Ke Yogya Naik Kereta Lodaya

Ke Yogyakarta naik kereta api adalah pilihan yang patut dipertimbangkan karena PT KAI telah melakukan berbagai perbaikan agar penumpang bisa menikmati perjalanan. Kali ini saya ingin bercerita tentang kami tiga bersaudara dengan pasangan suami istri sehingga menjadi rombongan kecil para lansia berjumlah enam orang, melakukan perjalanan Bandung – Yogyakarta pp. Perbaikan PT KAI dimaksud adalah semisal sejak dari Bandung ditemukan beberapa kemudahan seperti stasiun kelihatan lebih tertib, lebih bersih, tidak ada calo tiket, dan tidak ada pedagang asongan yang biasanya berseliweran.

Entah karena apa mungkin angka harapan hidup orang Indonesia naik, ketika mulai masuk gerbong ternyata banyak teman sesama seragam uban. Betul-betul seperti sepasukan “laskar tak bergune” alias sekumpulan para pensiunan. Menjadi lansia usia diatas 60 tahun tidak selalu berwarna kelabu tapi banyak hal yang membawa kebahagiaan. Misal harga tiket KA mendapat potongan 20%, harga tiket kelas eksekutif yang seharusnya Rp 185.000, hanya membayar Rp 148.000 saja.

Di setiap stasiun yang dilewati memang lumayan nyaman tidak direcoki oleh pedagang asongan, tapi disisi lain tidak bisa menikmati kuliner khas tempat yang disinggahi kereta api tersebut.

Maksud utama kami ke Yogya adalah mengunjungi saudara yang sedang sakit. Bepergian rombongan para nini dan aki perlu persiapan yang matang seperti transportasi, penginapan, dan makanan harus yang relatif baik, sehat, aman, dan murah… apa ada ya? Ada misal penginapan, menemukan homestay yang bangunannya bergaya kolonial bernama penginapan “Ndalem Suratin” yang terletak di jalan AA Sangaji Yogyakarta. Tarif per malam disebut “Tulip Room” Rp 298.000 dengan perlengkapan biasa ac, water heater, free coffee, dan sarapan pagi, tempatnya untuk keluarga ok, hanya sayang agak jauh dari Stasiun harus naik kendaraan minimum naik beca.

Meskipun maksud utama bersilaturahmi tapi ketika segala urusan sudah beres maka seperti peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, atau jangan kena ungkapan “ke Mekah tak ke Madinah” maka sekalian ke Yogya tidak lupa plesiran ke Solo untuk sedikit belanja oleh-oleh di Pasar Klewer dan tidak lupa wisata kuliner.

Sewa kendaraan kijang 12 jam Rp 275.000, tambah bensin Rp 150.000, ngajak sopir makan, dan tip Rp 50.000. Dan kami pergi ke Solo tak lupa kaum ibu membeli pakaian batik, terus karena dapat informasi kuliner kami tidak ingin melewatkan kesempatan bagitu saja. Yang kami nikmati adalah serabi Notosuman yang rasanya emh kenyal dan lembut, terus Soto Gading memang istimewa dan enak rasanya, satu lagi sosis Solo yang beda dan gurih. Dua jam saja kami di Solo.

Di Jogya pun kami mencoba berbagai gudeg pertama gudeg “Bu Citro” yang agak kering dan hebat, kemudian gudeg “Yu Djum” yang untuk oleh-oleh, dicoba juga gudeg pinggir jalan penjualnya si mbok yang ngambil ayamnya dengan tangan begitu saja, tapi ya enak dan nikmat juga.

Demikian perjalanan 2 hari para gaek ke Yogyakarta, perjalanan yang cukup memuaskan dan relatif tidak menemukan kesulitan.

Advertisements

Roti Walanda…

image

Zaman dahulu zaman serba susah makanan dan pakaian. Memang bagi yang berduit masalah pangan sandang tidak menjadi persoalan. Tahun 50-an khususnya masyarakat Jawa Barat keamanannya diganggu oleh gerombolan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Terus tahun 1965 terjadi peristiwa g-30-s, jadi selain dihajar oleh kolonial Belanda juga gangguan oleh sebagian dari bangsa kita sendiri. Sudah dikatakan bahwa kekurangan kebutuhan hidup paling utama yakni makanan terjadi di mana-mana, bahkan wabah kelaparan.

Mulai tahun 70-an khususnya di Bandung mulai kelihatan berbagai kemajuan, pakaian mulai mampu dibeli oleh rakyat kebanyakan. Juga, yang akan diceritakan adalah masalah makanan, misalnya mulai kelihatan atau dirasakan sektor pangan adalah melimpahnya telur dan daging ayam. Masyarakat kebanyakan mampu mengkonsumsi protein yang relatif terjangkau. Di Pasar malam Cicadas misalnya banyak ditemukan penjual goreng ayam dan roti bumbu. Jadi oleh-oleh yang dibawa ke rumah bisa agak berkualitas.

Roti dahulu tahun sebelum 60-an tidak begitu populer di masyarakat kebanyakan, Hanya golongan atas dan mampu yang biasa mengenyamnya. Nah, di tahun 70-an mulainya wong cilik makan roti. Roti yang paling populer adalah roti bumbu. Roti tawar biasa atau roti “kasino” diiris dibelah memanjang terus dibumbui mentega, kacang pindekas, selai nanas, dan ditaburi serbuk coklat, rasanya apalagi dibakar saat itu enaaaak sekali. Penjualnya pun ada yang mangkal tepi jalan atau didorong dengan memakai roda keliling.

Lama kelamaan roti bumbu seperti kehilangan pamor tak begitu kelihatan di kota Bandung, kalau mencari yang seperti dahulu agak susah. Biasa popularitas roti bumbu menurun. Makanan lain yang serentak datang dan juga menghilang di kota Bandung adalah goreng singkong kiju, saat ini jarang ditemukan, tidak seperti ketika muli banyak penggemarnya awal tahun 200-an.

Sesekali ingin rasanya makanan jang rasanya zadul yaitu roti bumbu, baru-baru ini saya masih menemukan ada di Pasar Kosambi Bandung yaitu toko roti bernama “Cari Rasa”. Rasanya memang tidak mengecewakan, enak.

Oleh-Oleh dari Lembur

Zaman kolonial Belanda sangat kental dengan budaya feodal, feodalisme. Kaum pribumi menjadi budak bagi tuan-tuan Walanda di perkebunan misalnya.  Lalu juga menjadi hamba dari petinggi atau ambtenar-ambtenar lokal atau bule sawo matang menuntut perlakuan yang sama. Misal Bupati bagi masyarakat awam dan apalagi di perkampungan Bupati itu tak ada bedanya dengan raja. Bupati misal di tanah Pasundan disebut Pangawulan, artinya orang yang harus dikaulaan harus dilayani sebaik-baiknya.

Pelayanan atau pengabdian terjadi andaikata Bupati dengan jajarannya turni atau turun ke desa. Lurah atau kuwu dari desa atau wilayah yang dikunjungi ketiban kerja berat, yakni menyediakan tempat, makanan, dan oleh-oleh ketika rombongan pulang ke kota. Lama-lama, biasanya karena dapat pujian bahwa penerimaan terhadap pejabat dikategorikan memuaskan, bagi si kecil menyervice Bupati dianggap suatu kehormatan dan suatu keharusan. Baik tenaga maupun harta selalu siap untuk haturan pejabat.

Ditambah lagi budaya orang Sunda yang someah hade ka semah, ramah dalam menyambut tamu, dan tradisi berbahasa yang jarang langsung mengatakan “tidak” harus malapah gedang, tidak to the point menyebabkan tamu merasa kerasan tinggal berlama-lama.

Barangkali, sekali lagi barangkali, menjadi menak yang dimemenan dan di enak-enak oleh siapapun bagi yang suka dan biasa, tentu menyenangkan. Terutama ketika diberi oleh-oleh makanan khas suatu daerah yang kualitasnya istimewa,

Saya hehee… merasa menjadi Bupati zaman kolonial ketika baru-baru ini mendapatkan kiriman atau oleh-oleh atau buah tangan dari seseorang yang tinggal di Sukabumi, tapi ini mah dari saudara dekat saya. Adapun oleh-olehnya berupa: Ikan nila besar 4 ekor rata-rata berat 0,5 kg-an sudah digoreng, pisang tanduk yang super, dan gula kelapa juga super satu beronjong. Ada keterangan bahwa ikan nilanya besar hampir seperti ikan gurame.  Pisang tanduknya hanya satu sisir dalam satu tandan karena katanya kalau lebih dari satu sisir namanya bukan pisang tanduk tapi dsebut pisang burayot.

Anda ingin melihat oleh-oleh yang dibawa saudara saya itu:

Ikan nila goreng

Ikan nila goreng

Seberonjong gula merah

Satu beronjong gula

Sesisir pisang tanduk

Sesisir pisang tanduk

 Hehehe… ikannya dibumbu kuning, gulanya disimpan dulu, dan pisang tanduknya di pisang goreng, Emm kenikmatan dari mana saja ya… Terima kasih Aa.

Sepiring Ikan Mujahir…

Sepiring Ikan Mujahir

Sepiring Ikan Mujahir

Baru-baru ini saya pulang dari kampung halaman yaitu dari Ciamis bagian utara, kalau menyebutkan Ciamis bagian utara termasuk Baregbeg, Cipaku, Kawali, Panjalu, Panawangan, dan lainnya lagi kesemuanya termasuk nama kecamatan dari Kabupaten Ciamis, jawa Barat.

Sewaktu kembali ke Bandung dioleh-olehi makanan khas Ciamis kaler tersebut, salah satunya sebungkus goreng ikan mujahir. Sesampai di Bandung oleh istri saya ikan mujahir tersebut digoreng kembali terus disimpan di meja makan. Dan tiba-tiba saja saya teringat akan masa kecil usia sekolah SD dan SMP tahun 50-an sampai awal 60-an cerita tentang ikan, khususnya ikan mujahir. Maka saya ambil kamera dan jadilah judul postingan “Sepiring Ikan Mujahir”.

Di Ciamis kaler tahun 50-an dimana air mengalir di parit, di sungai, tergenang di kolam, masih jernih seperti baru keluar dari mata air. Tak mengherankan jika air di sawah oleh para petani yang mencangkul jika kehausan langsung diminum. karena demikian melimpah ruahnya air yang keluar dari mata air, maka banyak keluarga yang memiliki kolam pemeliharaan ikan untuk dikonsumsi sendiri atau kalau ada kelebihannya dijual.

Dalam cerita-cerita pendek berbahasa Sunda sering disinggung mengenai bagaimana kalau Bupati dizaman kolonial turun ke Desa, menyalurkan kesukaannya akan menangkap ikan di sungai, dan cerita bagaimana nikmatnya menikmati pepes ikan. Pepes Ikan mas bibit adalah ikan yang biasa dijadikan indukan untuk dipijahkeun biar didapat anak-anak ikan baru. Ikan mas bibit tentu ada telurnya, telur ikan itulah yang melengkapi kelezatan pepes ikan mas bibit.

Karena budaya memelihara ikan di kolam dilakukan secara turun temurun tentu saja kemampuan warganya dalam mengelola ikan dan kolam sudah lihai. Misalkan saja bagaimana cara memijahkan ikan, membesarkan, dan cara-cara menangkap ikan yang paling aman tidak mengganggu ikan yang lain. Demikin juga dalam hal memasaknya dari mulai digoreng, dipanggang, dibakar, dipindang, disop, dan dibuat dendeng biar ikan tahan lama.

Ikan kolam juga berkasta-kasta ha ha ha, yang paling tinggi dan bisa disuguhkan ke Bupati adalah ikan gurami atau ikan mas bibit. Berikutnya adalah kelas perasmanan biasa yaitu sejenis tawes, tambak, nilem, beureum panon. Kemudian kelas terakhir adalah termasuk kelas paria hehe he yaitu ikan mujahir. Tidak tahu mengapa ikan mujahir hak azasinya demikian dipinggirkan, kemungkinan karena ikan mujahir itu, apalagi kurang pelihara, kepala besar, banyak tulangnya, dan tulang ikan mujahir termasuk keras.

Zaman saya kecil dimana kala hari raya ibi-ibu membawakan penganan lengkap masing-masing ke masjid, untuk dimakan lagi sendiri setelah dipanjatkan doa, disebut sidekah, tidak ada yang berani membawa mujahir kasta paria itu, gensi atuh.

Meski mujahir dianggap ikan tidak berkelas, akan tetapi zaman sekarang telah dibudidayakan menjadi ikan nila. Juga menurut saya ikan mujahir bujigjrig itu enak jika dipindang manis dengan gula jawa hingga empuk ketulang-tulangnya, atau diambil ketika masih keci alias baby mujahir dan digoreng garing sehingga krauk..krauk..

Yang lucu sepiring ikan mujahir yang saya sebutkan di awal ternyata akhirnya habis juga, termasuk dimakan oleh saya yang mulanya menolak…

Karedok Leunca…

Grup lawak Dono – Kasino – Indro dalam dagelannya dengan lagam berbicara bahasa Batak yang khas berujar bahwa, yang enak punya istri orang Sunda, bekali sambal lepas di kebun, sudah hidup dia, segala daun dimakan kecuali daun pintu. Mungkin saya mengutipnya tidak persis begitu, tapi soal jenis daun yang bisa dimakan mentah oleh orang Sunda memang cukup banyak, dedaunan itu kemudian disebut lalapan, Misalkan saja lalapan hijau yang biasa dimakan mentah adalah jenis daun-daunan, daun putat, kemangi, daun jambu mede, pohpohan, sawi, selada air, pokcay, selada bokor, kacang panjang, antanan, beluntas, daun kacang panjang.  Ada juga daun-daunan yang perlu direbus dulu daun singkong, daun ubi jalar, daun labu siam, daun katuk, daun pepaya, kangkung, mamangkokan, imba, kedondong. Jenis buahan yakni leunca, takokak, petai cina, jengkol, mentimun, buah hiris muda. Segala lalapan itu memang harus ada coelnya yakni sambal terasi yang aduhai…

Zaman dahulu tahun 50-an ketika usia sekolah SD saya sering disuruh orang tua atau kakak perempuan untuk mencari lalapan dedaunan atau ngundeur baik di halaman rumah maupun di kebun agak berjarak. Meskipun masih kecil saya sangat tahu mana yang sayuran lalapan dan mana yang bukan. Di rumah kakak menyediakan sambal, terus masak nasi, tambah kerupuk atau ikan asin sederhana seperti ikan asin sepat atau peda, sudah cukup untuk makan siang tujuh bersaudara.

Pohon dan buah leunca ditanam di Pot

Pohon dan buah leunca ditanam di Pot

Menyetelkan teman nasi yang sederhana murah meriah sudah menjadi kebiasaan, ini bukan karena tirakatan akan tetapi karena memang teman nasi lain tidak ada atau jarang ditemukan, maklum zaman segala susah. Goreng peda asin dipadukan atau distelkan dengan pete mentah yang cukup tua bahkan kulit arinya sudah berwarna merah, dimakan nasi pulen enak sekali atau pedo! Jengkol muda mentah dicoel sambal terasi medok sama nasi pulen emh enak banget… Atau kerak liwet nasi yang agak gosong ditaburi garam saja sudah nikmat…

Persiapan membuat Karedok leunca

Persiapan membuat Karedok leunca

Makan yang paling sederhana sekaligus prihatin zaman itu adalah nasi diaduk dengan minyak bekas menggoreng atau jalantah terus ditaburi garam halus, sudah lumayan. Berikutnya teman nasinya berupa kerupuk saja, ikan asin saja, atau mengolah secara sederhana sayuran lalapan tersebut di atas.

Adapun kreasi memasak sayuran yang relatif sederhana adalah dipencok, dikaredok, dilotek, dipecel dan diulukutek. Bumbunya sederhana saja. Pencok bahan bakunya hanya satu macam misal pencok hiris, buah hiris muda ditumbuk kasar didalam cobek bumbunya garam, gula, kencur, bawang putih, dan terasi, eh.. jangan lupa cabai rawit, lebih lengkap pakai oncom bersamaan dulek. Untuk bumbu yang sama tetapi bahan bakunya leunca disebut pencok leunca. Jika bahan bakunya beberapa macam misal leunca, mentimun, kemangi, kacang panjang diolah seperti pencok disebut Karedok leunca. Kalau leunca tidak diulek dicobek tetapi ditumis dengan tambahan oncom biasa disebut ulukutek leunca.

Kredok Leunca dan lauk-pauk lainnya

Kredok Leunca dan lauk-pauk lainnya

Waduh payah juga menulis resep masakan oleh yang ahli makannya saja…

Makan-Makan Makanan Minang

Cerita tentang makanan Padang tidak akan ada selesainya, demikian juga di dunia maya banyak telah ditulis orang tentang makanan yang sedap nian ini. Saya ingin menulis pengalaman sendiri dan pandangan saya sendiri dalam hal menikmati kuliner Tanah Minang ini.

Kami datang ke Tanah Minang dalam rangka meresmikan tali kasih anak kami dalam sebuah pernikahan di Bukittinggi. Pengantin putra dari Jawa Barat sedang anak daronya dari Sumatra Barat asli Bukittinggi.

Datang ke Bukittinggi termasuk sambil menyelam minum air, yang fardunya menikahkan tambahannya wisata ke tempat-tempat yang menarik dan juga jangan lupa menikmati hidangan makanan Padang. Khusus mengenai kuliner makanan Sumatra Barat dari beberapa informasi dalam hal ini Bukittinggi adalah juaranya.

Kami rombongan dari Bandung mula-mula berjumlah 15 orang kemudian karena berdatangan sanak saudara akhirnya berjumlah 25 orang. Karena kami juga berada disana selama 5 hari jadi so pasti ukuran perut menjadi masalah yang diutamakan he he he. Jika di Bandung paling-paling datang ke rumah makan Padang tidak sampai sebulan sekali, tapi pada lawatan ke Bukittinggi pada bulan Agustus 2013 ini makan hidangan Padang hampir setiap hari.

Pemanasan makan makanan Padang

Pemanasan makan makanan Padang

Mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dari Jakarta pada jam 13.00 tentu saja perut sudah menagih untuk diisi, tapi seperti tidak ada kesempatan karena kendaraan sudah siap untuk membawa kami ke Bukittinggi, jadi perjalanan belum lama sepakat untuk berhenti di Padang Panjang langsung masuk rumah makan, dan sikaaat makanan Padang pemanasan.

Pemanasan makan di sini lumayan lama, makanan yang saya nikmati adalah gulai kepala ikan tapi nampaknya kepala ikan tongkol besar. Karena ikannya masih segar jadi dagingnya yang putih dan bumbunya yang meresap, cukup membuat saya lupa daratan.

Perjalanan dilanjutkan dengan guyuran hujan, dan biasa terjadi iring-iringan mobil sehingga perjalanan terpaksa merayap, sehingga air terjun lembah Anai hanya dilihat dari mobil saja. Dengan perut kenyang mobil terus meluncur, sekitar jam 17.00 sampailah ke kota tujuan Bukittinggi.

Hidangan ditata di tempat duduk lesehan

Hidangan ditata di tempat duduk lesehan

Malam hari kami diundang makan oleh calon besan, dan yang luar biasa cara menghidangkan lauk pauk yang dimasak ala Bukittinggi sebagaimana umumnya masakan Padang. Puluhan piring berisi lauk pauk dan teman nasi lainnya ditata diatas karpet dimana kami duduk lesehan. Setelah beberapa patah kata selamat datang kami dipersilakan makan. Dan.. masya allah nikmatnya makan dengan lauk pauk yang sangat mengundang selera. Dan malam itu setelah mengucapkan terima kasih kami pulang ke hotel dengan perut kenyang. Undangan makan serupa masih kami terima yaitu saat selesai akad nikah dan sewaktu pamitan kala segala acara telah selesai.

Ikan bilis dalam karung Jangan menangis dan jangan bingung

Ikan bilis dalam karung
Jangan menangis dan jangan bingung

Jangan lupa garingnya goreng ikan bilis atau bilih, ikan kecil ini didapat dari danau. Ketika saya jalan-jalan pagi saya pertama menemukannya di pasar pagi dadakan di jalan ke arah Ngarai Sianok, dipajang begitu saja dalam karung plastik harga perkilonya Rp 60.000,- Ternyata banyak yang sudah dikemas dan tinggal dimakan ditambul bisa, dengan nasi hangat apalagi enak. Ada berita bahwa ikan bilis ini hanya hidup di Danau Singkarak akan tetapi ada juga di Danau Maninjau, bahkan katanya dibudidayakan di Danau Toba.

Ikan bilis dalam kemasan Jangan menangis kan ada yang merindukan

Ikan bilis dalam kemasan
Jangan menangis kan ada yang merindukan

Ikan bilis dijual juga dalam kemasan plastic, demikian juga daging rendang dijual dalam kemasan yang tahan lama, sangat cocok untuk oleh-oleh.

Tidak cukup hanya itu, kami mencoba hidangan nasi kapau di Pasar Lereng dekat Jam Gadang, mencoba sate mak Sakur sewaktu pulang dari Bukittinggi ke Padang, makan ikan bakar di Rumah makan Fujo di kota Padang.

 

Hidangan nasi kapau di Pasar Lereng

Hidangan nasi kapau di Pasar Lereng

Sate Mak Syakur, uih enaknya

Sate Mak Syakur, uih enaknya

 

Gulai kepala ikan kakap, enak sekali, dihangatkan sesampai di bandung

Gulai kepala ikan kakap, enak sekali, dihangatkan sesampai di bandung

Dan oleh seorang kawan anak saya yang sangat baik karena demikian perhatian terhadap kami selama kami di Sumbar, bahkan sebelum naik pesawat dioleh-olehi gulai kepala ikan kakap, yang ketika sampai di Bandung dihangatkan betul-betul lamak bana.

Nuhun ka Kang Gungun dan istri.

Sekian dahulu….

Indische Restaurant atawa Rumah Makan Naga Mas di Bandoeng

Sejak zaman dahoeloe Bandoeng terkenal dengan sebutan kota kuliner, bahkan sampai sekarang ini apalagi setelah ada jalan tol Jakarta – Bandung yang dengan kendaraan roda empat bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam saja. Nah karena salah satu sebab yaitu jajanan makanan alias menikmati kuliner di Bandung inilah orang Jakarta banyak berduyun-duyun datang ke Bandung.

 Jenis makanan sangat variatif misalkan saja yang padatnya ada nasi timbel, nasi bakar, bahkan nasi edan. Diantara berbagai jajanan yang paling banyak adalah yang terbuat dari tahu, mi, bakso, dan sejenisnya. Sedangkan jajanan khas Bandung lain adalah batagor, siomay, dan cireng. Batagornya ada batagor “Riri” dan batagor “Kingsley”. Sedikit lagi, kupat tahu, surabi, dan bubur ayam Mang Oyo. Wah masih banyak lagi sampai lupa untuk menyebutkannya satu per satu.

 Nah, rumah makan Tionghoa jangan dilupakan, umumnya orang Cina jago masak membuat makanan yang lezat-lezat sampai ada semboyan koki Cina berbunyi:

Semua yang berkaki empat, melata di muka bumi kecuali meja

Semua yang bisa terbang di awang-awang, kecuali layangan

Semuanya bisa dimasak, dihidangka,  dan dimakan

Urang Bandung biasanya tidak menyebut “bule” kepada bangsa kulit putih, sebab sebutan “bule” bukan untuk manusia tetapi untuk kerbau yang bule. Zaman kolonial Belanda menyebut orang kulit putih itu dengan sebutan bangsa Walanda. Makanan untuk bangsa Walanda, disebut makanan Eropa atau menu Eropa.

Adapun restoran beken Bandung baheula yang menghidangkan masakan Eropa diantaranya “Moison Bogerijen” di jl Braga, “Moison Boin” di jl Naripan, “Moison Smith” di jl Merdeka, “Rumah Makan Capitol” di jl Braga, “Paradise Restaurant” di Pasar Baru, dan , “Indisch Restaurant” di Aloen-Aloen Bandoeng.

Indisch Restaurant inilah yang akan saya beri keterangan, ada sebabnya, asal mulanya ada permintaan dari sahabat saya Nane yang menulis komentar pada tulisan saya berjudul …….. isi komentarnya adalah: “Numpang tanya… Mungkin anda punya informasi, tentang sebuah restauran jaman dulu. Namanya : Rumah Makan Naga Mas atau Indische Restaurant. Menurut orang tua kami, letaknya persis di bangunan BRI Tower sekarang”.

Keterangan yang diperoleh dari beberapa buku bacaan di rumah tentang Bandoeng tempo doeloe disebutkan, sekali lagi, bahwa Indisch Restaurant atau betul belakangan namanya menjadi Rumah Makan Naga Mas adalah rumah makan kelas berduit yang menyediakan selain makanan Cina juga menu makanan Eropa, maklum pada saat itu banyak orang Belanda dan Eropa lainnya yang perlu dipenuhi selera makannya. Selain bagi orang Eropa warga kota Bandung, juga bagi para Preanger planters alias para petani kaya yang turun gunung dari sekitar Bandung selatan yaitu petani teh dan kina.

Saat ini bangunan itu sudah tidak ada lagi akan tetapi di lokasi bekas Indisch Restaurant itu berdiri mahiwal alias berbeda dengan bangunan kiri kanannya yang antik, sebuah bangunan menjulang tinggi 16 tingkat bernama BRI Tower, tempatnya Bank Rakyat Indonesia usaha dan berkantor. Alamat jelasnya Jl. Asia Afrika No. 57-59.

 Sepertinya kalau mau nyukcruk sejarahnya bangunan itu, yaitu asal mula sebuah toko bernama Toko de Vries, Toko de Vries di Grote Postweg, sekarang Jln Asia Afrika, merupakan toko serba ada yang mulai dibuka pada awal tahun 1900-an. Pendirinya adalah Klaas de Vries. Toko de Vries berasal mula dari warung kecil  Klaas de vries di utara Aloen-Aloen dimana lokasinya di BRI Tower sekarang ini berdiri sekitar tahun 1986. Sepertinya dari bekas toko Klaas de Vries ini kemudian menjadi Indisch Restaurant.

Seni bangunan dari “Indisch Restaurant” masa dulu, yang banyak menggunakan konstruksi balok kayu adalah perpaduan dari bentuk  sebuah Pendopo (seperti Kabupaten) dengan gaya arsitektur barat dan Cina. Maklumlah, para anemer dan pekerja bangunan tempo dulu pada umumnya Cina, sehingga kreasi jamahan tangan mereka masih terlihat membekas. Yang seumuran dengan Restoran itu adalah bangunan kabupaten Bandung dan Mesjid Agung tempo dulu yang atapnya susun tiga berbau Hindu Jawa.

Yang paling sering disebutkan di tulisan-tulisan, jika kita browsing di internet, yaitu bahwa Indische Restaurant berperan dalam peristiwa heroik Bandung Lautan Api, ceritanya adalah: Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan masyarakat mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran dimulai pada pukul 21:00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang).

Mengapa para pejuang membumi hanguskan Bandung karena gedung-gedung strategis yang kemungkinan akan digunakan Belanda. TRI  merencanakan peledakan dimulai pukul 24.00 di Gedung Regentsweg, selatan alun-alun Bandung yaitu gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI)  sebagai aba-aba untuk meledakkan semua gedung. Tapi mengapa rencana peledakkan mulai jam 24.00 tapi jam 21.00 sudah mulai? Kemungkinan karena kesalahan teknis, maklum zaman dahoeloe, sebab pada jam 21.00 sudah kedengaran ada ledakan entah dari mana, maka dimulailah pembumihangusan Bandung pada jam itu.

Demikian cerita Indische Restaurant yang tinggal waasna atau tinggal kenangan.

Sumber bacaan: Semerbak Bunga di Bandung Raya oleh Haryoto Kunto, Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi, Wajah Bandung Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto.