De Driekleur, Gedung Tiga Warna di Bandung

Gedung De Driekleur atau dinamai gedung tiga warna ada terdaftar pada Hasil Inventarisasi Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997.  Juga tercantum diantara 99 bangunan cagar budaya di Kota Bandung, pada lampiran perda no. 19 tahun 2009. Bahkan gedung tua yang saat ini dipakai oleh Bank BTPN tersebut termasuk salah satu dari 26 bangunan bersejarah yang mendapat penghargaan Heritage Award tahun 2011.

Plang Jln Sultan Agung

Meskipun saya tinggal di Bandung, tapi gedung ini lepas dari perhatian, sampai-sampai sebelumnya saya meragukan apakah betul gedung ini ada di jalan Sultan Agung, masalahnya bahkan saya meragukan apakah ada nama jalan Sultan Agung di Bandung?  Karena seperti diketahui di Bandung agak jarang nama-nama jalan menyebutkan tokoh-tokoh dari sebelah timur seperti Hayam Wuruk, Gajah Mada, bahkan Majapahit kerajaan besar di P Jawa tak pernah dipakai nama jalan di Bandung.

Untuk menghapus keraguan dan kepenasaran ahirnya baru-baru ini dengan berjalan kaki saya mendatangi lokasi tersebut. Nah, setelah saya membuktikan sendiri ternyata betul ada nama jln Sultan Agung dimana Gedung Tiga Warna itu berada, bahkan nomor satu lagi, persis di sudut pertemuan dengan jalan Dag0 atau jln Ir H Juanda.

Gedung De Driekleur bagian depan

Beberapa bangunan cagar budaya di Bandung ada yang tersembunyi terhalangi pepohonan, pagar yang tinggi, plang nama, bahkan iklan yang dipasang besar-besar. Gedung ini juga termasuk agak tersembunyi karena terhalangi rimbunnya pepohonan, di satu sisi sejuk dan asri tapi di sisi lain tidak bisa dinikmati karena pemandangan terhalangi, apalagi kalau mau mengambil gambarnya.

Gedung Tiga Warna, dipotret dari samping

Gedung De Driekleur ( Tiga Warna) dibangun pada tahun 1938 berdasarkan rancangan arsitek Belanda A.F. Albers. Bangunan ini banyak dipengaruhi oleh aliran Nieuw Bouwen- gaya arsitektur yang berkembang di Hindia Belanda pada akhir tahun 1930-yang memperlihatkan garis-garis stream line. Gaya ini mengutamakan kesederhanan tanpa banyak ornamen dekoratif.

Lalu mengapa namanya De Driekleur (Tiga Warna)? Pada zaman dahulu beberapa gedung mempunyai nama, gedung ini pun diberi nama Tiga Warna. Seperti kalau kita menyebut Dwi Warna merujuk ke bendera merah putih Indonesia, demikian juga Driekleur atau Tiga Warna merujuk ke bendera negara Belanda yang tiga warna yakni merah putih biru. Meskipun warna gedung ini dari dulu sampai saat ini hanya putih dan abu-abu saja.

Bacaan:

bandung Heritage dot org, bandung dot detik dot com, Olivier’s site

Advertisements

Nasib Pertokoan Lama Di Jalan ABC Bandung Kini

Dalam upaya memelihara dan melestarikan bangunan-bangunan tua di Kota Bandung,  “Bandung Heritage” telah mengadakan inventarisasi. Dari data lembaga pelestarian “Bandung Heritage” itu pada tahun 1997 disebutkan bahwa di jalan ABC ini ada dua lokasi bangunan yang harus dilestarikan yakni:

  1. Pertokoan Kodros, berlokasi di jln ABC no. 1, 3, 5, 7, 9 berfungsi sebagai ruko gandeng, arsiteknya belum diketahui, tahun pembuatannya tahun 1910, kelas A
  2. Toko “Bandung Baru”, berlokasi di jln ABC no. 50, 52, 54 berfungsi sebagai pertokoan, arsiteknya belum diketahui, tahun pembuatannya tahun 1910 – 1920, kelas A

Nah, disebutkan bahwa pendataannya pada tahun 1997 jadi sampai sekarang tahun 2012 sudah lama sekali yakni sudah 15 tahun, jadi saya sangat penasaran bagaimana keadaan bangunan pertokoan tersebut pada saat ini. Perlu diketahui bahwa umur bangunan tersebut yang dibuat tahun 1910 perkiraan kasarnya sudah 100 tahunan, dan itu masih zaman kolonial Belanda di Kota Bandung.

Dimanakah jalan ABC itu? Jln ABC terletak dikawasan dekat Pasar Baru Bandung, ini tempatnya perdagangan, tempatnya orang belanja, jadi adalah kompleks pertokoan, so pasti dekat dengan jalan Pecinan dimana dari dulu sampai sekarang pertokoan tidak lepas dari usahanya saudara kita warga Cina. Jalan besarnya adalah jalan Oto Iskandardinata, belok ke jalan ABC terus jalan ABC ini dipotong jalan Alkateri, yang sesudah memotong jalan ABC, jln Alkateri ini, namanya berubah menjadi jalan Suniaraja. Kemudian jalan ABC yang mungkin hanya 1 Km ini berakhir atau dipotong oleh jalan Banceuy.

Tidak seperti lagu “Alamat Palsu”- nya Ayu Tingting, alamat yang saya cari ini sudah jelas, hanya karena jika di kota mencari alamat harus tahu nomor kecil sebelah mana, dan nomor besar di ujung mana. Nomor kecil bangunan dimulai dari awal jalan besarnya misalnya untuk jalan ABC nomor satunya dimulai dari belokan jalan Oto Iskandardinata sebagai jalan besarnya. Tapi juga harus tahu bahwa barisan nomor bangunan ganjiiil pasti sebelah kiriii…, dan nomor genaaap ada di sebelah kanaaan… (he he he cara aki-aki mengingat sesuatu).

Menurut toponimi Kota Bandung, toponimi? Adalah untuk menyelidiki atau mengetahui nama suatu tempat. Tidak seperti jalan lain di Kota Bandung dimana nama jalan ada ceritanya, ada kisahnya, bahkan ada sejarahnya. Sebagai contoh jln Oto Iskandardinata adalah nama seorang pahlawan kemerdekaan. Jalan Banceuy adalah bahwa dahulunya wilayah itu suatu perkampungan yang ada kandang kudannya. Sedangkan untuk jalan ABC ini hanya disebutkan bahwa dahulu zaman Belanda nama jalan ini adalah  ABC Straat, keterangan lainnya belum saya ketemukan selain menyebutkan lokasi seperti yang saya tulis di atas.

Jaln ABC ini seperti sebagaimana jalan-jalan di pusat-pusat perdagangan atau pertokoan selain mal,  kondisnya betul-betul rami, sibuk, sempit sebab setengahnya dijadikan tempat parkir mobil dan motor. Terus trotoarnya penuh dengan pedagang kaki lima, untuk pejalan kaki kadang bingung kemana melangkah. Sepanjang jalan ini terdiri dari pertokoan alat-alat elektronika hiburan dan perlengkapan rumah tangga lainnya, toko kaca mata, toko jam, dan toko macam-macam kamera. Demikian juga pedagang kaki lima banyak yang jualan dan reparasi kamera, kaca mata, dan reparasi aneka ragam jam. Jadi pantas kalau jalan ini menjadi salah satu jalan padat seperti umumnya jalan di Bandung saat ini.

Setelah tahu lokasi bangunan pertokoan dimaksud, maka mulailah saya mengambil gambar dengan beberapa kali jepretan

Pertokoan Kodros

Pertokoan Kodros ini dalam kondisi tidak terurus dan nampaknya sudah lama tidak dihuni. Yang berfungsi malahan trotoar dimukanya menjadi lahan usaha kaum PKL dengan lapaknya

Toko Bandung Baru

Bangunan toko “Bandung Baru” juga sama tidak terawat, apalagi yang ini tertutup oleh iklan yang gede banget sehingga hampir menutupi keindahan bangunan

Nasib Pertokoan lain di jln ABC

Nasib bangunan pertokoan lain yang belum diinventarisir “Bandung Heritage” pun nasibnya sama menyedihkan karena tidak terurus.