Sekolah Guru Bantu (SGB)

Ketika tahun 1954 saya mendaftar di SR (Sekolah Rakyat 6 tahun), syaratnya tidak ditanyakan umur apalagi surat Akte Kelahiran (saya hampir yakin bahwa diantara teman-teman seangkatan saya saat itu tidak ada satu pun yang memiliki surat Akte Kelahiran). Syaratnya mudah saja yaitu diukur dengan cara melintangkan tangan kanan atau kiri persis diatas kepala dan harus bisa menyentuh telinga. Jika tangan kanan yang dilintangkan melalui kepala bagian atas harus bisa menyentuh telinga kiri, demikian juga sebaliknya. Jika dengan cara itu telinga bisa tersentuh maka sudah sampai umur untuk masuk kelas 1 SD 6 tahun itu. Yang melakukan pengukuran itu adalah para guru SD/SR tersebut.

Nah, menurut cerita  bahwa mereka yang menjadi guru saya di SR/SD itu adalah lulusan SGB (Sekolah Guru Bantu) atau pendidikan guru lain. Guru tersebut menempuh pendidikan 4 tahun di SGB, malahan lanjut cerita bahwa mereka para murid SGB itu mendapatkan ikatan dinas dari pemerintah. Dimaksud ikatan dinas adalah mendapatkan tunjangan uang untuk kebutuhan kos, makan, dan keperluan sekolah. Masih cerita salah seorang guru, yang kebetulan saudara dekat saya bahwa dari uang ikatan dinas itu dia bisa menabung untuk membeli sepeda tentunya sepeda ontel. Setamatnya SGB bisa langsung mengajar dan menjadi PNS, apa nggak hebat tuh!

Setelah tua sekarang ini saya jadi ingin tahu perihal pendidikan guru SGB itu, ternyata Sejarah Pendidikan Guru (khususnya guru SR/SD) di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menjadi guru Sekolah Desa 3 tahun adalah lulusan CVO (cursus vur volk onderwijs , 2 tahun sesudah SD)
  2. Untuk menjadi guru SD Nomor Dua (5 tahun) adalah lulusan Normal school (4 tahun sesudah SD)
  3. Untuk menjadi guru HIS – Hollandsch-Inlandsche School (Sekolah Dasar Belanda untuk orang Indonesia dengan bahasa pengantar bahasa Belanda lamanya 7 tahun) adalah lulusan HIK (6 tahun setelah HIS). Dan lulusan Hoopdt Acte untuk menjadi guru MULO (SMP).
  4. Setelah kemerdekaan pemerintah mendirikan Sekolah Guru B (4 tahun sesudah SD), setelah tamat mereka mengajar di SD/SR 6 tahun itu.

Selanjutnya persyaratan tersebut meningkat sejak tahun 1957 bahwa guru yang mengajar di SD harus lulusan SGA (Sekolah Guru Atas) pendidikannya 3 tahun setelah SMP.

Tentunya Sekolah Guru B pun akhirnya ditutup, dan bagi mereka yang hanya memiliki izasah SGB harus menempuh pendidikan persamaan setara SGA.

Sekian mengenai Sekolah Guru Bantu(SGB)

Bacaan:

Kementrian Pendidikan Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s