Galendo Ciamis

Di usia senjaku 66 tahun, yang tinggal jauh dari kampung tempat dilahirkan,  terkadang suka menghayalkan saat-saat yang paling membahagiakan, saat masih kecil usia sekolah dasar. Termasuk kenangan akan makanannya, tidak peduli mahal atau murah pokoknya makanan yang pernah dilahap zaman dahulu itu.

Sederhana saja, makanan tersebut, saat itu makanan yang berada di sekitar kita, aku menyebutnya galendo, galendo adalah produk sampingan dari minyak goreng yang bahannya dari kelapa. Dan menurut aku galendo itu enak.

Yang paling aku ingat tentang makanan yang bernama galendo itu termasuk makanan paling murah, apalagi pembuat home industry  minyak kelapa banyak berada di sekitar rumah di kampung sana jauh di Ciongka Ciamis.

Nah, pada hari ketujuh lebaran 2012, aku sudah berada di kota Ciamis yang terus terang terkenal galendonya sampai ke luar kota, itu dahulu, zaman susah makanan, zamannya sering terjadi kelaparan, dan perkampungan sering diranjah dan dibakar oleh gerombolan DI/TII, yang turun dari gunung Sawal.

Aku ingin galendo yang original yang baru dikeluarkan dari alat pemerasnya yang disebut pangampaan. Pencarian galendo dimulai selagi masih pagi hari, aku berjalan kaki ke pasar kota Ciamis, hari ke 7 lebaran ternyata pasar Ciamis mulai menggeliat, banyak barang dan banyak pembeli. Akan tetapi ketika bertanya di lapak-lapak ternyata galendo tidak dijual di pasar itu, tapi dengan ramahnya (orang pasar Ciamis masih ramah-ramah lho!) menunjukkan tempat mencari galendo yakni di kampung Cigarowek (cigarowek banget ya?), tapi semakin cigarowek semakin semangat aku.

Eh, ternyata hampir di setiap pembuatan minyak kelapa, masih sepi belum ada kegiatan, jelas galendonya tak ada. Dengan ramahnya pula tukang ojek motor terus mengantar ke beberapa pamarudan kelapa dan akhirnya ditemukan pamarudan yang akan mulai membuka tempat membuat minyak kelapanya itu.

Ketika aku menanyakan galendo, pegawai pamarudan tersebut agak heran dalam batinnya barangkali ngomong: “Ada ya orang yang subuh-subuh mencari galendo disaat suasana lebaran, masaih banyak makanan dan kue yang enak-enak, malah ini mencari galendo, dasar aki-aki!”. tapi kan kata-kata itu tidak keluar, hanya perkiraanku yang lebih banyak salahnya, buktinya dia senang saja galendonya ada yang membeli.

Pangampaan Galendo

Ceritanya ketika galendo itu diambil dari jerangan yang minyak kelapanya sudah dipisahkan, galendo tersebut lalu dibungkus dengan semacam bungkusan yang dianyam dari bambu, terus dibungkuskan menjadi empat persegi panjang, lalu dipres atau ditekan dengan alat buatan sendiri yang disebut pangampaan.

Galendo Cigarowek

Dan inilah galendo yang baru dikeluarkan dari pangampaan tersebut. Masih baru (maksudnya kemaren) jadi galendonya masih segar tidak berbau minyak tengik.

Memang iya rasanya masih sama dengan setengah abad yang lalu, tapi ketika diberikan kepada anakku untuk  mencobanya, yang satu tidak mau menyentuh, anak yang lain mencobanya ternyata komentarnya “tidak enak”. Ya ialah, masa rasanya seperti tiramisu.

Aku merenung, bahwa mungkin meskipun sudah banyak dimodifikasi menjadi berbagai rasa seperti rasa coklat, strowberi, dsb, makanan ini tinggal menunggu waktu untuk punah, entah ya itu hanya pendapatku.

Advertisements