Profesi & Jaminan Sosial Guru Tempo Doeloe

Jika saya ingin menulis suatu topik, judul , tema,  atau suatu masalah, rasanya tak terlalu percaya diri jika diri sendiri tidak menjadi bagian dari apa yang akan ditulis, atau sebutlah terlibat di dalamnya. Ini juga saya ingin menulis tentang profesi & jaminan sosial guru tempo doeloe, belum apa-apa sudah wegah. Karena apa? Karena harus mencari bahan bacaan, bertanya ke sana-ke mari, termasuk searching di internet.

Jika saya sendiri  menjadi bagian dari topik yang akan ditulis, rasanya plong dan lancar dalam menulis, kadang satu jam sudah selesai. Misal saya akan menulis seperti judul di atas, kadang saya merasa “menyesal” mengapa tidak lahir zaman kolonial tempo doeloe itu, barangkali akan banyak yang bisa saya ceritakan. Belakangan baru sadar bahwa kalau saya lahir zaman kolonial Belanda barangkali sekarang he.. he..he..,  sudah almarhum alias sudah tiada, dan boro-boro bias menulis. Jadi sukuri saja apa yang telah terjadi, kalau mau menulis,  ya tulis saja apa yang tahu dan apa yang bisa diingat.

Karena saya lahir tahun 1946, maka ingatan saya mungkin mulai tahun 1952 atau sebutlah tahun 1954 ketika pertama masuk sekolah SR/SD. Dan kebetulan kakak perempuan saya adalah seorang guru SD demikian juga  suaminya juga seorang guru.

Tapi sodara, meskipun saat itu sudah tahun 50-an, nasib guru tak ada bedanya dengan 60 tahun kemudian, jaminan social dan juga gajinya sangat menyedihkan. Mengapa saya yakin betul begitu, karena saat itu kaka perempuan saya itu termasuk balangsak; jauh dari sejahtera. Apalagi sebagai keluarga muda akan tetapi anak sudah banyak, boro-boro punya rumah, tempat tinggal masih nempel sama orang tua. Dan ini, kalau habis gajian atau bulan muda,  muka mereka itu tidak cerah, karena gajinya habis dipakai membayar utang ke warung, karena sudah nge-bon duluan, kebiasaan tutup lobang gali lobang.

Cerita guru zaman sekarang dan guru tempo dulu sangatlah berbeda, seperti fakta di bawah ini, kita mulai dari pendidikan guru. Sekolah guru (Kweekschool) merupakan tindak lanjut dari keputusan Raja Belanda tanggal 30 September 1848 tentang pembukaan sekolah dasar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan gurunya, maka dibukalah sekolah Pendidikan guru berdasarkan Keputusan Pemerintah India Belanda tanggal 30 Agustus 1851.

Sekolah guru pertama dibuka di Solo tahun 1852 dan yang di Bandung dibangun taun 1864-1866. Tidak ada syarat apapun untuk memasuki sekolah guru ini, syarat satu-satunya adalah berusia 14 tahun dan itupun sering tidak dapat dipastikan karena ketiadaan akte kelahiran. Kebanyakan yang mendaftar sekolah guru adalah golongan rendah, bukan golongan priyayi/raja seperti yang selama ini disangka orang. Metode belajar di Kweekschool adalah semacam boardingschool atau sekolah asrama.

Namun, walau demikian, Lulusan sekolah guru memiliki prestise tinggi di masyarakat, mereka mendapat gelar mantri guru dan fasilitas seperti hak untuk menggunakan payung, tombak, tikar, dan kotak sirih. (kalau sekarang barangkali disebut panji-panji kehormatan). Mereka juga mendapat biaya menggaji empat pembantu untuk membawa empat lambang kehormatan itu, terbayang bagaimana wibawa seorang guru saat itu. Semua orang otomatis akan menghormatinya. Selain fasilitas, mereka juga mendapat gaji yang sangat tinggi untuk ukuran pribumi.

Murid kelas 3 atau 4 kweekschool yang menunjukan tingkah laku baik diijinkan kawin (he he he baru berumur 17 – 18 tahun), namun harus tetap tinggal dalam asrama. Dikarenakan calon pendaftar yang membludak, tahun 1871 diadakan ujian saringan masuk untuk kweekschool. Membludaknya pendaftaran, selain karena fasilitas yang ditawarkan, juga karena faktor berikut :

  1. Pendidikan guru bebas dari pembayaran iuran sekolah, bahkan siswanya mendapatkan uang saku tiap bulan sebesar f.12,- hingga f.15,- sebagai biaya pakaian dan makanan, sehingga tidak memberatkan orang tua. Segala ongkos perjalanan juga ditanggung pemerintah
  2. Para lulusan sudah dipastikan mendapat pekerjaan pada sekolah pemerintah dengan gaji lumayan yang memberikan status sosial terhormat dalam masyarakat sebagai pegawai pemerintah dan seorang intelektual.
  3. Kweekschool merupakan salah satu jalan bagi golongan menengah dan rendah Indonesia untuk menikmati pendidikan lanjutan. Akhirnya guru menjadi orang yang sangat dihormati di dalam masyarakat Indonesia saat itu.

Di tahun ke-4 murid kweekschool mengadakan praktik mengajar di sekolah luar. Di Bandung, setiap calon guru belajar mengajar di tiap kelas selama dua minggu, dari kelas terandah sampai tertinggi. Mereka yang tidak ikut praktik mengajar bisa mengikuti pelajaran bersama murid kelas III. Praktik mengajar ini disudahi dengan ujian akhir. Bahkan murid yang tidak lulus sekalipun, masih bisa diangkat sebagai guru dengan gaji yang lebih rendah yakni f.20,- sedangkan yang lulus mendapat f.40,- sebulan. Ah, enaknya menjadi guru saat itu…

Nah, kalau menyebutkan sejumlah nominal uang  gaji guru semisal

  • Para siswa pendidikan guru mendapatkan uang saku tiap bulan sebesar f.12,- hingga f.15,-
  • Murid Sekolah Guru yang tidak lulus sekalipun, masih bisa diangkat sebagai guru dengan gaji lebih rendah yakni f.20,- sedangkan yang lulus mendapat f.40,- sebulan.
  • Seorang guru yang mengajar pada sekolah milik pemerintah digaji sebesar f. 70 per bulan,
  • Guru yang mengajar di sekolah swasta digaji rata-rata 45 Florins/Gulden per bulan.

Sebagai catatan:

  •  Seorang guru Belanda yang mengajar di Kabupaten Ciamis tahun 1870 mendapatkan f 200,- per bulan
  • Guru yang hanya mengajar bahasa Belanda oleh Bupati Ciamis  digaji f 50,- per bulan
  • Paling besar gaji Bupati tahun 1870 sekitar f 6000,-per bulan

Baru berarti jika dibandingkan dengan harga sesuatu saat itu, misal yang dekat adalah di-“kurs”-kan dengan harga beras (saya nggak begitu faham tentang kurs mata uang saat ini dibanding dengan  satu setengah abad yang lalu). Harga beras saat itu per 100 Kg adalah f 8 – f 10.-

Jadi seorang guru yang fresh graduate  mendapat gaji f 40,- per bulan setara dengan Rp 2,8 juta, atau jika sudah berpengalaman gajinya menjadi  f.  70,- bearti sebesar Rp 4,9 juta.

Guru expatriate  Belanda mendapatkan Rp 14 juta. Kalau juragan Bupati  Rp 420.000.000,- per bulan.

Gaji Guru SD sekarang?

Bahan bacaan:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s