Aki-Aki Piknik Ke Bali, Yang Unik Yang Menarik

Sebetulnya aku sudah dua kali menginjakkan kaki di Pulau Seribu Puri ini, pertama sendirian tahun 1982 naik bus dari Surabaya ke Denpasar, tak masalah menyusuri jalan darat karena usia masih muda umur 36 tahun. Keduanya tahun 1987 datang lagi ke Pulau Dewata berlima bersama keluarga saat itu anak-anak masih kecil. Dan ketiga kalinya mudah-mudahan jangan yang terakhir, kemarin tanggal 19 sampai 23 Januari 2013 saat Jakarta hampir tenggelam oleh banjir.

Brosur Wisata, sejak dari Airport

Brosur Wisata, sejak dari Airport

Inilah wisata keluarga, meskipun tidak keluarga besar anak cucuku, kami berenam terlaksana mengunjungi Pulau Bali. Perjalanan kami dari mulai Cengkareng – Ngurah Rai – Kuta – Nusa Dua – Belanja oleh-oleh di Sukawati – Jimbaran – Pura Luhur Tanah Lot – Garuda Wisnu Kencana – Belanja oleh-oleh di “Krisna” – sampai kembali ke Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta.

Bali dari kacamata seorang kakek selalu menarik, apalagi selama 12 tahun terakhir aku kurung batok seperti katak dalam tempurung tinggal di Bandung. Memang iya meskipun Bandung punya daya tarik sendiri atas wisata belanja, kuliner, dan wisata bangunan peninggalan budaya khususnya peninggalan zaman kolonial Belanda, tapi Bandung tetap beda dengan Badung dan umumnya Pulau Bali itu.

Entah apa sebab atau asal muasalnya, beberapa kata dalam bahasa Sunda sama artinya dengan kata dalam bahasa Bali diantaranya:  jelema berarti manusia,  polo berarti otak, panganggo – pakaian, uyah – garam, baraya – keluarga, kuren – kawin, lami – lama, pisan – amat, linyok – ingkar janji atau bohong,  kiwa – kiri, kirang – kurang, jalma – manusia, pireng – dengar, alit – kecil, panggih – jumpa, sareng – turut. dan beberapa lagi, didapat dari buku “Istilah Indonesia – Bali” oleh I Nengah Tinggen. Bisa jadi atau mungkin saja kata-kata tersebut sama berasal dari bahasa Jawa dimana sejarah leluhurnya suku bangsa Bali berasal dari P. Jawa.

Sebagaimana penutur bahasa Sunda di tanah Sunda Parahyangan demikian juga percakapan dalam bahasa Bali di tanah Para Dewata sangat kental dipergunakan ditengah penduduknya. Para sasterawan Bali giat menulis dalam bahasa Bali. Itulah sebabnya Hadiah Sastra Rancage (arti Rancage adalah cakap atau pandai) adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, yang didirikan oleh budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S, dan beberapa tokoh lainnya. Dimana mulai tahun 1998 hadiah Rancage juga diberikan kepada sastra Bali.

Misal Hadiah Rancage untuk dua tahun terakhir, tahun 2011 Sastra Sunda Karya: Us Tiarsa untuk kumpulan cerpen Halis Pasir. Sastra Jawa Karya: Herwanto untuk kumpulan cerpen Pulo Asu. Sastra Bali karya IDK Raka Kusuma untuk kumpulan sajak Sang Lelana. Tahun 2012 sastra Sunda karya Acep Zamzam Noor untuk kumpulan sajak Paguneman, Sastra Jawa karya Yusuf Susilo Hartono untuk kumpulan sajak Ombak Wengi. Sastra Bali karya Komang Adnyana untuk kumpulan cerpen Metek Bintang (dari Wikipedia)

Berjenis bunga untuk sesajen

Berjenis bunga untuk sesajen

Sejak mula turun di Bandara Ngurah Rai, sudah tercium bau harum dupa, semilir angin wangi bunga yang ditaroh di beberapa sudut dalam wadah berupa sesajen. Orang bali berbicara bahasa Bali yang dengan logatnya yang kental. Juga sudah mulai kelihatan para pendatang berpakaian sebagaimana layaknya para turis pakaian praktis manis dan sekaligus minimalis.

Karena Pulau Dewata ini juga sudah terbiasa menerima para turis baik asing maupun domestik mereka sudah berpengalaman menanganinya, cepat, ramah, dan memuaskan. Para pekerja sektor pariwisata di Bali ini sepertinya sudah terbiasa berbicara tiga bahasa yaitu bahasa Bali, Indonesia, dan Inggris.

Demikian juga para pekerja itu tidak piduit atau mata duitan, membayar sesuai apa yang disepakati sebelumnya. Mungkin hanya pengalaman aku beberapa kali di tempat parkir pemberian uang ditolak. Demikian juga baik dalam belanja maupun misalnya salah satu contoh dalam penyewaan mobil merasa tidak ada unsur penipuan, nampaknya orang Bali mengutamakan kejujuran.

Tempat persembahan sesajian di depan galery Seni Sukawati

Tempat persembahan sesajian di depan galery Seni Sukawati

Penduduknya juga kelihatan begitu sholeh dalam ibadah ritual, ketika aku menunggu kaum ibu belanja di Sukawati, tak hentinya orang yang beribadat membawa sesajen di Pura kecil di depan Pasar Seni Sukawati tersebut. Kelihatan kesemuanya dilakukan oleh perempuan, mungkin laki-laki dalam ibadah lain.

Satu lagi, meskipun banyak yang berpakaian minim tapi tidak berbau mesum atau asusila, dan aku juga tidak menemukan preman atau semacam jawara, sekali lagi itu dari kacamata aku. Dan ada lagi Pulau Bali ini, karena aku terkonsentrasi di P. Bali bagian selatan terus sebelah barat, timur, maupun selatan nampak pantai yang indah bersih dan asri yang bisa melihat sunset dan sunrise yang dipenuhi para turis asing yang berjemur, terpaksa sebagai seorang Aki harus meungpeun carang alias pura-pura menutup mata.

Kebanyakan orang Bali adalah seniman, memang asal muasalnya dahulu menurut cerita adalah para raja dan tentu beserta para bangsawan dari P. Jawa yang eksodus, bedol desa,  membawa para seniman, budayawan, cerdik pandai, sehingga keturunannya terlihat sampai sekarang. Pulau yang indah terus dikelola oleh tangan terampil yang mempunyai selera dan cita rasa seni yang tinggi. Tak heran di setiap sudut terlihat patung yang mengagumkan, dan di setiap tempat ada pertunjukan berbagai macam tarian

Hampir di setiap rumah punya pura, kelihatan dari tingkat 3 hotel Bakungsari. Mungkin seperti mushola di rumah muslim

Hampir di setiap rumah punya pura, kelihatan dari tingkat 3 hotel Bakungsari. Mungkin seperti mushola di rumah muslim

Memang iya agak mengalami kendala ketika aku sebagai muslim jika saatnya waktu sholat tiba, jarang sekali ditemukan mushala atau masjid, masuk akal di Bandung juga mungkin tidak akan ditemukan Pura. Tapi kan bagi yang bepergian jauh bisa diatasi dengan keringanan yaitu dengan sholat dijama. Satu lagi makanan agak susah, tapi kalau dicari kerap ketemu makanan Jawa, Madura, bahkan makanan Sunda yang halal.

Masjid Al Fattah di jl Danau Bratan kawasan Nusa Dua Bali

Masjid Al Fattah di jl Danau Bratan kawasan Nusa Dua Bali

Dan akhirnya aku menemukan masjid tak jauh dari rumah sewa. Lihat ornamen atap dan gapuranya. Betul-betul ciri sabumi cara sadesa, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Advertisements

Aki-Aki Piknik Ke Bali, Cita-Cita Terlaksana

Karena Anda masih muda, dan tentu belum merasakan seperti pengalamanku, saat ini usiaku 67, istri 60, jadi sudah menjadi kakek dan nenek dari empat cucu. Aku ingin bercerita tentang penantian untuk melakukan wisata keluarga bersama ke Bali . Karena meskipun sudah aki-aki kalau ada yang mengajak piknik selalu mau saja. Alasannya sederhana sesuai dengan hak azasi kakek untuk ikut atau tidak ikut berwisata, keduanya kakek-kakek juga mausia…, maksa ya.

Liburan di Bali Tahun 1987, anak sulungku masih 14 tahun

Liburan di Bali Tahun 1987, anak sulungku masih 14 tahun

Dahulu ketika masih muda usia sekitar 40 tahunan, ketika saat-saat mendidik dan membesarkan anak-anak, kalau mendapatkan cuti dari pekerjaan dan biasanya cutinya disamakan dengan liburan anak-anak aku selalu mengajak keluarga pulang kampung dari Kalimantan Timur ke Bandung. Nah biasanya sebelum sampai ke tujuan, kami berwisata dulu, kala itu tahun 1987 kami pergi ke Bali. Waktu itu di Bali hanya 3 hari, jadi baik aku maupun anak-anak sepakat bahwa suatu saat ingin kembali mengunjungi Bali, terus terang belum puas.

Tapi rencana tinggal rencana, cita-cita hanya mimpi belaka, pergi ke Bali hanya sampai dijanji, lamaaaa belum juga terlaksana. Banyak alasan mengapa piknik ke Bali tidak terjadi, misal masalah waktu, diantara anggota keluarga tidak selalu mempunyai libur  yang bersamaan, terus dana juga kadang memprioritaskan  yang penting dulu, dan berikutnya dengan rentang waktu yang demikian panjang anak-anak setamat SD terus ke SMP terus ke SMA lanjut ke PT, dan itu sudah pada melanjutkan sekolah di Bandung sementara aku dan istri tetap tinggal di Kalimantan Timur menyelesaikan tugas sampai usia pensiun datang.

Kesempatan untuk berdarmawisata bersama ke Bali ada titik terang ketika aku sudah pension dari pekerjaan dan kembali bertempat tinggal di Bandung. Tetapi anak-anak sudah semakin dewasa, sudah selesai sekolah, dan sudah muai bekerja,  dan bahkan akhirnya satu demi satu mulai membina hidup berumah tangga. Ya itulah, dari dua anak masing-masing sudah memberikan cucu kepada diriku.

Harapan untuk piknik bersama ke Bali semakin menipis karena melihat kondisi keuangan dimana aku sudah pensiun. Tapi di hati kecil masih ada harapan untuk melaksanakan itu. Hingga suatu saat anak sulungku merceritakan bahwa ada rencana akan mengikuti semacam kursus atas biaya perusahaan tempatnya bekerja, tempatnya di Bali. Dan satu lagi anak sulungku itu mengajak untuk sekalian aku dan istri untuk piknik ke Bali bersama dengan keluarganya. Belum apa-apa istriku sudah mau dan menyetujuinya.

Anak sulungku dan dua orang anaknya saat piknik ke Bali 2013

Anak sulungku dan dua orang anaknya saat piknik ke Bali 2013

Maka kalau Tuhan menghendaki meski 26 tahun kemudian sejak ke Bali tahun 1987 itu, akhirnya aku menginjakan kaki  kembali di Pulau Bali. Pada pelaksanaannya karena aku dan istri tinggal di Bandung sementara keluarga anakku di Jakarta, jadi agar gabung bersama aku harus ke Jakarta dahulu. Meskipun saat itu Jakarta sedang kebanjiran dan untuk sampai ke Bandara Cengkareng penuh was-was akhirnya tembus juga dan betul-betul aku jadi terbang ke Bali. Memang iya tidak pergi se keluarga besar anak-anakku akan tetapi hanya keluarga anak sulungku empat orang kemudian aku dan istri jadi kami berwisata berenam.

Dalam pesawat citilink dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju  Bandara Ngurah Rai Denpasar, pertama aku baru merasakan lagi naik pesawat setelah 11 tahun absen, kemudian aku melihat anakku sibuk mengurus segalanya disamping mengurus keluarganya juga ditambah menjaga dua manula yang tentu merepotkanya. Aku teringat 26 tahun yang lalu saat itu aku yang mengurus anak-anak ketika anak sulungku masih ber umur 14 tahun kemudian dua adiknya usia 12 dan 3 tahun.

Demikian dengan perasaan lega dan puas aku dan istri pulang duluan ke Jakarta dan anakku masih melanjutkan training sampai satu minggu. Masih ada cerita mengenai wisata di pulau seribu pura ini, nanti disambung tapi aku bersyukur kepada Tuhan masih diberi kesempatan untuk melakukan wisata keluarga ke pulau dewata itu.

Naik Spoor Mundur…

Aku tinggal di Bandung, adik sekeluarga berdomisili di Cirebon, dan adik bungsuku itu merencanakan mengawinkan anak laki-lakinya di Semarang. Terus dengan sangat, meminta agar aku sebagai sesepuh yang menyerahkan calon pengantin pria kepada keluarga calon besan, itu dilakukan sehari sebelum hari pernikahan dalam acara seserahan. Maka tidak ada pilihan lain aku dan istri harus datang ke Semarang pada waktunya. Kalau bepergian, sepanjang tidak ada aral melintang aku selalu ok saja, asal badan sehat, dan satu lagi ada bekalnya…

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Adapun jadual kereta api Bandung – Semarang adalah dari Bandung berangkat malam jam 20:30 dan sampai di Semarang pukul 05:06 (8.5 jam) keesokan harinya. Demikian juga dari Semarang ke Bandung berangkat pukul 20:30 dan sampai di Bandung keesokan harinya jam 04:58.

Tarifnya kalau pemberangkatan hari-hari week end yakni Sabtu dan Minggu lebih mahal ketimbang hari-hari week day. Misal aku dan istri berangkat hari Kamis di bulan September 2012 tarifnya kelas eksekutif Rp 155.000, kelas bisnis dewasa Rp 110.000 dan bisnis anak Rp 88.000. Sementara untuk Semarang – Bandung pada hari Sabtu tiketnya adalah kelas eksekutif Rp 185.000, kelas bisnis dewasa 140.000 dan anak-anak Rp 118.000.

Yang aku dan istri tumpangi adalah kereta api Harina kereta api eksekutif  yang melayani Bandung – Semarang Tawang. Nama Harina konon diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah kijang. Rute yang dilewati cukup unik, dari Bandung tidak ke arah timur melainkan ke arah barat dulu menuju Cikampek, sampai Cikampek kemudian lokomotifnya diputar dan terus berbalik ke arah timur melewati Cirebon, Tegal, Pekalongan, sampai Semarang Tawang.

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Ceritanya aku dan istri sudah ada di atas kereta api Harina tersebut, pikiranku melayang ke belakang, meskipun aku tidak mengalami, tapi dari buku yang aku baca yaitu buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” oleh Haryoto Kunto bahwa pemasangan rel kereta api dari Batavia ke Bandung, lewat Bogor dan Cianjur, diresmikan pada tanggal 17 Mei 1884.

Berikutnya Staats Spoor yaitu Perusahaan Kereta Api Negara saat zaman kolonial Belanda, juga membuat rel kereta pada tanggal 23 Februari 1918 yaitu jalur  K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali (kesemuanya ada di sekitar Bandung). Sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, namun tak pernah menjadi kenyataan.

Lima puluh tahun kemudian sejak sambungan dari Batavia ke Bandung lewat Bogor, pada tanggal 1 November 1934 diresmikan  jalan baru melalui Cikampek Purwakarta.

Jalur K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali,  yang sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, tidak pernah menjadi kenyataan, bahkan jika saja Bandung – Sumedang rampung, maka ada kemungkinan dibuat rel kereta apai Sumedang – Cirebon.

Karena jalan Bandung – Cirebon dengan kereta api jalannya tidak dibuat oleh Staatsspoor, maka pertama KA Harina harus ke utara barat dahulu sejauh 75 km, keduanya penumpang naik kereta Harina dari Cikampek ke Semarang Tawang terus-terusan sejauh 466 km-an dalam posisi mundur.

Meskipun jalan KA harina mundur, karena kursi tidak bisa diputar, kecuali kesepakatan bersama penumpang lain, tidak masalah, apalagi perjalanan malam hari dimana penglihatan ke luar gelap gulita, atau gelap-gulita karena kebanyakan tidur ya?

Naik KA Harina Bandung – Semarang atau sebaliknya Semarang Bandung secara umum relatif memuaskan, apalagi di Stasiun lebih tertib, bersih, dan nyaman pertama tidak ada calo, kedua aman karena tidak sembarangan orang bisa masuk Stasiun, terus juga pedagang, termasuk pedagang asongan sudah tidak ada.

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

Demikian perjalanan Bandung – Semarang pp dengan KA Harina berjalan dengan lancar dan cukup memuaskan. Demikian juga dengan acara pernikahan keponakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang berjalan dengan sukses.

Saat pulang ke Bandung harus posisi mundur lagi yaitu dari Cikampek ke Bandung sejauh 75 Km, tak masalah karena tidur lagi…

Dasar, Si Borokokok…!

Anda pernah mendengar tokoh imajinatif budaya Sunda Si Kabayan? Si Kabayan adalah tokoh yang dianggap lucu, polos, bisa cerdas, tapi juga bisa menjadi tokoh pemalas atau tokoh yang tidak patut untuk ditiru. Seperti tokoh lain Abu Nawas atau Nasrudin cerita mengenai Si Kabayan telah ditulis oleh banyak pengarang Sunda diantaranya Si Kabayan oleh Utuy Tatang Sontani (1959), Si Kabayan Manusia Lucu oleh Achdiat Karta Mihardja (1997), Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang oleh Achdiat Karta Mihardja, Si Kabayan dan beberapa dongeng Sunda lainnya oleh Ayip Rosidi (1985), Si Kabayan jadi Wartawan oleh Muhtar Ibnu Thalab (2005), Si Kabayan jadi Dukun oleh Moh. Ambri, Kabayan Bikin Ulah (2002, komik kompilasi), dan ada beberapa lagi.

Bukan hanya berbentuk buku cerita tentang Si Kabayan ditulis orang, akan tetapi juga dalam rupa film, seperti film Si Kabayan (1975), Si Kabayan Saba Metropolitan (1992), Si Kabayan Cari Jodoh (1994), Kabayan Jadi Milyuner (2010), dan beberapa lagi film lainnya. Dalam film Si Kabayan itu ada tokoh lain yaitu Nyi Iteung sebagai istri Si Kabayan, dan mertua lakinya dalam bahasa Sunda mertua itu disebut mitoha. Nah, karena Si Kabayan ini tokoh yang malas dan meskipun seringnya lucu, dalam pandangan mitohanya Si Kabayan itu menyebalkan (pikasebeleun) dan punya gelar “Si Borokokok”.

Perilaku-perilaku lain yang pikasebeleun dalam ungkapan bahasa Sunda ada beberapa lagi misal “Si Atah Adol”, “Si Tukang Ngabuhiam” Si Purunyus”, “Si Bangkawarah”, bahkan “Si Dodol” ini semua kalau mau mengambil istilah dari Pak Mario Teguh adalah perilaku yang “not cool” lawan dari perilaku “not cool” atau yang terpuji adalah yang “cool”, dan kebalikan dari “Si Borokokok” dalam cerita Si Kabayan itu dipuji sebagai “Si Kabayan tea atuh!”.

Perilaku tidak terpuji dari para pemimpin baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yaitu  korup, kolusi, dan nepotis adalah juga termasuk kelompok yang perlu disebut Si Borokok! Dari kelompok eksekutif umpama para pemimpin daerah misal bupati seyogianya menjadi contoh tauladan atau panutan warganya. Makanan berupa dodol dari Garut memang enak tapi kalau pemimpin daerah yang dodol! Termasuk kategori Si Borokokok!

Memang kita tidak perlu heran dengan para pemimpin daerah semisal dari 400-an lebih Bupati dan walikota se Indonesia ada saja yang dodol atau Si Borokokok! itu.

Apakah ada hubungannya dengan perilaku beberapa Bupati zaman dahulu saat kolonial Belanda? sewaktu zaman menak yang biasa dimemenan dan dienak-enak, banyak saja perilaku para Bupati yang patut diberi gelar Si Borokokok ini. Misal saja dari tiga godaan bagi para pejabat yaitu harta, tahta, dan wanita, banyak yang tidak tahan dengan wanita.

Bupati dan Bawahannya di daerah

Bupati dan Bawahannya di daerah

Dalam eseynya A Sobana Hardjasaputra berjudul “Nyangrah” yang dimuat di majalah bulanan Sunda Cupumanik bulan September 2008 bahwa perilaku pejabat pemerintah yang tidak harus ditiru sebagai berikut:

Di Tatar Sunda dahulu, sampai ke akhir abad ke 19 yang disebut “nyangrah” diterapkan kepada salah satu hak istimewa bupati, yaitu meminta sesuatu kepada bawahan atau rakyat di wilayah kekuasaannya.

Kebiasaan begitu utamanya jika bupati turni ke wilayah kekuasaannya. Kalau sedang berkunjung disediakan pesangrahan dan selalu disertai lurah atau kuwu di tempat itu. Kalau ada kemauan biasanya bertanya dahulu. Misalnya melihat seekor kuda yang bagus yang bupati seperti menginginkannya. “Bagus kuda itu, Siapa pemiliknya Lurah?” Dijawab Ki Lurah: ”Itu kan milik dalem sendiri…” Kuda itu biasanya diberi tanda dengan digunting bulu surinya. Seterusnya kuda tersebut diantarkan ke pusat kota sekalian mengantar bupati.

Kalau kuda biarlah hanya binatang, Bagaimana kalau bupati melihat yang bening? Mojang langsing. Kalau sudah disangrah nggak bisa menolak. “Anak itu begitu cantik, anak siapa itu Lurah?” begitu kata bupati kalau melihat gadis yang disukainya. Ki Lurah, Orang tua anak itu, demikian juga Nyi Mojang tidak bisa lagi menolak meskipun bakal menjadi selir bupati yang ke sekian belas atau bahkan yang ke sekian puluh.

Juga dalam bukunya “Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800 – 1942” Dr. Nina H. Lubis pada judul Perkawinan dan Konkubinasi menulis: Kaum menak Priangan pada umumnya melakukan poligami (beristri lebih dari satu) dan konkubinasi (berselir banyak). Disamping istri resmi (yang dinikahi) ada juga istri-istri tidak resmi (yang tidak dinikahi). Salah seorang istri resmi berkedudukan sebagai garwa padmi yang setaraf dengan permaisuri seorang raja. Istri yang bukan padmi biasa disebut garwa leutik. Istri yang tidak dinikahi biasa disebut parekan (selir).

Jika menemukan bupati yang not cool sebut saja “Si Borokokok!” tapi kalau ada pemimpin atau dalam istilah Majalah Tempo sebagai Bukan Bupati biasa karena jasa-jasanya memajukan wilayahnya sebut saja bupati cool atau “Siapa dulu bupatinya atuh!”.

 

Buku-Buku Berbahasa Sunda

Alangkah senangnya kalau bisa berbagai bahasa akan belajar cepat mengenai adat-istiadat, seni, bahkan budaya secara keseluruhannya, terus lebih saling mengenal sesama umat manusia. Akan tetapi belajar bahasa asing bahkan belajar bahasa daerah di Indonesia pun sulitnya minta ampun. Saya sudah berumur 66 tahun bahasa yang aktif hanya bahasa Indonesia dan bahasa ibu yakni bahasa Sunda. Bahasa Inggris yang dipelajari sejak SMP masih berstatus pasif. Pernah aktif berbahasa Inggris karena sempat bekerja di perusahaan asing tahun 1977 meskipun lokasinya masih di Indonesia. Tapi selanjutnya karena jarang dipakai yaitu statusnya pasif lagi.

Barbahasa daerah pun kalau tidak dipakai bertutur atau dipelihara kemampuan berbahasanya bisa hilang, maka dari itu saya selalu berupaya untuk tetap berbahasa Sunda diberbagai kesempatan. Salah satu upaya supaya tetap fasih berbahasa Sunda yakni dengan membaca buku-buku berbahasa Sunda. Untuk upaya itu pun harus mencari dan membeli. Inilah 14 buku-buku pilihan berbahasa Sunda yang saya sangat berminat untuk memilikinya:

Dalingding-Angin Janari Oleh Usep Romli

Dalingding-Angin Janari Oleh Usep Romli

1. Dalingding Angin Janari (Senandung Angin Subuh) Senandung angin subuh dari masjid baru saja lewat dalam hati Fénny. Belum mengendap dalam ingatannya. Tapi Néndah yakin, akan ada perubahan. Besok ataupun lusa. Meski entah kapan Kullu man alaiha fanin. Semua mahluk hidup, tidak ada yang abadi di alam ini. Senandung angin subuh dari masjid juga, tidak akan menerpa selewat dalam kenangan. Pasti suatu saat bakal mengendap selama –lamanya di dalam hati sanubari. Dalam gelora laranya Fenny. Besok lusa. Atau entah kapan hanya Tuhan Yang Maha Tahu.
Cetakan I, 2007; 14,5 x 21 cm; 68 halaman; Rp 15.000,-

Di Taman Larangan Oleh Surachman R.M.

Di Taman Larangan

2. Di Taman Larangan, Buku ini adalah kumpulan puisi Surachman R.M. ketiga dalam bahasa Sunda. Hampir semua sajak dalam buku ini pernah dimuat di majalah Sunda Mangle. Di antaranya, ada yang terpilih oleh Ajip Rosidi untuk  antologi-antologi Sajak Sunda, Puisi Sunda Modern, Modern Sundanese Poetry, dan  Poemes Soundanais. Setelah dikumpulkan, sebagian puisi diedit lagi oleh penyajaknya.
Cetakan I, 2011; 14,5 x 21 cm; 76 halaman; Rp 20.000,-

DUKUN-LEPUS Ahmad Bakri

DUKUN-LEPUS Ahmad Bakri

3. Dukun Lepus (Dukun Manjur) Oleh Ahmad Bakri. Dalam karangan-karangannya yang dimuat dalam buku ini, kelihatan sekali bahwa Ahmad Bakri bukan saja hanya sekedar akrab, tapi juga larut pada kehidupan orang Sunda sehari-hari —sesuai dengan apa yang dialaminya, yang mengalami hidup dari mulai “jaman normal” sampai ke ahir tahun ‘80-an. Dan hal inilah yang menyebabkan Ahmad Bakri lihai menggambarkan rupa-rupa suasana serta karakter tokoh-tokohnya. Buku kumpulan cerpen ini berupa salah satu mutiara peninggalan alm. Ahmad Bakri, yang pernah dapat julukan pengarang Sunda favorit.

Cetakan I, 2002; 14,5 x 21 cm; 144 halaman; Rp 16.000,-

Duriat Saini KM

Duriat Oleh Saini KM

4. Duriat (Kesayangan) Oleh Saini K.M.  Saat si Tatang menikahkan anak cikalnya, Ema dan kakeknya anak-anak datang  ke Bale Umpak. Meski sudah banyak yang berubah, meskipun tampian sudah ditembok dan pancuranya menggunakan keran, batu jodoh itu masih ada, tetap saperti dahulu. Ema tidak tahu, apakah  masih ada jejaka yang menyimpan tanda rindu di tempat itu. Apakah batu itu masih pantas disebut batu jodoh atau tidak? Meskipun begitu Ema dan kakeknya anak-anak merenung dan berdiri sesaat dekat batu itu sambil memetik kenangan, seperti memetik bunga di taman yang begitu indahnya…
Cetakan I, 2011; 14,5 x 21 cm; 100 halaman; Rp 24.000,-

Halis Pasir Us Tiarsa R

5. Halis Pasir Oleh Us Tiarsa sungguh sangat lincah mengolah cerita sampai ke hal-hal yang kecil, tak beda dengan wartawan yang menulis berita atau laporan. Malahan terkadang cerpennya demikian merasuk jauh ke dalam menyelami kehidupan batin tokohnya.
Cetakan I, 2010; 14,5 x 21 cm; 84 halaman; Rp 20.000,-

KABANDANG-KU-KUDA-LUMPING Ahmad Bakri

KABANDANG-KU-KUDA-LUMPING Ahmad Bakri


6.
Kabandang ku Kuda Lumping (Terbawa Oleh Kuda Lumping) Oleh Ahmad Bakri.  Yang terbawa oleh kuda lumping itu adalah Jang Udin. Jang Udin sedang saatnya suka bermain, pergi jauh, tidak menurut kepada nasihat orang tuanya.  Sering berubah pikiran, sewaktu disuruh oleh ibunya mengambil uang dari tetangganya, dia malahan tertarik dan terbawa oleh rombongan kuda lumping.  Saat mengikuti kuda lumping, duitnya hilang. Mangka uangnya tidak sedikit. Uang itu hasil penjualan padi. Mau pulang takut dimarahi orang tuanya, terutama takut dimasukkan ke penjara. Seperti kata bapaknya ank nakal bakal dipenjara di Tangerang. Akhirnya Jang Udin minggat mengikuti orang selewat, berjalan tak tentu tujuan, sampai sengsara di kampung orang.
Cetakan II, 2002; 11,5 x 17,5 cm.; 72 halaman; Rp 16.000,

Kalapati Hadi AKS

Kalapati Hadi AKS

7. Kala Pati oleh Hadi AKS. “Daun, tangkal, jeung manusa tuluy jaradi sarah, palid dina caah umpalan…”.
Cutatan kalimah di luhur bisa jadi ngawakilan tema carpon-carpon Hadi AKS nu aya dina ieu kumpulan. Ruksakna alam jeung ruksakna moral manusa  kiwari, jadi jejer utama anu diguar ku pangarang dina dua belas carita pondokna. Tatar Sunda geus lain alam nu endah matak waas, tapi tanah nu kebek ku mamala. Lemah cai kuring lain bumi nu matak tingtrim, tapi lemah cai nu dirungkup musibah; caah, urug, jeung sajabana.

Nya kitu deui manusana. Urang Sunda nu kawentar ku babasan hade tata hade basa, someah hade ka semah, horeng geus ngajanggelek jadi jalma-jalma nu biadab teu boga ras-rasan. Bapa nu ngagadabah anak, indung nu maehan anak, jalma-jalma nu silih curiga, nu ngajual kahormatan, nu silih pergasa, minangka potret realitas manusa kiwari anu hayang ditembongkeun ku pangarang. Dicaritakaeun dina wirahma jeung gaya nu ngagalindeng, rupaning pasualan anu tadi teh karasa antebna, ngagerihan batin nu maca.

Ngalenyepan carpon-carpon Hadi AKS dina ieu kumpulan carpon Kalapati, urang diajak nyurahan urang Sunda nu palid kabawa caah umpalan jaman….
Citakan I, 2012; 14,5 x 21 cm; 120 kaca; Rp 30.000,-

Lagu-Liwung Urang Bandung Apung

Lagu-Liwung Urang Bandung Apung

8. Lagu Liwung Urang Bandung oleh Apung S. Wiratmadja nu ngamuat 30 dangding jeung dua sawér téh ngébréhkeun rupaning rasa anu pagaliwota jeroeun dada Apung S. Wiratmadja. Taya lian nu dipicangcamna téh nanasiban anu karandapan ku dayeuh Bandung kiwari. Boh nu gérengna. Bohn nu hadean.
Cit. I, 2006; 14,5 x 21 cm.; 72 kaca; ISBN 979-3631-92-9; Rp 15.000,-

Peperenian Urang Sunda

Peperenian Urang Sunda

9. Peperenian Urang Sunda oleh Rachmat Taufiq Hidayat spk.
enas-enasna mah ha­yang némbongkeun kaunikan basa Sunda. Éta kaunikan téh tangtu némbongkeun pangalaman hirup urang Sunda anu mibanda konvénsi budaya sorangan. Pangpangna mah tangtu baé bisa nu­duh­keun tradisi masarakat Sunda ti waktu ka wak­tu. Tradisi anu lahir tina kabiasaan-kabiasaan hi­rup urang Sunda téh medalna henteu sabong­brong. Mun nilik kana wawangunan imah, paka­kas, kadaharan jeung inuman, pakasaban, atawa réana babasan jeung paribasa anu kekecapana­na nyokot tina ngaran-ngaran tutuwuhan jeung sasatoan, tanwandé éta téh némbongkeun yén masarakat Sunda hirup sa­po­poéna deukeut jeung lingkungan alam.
Cit. I, 2005; 14,5 x 21 cm.; 288 kaca; ISBN 979-3631-57-0; Rp 36.000,-

Saija Multatuli

Saija Multatuli

10. Saija oleh Multatuli; Disundakeun jeung Dipanganteuran ku R.T.A. Sunarya
Karya Multatuli anu di judulan Max Havelaar nga­gambarkeun kaayaan di Banten Kidul jaman ha­rita: ra’yat désa dikaniaya, diperdaya nu pohara ku pihak pamaréntah, akibat tina pulitik jajahan. Nya dina éta roman aya nyelap lalakon tragis Saija jeung Ina, nu henteu nepi ka cacap silihpikacinta ku lantaran jadi korban pulitik jajahan téa.
Ku R.T.A. Sunarya, nu baheula kungsi jadi bupati di tatar Sunda, dina ieu buku éta lalakon téh di­tarjamahkeun. Henteu disalin saceplakna sake­cap-sakecap, tapi éstuning disundakeun.
Citakan II, 2003; 14,5 x 21 cm.; 64 kaca; Rp 13.000,-

Salawe Sesebitan Apung S. Wiratmadja

Salawe Sesebitan Apung S. Wiratmadja

11. Salawe Sesebitan Hariring oleh Apung S. Wiratmadja . Salian ti pakta sajarah sapertos Musyawarah Tembang Sunda, pasanggiri, sareng perkembangan Tembang Sunda/Cianjuran, seueur hal sanes nu tiasa dijantenkeun “pelajaran” tina buku Salawe Sesebitan Hariring. Buku anu pelem, mundel, sareng ngagunakeun basa Sunda anu “ngaguluyur” leres-leres matak ngahudang kapanasaran.
Citakan I, 2009; 14,5 x 21 cm; 208 kaca; Rp 52.000,-

saudagar-batik Ahmad Bakri

saudagar-batik Ahmad Bakri


12.
Saudagar Batik oleh Ahmad Bakri. Si Kasja minggat. Awalnya dimarahi oleh ayahnya agak berlebihan sampai dipukuli. Setelah anaknya pergi tanpa pamit, Bapak si Kasja merasa menyesal, terus saja dicari. Tapi setelah beberapa hari tidak ada beritanya,  akhirnya Bapknya Si Kasja sakit sampai meninggalnya.

Sesudah ditinggalkan suaminya, Bi Arwiah hidup berdua anaknya Si Inen. Pekerjaannya cuna berburuh. Sawah miliknya sudah habis bekas mengurus suaminya. bagaimana tentang Si Kasja? Apakah masih hidup atau bahkan sudah tiada?
Cet. II, 2004; 14,5 x 21 cm.; 81 halaman; ISBN 979-3631-17-1; Rp 16.500,-

Si-Lamsijan Kaedanan Ki Umbara

Si-Lamsijan Kaedanan Ki Umbara


13.
Si Lamsijan Kaedanan oleh Ki Umbara,  nu didongéngkeun teu béda ti nu aya dina wayang golék cepak. Pasipatanana teu parok jeung batur, sok ngarasa sagala nyaho tapi saenyana mah bodo katotoloyoh. Ari bogoh ka Si Amoy, tepi ka kaédanan pisan. Ménta tulung ka dukun, malar nga­jodo jeung nu dipikasono. Orokaya pélétna kalah nerap ka Si Cepleu.
“Ki Umbara méré conto yén tokoh folklorik nu pa­si­patan jeung tabéatna geus miboga stéréotip anu geus maneuh sarta dipikawanoh ku balaréa cara Si Lamsijan… bisa jadi tokoh carita anyar anu pika­resepeun.” — Ajip Rosidi
Citakan II, 2003; 11,5 x 17,5 cm.; 86 kaca; Rp 15.500,-

SURA-SEURI-SUNDA HD Bastaman

SURA-SEURI-SUNDA HD Bastaman


14.
Sura-Seuri Sunda (Ketawa-ketiwi Sunda) oleh H.D. Bastaman. Ada yang cerita bahwa kalau kita sempat ke luar negeri terus bertemu dengan rombongan yang berjalan santai sambai ramai ketawa, biasanya itu rombongan urang Indonesia. Nah, kalau diantaranya yang ketawa paling kelihatan giginya, tidak salah lagi pasti dia itu orang Sunda.

Sudah terkenal orang Sunda itu menyukai tertawa dan juga suka akan humor. Bahkan topik cerita yang menarik bagi orang Sunda konon yang lucu, menakutkan, dan yang membuat penasaran. Yaitulah dongeng lelucon, dongeng tentang hantu, tentang pocong, juga tentang cerita porno.
Cet. I, 2004; 14,5 x 21 cm.; 112 halaman; ISBN 979-3631-29-5; Rp 22.500,-

Sumber: http://kiblatbukusunda.blogspot.com

Catatan: harga buku pada tahun buku tersebut diterbitkan, jadi kalau sekarang tahun 2013 kemungkinan besar sudah naik.

Pengarang Lawas Cerita Tentang Aloen-Aloen Bandoeng

Alun-alun Bandung 1900

Alun-alun Bandung 1900

Ketika aku membaca buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) karya Haryoto Kunto disebutkan pada tahun 1900-an di tengah kota yakni Alun-alun Bandung pagi-pagi demikian sejuk, dan yang istimewa, masih kelihatan halimun atau kabut, kalau sekarang ini tahun 2012 bahkan lama sebelum itu mana ada kelihatan halimun turun gunung ke alun-alun.

Sehubungan dengan cerita mengenai Jalan Asia Afrika Bandung, dimana jalan ini mempunyai sejarah panjang sejak zamannya Herman Williem Daendels membuat jalan dari Anyer ke Panarukan pada tahun 1810-1811. Nah, di sepanjang jalan tua ini berderet juga bangunan yang tak kalah tuanya, seperti disebutkan oleh Bandung Heritage ada banyak bangunan yang ada di tepi jalan Pos tersebut, Walanda menyebut jalan tersebut groote posweg.

skyscrapercity.com. Alun-Alun Bandung tahun 80-an (1987-1988)

skyscrapercity.com. Alun-Alun Bandung tahun 80-an (1987-1988)

Adapun letak alun-alun Bandung dibatasi sebelah selatan jalan Dalemkaum sebelah utara Jl Asia Afrika, sebelah timur jl Alun-alun Timur, dan di barat kelihatan Masjid Agung Bandung dan Hotel Swarha.

Bangunan-bangunan zaman baheula yang ada disekitar Alun-alun Bandung atau di sepotong jalan Raya Pos, sekarang masih tetap berdiri yaitu Kantor Pos Besar atau Posten Telegraf Kantor (1928-1931), Bank Mandiri (1915), P.T. Asuransi Jiwasraya tahun (1917-1920) Bank Mandiri (1912).

Ngomong-ngomong apa sih alun-alun itu? Alun‑alun adalah sebuah lapang­an terbuka di pusat kota, yang meru­pakan ciri tradisional kota‑kota di Pulau Jawa. Menurut Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. Alun-alun bisa di desa, kecamatan, kota maupun pusat kabupaten.

Sejak masa Islam alun-alun sebelah baratnya dilengkapi dengan berdirinya sebuah masjid tempat beribadah, demikian juga di Alun-alun Bandung terdapat masjid yang dahulu bentuk atapnya umpak tiga dengan kerucut ke atas dimana saat itu orang Bandung menyebutnya Bale Nyungcung.

Yang lumayan banyak cerita mengenai Alun-alun Bandung kata Kang Hawe Setiawan adalah Sjarif Amin atau Muhammad Koerdie (Ciamis, 7 September 1907 – Bandung, 1991). Sjarif Amin adalah tamatan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sekolah zaman Belanda setingkat SMP kini. Di MULO murid-murid belajar menguasai bahasa Belanda. Bahasa inilah–selain bahasa Sunda dan bahasa Melayu yang suka dipakai untuk menerjemahkan karya sastra Eropa terbitan Balai Pustaka–yang turut menghubungkan Sjarif Amin dengan sastra dunia, tak terkecuali dengan karya Karl May.

Buku Karangan Syarif Amin

Buku Karangan Syarif Amin

Dalam buku tulisan Sjarif Amin  “Keur Kuring Di Bandung” 1983  (Saat Aku Di Bandung) judul tulisannya “Sampalan Tengah Nagara” (Tegalan Tengah Negara) bercerita tentang alun-alun itu . Saat menulis buku ini beliau berusia 76 tahun, beliau meninggal pada usia 84 tahun.

Buku “Keur Kuring Di Bandung”, kalau saja saat Amien main di Alun-alun Bandung sewaktu masih main kejar-kejaran, sebutlah usia 10 tahun, Perkiraan almarhum menceritakan tentang alun-alun Bandung yaitu pada tahun 1917.

Alun-alun Bandung betul-betul masih tegalan masih banyak bunga dom-doman yang menempel di sarung, masih ada pohon beringin, masih ada burung ungkut-ungkut, sirit uncuing di pohon beringin di alun-alun itu.

Selanjutnya katanya di alun-alun itu dahulu ada berbagai tontonan termasuk pertunjukan kesenian berupa angklung, calung, naek jambe, panahan, maen bola, dan sirkus. Kalau ada tontonan main bola lapangan ditutup dengan wide dari bambu. Gawang bola terletak di utara dan selatan. Sudah ada nama keindonesiaam PSSI dimana klub Bandung disebut PSIB yang kemudian menjadi PERSIB.