Tempat Pulang Kaum Pensiunan

Kami para pekerja perantauan sekaligus para transmigran, memulai bekerja di salah satu BUMN yang berlokasi di Kalimantan Timur. Sejak mulai bekerja kami sudah menandatangani kontrak kerja sekaligus cabut dari tempat tinggal asal. Misal asal Surabaya pindah menjadi warga baru di tempat kerja yang baru itu. Demikian juga mereka yang berasal dari Bandung, Palembang, Padang, Makasar, harus pindah dari tempat asalnya menjadi warga baru di Kalimantan Timur itu.

Ketika kami mulai bekerja kebanyakan masih berusia belum 35 tahun bahkan para pemuda yang fresh graduates yang berusia 20 tahunan keatas sudah mulai bermukim di tempat baru itu. banyak dari kami yang masih bujangan, kalaupun sudah berumah tangga masih mempunyai anak-anak yang ketika pindah masih berusia taman kanak-kanak.

Tahun demi tahun kami bekerja dalam satu kompleks dimana perumahan juga disediakan oleh perusahaan. Bukan hanya rumah demikian juga fasilitas lainnya perlengkapan rumah, transportasi, sekolah untuk anak-anak dari TK sampai SMA, sarana untuk berolah raga, dsb disediakan oleh perusahaan.

Tak terasa sambil terus bekerja, usia pelan-pelan tapi pasti merayap bertambah, demikian mereka yang masih bujang dan masih gadis ketika dulu saat permulaan bekerja selanjutnya berumah tangga dan beranak pinak.

Karena di kompleks perkampungan perusahaan tidak ada sekolah lanjutan setelah SMA, maka setelah anak-anak menyelesaikan pendidikan SMA nya anak-anak pegawai itu banyak yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Banyak dari mereka memilih perguruan tinggi yan berlokasi di kota-kota besar di P. Jawa. Kota yang dituju oleh anak-anak diantaranya adalah Jakarta, Bandung, Jogya, Surabaya, dan Malang.

Biasanya jika anak pertama memilih kota umpamanya kota Bandung maka kebanyakan adik-adiknya pun memilih kota yang sama yaitu Kota Bandung. Mudah dimengerti karena memang diarahkan oleh orang tuanya agar bisa berkumpul dan bisa hidup bersama bersaudara baik kos atau dibuatkan rumah khusus untuk sekolah anak-anak. Bisa saling mengawasi, bisa saling berbagi, rukun hidup dengan saudara sambil menyelesaikan kuliah.

Ketika para pekerja yang sebagai pekerja perantau atau transmigran yang berasal dari kampung halamannya baik dari Jawa, Sumatra, atau Sulawesi sampailah pada usia pensiun yakni umur 55 tahun. Mau tidak mau harus meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja, bukan hanya itu rumah dan segala fasilitas yang diberikan harus dikembalikan kepada perusahaan.

Nah, kemana mereka yang sudah menjadi pensiunan ini pulang? Jika pulang ke kampung halaman tempatnya dahulu, saat ini  sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Misalkan saja seseorang yang berusia 23 tahun ketika mulai bekerja saat pensiun sudah berusia 55 tahun artinya dia sudah bekerja meninggalkan kampung halaman selama 32 tahun. Dan selama itu biasanya orang tua sudah mendahului kita, demikian juga saudara sudah terpencar entah dimana. Mau kemana pulang atau mau mengikuti siapa lagi.

Ternyata kebanyakan dari mereka para pensiunan itu memilih tempat tinggal baru dengan mengikuti anak-anak dimana menyelesaikan sekolahnya. Jadi bisa saja terjadi yang asal kampung halamannya Banjarmasin, setelah pensiun memilih tempat tinggal baru di kota Malang karena anak-anaknya melanjutkan sekolah di kota Malang. Demikian juga orang Padang pindah ke Jakarta, orang Palembang pindah ke Bandung, orang Makasar pindah ke Surabaya.

Itulah sebabnya sebagai contoh di salah satu kompleks perumahan di Kota Bandung banyak ditemukan pensiunan yang kampung halaman asalnya dari Palembang.

Yah begitulah masing-masing membawa nasib dan keberuntungan dimana pun bumi miliknya Allah SWT. Hanya barangkali harus panadai-pandai saja menyesuaikan diri dengan lingkungan diman kita berada seperti kata peribahasa Dimana  bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Advertisements

Pensiunan, Jangan Lupa Pekerjaan di Rumah

Yang menjadi tua bukan hanya saya akan tetapi juga pasangan hidup yaitu istri saya. Demikian juga yang sering menderita penyakit karena tua atau degeneratif (penyakit yang mengiringi proses penuaan) bukan hanya diderita saya sebagai pensiunan akan tetapi juga diderita oleh istri saya. Jadi yang mengeluh berkurangnya penglihatan, pendengaran, reflek, bahkan kepekaan pikiran dan perasaan dirasakan juga oleh istri saya.

Ketika saya masih bekerja saya cenderung dikaulaan (dilayani) terus oleh istri dalam berbagai hal termasuk didalamnya mempersiapkan makan, pakaian, mengurus anak, belanja, dan sebagainya, seolah-olah saya tidak tahu menahu urusan pekerjaan rumah. Karena saat bekerja habis dipakai tugas-tugas dalam menjalankan pekerjaan di kantor, dan tak henti-hentinya mengejar target dan karir.

Nah, ketika usia sampai 55 tahun dan saya hampir selalu berada di rumah, ketika diamati mulai kelihatan “kesibukan” istri saya yang telah saya sebutkan tadi bahwa kondisi prima fisik maupun psikis mulai menurun, sekali lagi bukan hanya saya akan tetapi juga istri saya. Jadi sudah saatnya saya dan istri pada saat tua begini harus saling ngaulaan (melayani).

Ternyata pekerjaan di rumah yang tadinya menjadi “tanggung jawab” istri saya, meskipun anak-anak saat ini sudah tidak lagi serumah, mulai kami garap berdua. Bermacam pekerjaan rumah dari pagi sampai malam hari saya sebutkan di sini mulai dari membuka hordeng jendela dipagi hari, menyapu lantai, mengepel, belanja, memasak, mencuci piring, nyuci pakaian, menjemur, nyetrika, dan seterusnya sampai tidur di malam hari.

Dalam rangka ekspansi pekerjaan rumah termasuk pekerjaan di dapur ternyata saya perlu banyak menyesuaikan diri karena pemilik wilayah yang diekspansi bukan lahan kosong ada pemiliknya yakni istri saya. Memahami kemauan istri saya dalam mengelola teritorialnya perlu permakluman dan kebesaran hati (sebetulnya tak begitu-begitu amat kale!) dari diri saya sendiri.

Saya ingin memberi beberapa contoh bahwa membantu istri bekerja di dapur tidak sesederhana yang diduga, seperti dimana meletakkan barang atau peralatan dapur agar tidak sembarangan saja akan tetapi harus dikembalikan ke tempatnya semula. Demikian juga nyapu, ngepel, mencuci, nyetrika, dan pekerjaan rumah lainnya betul-betul harus mengikuti kemauan dan prosedur yang sudah berlaku lama dari komandan.

Kalau kita sadar bahwa segala sesuatu pekerjaan dilakukan dengan sabar dan tawakal (walah!) maka lama kelamaan akan terasa kenikmatan hidup dimasa tua dan bersama-sama menjadi tua dengan pasangan hidup yakni istri sendiri.

Prinsipnya bahwa kalau tidak kita yang mengelola pekerjaan rumah dengan baik, siapa lagi?

 

 

Doyok Tak Mau Melawak di Acara Reuni

Setelah bekerja puluhan tahun sampai usia 55, sebutan berikutnya menjadi pensiunan saja, yang biasanya aktif di kantor atau barangkali di lapangan selanjutnya tinggal di rumah. Kalau tidak pintar-pintar mencari kegiatan yang bermanfaat dan sehat, kita bakalan bengong sendirian atau hanya dengan istri saja. Karena sudah tidak punya anak buah segalanya dikerjakan sendiri, tidak ada yang bisa disuruh hanya sekedar untuk memasukan surat ke kantor pos, harus dikerjakan sendiri. Biasanya juga anak-anak sudah berumah tangga dan biasanya juga anak-anak karena sudah dewasa tidak mau terus-terusan bersama orang tua yang sudah pensiunan, mereka sudah mempunyai urusan sendiri-sendiri. Oleh karena itu banyak diantara para pensiun yang mengharapkan ada acara reuni dengan teman-teman bekas sekantor atau sedepartemen dahulu.

Biarpun banyak yang tidak suka, karena saya ingin menceritakan pengalaman pribadi, saya maksa ingin  bercerita tentang perilaku para pensiunan pada saat reuni. Kami pensiunan dari suatu BUMN yang berada di luar pulau Jawa, kami rata-rata perantau hampir dari seluruh Indonesia,  sedangkan pada masa pensiun ini banyak yang menetap di kota-kota di pulau Jawa seperti Bandung, Jogya, Surabaya, bahkan Malang.

Karena tempat kami bekerja dahulu asalnya di tengah hutan yang akhirnya ditata menjadi sebuah kota, kami para pekerja dan keluarga tinggal di area perumahan yang disediakan perusahaan. Dengan demikian ikatan kekeluargaan kami sangat erat, karena kami bekerja di perusahaan yang sama, rumah seragam dibuatkan perusahaan untuk setiap keluarga, ke pasar yang sama, olah raga di tempat yang sama, bahkan belanja, rekreasi, sekolah anak-anak juga di tempat yang sama. Jadi karena tinggal bersama sampai puluhan tahun akhirnya keakraban kami melebihi kepada saudara yang justru jauh dan jarang bertemu.

Itulah sebabnya ketika diadakan acara reuni, betul-betul pada acara tersebut kami manfaatkan untuk bertemu, melepas kangen, dan melepas rindu sejak mulai sehingga acaranya berakhir. Bagaimana tidak akan begitu, dulu bersama-sama bekerja berat ringan dipikul bersama, suka dan duka juga dirasakan bersama, sehingga seperti saya sebutkan di atas layaknya dengan saudara sendiri bahkan melebihi. Sesama bekas pegawai itu sudah pasti melepas rindu, tapi para istri juga yang dulu menjadi teman satu departemen suami, satu kegiatan pengajian, sama-sama berolah raga, sama-sama anggota Dharma Wanita semakin ramai yang berkangen ria. Bukan hanya cerita berkangen-kangenan antar para suami dan para istri tapi juga cerita akan panjang dengan ditambah menanyakan anak masing-masing. Banyak yang hapal anak si A ketika dilahirkan dan saat ini sudah lulus dari perguruan tinggi dan sekarang sudah bekerja, atau sudah berumah tangga, bahkan telah lahir cucu-cucu.

Jadi tidak aneh kalau panitia reuni berkali-kali memohon perhatian dari hadirin untuk dipersilakan mengambil makanan ringan sambil mengobrol. Pengumuman berikutnya adalah mohon perhatian bekas direktur perusahaan ingin memberikan sambutan, hanya terdengar sebagian kecil dari pidatonya, selebihnya asyik dipakai ngobrol lagi, dan ramai lagi. Dahulu kalau direktur berpidato semuanya diam sepi tidak ada yang berbicara sendiri-sendiri. Demikian juga ketika ketua persatuan pensiunan berbicara sudah tidak ingat lagi bicara mengenai apa.

Makanya katanya mengapa Mas Doyok kapok melawak di acara reuni, karena boro-boro disambut gelak tawa, penonton pada ketawa sendiri-sendiri karena acara melepas kangen masing-masing. Oleh karena itu kalau ada acara reuni lagi jangan mengadakan tontonan apalagi pidato-pidatoan, bakalan tidak akan ada yang menonton dan memperhatikan.

Kebutuhan Informasi Seorang Pensiunan

Jangan disangka kalau sudah pensiun bekerja,  segalanya berakhir, tidak!, ternyata pada usia 64 tahun saya alhamdulillah masih hidup, dan bahkan di setiap hari sangat perlu informasi. Untuk memenuhi keinginan akan informasi itu saya sangat beruntung bisa mencarinya secara online.

Untuk mengisi otak akan kebutuhan informasi secara otomatis, dan memang sudah disiapkan untuk sarapan pagi buta,  agar mudah diklik semua yang penting di-subscribe beberapa sumber informasi baik koran on line, website pavorit, atau blog kesukaan.

Jadi pagi-pagi itu, sebelum sholat shubuh saya membuka beberapa situs kadang head line-nya saja, selewat saja, kecuali kalau ada yang menarik dibaca selengkapnya. Inilah yang rutin saya baca secara online: kompas, tempo, Al Quran, Hadist, JIL, Republika, Hidayatullah, PR, Tribun Jabar, Voa News, KBR68H, dan Radio Nederland world wide. Itu saja cukup dahulu. Itu pun bisa memakan waktu satu atau dua jam.

Terakhir ini saya baru habis membaca judul-judul bombastis dari “Kompasiana” karya Endriato Anas, tulisan-tulisannya inspiratif sekaligus menarik bagaimana saya menangkap jalan pikiran orang lain mengenai khususnya agama Islam.

Lanjut, jika masih ada waktu sekira setengah atau satu jam lagi menulis sekehendak hati di blog ini blog sepanjangjk.wordpress.com, blog milik pribadi, tempat saya belajar menulis (kadung kali!..) mencurahkan isi hati dan pikiran seorang pensiunan.

Menjelang sholat shubuh sekedar informasi sudah mencukupi. Bismillah menghadapi hari ini.

Program Tahunan Seorang Pensiunan

Selagi masih bekerja aktif seolah-olah kebebasan sebagai individu tergadaikan kepada perusahaan tempat bekerja. Mempunyai atasan yang secara langsung yang “menentukan” nasib ini.  Akan tetapi dari tergadainya tersebut, saya mendapatkan kompensasi berupa gaji bulanan yang penuh, fasilitas, penghargaan karena prestasi, dan bahkan karir.

Semenjak pensiun bekerja dari sebuah BUMN pada usia 55 tahun, saya merasa seutuhnya memiliki kembali jiwa dan raga ini. Saya tidak punya atasan, artinya juga tidak punya tugas yang harus diselesaikan dengan segera misalnya, tidak punya target yang harus dicapai dengan pengawasan yang ketat, benar-benar bebas sebebas burung yang terbang melayang. Bebas dalam artian hampir segalanya ditentukan oleh sendiri.

Meski begitu, tentang kebebasan itu, ternyata saya pribadi di setiap tahun selalu memasang target yang merupakan harapan dan juga doa, target-target atau rencana program tertentu itu hanyalah seputar keluarga dan adanya kemauan dan kehendak pribadi yang sama sekali tidak ada yang mengawasi secara ketat, jadi rencana program dan target tersebut terkadang hanya berupa harapan, yang secara tanpa pasang target dan program pun sepertinya akan berjalan dengan baik sesuai dengan berjalannya waktu dan nasib.

Adapun contoh program tahunan itu misalnya saja pada tahun 2002 pekerjaan memperbaiki rumah sudah harus selesai. Tahun 2003 harus sudah mempunyai usaha budidaya jamur tiram, tahun 2004 anak kedua harus sudah menamatkan kuliahnya. Tahun 2005 harus sudah menikahkan anak pertama, dan seterusnya tahun-tahun berikutnya dengan berbagai program dan rencana. Program-program tersebut yang, alhamdililah, semuanya hampir berjalan sesuai dengan rencana. Bagaimana tidak akan begitu, karena kalau program tahun ini tidak terlaksana bisa dilanjutkan dengan tahun berikutnya.

Dipenghujung tahun 2010 saya sudah memasang program dan target bahwa di tahun 2011 semua anak dan mantu saya sudah harus memiliki pekerjaan tetap, sekaligus berpenghasilan tetap yang relatif mencukupi minimum untuk mereka dan keluarga sendiri. Saya juga memasang target bahwa segala bentuk subsidi dana dari orang tua untuk anak-anak harus sudah berakhir. Meskipun target itu tidak tertulis hanya ada di pikiran dan angan-angan tapi betul-betul dikatakan atau dipesankan kepada anak dan mantu saya itu.

Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa ternyata target yang dipasang pada tahun 2011  diawal tahun ini sudah mulai kelihatan “hasilnya”  yaitu terlaksana target program dan berjalan dengan baik, sepertinya sesuai dengan rencana. Sebagai catatan untuk mengapresiasi sendiri, saya dengan istri selalu “merayakan” setiap keberhasilan dengan bersyukur atau cuma membeli makanan kesukaan berdua misal membeli martabak telur, membuat pempek  Palembang, bahkan saya berpelukan dengan air mata kebahagiaan dengan anak saya yang berhasil memenuhi target tersebut.

Saya kadang tidak yakin apakah target atau program tahunan itu, yang sementara ini selalu “sukses”, memang benar-benar diperjuangkan atau target saya itu disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Misal sebagai contoh saya memasang target bahwa ditahun itu anak sulung saya harus menikah, apakah ini hasil perjuangan target harus menikahkan anak tersebut, atau memang kondisinya sudah begitu artinya anak laki sulung saya sudah mempunyai pekerjaan, terus sudah punya calon istri yang saya dan istri setujui.

Demikian cara saya pribadi memasang program tahunan yang alhamdulilah targetnya hampir selalu tercapai.

Sebuah Kartu Undangan

Tiba-tiba saja saya menerima kartu undangan untuk resepsi perkawinan, undangannya sendiri biasa saja yang surprice adalah saya tidak mengenal si pengundang. Meski demikian saya merencanakan untuk datang karena alamat dan nama saya tertera dengan benar. Pasti bukan undangan salah alamat atau apalagi main-main bukan?

Ternyata ketika pada saatnya saya datang memenuhi undangan tersebut dia, orang tua pengantin, adalah teman lama saya semasa merantau di Kalimantan puluhan tahun lalu. Itu juga lewat mengerutkan dahi dulu dimana wajah si pengundang sudah pernah hadir dalam memori ingatan saya. Terima kasih atas undangannya, selamat menempuh hidup baru untuk kedua mempelai.

Pak ER Membeli Tanah

Sepanjang perjalanan pulang Pak ER duduk disamping saya yang mengemudi. Kami ngobrol ke sana ke mari termasuk cerita Pak ER membeli tanah di daerah Bandung Timur luasnya 8 X 40 meter jadi luasnya mencapai 320 m2 harga per meternya adalah Rp 3 juta. Harga seluruhnya menjadi Rp 960 juta. Tanah ini diperuntukkan membuat bengkel dan mendirikan apotik. Biasa untuk anak-anaknya yang meskipun sudah disekolahkan dengan baik akan tetapi bukan jaminan bakal mendapatkan pekerjaan yang baik. Saya sepakat itu.