Bioskop Misbar “Taman Hiburan” Cicadas Bandung

Salah satu bioskop untuk ditonton rakyat kebanyakan dahulu di Bandung adalah bioskop “Taman Hiburan” yang berada di Cicadas. Saat itu populer dengan nama bioskop misbar, kalau gerimis bubar, mengapa begitu karena bioskop tersebut tidak beratap. Jadi disamping menonton film sekaligus melihat bintang di langit.

Di kota Bandung bukan hanya satu bioskop misbar semacam “Taman Hiburan”  Cicadas itu, akan tetapi ada banyak yaitu “Taman Senang” di Pagarsih, “Taman Siliwangi” di Astana Anyar, “Warga” di Cihaurgeulis, “Taman Riang”, “Tjoblong”, “Setia”, “Taman Sahati”, “Marga Senang”, “Wargi”, dan “Taruna”.

Bioskop misbar “Taman Hiburan” Cicadas Bandung berlokasi diantara dua jalan, jadi pintu masuk ke lapangan tempat nontonnya ada dua bisa dari jln Raya Timur atau jln Kiaracondong. Bioskop ini berada di keramaian Cicadas yang padat apalagi kalau malam hari ada pasar malam yang menutup jln Kiaracondong, terminal oplet Cicadas – Binong, dan di jln Raya Timur terminal oplet dan bemo Cicadas – Aloen-aloen.

Sebetulnya di jln Kiaracondong Cicadas itu ada lagi bioskop lain yang lokasinya bersebrangan dengan “Taman Hiburan” itu yakni bioskop “Liberty” yang kemudian diganti dengan nama bioskop “Tjahaya”. Hanya kalau yang ini bioskopnya beratap dan agak baikan dibanding “Taman Hiburan”.

Film-film yang diputar di bioskop misbar adalah film biasa dan bukan termasuk film top, kebanyakan film lama biasanya produk Asia. Film bagus yang diputar di sini nanti kalau sudah lama beredar di bioskop kelas elit.

Film yang ramai saat tahun 60-an misal film Indonesia berjudul:

A Sing Sing So, Antara Timur dan Barat, Daerah Tak Bertuan, Anak Perawan Disarang Penyamun, Toha Pahlawan Bandung Selatan, bintangnya adalah angkatannya Nani Widjaja, Zainal Abidin, Pitrajaya Burnama, Suzana, Dicky Zulkarnaen. Sutradaranya, Turino Djunaidy, Alam Surawidjaja, dan Usmar Ismail.

Demikian juga film dari luar seperti Jango, Ben Hur, Run Man Run, Ten Commandment,  terus yang paling sering diputar di bioskop misbar ini adalah  film-film silat Cina, dan yang paling populer adalah film dari India.

Nonton film di “Taman Hiburan” semacam ini betul-betul murah meriah, tapi ya begitu hampir tak beda dengan nonton film layar tancap, tempat duduknya seadanya terbuat dari lajur-lajur bangku tembok tempat duduk penonton. Jika filmnya ramai dan penuh penonton kadang tidak kebagian tempat duduk, ya berdiri saja tidak masalah.

Sebagaimana nonton di tempat terbuka tidak masalah kalau sambil merokok karena tidak ada peringatan “no smoking”  maklum ac terbuka. Tidak heran juga sebagaimana di bus Damri sekarang banyak pedagang asongan yang menjual rokok, permen, dan kacang, bahkan karena banyak penonton membawa anak juga penjual balon.

Yang dikatakan meriah nonton di misbar adalah ramai oleh penonton yang sorak sorai juga diselingi suara suit-suit jika yang punya lalakon menang berlaga. Kedua, sorak sorai dan teriakan juga sering terjadi karena filmnya sering putus, dan ketiganya sorak sorai terjadi jika tiba-tiba gerimis datang bahkan hujan lebat. Penonton yang penasaran akan akhir cerita agak mepet ke pinggir lapangan bagian belakang yang biasanya ada sedikit atapnya untuk berteduh. Bahkan ada yang rela hujan-hujanan melanjutkan menonton di tengah hujan. Makanya jika musim penghujan dan maksa ingin nonton bintang film India kesukaannya sebaiknya membawa payung.

Di “Taman Hburan” ini pada malam minggu sering diadakan midnight show yakni pemutaran 2 film sekaligus mulai jam 12:00 tengah malam, film berakhir betul-betul menjelang sholat shubuh jam 04:00 pagi. Kalau menonton midnight show jangan lupa memakai baju hangat yang tebal karena udara malam Bandung yang saat itu begitu dingin. Kalau tidak punya jaket ya sarungan saja, bahkan kalau semakin dingin kaki bisa diangkat ke bangku tempat duduk kemudian dikerudung sarung asyik juga.

50 tahun kemudian yakni akhir bulan Juli 2011 ini, saya mendatangi lokasi “Taman Hiburan” Cicadas itu sekarang betul-betul tinggal waasna, lapangan tempat penonton hanya menjadi tempat parkir mobil untuk pemain futsal seperti foto-foto berikut:

Taman Hiburan Cicadas Bandung

Bagian depan yang berada di jln Kiaracondong sudah tidak terurus lagi, lihat loket tempat membeli karcis dan pintu masuknya. Dahulu kalau malam sudah larut dan di luar gedung sudah sepi pintu itu dibuka saja meskipun film masih diputar. Lumayan bagi yang maksa ingin menonton bisa masuk gratis dan soal cerita film tinggal sepotong tidak masalah, bahkan sebelum “The End” justru sedang seru-serunya cerita.

Bagian dalam "Taman Hiburan" kini

Layarnya masih dibiarkan ada, tapi tempat duduk sudah tidak ada dan kini ditumbuhi rumput dan patok-patok tempat parkir mobil.

"Taman Hburan" kini dilihat dari seberang jalan

Bioskop Liberty kini sudah tiada

Bioskop “Liberty” yang berada di seberang “Taman Hiburan” kini telah menjadi pusat pertokoan.

Betul-betul tinggal kenangan.

Lyceum Di Jalan Dago Bandung

Kemarin hari Kamis tanggal 28 Juli 2011  saya naik angkot lewat jalan Dago Bandung, sekilas terlihat bangunan lama yaitu SMAK (Sekolah Menengah Atas Kristen) Dago. Dengan serta merta saya menghentikan angkot dengan teriak: “kiri!”, dan cerita selanjutnya adalah menjepret bangunan tua tersebut dengan kamera kecil yang selalu saya bawa.

Akan tetapi ketika mau posting tulisan mengenai SMAK Dago ini ternyata pengetahuan saya atau bacaan saya minim sekali terpaksa searching dulu ke sana ke mari, dan didapat dari beberapa sumber, inilah dia:

Sejarah Singkat

SMAK (Sekolah Menengah Atas Kristen) Dago atau Lyceum  asal mulanya adalah sebuah vila bernama  Vila Tan yang dibangun pada tahun 1927 milik seorang pengusaha Cina.

Kemudian menjadi sekolah Christelijk Lyceum bernama Het Christelijk Lyceum (HCL) Nama Lyceum adalah konon nama sekolah yang didirikan Aristoteles tahun 335 SM.

Bangunan direnovasi oleh arsitek YS Devvis tahun 1939 lalu dilanjutkan oleh AW Gmelig Meijling tahun 40-an

Lyceum diakuisisi Jepang 30 Setember 1945 menjadi tempat kamp penampungan bagi perempuan dan anak-anak yang sakit

Pada Januari 1946 ketika Bandung utara menjadi kawasan sekutu, bangunan ini dijadikan rumah sakit,

Lalu pada Tahun 1958, terjadi nasionalisasi aset HCL yang kemudian dibagi ke beberapa sekolah yaitu SMAK Dago, SMAN 1, SMA Nasional, dan SMA Pembangunan.

Saat nasionalisasi aset, SMAK Dago dikelola oleh Yayasan Badan Perguruan Sekolah Menengah Kristen Jawa Barat.

Sengketa soal kepemilikan lahan Sekolah Menengah Atas Kristen (SMAK) Dago sudah mulai terjadi sejak awal 1980-an. Kedua kubu yaitu Yayasan Badan Perguruan Sekolah Menengah Kristen Jawa Barat dan Perkumpulan Lyceum Kristen (PLK) saling mengklaim lahan tersebut.

Nilai Sejarah

Bangunan ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, oleh karena itu kita perlu melindunginya dari segala tindakan yang mengancam keberadaanya

Harastoeti lebih setuju bila bangunan SMAK Dago tetap difungsikan sebagai sarana pendidikan. Sebab sudah lama pula tempat tersebut dijadikan kegiatan belajar mengajar.

“Kalau memang berubah, tentu fungsinya harus beradaptasi dengan bangunan. SMAK Dago bangunan tua yang usianya sudah 50 tahun. Itu salah satu bangunan cagar budaya di Bandung yang harus dijaga nilai sejarahnya,” tutur Harastoeti ketua Bandung Heritage.

Saya tidak begitu tertarik untuk membahas masalah sengketanya akan tetapi nilai bangunan tersebut yang merupakan cagar budaya yang harus jangan sampai hilang. Mungkin suatu saat saya bisa masuk ke dalam gedung dan kompleknya, dengan izin setidaknya izin satpam yang menjaga di pintu pagar.

Dan di bawah ini adalah foto-foto yang saya buat sendiri tanpa izin siapapun:

SMAK Dago

SMAK Dago

SMAK Dago ada di jalan Dago Bandung

SMAK Dago 4 dilihat dari seberang jalan Dago

Tukang Jualan Es Puter Keliling

Pedagang es puter keliling tahun 1950 -an.

Gambar dari:  “Album Bandoeng Tempo Doeloe”, oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi.

Kalau melihat gambar di samping ini jadi teringat masa SR/SD dan SMP di wilayah Ciamis utara Jawa Barat, saat itu tahun 50 dan 60-an.

Gambar ini adalah pedagang es keliling yang berada di Bandung, kalau di Ciamis bentuk batang pikulannya tidak melengkung begitu akan tetapi lurus, tempat es puter di sebelah depan dan tempat mencuci gelas di belakang memang hampir sama begitu.

Lihat pedagangnya bercelana pendek (kalau sekarang jualan es bercelana pendek? nggak deh!). Dia bertopi, menenteng bel kecil yang keleneng itu terus menerus dibunyikan, meskipun ada orang tua yang sedang melarang omat-omatan anaknya jangan minum es karena sedang batuk.

Lihat juga kakinya nyeker, dan itu keliling menempuh jarak yang kadang-kadang jauh sambil sesekali harus menginjak aspal panas. Zaman itu yang tidak beralas kaki bukan hanya tukang jualan es kelliling akan tetapi hampir semua orang,  kecuali yang cukup berada, saya ketika sekolah SR/SD dan awal SMP juga tidak bersendal apalagi bersepatu, dan itu semua siswa begitu.

Di Kawali dimana es balok diturunkan,  es itu didatangkan dari kota Ciamis, di situ pula berbaris tukang es yang sudah menunggu dan siap-siap untuk membuat es jualannya. Begitu menerima jatah es baloknya langsung es tersebut diserut menggunakan serutan khusus untuk es, seperti alat serutan kayu yang dipasang terbalik. Serutan esnya ditampung di wadah es jualannya itu, sementara di dalamnya sudah ada santan dan air gula (kinca) yang memakai gincu berwarna merah, kadang berwarna kuning. Terus es tersebut diaduk-aduk beberapa kali, sudah cukup begitu saja, siap untuk dijual.

Dipinggiran tempat es itu diletakan lapisan sejumlah es batu dan garam, seperti halnya termos, maksudnya agar es jualannya bertahan lama untuk tetap dingin.

Saya tidak yakin apakah ini yang disebut es puter? Bagaimana orang Bandung saat itu membuat es puternya, jika sama membuatnya seperti yang dilakukan di Ciamis waktu itu, lalu yang di-“puter”-nya apa.

Di Ciamis kadang-kadang es tersebut dijualnya ditambah tape singkong yang dibungkus kecil-kecil dengan daun pisang, demikian juga tapenya dari singkong sengaja sudah dipotong kecil-kecil.

Meski memakai campuran tape singkong, tidak semua pembeli otomatis ke dalam gelasnya ditambahkan tape, karena harganya beda kan yang memakai tape dan tidak. Tak bosan-bosannya si pedagang bertanya kepada pembeli ketika mau mengisi es kedalam gelas kecil berwarna hijaunya:

Peuyeuman?” kata tukang es bertanya memakai tape atau tidak

Ulah!” jika si pembeli tidak mau

Sebaliknya jika esnya mau memakai tape jawab saja:  “enya atuh!” atau “muhun!”

Baik di-peuyeuman atau ulah rasanya sama saja bagi lidah saya saat itu enak sekali dan esnya terasa gurih. Saya rela menabung dulu untuk mendapatkan segelas kecil es dengan di-peuyeuman

Lama saya tidak mencicipi es buatan Mang Mansur dari Ciamis itu, apalagi di Bandung, tempat saya kemudian tinggal, tidak ada lagi yang jualan es semacam itu. Tapi di suatu undangan resepsi pernikahan ditemukan stand “Es Puter” saya langsung memesannya atau jelasnya mengambilnya karena sudah disediakan diwadah-wadah kecil. Tadinya saya siap kecewa karena rupanya mirip ice cream biasa yang tidak aneh lagi. Kemudian saya terkejut ternyata rasanya persis seperti buatan Mang Mansur di Ciamis tempo doeloe. Gurih, agak kasar-kasar esnya terasa di lidah, dan warnanya itu agak merah seperti gincu yang ditambahkan kepada gula kinca-nya. Oh, Mang Mansur entah dimana sekarang dia berada.

 

Bertutur Tentang Tukang Kerupuk

Kerupuk

Yang namanya kerupuk itu bermacam-macam,  yang akan diceritakan di sini adalah kerupuk yang bahannya dari tepung tapioka kemudian diolah sedemikian rupa, dan jadilah kerupuk seperti gambarnya terlihat di samping ini.

Kerupuk seperti ini sangat populer dimana-mana, bisa dijadikan satu dan hanya satu-satunya teman nasi jika lagi kantong kempes. Atau jadi pendorong semangat makan, bisa juga selalu hadir di setiap kali makan karena kalau tidak ada kerupuk, gimana gitu..

Karen Rasanya yang asin dan gurih kemudian harganya relatif murah menyebabkan banyak diminati atau disukai semua golongan. Saya merasa heran mengapa anak-anak yang belajar makan sukanya malah kerupuk.

Rasa asin kerupuk jelas dari garam, kemudian rasa gurih bisa dari serbuk pecin atau karena digoreng dengan memakai minyak goreng. Dahulu baik rupa maupun rasa begitu saja putih dan asin gurih. Sekarang ada upaya-upaya untuk memariasikan rasa misal dengan menaburkan irisan bawang daun, dan ada pula yang memariasikan cara penggorengannya. Ada yang digoreng biasa saja, ada yang digoreng dengan masih setengah matang atau masih ngabagel, atau digorengnya agak gosong sehingga hampir berwarna coklat. Warnanya pun bervariasi ada yang putih biasa, warna burek, pink, dan orange.

Sudah diceritakan bahwa bahan kerupuk adalah tepung tapioka, terus dibuat adonan dengan penambah rasa dan warna, dicetak, dimasak, dijemur hingga kering, dan digoreng, terakhir dijajakan kepada konsumen.  Nah, untuk mengerjakan ini semua ada ceritanya.

Tahun 50 dan 60-an usaha kerupuk mencapai masa jayanya, demikian juga para tukang kerupuk atau buruh kerupuknya. Tukang kerupuk umumnya berasal dari Ciamis Jawa Barat, mereka datang dari kampung dan datang di kota besar seperti Bandung dan Jakarta untuk menjadi tukang kerupuk.

Bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah setelah SD/SR, karena alasan klasik dari dahulu hingga sekarang , adalah biaya pendidikan demikian mahal. Pilihan lain selain jadi buruh tani di kampung yaitu menjadi tukang kerupuk di kota.

Cta-citanya memang kebanyakan sudah dipatok  menjadi tukang kerupuk di kota. Beberapa orang yang mempunyai bakat usaha di bidang perkerupukan banyak yang asalnya tukang kerupuk juga, kemudian mendirikan pabrik kerupuk sendiri. Pemilik pabrik kerupuk inilah yang merekrut para lulusan SD itu untuk menjadi buruh pabriknya dari mulai jadi tukang adon, tukang cetak, memasak kerupuk, menjemur, menggoreng, sampai menjajakan door to door atau secara rutin mengisi tempat kerupuk yang disediakan warung, rumah makan, atau warteg-warteg.

Tukang kerupuk meskipun baru berumur 13 tahun sudah merantau, sudah bisa hidup mencari makan sendiri. Kemudian biasanya setahun tidak pulang-pulang dan saatnya lebaran ramai-ramai mudik pulang kampung. Mereka biasanya rajin menabung rupiah demi rupiah kemudian kalau pulang desa kelihatan lebih sejahtera dibandingkan dengan mereka yang menjadi buruh tani.

Pulang kampung sudah “bergaya” bisa berpakaian lebih baik, rambut kelimis karena minyak rambut “japarco”, menenteng koper kaleng, bahkan meski bekas ada yang menenteng kamera. Yang sewaktu berangkat masih bocah ketika kembali sudah menjadi remaja yang sudah mulai beger sudah bisa naksir gadis teman sekampungnya.

Bukan hanya lebih keren akan tetapi bagi yang hemat dengan bantuan dan pangjeujeuh orang tuanya di kampung bisa sedikit-demi sedikit membeli tanah dan kemudian membuat rumah yang lenih baik tidak hanya berdinding anyaman bambu tetapi kalau tidak “duduk jendela” pasti ditembok penuh.

Pedagang kerupuk keliling tahun 1950-an. Sumber Album Bandoeng Tempo Doeloe, Sudarsono Katam & Lulus Abadi

Gambar disamping adalah penjaja kerupuk zaman dahulu. Lihat tempatnya mungkin sekarang sudah jarang ditemukan. Sekarang pedagang kerupuk keliling sudah memakai kantung plastik besar, bahkan krupuknya juga sudah dibungkus sepuluh-sepuluh didalam plastik ukuran kecil. Tempat dagang kerupuk dengan jemblung sudah jarang dipakai karena tidak pleksibel dibawa ke gang sempit. Disamping itu gang-gang sempit sekarang dimasuki kendaraan motor, nah kalau dagang kerupuk masih memakai jemblungbagaimana kalau papasan coba?

Baru-baru ini saya di Bandung kedatangan teman SD/SR dahulu yang sudah sama tuanya dengan saya, dia dahulu tukang kerupuk, dan sekarang mau mengantar anaknya menjadi tukang kerupuk. Tapi menurut ceritanya sekarang tidak sejaya masa tahun 50 dan 60-an, usaha kerupuk lebih sulit, bahkan untuk menjadi tukang kerupuk keliling saja harus menyerahkan dahulu uang minimum Rp 3 juta rupiah kepada pemilik pabrik sebagai uang jaminan.

Hidup ini sepertinya bagi orang kecil tidak semakin mudah ya?

Keramas Menjelang Puasa Ramadhan

Ketika saya masih kecil usia sekolah SR (SD) di kampung sana pada tahun 50-an, kedatangan bulan Ramadhan atau bulan Puasa sangat dinanti-nanti. Mengapa dinanti-nanti? karena pertama sebulan penuh bahkan lebih sekolah libur, jadi tidak ada belajar, tidak ada menghapal untuk ulangan. Keduanya pada malam hari bebas keluar rumah, sebetulnya untuk sholat taraweh dan he he he malah banyak mainnya. Ketiganya kakak dan saudara yang sekolah di kota bakalan pulang,  senang bisa main bersama. Keempatnya karena berpuasa maka orang tua membebaskan dari beberapa tugas. Belum lagi lebarannya nanti kalau orang tua punya uang biasanya dibelikan baju baru. Pokoknya mulai dari setelah sahur sampai buka puasa pada waktu maghrib, bahkan malamnya kerjaannya main terus.

Ada lagi tambahan kesenangannya yaitu sekolah agama sore hari juga diliburkan, karena katanya diganti dengan sholat tarawih berjamaah setiap malam. Meskipun sholat tarawih sampai 23 rakaat tapi tetap dijalani melawan rasa malas.

Menjelang esok hari puasa pertama di bulan Ramadhan adalah hari yang sangat ramai dan sibuk di kampung itu. Kakak yang kos dan sekolah di kota Kabupaten sudah pada berkumpul di rumah sejak kemarin. Jadi khususnya kakak selalu datang berkumpul dengan anak-anak untuk mendongeng, ceritanya keadaan di kota dan tentu yang jangan kelewat adalah cerita wayang Mahabrata, yang kadang ceritanya tidak tamat-tamat dan dilanjutkan esok harinya.

Hari ini sehari menjelang puasa, di masjid sejak pagi sudah diperbolehkan memukul beduk dengan pukulan dulug dug dag, dulug dug dag, baertalu-talu berbalasan dengan suara dulag (suara beduk dipukul) di kampung tetangga, di kampung cara memukul beduk yang ritmenya demikian disebutnya ngadulag. Tentu saja tidak hanya orang dewasa yang ngadulag akan tetapi anak-anak pun dipersilakan memukul beduk sepuasnya kalau beduknya ketinggian, ya pakai kursi pendek alias dingklik.

Disamping ngadulag juga oleh orang tua hari itu disuruh mandi membersihkan badan, menggosok daki yang menempel di tubuh dengan batu kali. Jangan lupa  menyikat gigi dengan serabut cangkang kelapa atau dengan pucuk ilalang yang digosok-gosok dulu dengan kedua telapak tangan biar menjadi serabut yang halus yang berfungsi sebagai sikat gigi untuk membersihkan gigi, odolnya tak perlu lagian mana terbeli odol.

Juga ini, harus keramas mencuci rambut dan seluruh kepala dengan samponya dari arang merang bahan sapu dari tangkai padi kemudian dibakar dan dipersiapkan sejak kemarin. Tua, muda, laki, perempuan, semuanya harus mandi bersih dan harus keramas mencuci rambut.

Bukan hanya badan yang dibersihkan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, juga perabotan makan, perabotan dapur, lantai rumah, seprai, selimut, sarung, apalagi pakaian, sampai hordeng juga ikut dicuci jauh-jauh hari. Maksudnya katanya biar memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan bersih rohani dan bersih jasmani.

Disamping segala macam acara tetap jangan dilewatkan pergi ke pemakaman, membersihkan pusara makam orang tua atau saudara dekat yang telah mendahului kita. Serta berdoa agar mereka yang sudah di alam sana mendapat pengampunan dari Allah SWT.

Jangan lupa pula ada acara kirim mengirim penganan lengkap nasi dan lauk pauknya dikirim kepada tetangga atau kepada orang tua. Kadang lalu lintas makanan pengirim saling balas membalas, makanan ada dimana-man. Masakan ini juga dipersiapkan untuk makan sahur pertama di bulan Ramadhan biar tidak malas makan, maklum subuh-subuh jsm 03:00 harus sudah makan.

Zaman sekarang di kota-kota misalnya di Kota Bandung ada tradisi botraman yakni makan-makan bersama keluarga di restoran atau di tempat-tempat rekreasi. Disamping itu ada kebiasaan bersalaman saling memaafkan dari segala kesalahan karena mau memasuki bulan Ramadhan. Juga tradisia mengirim puisi atau mengirimkan hadist-hadist tentang keutamaan puasa lewat SMS, terus SMS-nya diforward kepada kawan, handai taulan, dikirim secara berantai, habis kalau mengarang dulu puisi atau sajak kan susah.

Ngabedahkeun Kolam

Kolam di lembur sebelum dibedahkeun

Mengeluarkan air dari kolam ikan atau mengeringkan kolam ikan disebut ngabedahkeun (bhs Sunda) kolam.

Di daerah Ciamis utara Jawa Barat banyak ditemukan kolam ikan, umumnya warga memiliki kolam ikan hanya untuk keperluan sendiri saja atau ikannya hanya untuk dikonsumsi keluarga, hanya beberapa orang saja yang memelihara ikan untuk dijual misalnya.

Ikan-ikan yang dipelihara biasanya didapat dari hasil pengembangbiakan petani sendiri. Misal kebiasaan orang tua dulu adalah disamping kolam pemeliharaan tapi letaknya atau posisinya agak  lebih tinggi dari kolam pemeliharaan dibuatkan kolam yang relatif lebih kecil, kolam inilah yang disebut kolam pemijahan. Di kolam itu ikan yang sudah dewasa  saatnya bertelur, dipilih dibiarkan meletakan telurnya pada ijuk yang telah disediakan. Kemudian telur akan menetas dan beberapa saat kemudian akan menjadi anakan yang mula-mula masih kecil sekali, lalu lanjutnya dipelihara dan dibiarkan agar sedikit agak besar dan kuat, jika sudah kuat hidup sendiri langsung saja air dan anakan ikannya dialirkan atau dihanyutkan kedalam kolam besar pemeliharaan, dan jadilah punya kolam yang berisi ikan.

Ngabedahkeun kolam tidak dilakukan setiap waktu, sebut saja jarang sekali, karena kalau hanya untuk dimakan sendiri rutin atau untuk temannya makan, cukup mengambilnya dengan menyeroknya saja dari kolam memakai alat bernama sair lambit, dorang, ditangkap begitu saja atau ngobeng, atau hanya dengan dipancing, jadi tidak usah dibedahkeun.

Ngabedahkeun kolam hanya untuk keperluan tertentu saja semisal perlu ikan yang jumlahnya agak banyak untuk hajatan, atau kenduri khitanan, kawinan, munggahan puasa, juga untuk hidangan ikan saat lebaran.

Ngabedahkeun kolam jaman dahulu adalah saat yang paling ditunggu oleh anak-anak, karena bisa menangkap ikan dengan mudah, main-main dengan lumpur, meski selalu dilarang oleh orang tua karena kalau air kolam mulai surut terus diucek-ucek lumpurnya oleh anak-anak maka ikannya bisa mabok.

Saat ngabedahkeun kolam juga saat membuat api unggun ditepi kolam dan langsung membakar ikan kecil biar cepat matang dan he he he langsung dimakan. Cara cepat memberi asupan protein kedalam tubuh bocah.

Kolam ikan sudah mulai mengering

Jika kolamnya besar ngabedahkeun tidak bisa mendadak saat itu akan tetapi pengeluaran air kolamnya harus dimulai sejak kemarinnya biar pagi-pagi air kolam sudah mulai surut.

Selanjutnya pengeluaran air sedikit demi sedikit, sebab kalau sekaligus akan lansung kolamnya kering jadinya tidak sempat leluasa bisa memilah-milih mana yang akan diambil dan mana yang dibiarkan hidup agar menjadi besar.

Maksud ngabedahkeun kolam adalah untuk mengambil ikan secukupnya saja, jadi tidak semua ikan diangkat. Hanya ikan-ikan yang sudah cukup besar saja misalnya ikan gurame dan ikan emas yangsudah  besar-besar saja untuk dimasak dengan cara dipepes atau dimasak lain untuk hidangan tamu atau untuk prasmanan. Ikan yang sedang misal jenis mujahir, nilem, tawes, tambak, dan lainnya untuk dgoreng atau dipindang. Jangan lupa yang menyaksikan ngabedahkeun biasanya para bocah biasa mendapat jatah ikan. Sedangkan jenis beunteur, bogo, lele, itu termasuk ikan liar yang boleh bebas diambil oleh siapapun, apalagi kalau kolamnya dikeringkan bisa rebutan menangkap ikan lele.

Sesudah selesai mengangkat ikan yang diperlukan, segera hong atau kuluwung pembuangan air ditutup dan kembali kolam diisi air agar kolam mulai tergenang lagi air dan selanjutnya bisa memelihara ikan kembali, yaitu sisa ikan yang tidak ditangkap.

Akan tetapi jika kolam akan dikeringkan dahulu atau akan diangkat lumpurnya, maka ikan yang akan kembali ditanam harus dipindahkan dahulu di sebuah  kolam kecil yang telah dipersiapkan.

Kolam Ikan dan Septic Tank

Saya mendapat bacaan dari blog All About Sanitarian bahwa,

Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut (Notoatmodjo,2003).

  1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban.
  2. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.
  3. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya.
  4. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang binatang lainya.
  5. Tidak menimbulkan bau.
  6. Mudah digunakan dan dipelihara (maintanance).
  7. Sederhana desainnya.
  8. Murah.
  9. Dapat diterima oleh pemakainya.

sumber

Setelah saya membaca mengenai hal di atas maka saya jadi ingin bercerita yang barangkali kalau dilihat pada jaman sekarang hal itu sangat menjijikan. Mengapa saya ceritakan karena ini fakta dan betul-betul terjadi dalam perjalanan kehidupan kita terutama masalah sanitasi di perkampungan yang sangat mengenaskan sekaligus mengharukan karena akibat kemiskinan dan ketidak tahuan.

Di wilayah perkampungan di Kabupaten Ciamis sebelah utara banyak sekali ditemukan kolam ikan. Dahulu setidaknya tahun 50-an, bahkan barangkali sampai dengan tahun 70-an warganya kalau membuat jamban untuk keperluan buang air besar (bab) atau buang air kecil  diatas kolam ikan.

Jamban yang umumnya terbuat dari bambu, memang disedikan untuk warga buang hajat, nah hajat yang dikeluarkan itu diperebutkan oleh ikan di kolam sampai habis. Tentu saja ikan kolam itu adalah ikan yang biasa dikonsumsi. Saat itu termasuk saya merasa bahwa tidak ada yang aneh dan tidak ada yang menjijikan.

Saya mengira mengapa kolam kelihatan airnya jernih tidak keruh atau penuh tinja, dan ikannya cukup sehat dan gemuk, karena penduduk kampung yang buang hajat belum sepadat atau sebanyak sekarang. Jadi input dan outputnya dahulu itu masih seimbang dan itulah sebabnya tinja tidak mengotori kolam karena habis dimakan ikan.

Kolam ikan dan jambannya (di sudut kolam)

Ketika baru-baru ini saya pulang mudik, ingin mendapatkan jawaban tentang jamban tersebut, sebab ternyata masih kelihatan jamban di atas kolam ikan.

Setelah saya memotret jambam tersebut kemudian melihat kedalamnya ternyata jamban yang tidak terbuat dari bambu itu sekarang dengan tembok, didalamnya tidak ada lahan atau tempat untuk bab. Jamban tersebut dibuat hanya untuk tempat keperluan seperti mandi, mencuci perabotan dapur, dan mencuci pakaian.

Jadi sekarang warga kampung tidak lagi bab di kolam ikan karena saat ini hampir setiap rumah keluarga telah memilik jamban lengkap dengan septic tank yang memadai dan sama sekali tidak ada sambungannya dengan kolam ikan.

Jadi, kalau sekarang disuguhi makan ikan jangan merasa ragu lagi.