Makanan Jadul di Hajatan

Dalam suatu acara hajatan keluarga di daerah Ciamis utara saya kebetulan diundang untuk hadir. Karena di rumah saudara dekat, saya berkesempatan untuk melihat-lihat kamar candoli (orang yang dipercaya untuk membagi dan mengatur makanan). Saya segera tertarik bagaimana cara makanan dan  kue-kue dipersiapkan.

Apem dan adas

Yang kelihatan di sini adalah kue jadul yaitu adas dan apem dan juga kelihatan pisang, pisang juga disugukan kepada para tamu. Sebetulnya masih ada lagi kue-kue jadul lainnya semisal bugis, tape ketan, opak, ranginang, kembang goyang, sasagon, dan lain-lain. Lihat pisau yang dipergunakan untuk memotong kue apem, bukan pisau khusus tapi golok.

Ini mengingatkan saya ke masa-masa sulit tahun 50 an di kampung di Ciamis itu, adanya kue-kue tersebut hanya nemu di acara kenduri atau hajatan lainnya. Kue-kue tersebut disuguhkan kepada tamu undangan yang datang, tidak disuguhi makan sebagai lazimnya prasmanan, sesudah memberikan amplop dan menikmati hidangan tersebut si tamu langsung pulang sambil dioleh-olehi tentengan berupa nasi dan lauk-pauk dalam keranjang pamulang sambung (balasan pemberian amplop uang).

Jaman sekarang kue-kue tersebut masih ada sebagai jajanan pasar, biasanya dijual bersamaan dengan makanan yang bernama awug. Juga masih kelihatan di acara resepsi pernikahan di gedung sebagai salah satu stand jajanan pasar.

Jaman telah berubah, begitu juga jenis makanan yang saya sebutkan tadi saat ini hanya dnikmati orang tua seperti saya, anak muda termasuk anak-anak saya sudah tidak mengetahuinya, dan pantas kalau disuguhi kue tersebut tidak menyentuhnya.

Advertisements

Nasi Tumpeng & Titi Mangsa

Nasi tumpeng sederhana

Titi mangsa kira-kira sebagai pengingat pada waktu tertentu, ikatannya antara nasi tumpeng, ulang tahun dan titi mangsa adalah sangat erat, ada-ada saja…

Ini hanya tradisi keluarga, sebagai pengingat-ingat saat dilahirkan atau ulang tahun minimum istri saya  membuat makanan tumpeng atau nasi kuning atau juga sekedar nasi uduk.

Pelaksanaan makannya juga sederhana saja, pagi-pagi ketika bangun tidur anggota keluarga diberi ucapan selamat kemudian sedikit omong-omong memberiakan apresiasi atas kesuksesan yang telah dicapai, kemudian ditutup dengan sedikit doa. Tak ada pesta dan tak ada kado ulang tahun.

Sekedar berbeda dari rutinitas, sekedar jeda, sekedar kelak ada bahan cerita, sekedar sedikit beda, ya itulah sekedar titi mangsa.

Demikian Banyak Dosa dan Kesalahan Kita

Sholat lima waktu adalah terminal-terminal tempat kita istirahat sejenak, saat untuk bertafakur, saat bagi introspeksi diri, tentang apa-apa yang telah dilakukan terhadap sesama, terhadap makhluk lain, bahkan terhadap alam ini. Kalau tidak mampu melihat apa yang telah kita lakukan dari waktu sholat ke waktu sholat yang lain, cobalah merenungkan apa yang kita lakukan dari antara waktu sholat shubuh ke sholat maghrib, terus sekali lagi apa yang telah kita perbuat diantara sholat maghrib sampai ke sholat shubuh.

Ternyata kalau mau dirinci ketika memutar kembali film perilaku kita selama sehari atau semalam itu banyak yang menyalahi atau melanggar ajaran agama yang baik dan melanggar norma-norma kebaikan yang ada dalam masyarakat dan budaya kita.

Ada beberapa contoh kesalahan atau dosa yang baik disengaja maupun tidak, atau berpura-pura tidak tahu, telah dilakukan oleh kita umpamanya saja dalam berbicara dengan orang lain agar cerita kita dipercaya, agar dongeng pengalaman kita didengar secara menarik lalu kita tambahi dengan membumbuinya dengan kebohongan. Contoh lain yang jelas kesalahan masal adalah jika mengemudi kendaraan baik roda dua maupun roda empat, kendaraan kita mengeluarkan karbon monoksida yang meracuni orang lain. Itu artinya tanpa sengaja dalam memenuhi kebutuhan hidup kitatelah  mengotori lingkungan, jelasnya polusi udara.

Contoh tadi barangkali agak ringan, tapi coba merenung lagi misalnya menyuap petugas lalu lintas karena kesalahan kita melanggar aturan. Terus tafakur kita mengembara barangkali telah mengajak anggota keluarga lain ke undangan resepsi pernikahan, bukankah itu artinya ikut makan tanpa membayar? Atau misal menyulap kuitansi obat seolah-olah untuk keperluan sendiri padahal untuk keperluan anggota keluarga yang tidak ditanggung oleh asuransi jaminan kesehatan tersebut. Lagi misal telah memalsu tanda identitas kita agar dapat potongan tariff tiket kereta api untuk lansia. Lagi, menghardik pejalan kaki karena menghalangi perjalanan anda yang tergesa-gesa dalam mengemudi kendaraan. Atau bahkan terkadang karena asyiknya bercanda dengan teman tak terasa mengolok-olok syariat-syariat bahkan mempermainkan ayat-ayat Allah. Kalau mau jujur saat bertafakur, demikian banyak dosa dan kesalahan yang kita perbuat dari waktu ke waktu.

Jika hal-hal tersebut sudah merasa biasa saja maka selanjutnya yang harus kita pebuat adalah memohon ampunan kepadaNya atas kesalahan-kesalahan tersebut,  dan kemudian ini yang paling penting, berjanji dihadapanNya untuk tidak akan mengulanginya lagi.

Saya menganggapnya itulah gunanya bertafakur sehabis sholat, berzikir akan tetapi juga berfikir.

Don’t Talk About Yourself Only

Saya teringat pengalaman sendiri sewaktu mengikuti kursus bahasa Inggris nama kursusnya, kalau tak salah,  “The Total Immersion English ”, kursus ini mengajarkan tentang bagaimana menyajikan presentasi yang baik dalam bahasa Inggris.

Saya mendapatkan kesempatan pertama untuk mengadakan presentasi di depan kelas kalau tak salah berjudul “Hepatitis B vaccination for babies new born” (meskipun saya bukan ahlinya tentang hal ini). Mengapa saya mendapatkan kesempatan pertama presentasi, karena instrukturnya menganggap bahwa topik yang saya bawakan tidak mengenai diri sendiri tetapi mengenai orang lain, bahkan katanya untuk kepentingan orang lain. Sedang peserta kursus lainnya kebanyakan menceritakan tentang aktifitas sendiri, kesibukan rutin di tempat bekerja sendiri, dan tentang departemen dimana diri sendiri ada didalamnya.

Saking tidak bolehnya menceritakan diri sendiri, instrukturnya – yang orang Pakistan akan tetapi berkewarganegaraan UK – bilang kira-kira begini:  “Don’t say about yourself, nobody want to know about yourself, because you are not an actor!” atau dia pernah bilang: “Talking about yourself is a sin!”. Kejam juga ya.

Entah bagaimana saya terkesan akan kata-katanya itu sejak saat itu dipergaulan sehari-hari saya selalu berusaha mengurangi untuk kebiasaan menceritakan diri sendiri. Sebaliknya jika saya tidak lupa,  selalu bertanya tentang “orang lain” atau lawan bicara. Dan rasanya lebih adil dan seimbang kalau tidak selalu menceritakan hal tentang diri sendiri. Maksud menceritakan orang lain itu bukan artinya mengorek-ngorek keburukkan orang lain. Nanti bisa dimaki orang “mind your own bussines!” atau “urus saja masalah dirimu sendiri!”.

Selanjutnya kata si instruktur bule berkulit hitam itu: “don’t say always for me, for me, and for me but say it: for you, for you, and for you”.

Wah, tanpa terasa saya pun bercerita tentang diri sendiri!


Roti Bumbu Kosambi

Pengetahuan saya akan roti di Kota Bandung sangat sedikit, tapi sangat ingin menulis tentang makanan menak baheula ini.  Saja ingat sebelum tahun 1965 makanan  semacam roti di kalangan rakyat biasa adalah seperti sebutan kue pasar, kue pancong, kue robur, dan juga kue jibeuh; hiji oge seubeuh (satu juga kenyang). Kue-kue ni dimakan pada waktu sore, malam, bahkan pagi hari dinikmati bersama kopi panas di udara Bandung yang masih halimunan (berkabut) di pagi hari.

Mulai tahun 65-an muncul seperti jamur di musim hujan roti-roti yang memang bukan roti bohongan tapi roti bagus bahannya dari tepung terigu. Dijual dijajakan dengan memakai roda atau mangkal di sudut keramaian dengan sebutan roti bumbu. Rotinya ada roti bentuk biasa atau ada roti yang disebut roti kasino yang bentuknya seperti kartu disusun.

Nah roti rakyat yang lebih enak dari roti pasar jibeuh ini persis seperti roti gedongan demikian juga bumbunya mentega, gula, kacang, serbuk coklat mises, dan juga selai nanas. Lazimnya roti-roti tersebut setelah diberi bumbu langsung dibakar, lebih enak, lebih kres.

Saya ingin agak menyimpang sedikit, hampir bersamaan dengan munculnya roti bumbu di kalangan mayarakat kebanyakan Kota Bandung, setelah tahun 65 itu kelihatan mulai muncul makanan jajanan bernama martabak manis. Martabak manis yang berbumbu mentega, taburan gula putih, kacang tanah tumbuk, juga sesuai permintaan ditaburi parutan keju, sampai sekarang masih banyak akan tetapi dijual bersamaan dengan martabak telur yang rasanya asin.

Toko Roti Bumbu di Kosambi

Tidak seperti martabak manis yang terus bertahan, roti bumbu malahan mandeg dan tidak sepopuler dahulu setelah tahun 65-an lagi. Tapi jika Anda ingin roti bumbu bakar seperti dahulu, rasanya masih mirip yaitu tempatnya berada di sekitar Pasar Kosambi Bandung. Tapi tidak lagi dijajakan di roda dorong akan tetapi di toko. Roti kasino bumbu dengan dibakar paling murah harganya Rp 12.500, terus harga berurutan lebih naik tergantung bumbunya yang semakin variatif.

Kemasan roti sekarang

Kemasan roti bumbunya sekarang lebih bagus kalau dahulu dibungkus dengan koran bekas kemudian ditenteng memakai kresek hitam.

Antara Anak dan Orang Tua

Sikap orang tua kepada anaknya kadang berlebihan. Anak harus begitu dan anak harus begini. Orang tua merasa telah berjasa membesarkan anak-anaknya. Itu terus menerus dipompakan terhadap anaknya dari mulai usia balita sampai dewasa dan terus sampai orang tua tersebut meninggal. Dan oleh karena alasan orang tua telah susah payah membesarkan, maka anak oleh karena itu wajib berbakti, menurut, dan hormat kepada orang tua.

Saya mungkin termasuk orang yang paling “kurang ajar” dalam menyikapi hal ini. Menurut saya anak dilahirkan betul memang kehendak kita tapi sebagian lagi tidak kita rencanakan. Sebetulnya hubungan suami istri bukan selalu ingin supaya punya anak, malah sesungguhnya kebanyakan hanya dorongan libido, rutinitas sebagaimana hubungan suami istri. Berikut kalau mau main “kasar-kasaran” si anak kan tidak mau dilahirkan lewat rahim siapa, hanya kebetulan saja lewat kita dan jadilah kita orang tuanya.

Dan dari semua itu, ini yang paling penting si orang tua mempunyai buah hati, punya curahan kasih, punya cocooan (mainan) yang tidak mau ditukar dengan apapun. Masih ingat kejadian anak Risa yang diculik oleh sekelompok orang yang jahanam. Betapa perhatian seluruh orang tua, termasuk perhatian presiden SBY yang seorang presiden. Jadi buat orang tua ini bukan susah payah mempunyai anak itu akan tetapi suatu kebahagiaan yang selalu disyukuri, selalu didoakan, selalu dibanggakan.

Berikut secara naluri kemanusiaan dan kebinatangan memang oleh Yang Maha Kuasa kita telah diberi naluri mendasar menyayangi anak, sepanjang masa lagi dari mulai anak lahir sampai si orang tua wafat. Tapi sebetulnya orangtua telah mendapatkan “tukarnya” yaitu buah hati, curahan kasih sayang, kebanggaan, dan lain sebagainya. Memang iya kadang terasa merepotkan, tapi itu kan resiko dari memiliki sesuatu yang disayangi.

Kalau mempunyai anak merupaka pekerjaan berat dan menyusahkan, ternyata kita pun telah “memberatkan dan menyusahkan” orang tua kita dahulu. Dan inilah terakhir bahwa memelihara atau memiliki anak bukan pekerjaan luar biasa yang telah kita lakukan, sebab anak kita pun kelak akan “diberatkan dan disusahkan” oleh anak-anaknya. Jadi jelasnya kita semua sama-sama mengurus anak, kata kasarnya – apa istimewanya kita sebagai orang tua.

Ini yang akan dikedepankan oleh saya bahwa tak perlu merasa paling berjasa membesarkan anak-anak, karena kita hanya menjalankan naluri yang telah diberikan Allah SWT. Tapi memang anak harus timbang kasih kepada orangtuanya, biar apa? supaya hidup ini bahagia, Orangtua sayang kepada anaknya dan anak juga harus sayang kepada orang tuanya. Terus begitu jika estafet hidup ini masih diberikan oleh Sang Maha Pemberi Kehidupan.

Pertimbangan Penuh Rambat Kamale

Rambat kamale adalah bahasa Sunda, memang bukan ungkapan bahasa yang dipakai sehari-hari, artinya kurang lebih masalah atau persoalan yang banyak keterkaitannya dengan hal-hal lain. Rambat kamale bisa jadi penghambat dalam berbicara atau bertindak, sebab perlu ditimbang-timbang dulu bagaimana ucapan itu dikeluarkan atau tindakan itu dilakukan.

Makin banyak rambat kamale makin sulit berbicara dan membuat keputusan untuk bertindak. Sebagai contoh saya sangat benci korupsi, dan itu biasanya tercermin pada tindakan atau pembicaraan. Akan tetapi pada pembicaraan di depan umum akan memilih kata-kata yang pantas diucapkan sehubungan di depan saya ada saudara yang terlibat kasus korupsi.

Ingat Pak Murdiyono menteri Sekretaris Negara masanya pemerintahan Soeharto? Beliau kalau ditanya wartawan tentang sesuatu hal, menjawabnya bak orang gagu, kata-kata atau kalimat begitu sukarnya keluar. Karena dalam otak beliau ruwet, rumit, dan banyak rambat kamale, dijawab A takut si Anu tak suka, dijawab B pasti si Fulan tersinggung. Ya begitu jadinya lidah seperti kelu. Yang akan lancar dijawabnya ketika ditanya soal nyanyian berirama dangdut, karena pertama beliau suka, berikutnya adalah tidak banyak rambat kamale-nya.

Dalam scope kecil di rumah tangga juga kadang sering sendiri mengalami hal serupa di atas. Rencana atau bicara terasa ribet untuk dilaksanakan atau diputuskan karena banyak rambat kamale. Apalagi urusan negara akan banyak sekali rambat kamale.

Tapi bukankah kita harus memutuskan, sebab dalam kehidupan ini selalu harus memutuskan dari beberapa pilihan yang terbaik yang telah dipertimbangkan, meski demikan banyak rambat kamale.