Merasa Gagah Dengan Menceritakan Keberhasilan Kerabat Sendiri

Seingat saya dahulu sekitar tahun 50-an sewaktu sekolah di SR (sekarang SD) ada pelajaran budi pekerti. Budi pekerti adalah tingkah laku; perangai; akhlak,  jadi kita diajarkan untuk memiliki budi pekerti yang baik. Tentu saja karena saya belajar di tanah Sunda maka budi pekerti yang baik adalah yang sangat kental dengan budi pekerti yang sesuai dengan budaya Sunda. Meskipun memang persepsi sopan santun masing-masing suku bangsa berbeda akan tetapi prinsip-prinsip budi pekerti secara umum adalah sama.

Diantara budi pekerti yang secara umum diajarkan yaitu untuk tidak berperilaku sombong yaitu menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah; angkuh. Yang seharusnya kita miliki adalah berbudi pekerti yang baik yaitu tidak sombong dan tidak angkuh yang disebut berperilaku rendah hati.

Yang palin sering kita lakukan ketika berbicara atau bercerita dengan orang lain entah disengaja atau tidak yaitu dengan menyombongkan diri agar lawan bicara tidak menganggap kita rendah, agar orang lain menghargai kita, agar eksistensi kita dihargai, maka perlu mengangkat diri dengan cerita yang menaikkan harga diri.

Jika pada diri kita tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain bangga maka merasa perlu menceritakan dan membanggakan keberhasilan saudara atau keluarga sendiri. Ada peribahasa Sunda untuk itu yaitu Agul Ku Payung Butut secara harfiah adalah sombong dengan memiliki payung yang jelek.

Payung adalah alat untuk melindungi diri dari panas terik matahari dan hujan, arti lain juga adalah orang yang melindungi diri kita, membiayai, dan mengurus kita. Nah, Agul Ku Payung Butut adalah menceritakan keberhasilan, atau kejayaan, atau pangkat, jabatan keluarga atau kerabat sendiri dengan maksud agar pamor kita naik dan orang lain atau lawan berbicara menjadi terpesona dan tidak menganggap remeh diri kita.

Tentu saja Agul Ku Payung Butut disengaja atau pun tidak adalah budi pekerti yang tidak baik, sebab perilaku begitu adalah perilaku menyombongkan diri. Keberhasilan saudara, keluarga, kaum kerabat adalah keberhasilan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan diri kita dan sama sekali tidak akan menaikkan harga diri dan martabat. Bahkan akan menyebabkan kita dijauhi orang, dan tidak suka berbicara dengan kita karena setiap kali berbicara selalu merasa gagah dengan menceritakan keberhasilan orang lain atau Agul Ku Payung Butut.

Saya tidak tahu persis apakah anak muda jaman sekarang masih ada yang berbudi pekerti tidak baik yaitu Agul Ku Payung Butut, tapi saya yang sudah tua, dan seringnya juga mengobrol dan berbicara sesama aki-aki dan nini-nini kadang terselip ungkapan atau cerita yang mengarah ke Agul Ku Payung Butut itu.

Dalam rangka memelihara diri dari budi pekerti yang tidak baik, bagaimana cara memperbaikinya ya? Seyogianya setelah bertemu atau bercerita sesama kawan, rekan, teman yang lama tidak bersua segera evaluasi apakah saya tadi atau kala itu telah melakukan bersombong diri dengan salah satunya Agul Ku Payung Butut atau tidak? Jika iya, maka berniatlah dalam hati agar dilain waktu tidak lagi melakukan hal tersebut.

Advertisements

Pengalaman Memperpanjang STNK di Samsat Bandung Timur

Berurusan administrasi dengan suatu institusi pemerintahan adalah kesannya ruwet dan sangat birokratis, itu dalam benak saya. Seharusnya urusan kendaraan bermotor yang notabene membayar pajak (pemasukan uang bagi negara) seyogianya dipermudah, disederhanakan, dan pembayar pajak di-happy-kan, hehehe itu juga pemikiran dan harapan saya.

Karena pemikirannya begitu, secara psikologis saya sudah kalah duluan, pasrah, nrimo, apapun yang akan terjadi maka terjadilah. Itulah yang ada dalam benak saya sebelum mengurus perpanjangan STNK sekaligus mengganti plat nomor dengan yang baru. Padahal saya seharusny lebih PD karena tidak ada “kesalahan” yang saya perbuat, karena pemilik mobil adalah saya sendiri sesuai dengan nama yang tertera dalam KTP, kemudian masa kadaluwarsa STNK dan nomor plat masih 10 hari lagi, KTP punya BPKB punya, ayo dong PD saja! Cuek saja!

Kalau membayar STNK tahunan tidak disertai dengan penggantian nomor plat kendaraan sudah rutin saya lakukan setiap tahun dengan datang ke drive thru Samsat Bandung Timur, sudah dilayani dengan memuaskan prosesnya hanya beberapa menit saja, pelayanan yang very very good!

Hanya kenapa kali ini saya jadi tidak PD, karena kali ini penggantian STNK dengan disertai penggantian nomor plat mobil yang dipebaharui 5 tahun sekali, tentunya prosedurnya tidak sepeti di drive thru, akan tetapi harus masuk ke dalam kantor Samsat itu mengikuti tahap-tahap (birokrasi) yang telah ditentukan. Dan urutan-urutan itu yang membuat saya keder maklum, sekali lagi, lima tahun sekali.

Inilah urutan yang saya lakukan, jangan lupa membawa KTP, kendaraan, STNK, dan membawa BPKB:

  1. Pertama-tama datanglah ke bagian formulir untuk mendapatkan formulir untuk menggesek nomor mesin dan nomor kendaraan
  2. Lalu pergi ke halaman Samsat untuk pengecekan fisik kendaraan yaitu dengan menggesek nomor mesin dan nomor chasis, itu dilakukan oleh petugas lalu ditandatangani oleh petugas lain di tenda
  3. Masuk ke dalam kantor Samsat lagi untuk persetujuan ke dua, lokasinya di bagian belakang tempat duduk hadirin
  4. Pergi ke gudang file yang lokasinya tersembunyi di belakang masjid, istilahnya cabut file
  5. Datang lagi ke bagian formulir dan formulir akan dilengkapi dengan beberapa formulir terutama untuk diisi nama dan alamat yang sesuai dengan yang ada di KTP
  6. Datang ke bagian pengesahan untuk pembayaran
  7. Melakukan pembayaran di bank bjb di samping tempat itu juga sebesar sesuai yang ditentukan
  8. Setelah membayar lalu tunggu di tempat pengambilan STNK baru, akan tetapi ternyata STNK baru saat itu belum selesai karena kata petugasnya sedang tidak ada material, harus datang tiga hari lagi
  9. Pada hari yang sudah ditentukan datang lagi dan seperti yang dijanjikan STNK baru keluar dan selesai
  10. Datang ke bagian pengambilan plat nomor ternyata untuk plat nomor baru itu harus menunggu satu bulan lagi, akan tetapi di bagian belakang resi STNK baru tersebut, dicap oleh petugas suatu pernyataan bahwa nomor platnya akan selesai sebulan lagi sehingga apabila ada razia tinggal menunjukan pernyataan tersebut.

Begitulah pengalaman saya memperpanjang STNK kendaraan roda empat pada bulan Mei 2011 di Samsat (Sistem Administrasi Satu Atap) Bandung Timur dengan penggantian nomor plat.

Meski harus menunggu satu bulan lagi untuk plat nomor kendaraan namun saya merasa puas dengan pelayanan yang cukup ramah dan satu ini yang penting tidak ada pungli dan tidak ada percaloan.

Bravo Samsat Bandung Timur!

Lihat peta Samsat Bandung Timur


Menceritakan Kelebihan Diri

Ada peribahasa Sunda yaitu “Goong nabeuh maneh” (Gong memukul diri sendiri). Gong adalah instrumen tabuh pada gamelan, saat nabuh gamelan gong paling jarang dipukul, maksudnya jika dibanding dengan alat tabuh lainnya seperti kempul, saron, atau bonang.

Tentu saja tidak lucu bukan? karena jarangnya dipukul lalu tiba-tiba berbunyi sendiri, memukul sendiri, akibatnya keharmonisan gamelan akan tidak enak didengar, sumbang, bahkan irama dan lagu yang diikuti akan tidak karu-karuan. Arti dari peribahasa tersebut adalah menceritakan kelebihan diri, menyombongkan diri. Hal itu adalah budi pekerti yang tidak sepantasnya atau tidak sepatutnya.

Kita sering melihat pernyataan artis, aktor, atau pesohor lainnya di TV kala sedang diwawancara oleh awak media, kadang meskipun tidak ditanya lalu menyatakan atau menonjolkan kelebihan dirinya dengan menyebutkan misalnya saja “Gue sih orangnya terbuka”, atau “Aku sih memang suka blak-blakan kalau bicara, tapi setelah itu aku orangnya  pemaaf”, Gue sih orangnya low profile..”

Menceritakan kelebihan diri atau keistimewaan diri tanpa diminta oleh si penanya adalah perilaku yang tidak seharusnya, karena itu termasuk menyombongkan diri.

Seyogianya yang menilai Anda itu bukan diri Anda sendiri akan tetapi orang lain. Tentu tidak sepantasnya diri sendiri menyatakan bahwa Anda cantik, ganteng, pemaaf, terbuka, friendship, bukan? Yang menyatakan “Anda sangat cantik dengan pakaian seperti itu”, Anda demikian polos dan jujur”, “Pendapat Anda sangat menginspirasi banyak orang” adalah orang lain atau si pewawancara, bukan diri sendiri seperti peribahasa Goong nabeuh maneh.

Kelakuan-kelakuan para public figure seyogianya memberi contoh yang baik karena jika tidak perilaku atau gaya tersebut akan ditiru oleh penggemarnya, yang meng-idolakannya, atau fans-nya.

Naik Sepeda Off Road

Hehehe judulnya terlalu berlebihan, kenyataannya saya berolah raga pagi kali ini tidak dengan berjalan kaki akan tetapi naik sepeda. Olah raga naik sepeda sudah hampir setahun tidak saya lakukann kecuali jika ada keperluan dan itu hanya untuk jarak dekat saja.

Jalannya berlumpur

Saya beristirahat olah raga naik sepeda sejak dioperasi prostat setahun yang lalu, meskipun bekas operasinya sudah sembuh tapi jadi keenakan olah raganya dengan berjalan kaki pagi selama satu jam.

Nah hari ini saya mulai lagi menjajal kemampuan berolah raga naik sepeda selama satu jam dan lokasinya menyusuri sungai Cidurian yang berada di Kota Bandung itu.

Satu kilometer sejak dari jln Soekarno Hatta menuju ke hilir sungai jalannya beraspal dan enak sekali bersepeda pagi menyusuri sungai, akan tetapi jalan mulus itu hanya sampai perkantoran instansi pemerintah saja,  selanjutnya jalanan tinggal tanah yang becek dan licin beberapa kali saya hampir tergelincir, apalagi semalam habis hujan lebat. Tapi saya terhibur oleh pemandangan di tepi sungai yaitu sawah dan pepohonan yang menghijau.

Sepeda yang digunakan

Inilah sepeda yang setia menemani saya sudah 10 tahun sejak saya mulai pensiun dari pekerjaan. Masih kuat, karena kalau rusak saya tidak kuat lagi kalau harus membeli penggantinya, pokoknya jangan sampai hilang!

Tungku tempat pembakaran sampah

Setelah saya menempuh jalan yang “off road” selama 45 menit diperkirakan jaraknya sekitar 3 Km dari jalan beraspal, sampailah saya di ujung perjalanan karena terpotong jalan tol Padaleunyi, dimana saya tidak bisa menyebrangi jalan tol tersebut.

Persis di ujung jalan tersebut saya menemukan sebuah tungku yang kalau saya tidak salah adalah untuk pembakaran sampah, akan tetapi bangunan tinggal bangunan nampaknya sudah tidak digunakan lagi sesuai dengan fungsinya (dugaan saja saja) karena tidak ada bekasnya. Saya tidak pernah mengerti siapa yang mengelola tempat pembakaran sampah seperti ini, karena sudah menyaksikannya di lain tempat dan sama mangkrak-nya.

Lansia Harus Memberi Keteladanan

Dalam undang-undang tentang kesejahteraan lanjut usia, bahwa lansia mempunyai kewajiban, karena sudah gaek kewajibannya irit saja hanya tiga  yakni:

  1. membimbing dan memberi nasihat secara arif dan bijaksana berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, terutama di lingkungan keluarganya dalam rangka menjaga martabat dan meningkatkan kesejahteraannya;
  2. mengamalkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada generasi penerus;
  3. memberikan keteladanan dalam segala aspek kehidupan kepada generasi penerus.

Saya hanya akan membahas khususnya butir ke 3 yaitu keteladanan dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini saya ingin memberikan contoh tentang seseorang yang kebetulan saya kenal dekat. Beliau yang sudah almarhum, meninggal pada usia 82 tahun, adalah seorang purnawirawan Kepolisian, pangkat terakhir adalah Brigjen (ada sebutan lain untuk pangkat itu ya?).

Beliau yang rajin membaca, berpengalaman luas, ide-idenya selalu segar. Pada setiap pertemuan dengan siapapun selalu bercerita atas pengalaman dan pandangan-pandangannya di segala aspek kehidupan pada saat kini. Beliau yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda secara fasih, sering juga membagikan pengalamannya ketika mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri.

Cara beliau memberikan keteladanan adalah dengan tetap bersemangat hidup,  memberikan nasihat-nasihat tentang segala kebaikan dan mengutamakan mendorong generasi penerus untuk berbudi pekerti dan berakhlak yang baik. Beliau yang sampai usia 82 tahun tidak pernah pikun, pada saat terakhir masih bisa mengemukakan pendapatnya tentang Ahmadiyah.

Beliau yang hidup sederhana pada usia pensiunnya memberikan teladan kepada penerusnya bahwa beliau selama masa dinas di Kepolisian itu, tidak pernah melakukan korupsi.

Saya kira inilah contoh bagi generasi penerus yang penting, jangan melakukan korupsi! Sebab bagaimana akan memberikan contoh yang baik jika ketika masa dinas menjadi pelaku korupsi. Jika kita bukan koruptor maka ketika dipanggil oleh Yang Maha Kuasa kita dalam keadaan akhir yang baik.

Inalillahi waina illaihi roziun, selamat jalan Pak Jenderal!

Menyambut HULN (Hari Usia Lanjut Nasional), Menjadi Seorang Pensiunan

Menjadi seorang pensiun tidaklah sulit, sebab mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, usia kita akan terus bertambah secara otomatis. Dan ketika sampai umur 55 tahun (umumnya) jadilah kita seorang pensiunan keluar dari tempat pekerjaan alias putus hubungan kerja.

Syukur pada saat pensiun dimulai kondisi kesehatan saya dalam keadaan baik, dan bahkan rasanya  masih mampu untuk bekerja.  Alhamdulillah juga tidak kebingungan, tidak kelimpungan, biasa saja, malahan ada perasaan bahagia dan lega dimana tidak usah memikirkan pekerjaan, tidak usah melapor kepada atasan, dan tidak usah mengejar target yang harus dicapai.

Saya kebetulan bekerja di salah satu BUMN di Kalimantan Timur, jadi begitu mencapai usia pensiun langsung boyongan pindah ke Bandung. Saat prapurnabakti sebetulnya telah dibekali oleh perusahaan tempat saya bekerja berbagai keterampilan dan berbagai persiapan agar jangan kaget ketika masa pensiun tiba.

Demikian juga uang pesangon, uang asuransi, uang pindah rumah, dll, sudah diberikan dan betul-betul dilepas dari perusahaan. Begitu juga uang pensiun yang meski jauh dari besar akan diterima, sedangkan selama satu tahun sejak usia pensiun masih diberi gaji penuh tanpa harus bekerja. Tak kalah pentingnya adalah menikmati jaminan kesehatan termasuk juga untuk istri sampai kelak meninggal.

Sepertinya dan seharusnya bekal itu sudah lebih dari cukup, tapi rasanya kekurangan selalu saja ada, misal pada kenyataan mengelola usaha di masa tua ternyata banyak yang tidak berhasil, mungkin karena tidak bepengalaman memegang sebuah usaha.

Sepuluh tahun kemudian ternyata yang diterima hanya tinggal uang pensiun yang ala kadarnya itu, akan tetapi masih bersyukur masih dijamin biaya kesehatan untuk suami istri secara penuh.

Meski nilai nominal gaji yang diterima jumlahnya sedikit akan tetapi saat ini pada usia 65 tahun saya tetap bahagia karena anak-anak sudah beres kuliah bahkan sudah pada bekerja dan berpenghasilan. Bukan hanya itu saja anak-anak mulai mengirim uang kepada orang tuanya, tentu saja hal ini sangat membantu.

Dan ternyata ada yang sangat membahagiakan adalah dengan lahirnya cucu-cucu, menyebabkan terasa lengkapnya kebahgiaan. Selanjutnya berdoa semoga panjang umur dalam keadaan sehat, sambil terus beribadah kepada Allah SWT dan menunggu kelak panggilan Sang Khalik jika saatnya tiba.

Lanjut Usia, Peraturan Perundang-Undangan

Dalam rangka menyambut HULN (Hari Usia Lanjut Nasional) pada tanggal 29 Mei 2011, saya yang termasuk usia lanjut karena sudah berumur 65 tahun, memosting Peraturan perundangan yang berhubungan dengan manula. Mudah-mudahan sempat dan bisa menulis tentang manula di postingan berikutnya.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG LANJUT USIA

Deputi I Menkokesra
Empat peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan lanjut usia, yaitu :

  1. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
    Yang menjadi dasar pertimbangan dalam undang-undang ini, antara lain adalah ”bahwa pelaksanaan pembangunan yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, telah menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin membaik dan usia harapah hidup makin meningkat, sehingga jumlah lanjut usia makin bertambah”.Selanjutnya dalam ketentuan umum, memuat ketentuan-ketentuan yang antara lain dimuat mengenai pengertian lanjut usia, yaitu seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.Asas peningkatan kesejahteraan lanjut usia adalah keimanan, dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kekeluargaan, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan dalam perikehidupan. Dengan arah agar lanjut usia tetap dapat diberdayakan sehingga berperan dalam kegiatan pembangunan dengan memperhatikan fungsi kearifan, pengetahuan, keahlian, keterampilan, pengalaman, usia, dan kondisi fisiknya, serta terselenggaranya pemeliharaan taraf kesejahteraannya.Selanjutnya tujuan dari semua itu adalah untuk memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktif, terwujudnya kemandirian dan kesejahteraannya, terpeliharanya sistem nilai budaya dan kekerabatan bangsa Indonesia serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.Lanjut usia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai penghormatan dan penghargaan kepada lanjut usia diberikan hak untuk meningkatkan kesejahteraan yang meliputi :
    1. pelayanan keagamaan dan mental spiritual
    2. pelayanan kesehatan
    3. pelayanan kesempatan kerja
    4. pelayanan pendidikan dan pelatihan
    5. kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana, dan prasarana umum
    6. kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum
    7. perlindungan sosial
    8. bantuan sosial

Dalam undang-undang juga diatur bahwa Lansia mempunyai kewajiban, yaitu :

    1. membimbing dan memberi nasihat secara arif dan bijaksana berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, terutama di lingkungan keluarganya dalam rangka menjaga martabat dan meningkatkan kesejahteraannya;
    2. mengamalkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada generasi penerus;
    3. memberikan keteladanan dalam segala aspek kehidupan kepada generasi penerus.

Siapa yang mempunyai tugas dan tanggungjawab ?
Pemerintah bertugas mengarahkan, membimbing, dan menciptakan suasana yang menunjang bagi terlaksananya upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia.
Sedangkan pemerintah, masyarakat dan keluarga bertanggungjawab atas terwujudnya upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia.

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 Tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia.
    Upaya peningkatan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia, meliputi :
    1. Pelayanan keagamaan dan mental spiritual, antara lain adalah pembangunan sarana ibadah dengan penyediaan aksesibilitas bagi lanjut usia.
    2. Pelayanan kesehatan dilaksanakan melalui peningkatan upaya penyembuhan (kuratif), diperluas pada bidang pelayanan geriatrik/gerontologik.
    3. Pelayanan untuk prasarana umum, yaitu mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, keringanan biaya, kemudahan dalam melakukan perjalanan, penyediaan fasilitas rekreasi dan olahraga khusus.
    4. Kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, yang dalam hal ini pelayanan administrasi pemberintahan, adalah untuk memperoleh Kartu Tanda Penduduk seumur hidup, memperoleh pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan milik pemerintah, pelayanan dan keringanan biaya untuk pembelian tiket perjalanan, akomodasi, pembayaran pajak, pembelian tiket untuk tempat rekreasi, penyediaan tempat duduk khusus, penyediaan loket khusus, penyediaan kartu wisata khusus, mendahulukan para lanjut usia.
      Selain itu juga diatur dalam penyediaan aksesibilitas lanjut usia pada bangunan umum, jalan umum, pertamanan dan tempat rekreasi, angkutan umum.
      Ketentuan mengenai pemberian kemudahan dalam melakukan perjalanan diatur lebih lanjut oleh Menteri sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
  2. Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 2004 Tentang Komisi Nasional Lanjut Usia.
    1. Keanggotaan Komisi Lanjut Usia terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat yang berjumlah paling banyak 25 orang.
    2. Unsur pemerintah adalah pejabat yang mewakili dan bertanggungjawab di bidang kesejahteraan rakyat, kesehatan, sosial, kependudukan dan keluarga berencana, ketenagakerjaan, pendidikan nasional, agama, permukiman dan prasarana wilayah, pemberdayaan perempuan, kebudayaan dan pariwisata, perhubungan, pemerintahan dalam negeri.
      Unsur masyarakat adalah merupakan wakil dari organisasi masyarakat yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial lanjut usia, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
    3. Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dapat dibentuk Komisi Provinsi/Kabupaten/Kota Lanjut Usia.
    4. Pembentukan Komisi Daerah Lanjut Usia ditetapkan oleh Gubernur pada tingkat provinsi, dan oleh Bupati/Walikota pada tingkat kabupaten/kota.
  3. Keputusan Presiden Nomor 93/M Tahun 2005 Tentang Keanggotaan Komisi Nasional Lanjut Usia.
    a. Pengangkatan anggota Komnas Lansia oleh Presiden.
    b. Pelaksanaan lebih lanjut dilakukan oleh Menteri Sosial

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
Kedeputian I Bidang Kesejahteraan Sosial

sumber