datang, akan banyak alasan untuk sering bertemu memperpanjang tali silaturahmi dengan saudara dekat.

Sorenya menjelang buka puasa baik di kampung maupun di kota sama saja bagi yang mampu dan ada uang untuk membelinya, mempersiapkan makanan untuk buka. Bagi anak-anak mempersiapkan makanan untuk buka mulai dari permen, es lilin, kacang, dan jajanan lain berbaris menunggu dilahap saat mulai kedengaran  bedug buka puasa dibunyikan.

Entah di kampung atau di kota tak lupa akan tradisi, dan biasanya selalu bertumpu pada persiapan makanan, betul juga barangkali dunia ini akan sepi jika tidak ada makanan, dan barangkali juga sepi dari kehidupan.

Alhamdulillah puasa pertama telah tamat selesai, tinggal 29 hari lagi, yang dimakan, sekali lagi urusan makanan mulai dari kurma, es sari buah, air teh panas manis, gorengan, kolak pisang, itu makanan tajil merupakan makanan pemanasan, diselang sholat maghrib dulu. Dan setelah itu pokoknya ingat-ingat jangan lupa sholat tarwih karena kekenyangan dan mengantuk.

2 thoughts on ““Munggah”, Sahur Puasa Hari Pertama

  1. wah artikelnya sangat-sangat menarik sekali “apik nemen” bhs pekalongan. saya jadi inget masa-masa kecilku dulu, bandung dan pekalongan hampir sama. saya baca artikel dari atas sampe bawah seolah saya masuk dalam dimensi masa kecilku dulu. terimakasih mas atas postingan tempo dulu dan salam kenal, klo bisa tolong upload foto2 asli masa kolonial ya mas..

  2. pak hardi, salam kenal kembali wah masa kecil adalah masa terindah bagi kita ya, terimakasih. wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s