Oleh-Oleh dari Lembur

Zaman kolonial Belanda sangat kental dengan budaya feodal, feodalisme. Kaum pribumi menjadi budak bagi tuan-tuan Walanda di perkebunan misalnya.  Lalu juga menjadi hamba dari petinggi atau ambtenar-ambtenar lokal atau bule sawo matang menuntut perlakuan yang sama. Misal Bupati bagi masyarakat awam dan apalagi di perkampungan Bupati itu tak ada bedanya dengan raja. Bupati misal di tanah Pasundan disebut Pangawulan, artinya orang yang harus dikaulaan harus dilayani sebaik-baiknya.

Pelayanan atau pengabdian terjadi andaikata Bupati dengan jajarannya turni atau turun ke desa. Lurah atau kuwu dari desa atau wilayah yang dikunjungi ketiban kerja berat, yakni menyediakan tempat, makanan, dan oleh-oleh ketika rombongan pulang ke kota. Lama-lama, biasanya karena dapat pujian bahwa penerimaan terhadap pejabat dikategorikan memuaskan, bagi si kecil menyervice Bupati dianggap suatu kehormatan dan suatu keharusan. Baik tenaga maupun harta selalu siap untuk haturan pejabat.

Ditambah lagi budaya orang Sunda yang someah hade ka semah, ramah dalam menyambut tamu, dan tradisi berbahasa yang jarang langsung mengatakan “tidak” harus malapah gedang, tidak to the point menyebabkan tamu merasa kerasan tinggal berlama-lama.

Barangkali, sekali lagi barangkali, menjadi menak yang dimemenan dan di enak-enak oleh siapapun bagi yang suka dan biasa, tentu menyenangkan. Terutama ketika diberi oleh-oleh makanan khas suatu daerah yang kualitasnya istimewa,

Saya hehee… merasa menjadi Bupati zaman kolonial ketika baru-baru ini mendapatkan kiriman atau oleh-oleh atau buah tangan dari seseorang yang tinggal di Sukabumi, tapi ini mah dari saudara dekat saya. Adapun oleh-olehnya berupa: Ikan nila besar 4 ekor rata-rata berat 0,5 kg-an sudah digoreng, pisang tanduk yang super, dan gula kelapa juga super satu beronjong. Ada keterangan bahwa ikan nilanya besar hampir seperti ikan gurame.  Pisang tanduknya hanya satu sisir dalam satu tandan karena katanya kalau lebih dari satu sisir namanya bukan pisang tanduk tapi dsebut pisang burayot.

Anda ingin melihat oleh-oleh yang dibawa saudara saya itu:

Ikan nila goreng

Ikan nila goreng

Seberonjong gula merah

Satu beronjong gula

Sesisir pisang tanduk

Sesisir pisang tanduk

 Hehehe… ikannya dibumbu kuning, gulanya disimpan dulu, dan pisang tanduknya di pisang goreng, Emm kenikmatan dari mana saja ya… Terima kasih Aa.

Advertisements

Lyceum Dago Riwayatmu Kini

SMAK Dagi 1 tahun 2011

Dua tahun yang lalu yaitu tahun 2011 saya membuat postingan mengenai Lyceum di jalan Dago Bandung kalau mau melihat klik disini. Kemudian karena kota khususnya Kota Bandung dinamis tentu mengalami perubahan, ada baiknya beberapa tulisan diupdate supaya pembaca mengetahui bagaimana keadaan saat ini.

Pada bulan Juli 2013 saya sengaja naik lagi ke jembatan penyebrangan, tragis jembatan penyebrangan di jalan Dago ini jarang digunakan oleh penyebrang. Perlu diberi acungan jempol karena jembatan ini paling artistik dan sekarang ada pegangan tangganya, tidak seperti dahulu sampai merasa takut terjerembab.

Ada juga yang tidak patut diberi jempol yakni bangunan Lyceum yang bersejarah dan merupakan penanda jalan Dago Bandung itu kini sudah rata dengan tanah, seperti gambar di bawah ini.

Lyceum nasibmu kini

Lyceum nasibmu kini

Mnyedihkan memang.

Sepiring Ikan Mujahir…

Sepiring Ikan Mujahir

Sepiring Ikan Mujahir

Baru-baru ini saya pulang dari kampung halaman yaitu dari Ciamis bagian utara, kalau menyebutkan Ciamis bagian utara termasuk Baregbeg, Cipaku, Kawali, Panjalu, Panawangan, dan lainnya lagi kesemuanya termasuk nama kecamatan dari Kabupaten Ciamis, jawa Barat.

Sewaktu kembali ke Bandung dioleh-olehi makanan khas Ciamis kaler tersebut, salah satunya sebungkus goreng ikan mujahir. Sesampai di Bandung oleh istri saya ikan mujahir tersebut digoreng kembali terus disimpan di meja makan. Dan tiba-tiba saja saya teringat akan masa kecil usia sekolah SD dan SMP tahun 50-an sampai awal 60-an cerita tentang ikan, khususnya ikan mujahir. Maka saya ambil kamera dan jadilah judul postingan “Sepiring Ikan Mujahir”.

Di Ciamis kaler tahun 50-an dimana air mengalir di parit, di sungai, tergenang di kolam, masih jernih seperti baru keluar dari mata air. Tak mengherankan jika air di sawah oleh para petani yang mencangkul jika kehausan langsung diminum. karena demikian melimpah ruahnya air yang keluar dari mata air, maka banyak keluarga yang memiliki kolam pemeliharaan ikan untuk dikonsumsi sendiri atau kalau ada kelebihannya dijual.

Dalam cerita-cerita pendek berbahasa Sunda sering disinggung mengenai bagaimana kalau Bupati dizaman kolonial turun ke Desa, menyalurkan kesukaannya akan menangkap ikan di sungai, dan cerita bagaimana nikmatnya menikmati pepes ikan. Pepes Ikan mas bibit adalah ikan yang biasa dijadikan indukan untuk dipijahkeun biar didapat anak-anak ikan baru. Ikan mas bibit tentu ada telurnya, telur ikan itulah yang melengkapi kelezatan pepes ikan mas bibit.

Karena budaya memelihara ikan di kolam dilakukan secara turun temurun tentu saja kemampuan warganya dalam mengelola ikan dan kolam sudah lihai. Misalkan saja bagaimana cara memijahkan ikan, membesarkan, dan cara-cara menangkap ikan yang paling aman tidak mengganggu ikan yang lain. Demikin juga dalam hal memasaknya dari mulai digoreng, dipanggang, dibakar, dipindang, disop, dan dibuat dendeng biar ikan tahan lama.

Ikan kolam juga berkasta-kasta ha ha ha, yang paling tinggi dan bisa disuguhkan ke Bupati adalah ikan gurami atau ikan mas bibit. Berikutnya adalah kelas perasmanan biasa yaitu sejenis tawes, tambak, nilem, beureum panon. Kemudian kelas terakhir adalah termasuk kelas paria hehe he yaitu ikan mujahir. Tidak tahu mengapa ikan mujahir hak azasinya demikian dipinggirkan, kemungkinan karena ikan mujahir itu, apalagi kurang pelihara, kepala besar, banyak tulangnya, dan tulang ikan mujahir termasuk keras.

Zaman saya kecil dimana kala hari raya ibi-ibu membawakan penganan lengkap masing-masing ke masjid, untuk dimakan lagi sendiri setelah dipanjatkan doa, disebut sidekah, tidak ada yang berani membawa mujahir kasta paria itu, gensi atuh.

Meski mujahir dianggap ikan tidak berkelas, akan tetapi zaman sekarang telah dibudidayakan menjadi ikan nila. Juga menurut saya ikan mujahir bujigjrig itu enak jika dipindang manis dengan gula jawa hingga empuk ketulang-tulangnya, atau diambil ketika masih keci alias baby mujahir dan digoreng garing sehingga krauk..krauk..

Yang lucu sepiring ikan mujahir yang saya sebutkan di awal ternyata akhirnya habis juga, termasuk dimakan oleh saya yang mulanya menolak…

Karedok Leunca…

Grup lawak Dono – Kasino – Indro dalam dagelannya dengan lagam berbicara bahasa Batak yang khas berujar bahwa, yang enak punya istri orang Sunda, bekali sambal lepas di kebun, sudah hidup dia, segala daun dimakan kecuali daun pintu. Mungkin saya mengutipnya tidak persis begitu, tapi soal jenis daun yang bisa dimakan mentah oleh orang Sunda memang cukup banyak, dedaunan itu kemudian disebut lalapan, Misalkan saja lalapan hijau yang biasa dimakan mentah adalah jenis daun-daunan, daun putat, kemangi, daun jambu mede, pohpohan, sawi, selada air, pokcay, selada bokor, kacang panjang, antanan, beluntas, daun kacang panjang.  Ada juga daun-daunan yang perlu direbus dulu daun singkong, daun ubi jalar, daun labu siam, daun katuk, daun pepaya, kangkung, mamangkokan, imba, kedondong. Jenis buahan yakni leunca, takokak, petai cina, jengkol, mentimun, buah hiris muda. Segala lalapan itu memang harus ada coelnya yakni sambal terasi yang aduhai…

Zaman dahulu tahun 50-an ketika usia sekolah SD saya sering disuruh orang tua atau kakak perempuan untuk mencari lalapan dedaunan atau ngundeur baik di halaman rumah maupun di kebun agak berjarak. Meskipun masih kecil saya sangat tahu mana yang sayuran lalapan dan mana yang bukan. Di rumah kakak menyediakan sambal, terus masak nasi, tambah kerupuk atau ikan asin sederhana seperti ikan asin sepat atau peda, sudah cukup untuk makan siang tujuh bersaudara.

Pohon dan buah leunca ditanam di Pot

Pohon dan buah leunca ditanam di Pot

Menyetelkan teman nasi yang sederhana murah meriah sudah menjadi kebiasaan, ini bukan karena tirakatan akan tetapi karena memang teman nasi lain tidak ada atau jarang ditemukan, maklum zaman segala susah. Goreng peda asin dipadukan atau distelkan dengan pete mentah yang cukup tua bahkan kulit arinya sudah berwarna merah, dimakan nasi pulen enak sekali atau pedo! Jengkol muda mentah dicoel sambal terasi medok sama nasi pulen emh enak banget… Atau kerak liwet nasi yang agak gosong ditaburi garam saja sudah nikmat…

Persiapan membuat Karedok leunca

Persiapan membuat Karedok leunca

Makan yang paling sederhana sekaligus prihatin zaman itu adalah nasi diaduk dengan minyak bekas menggoreng atau jalantah terus ditaburi garam halus, sudah lumayan. Berikutnya teman nasinya berupa kerupuk saja, ikan asin saja, atau mengolah secara sederhana sayuran lalapan tersebut di atas.

Adapun kreasi memasak sayuran yang relatif sederhana adalah dipencok, dikaredok, dilotek, dipecel dan diulukutek. Bumbunya sederhana saja. Pencok bahan bakunya hanya satu macam misal pencok hiris, buah hiris muda ditumbuk kasar didalam cobek bumbunya garam, gula, kencur, bawang putih, dan terasi, eh.. jangan lupa cabai rawit, lebih lengkap pakai oncom bersamaan dulek. Untuk bumbu yang sama tetapi bahan bakunya leunca disebut pencok leunca. Jika bahan bakunya beberapa macam misal leunca, mentimun, kemangi, kacang panjang diolah seperti pencok disebut Karedok leunca. Kalau leunca tidak diulek dicobek tetapi ditumis dengan tambahan oncom biasa disebut ulukutek leunca.

Kredok Leunca dan lauk-pauk lainnya

Kredok Leunca dan lauk-pauk lainnya

Waduh payah juga menulis resep masakan oleh yang ahli makannya saja…