Hujan Turun Di Bandung

Seingat saya dahulu tahun 50-an di salah satu tempat di Ciamis bagian utara jika datang kemarau panjang, dan hujan sangat diharapkan datang, ada tradisi memandikan kucing. Kucing yang cadu alias pantang mandi, beberapa ekor diarak oleh warga dibawa ke sungai kemudian dimandikan, meski kucing meronta, tetap saja harus mandi. Upacara ritual memandikan kucing dilaksanakan sederhana saja asal kucing mandi basah. Konon itu akan menyebabkan turun hujan yang diharapkan. Meski hujan datang karena sudah waktunya, tapi warga merasa puas karena telah berusaha dan berupaya.

Ternyata di daerah perkotaan, yang mata pencaharian warganya bukan hanya bercocok tanam, cuek saja akan datangnya musim penghujan. Bahkan pedagang kaki lima sangat berharap hujan tidak turun, bagaimana mungkin barang dagangan sudah ditebar, meski menghalangi yang lewat, kemudian cur hujan turun. Memandikan kucing peliharaan sering dilakukan tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan hujan, jadi meski sedang hujan besar jika mau memandikan kucing ya lakukan saja.

Tidak usah mengadakan ritual memandikan kucing, kemarin Kota Bandung yang sedang panas hareudang alias gerah diguyur hujan besar dan cukup lama, terasa udara kota lumayan sejuk. Breg hujan sing gede, tapi peupeujeuh ulah jadi mamala banjir

Advertisements

Sepiring Ikan Mujahir…

Sepiring Ikan Mujahir

Sepiring Ikan Mujahir

Baru-baru ini saya pulang dari kampung halaman yaitu dari Ciamis bagian utara, kalau menyebutkan Ciamis bagian utara termasuk Baregbeg, Cipaku, Kawali, Panjalu, Panawangan, dan lainnya lagi kesemuanya termasuk nama kecamatan dari Kabupaten Ciamis, jawa Barat.

Sewaktu kembali ke Bandung dioleh-olehi makanan khas Ciamis kaler tersebut, salah satunya sebungkus goreng ikan mujahir. Sesampai di Bandung oleh istri saya ikan mujahir tersebut digoreng kembali terus disimpan di meja makan. Dan tiba-tiba saja saya teringat akan masa kecil usia sekolah SD dan SMP tahun 50-an sampai awal 60-an cerita tentang ikan, khususnya ikan mujahir. Maka saya ambil kamera dan jadilah judul postingan “Sepiring Ikan Mujahir”.

Di Ciamis kaler tahun 50-an dimana air mengalir di parit, di sungai, tergenang di kolam, masih jernih seperti baru keluar dari mata air. Tak mengherankan jika air di sawah oleh para petani yang mencangkul jika kehausan langsung diminum. karena demikian melimpah ruahnya air yang keluar dari mata air, maka banyak keluarga yang memiliki kolam pemeliharaan ikan untuk dikonsumsi sendiri atau kalau ada kelebihannya dijual.

Dalam cerita-cerita pendek berbahasa Sunda sering disinggung mengenai bagaimana kalau Bupati dizaman kolonial turun ke Desa, menyalurkan kesukaannya akan menangkap ikan di sungai, dan cerita bagaimana nikmatnya menikmati pepes ikan. Pepes Ikan mas bibit adalah ikan yang biasa dijadikan indukan untuk dipijahkeun biar didapat anak-anak ikan baru. Ikan mas bibit tentu ada telurnya, telur ikan itulah yang melengkapi kelezatan pepes ikan mas bibit.

Karena budaya memelihara ikan di kolam dilakukan secara turun temurun tentu saja kemampuan warganya dalam mengelola ikan dan kolam sudah lihai. Misalkan saja bagaimana cara memijahkan ikan, membesarkan, dan cara-cara menangkap ikan yang paling aman tidak mengganggu ikan yang lain. Demikin juga dalam hal memasaknya dari mulai digoreng, dipanggang, dibakar, dipindang, disop, dan dibuat dendeng biar ikan tahan lama.

Ikan kolam juga berkasta-kasta ha ha ha, yang paling tinggi dan bisa disuguhkan ke Bupati adalah ikan gurami atau ikan mas bibit. Berikutnya adalah kelas perasmanan biasa yaitu sejenis tawes, tambak, nilem, beureum panon. Kemudian kelas terakhir adalah termasuk kelas paria hehe he yaitu ikan mujahir. Tidak tahu mengapa ikan mujahir hak azasinya demikian dipinggirkan, kemungkinan karena ikan mujahir itu, apalagi kurang pelihara, kepala besar, banyak tulangnya, dan tulang ikan mujahir termasuk keras.

Zaman saya kecil dimana kala hari raya ibi-ibu membawakan penganan lengkap masing-masing ke masjid, untuk dimakan lagi sendiri setelah dipanjatkan doa, disebut sidekah, tidak ada yang berani membawa mujahir kasta paria itu, gensi atuh.

Meski mujahir dianggap ikan tidak berkelas, akan tetapi zaman sekarang telah dibudidayakan menjadi ikan nila. Juga menurut saya ikan mujahir bujigjrig itu enak jika dipindang manis dengan gula jawa hingga empuk ketulang-tulangnya, atau diambil ketika masih keci alias baby mujahir dan digoreng garing sehingga krauk..krauk..

Yang lucu sepiring ikan mujahir yang saya sebutkan di awal ternyata akhirnya habis juga, termasuk dimakan oleh saya yang mulanya menolak…

Karedok Leunca…

Grup lawak Dono – Kasino – Indro dalam dagelannya dengan lagam berbicara bahasa Batak yang khas berujar bahwa, yang enak punya istri orang Sunda, bekali sambal lepas di kebun, sudah hidup dia, segala daun dimakan kecuali daun pintu. Mungkin saya mengutipnya tidak persis begitu, tapi soal jenis daun yang bisa dimakan mentah oleh orang Sunda memang cukup banyak, dedaunan itu kemudian disebut lalapan, Misalkan saja lalapan hijau yang biasa dimakan mentah adalah jenis daun-daunan, daun putat, kemangi, daun jambu mede, pohpohan, sawi, selada air, pokcay, selada bokor, kacang panjang, antanan, beluntas, daun kacang panjang.  Ada juga daun-daunan yang perlu direbus dulu daun singkong, daun ubi jalar, daun labu siam, daun katuk, daun pepaya, kangkung, mamangkokan, imba, kedondong. Jenis buahan yakni leunca, takokak, petai cina, jengkol, mentimun, buah hiris muda. Segala lalapan itu memang harus ada coelnya yakni sambal terasi yang aduhai…

Zaman dahulu tahun 50-an ketika usia sekolah SD saya sering disuruh orang tua atau kakak perempuan untuk mencari lalapan dedaunan atau ngundeur baik di halaman rumah maupun di kebun agak berjarak. Meskipun masih kecil saya sangat tahu mana yang sayuran lalapan dan mana yang bukan. Di rumah kakak menyediakan sambal, terus masak nasi, tambah kerupuk atau ikan asin sederhana seperti ikan asin sepat atau peda, sudah cukup untuk makan siang tujuh bersaudara.

Pohon dan buah leunca ditanam di Pot

Pohon dan buah leunca ditanam di Pot

Menyetelkan teman nasi yang sederhana murah meriah sudah menjadi kebiasaan, ini bukan karena tirakatan akan tetapi karena memang teman nasi lain tidak ada atau jarang ditemukan, maklum zaman segala susah. Goreng peda asin dipadukan atau distelkan dengan pete mentah yang cukup tua bahkan kulit arinya sudah berwarna merah, dimakan nasi pulen enak sekali atau pedo! Jengkol muda mentah dicoel sambal terasi medok sama nasi pulen emh enak banget… Atau kerak liwet nasi yang agak gosong ditaburi garam saja sudah nikmat…

Persiapan membuat Karedok leunca

Persiapan membuat Karedok leunca

Makan yang paling sederhana sekaligus prihatin zaman itu adalah nasi diaduk dengan minyak bekas menggoreng atau jalantah terus ditaburi garam halus, sudah lumayan. Berikutnya teman nasinya berupa kerupuk saja, ikan asin saja, atau mengolah secara sederhana sayuran lalapan tersebut di atas.

Adapun kreasi memasak sayuran yang relatif sederhana adalah dipencok, dikaredok, dilotek, dipecel dan diulukutek. Bumbunya sederhana saja. Pencok bahan bakunya hanya satu macam misal pencok hiris, buah hiris muda ditumbuk kasar didalam cobek bumbunya garam, gula, kencur, bawang putih, dan terasi, eh.. jangan lupa cabai rawit, lebih lengkap pakai oncom bersamaan dulek. Untuk bumbu yang sama tetapi bahan bakunya leunca disebut pencok leunca. Jika bahan bakunya beberapa macam misal leunca, mentimun, kemangi, kacang panjang diolah seperti pencok disebut Karedok leunca. Kalau leunca tidak diulek dicobek tetapi ditumis dengan tambahan oncom biasa disebut ulukutek leunca.

Kredok Leunca dan lauk-pauk lainnya

Kredok Leunca dan lauk-pauk lainnya

Waduh payah juga menulis resep masakan oleh yang ahli makannya saja…

Beluk, Nungguan Nu Tas Ngajuru

Kamari, dina postingan anu anyar kaliwat kuring nyaritakeun “ngagebrag” orok anu karek pisan dilahirkeun. Ceuk indung kuring jeung ceuk kolot-kolot harita cenah ngarah budakna teu rerenjagan, teu ngajentul teu puguh, ulah teunggar kalongeun, binekas, aktif, sagala bisa, jeung sehat salalawasna. Kitu cenah duka ari bener henteuna mah. Meureun mun ayeuna mah mending divaksinasi, dipariksa dokter ngarah ari panas teu step, omat-omat ulah nepika autis, lamun rada beda kalakuan atawa dina aktifitasna rada beda jeung nu sejen nu saumur, pasti gancang dibawa ka psikolog anak.

Keur kuring budak, asa loba pisan anu ngalahirkeun, loba nu ngajuru boh ua atawa bibi, oge geus lir lanceuk mah, samalah indung kuring ngalahirkeun adi kuring anu bungsu. Ari dipikir-pikir atuda dulur-dulur naha lanceuk, bibi, oge ua, keur ngarora keneh keur waktuna anu produktif pisan, masa subur keur nyitak anak. Katurug-turug can aya program KB, anu ka beh dieunakeun eta KB teh diwajibkeun komo ka pagawe nagri mah. Jadi teu aneh harita mah lamun anu baroga anak welasan teh.

Lamun kuring diajak ku indung ngalongok anu ngajuru, sok daek wae  sanajan jauh ti lembur oge, aya nu di Gereba, di Bangbayang, di Cieurih, di Cilongok, atawa di Munjul, teuing kumaha tetenjoan kuring mah di nu ngajuru teh bet siga di nu hajat, Nya resep bae keur kuring mah kahiji loba dahareun, kaduana bisa ulin jeung dulur misan atawa dulur sabrayna waktu peuting komo mun caang bulan mah di buruan.

Tah, di lembur kuring keur ngareuah-reuah anu anyar boga orok, tatangga, geus lir nu disebut dulur mah, sok daratang nganjang ngalongok, teu lengoh datang teh rupa-rupa babawaanana, nu rada katalingakeun ku kuring loba anu mawa uras atawa leupeut jeung deungeuna goreng lauk, goreng tempe atawa oncom ditipungan, asa ngeunah bae karasana teh.

Ti mimiti poean gubrag orok ka alam dunya geus pakpikpek nu babantu sabisa-bisa, saaya-aya, nu teu bisa pura-pura bisa, geus lir anu bisa mah gancang prungna, nu teu aya diaya-ayakeun, aya anu ngabedahkeun balong, atawa meuncit hayam jago, jeun teuing diherengan ku nu bogana biasana mah cocooan lanceuk si orok.

Di tepas atawa di tengah imah, atuh mun hareurin di hareup di kamer tamu, ngampar samak, peutingna nyeungeut lampu patromaks, mani caang ngempray, anu biasa sapopoe kakalicesan oge da ku cempor minyak tanah tea, zaman harita atuh can aya lustrak listrik.

Ba’da sholat isya teh ti tajug da tuluy bae ngabring ka imah anu tas ngajuru, sihoreng simana horeng erek beluk tea. Ari beluk teh nyaeta nembangkeun pupuh make lagu buhun sorana dihaleuangkeun dialeu-aleu. Seni beluk kuduna mah dipaenkeun ku, biasana lalaki, 4 – 9 urang dipingpin ku juru ilo nyaeta minangka dalangna. Eta Si Juru Ilo atawa dalangna teh nu macakeun sairna dina wangun wawacan. Ari wawacan nyaeta hiji karya sastra Sunda anu wanguna nuturkeun pola pupuh. Jadi eta si wawacan teh nyaeta mangrupa carita anu didangdingkeun, ari pupuhna mah biasa bae saperti kinanti, asmarandana, sinom, dangdanggula, durma, jeung sajabana.

Balik deui ka imah anu boga orok tea sok kadangu galuntreng,

Ceuk Bi Omoh ti pawon: “Rek beluk wawacan naon ayeuna?”

Ceuk juru Ilo, kabeneran emang kuring Mang Sukarma: “Eta wae si kukut wawacan Panji Wulung”

“Jih, naha Panji Wulung deu Panji Wulung deui, kuring mah hayang lalakon Purnama Alam, rame cenah bejana” Cek Bi omoh

“Kapan buku wawacan Purnama Alam mah diinjeum ku Jang Guru Ewo aya nu ngajuru di Nangoh, kapilanceukna” jawab Mang Sukarma, “keun bae da loba barudak ngora anu can nyarahoeun, hayu atuh urang mimitian”.

Bari nulis ieu postingan kuring nyandingkeun buku Wawacan Rengganis, teu boga wawacan Panji Wulung mah. Geura ieu ku kuring rek ditulis padalisan ka hiji jeung kadalapan dina pupuh asmarandana:

1. Kasmaran kaula mudji, ka Gusti Adja wa djala, nu murah ka mahluk kabeh, djeung mudji utusanana, Kangdjeng Nabi Muhammad, nyaeta Nabi panutup, miwah mudji sahabatna.

8. Katjatur sahidji nagri, ngaran nagri Djamin-erak, radjana tilar kadaton, anu matak luluasan, tina bawaning tresna, sungkawa manah kalangkung, ku sabab pupus garwana.

Tah eta baris demi baris dibaca ku juru ilo, breng ditembalan ku pamaen (tungtungna mah saha bae nu bisa) diturutan saperti sakumaha nu diucapkeun ku juru Ilo, tapi bari dihaleuangkeun sakumaha judulna saperti conto di luhur mah pupuh asmarandana. Sakainget di lembur kuring mah teu dilaeu-laeu laguna teh, sigana teu aya nu bisaeun, tapi ari ngaran lagu-lagu pupuh mah arapaleun pisan.

Teu pati ngabandungan nepi ka jam sabarah eta beluk teh, atawa sabaraha peuting diayakeunnana. Tapi pikeun kuring mah asa ngarasa resep sabab ngabandungan dongengna, jeung deui eta loba susuguh…

Duka ti iraha eta tradisi beluk di imah nu anyar boga orork teh mimitina, sarua oge duka nepi ka iraha eta kabiasaan teh leungitna, da ayeuna mah dilembur kuring beunang dipastikeun geus teu aya, geus sirna bareng sigana jeung sirnana juru ilo jeung pamaena dipundut Ku Gustu Nu Murbeng Alam, ngan kari waasna wungkul…

Cag!

Indische Restaurant atawa Rumah Makan Naga Mas di Bandoeng

Sejak zaman dahoeloe Bandoeng terkenal dengan sebutan kota kuliner, bahkan sampai sekarang ini apalagi setelah ada jalan tol Jakarta – Bandung yang dengan kendaraan roda empat bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam saja. Nah karena salah satu sebab yaitu jajanan makanan alias menikmati kuliner di Bandung inilah orang Jakarta banyak berduyun-duyun datang ke Bandung.

 Jenis makanan sangat variatif misalkan saja yang padatnya ada nasi timbel, nasi bakar, bahkan nasi edan. Diantara berbagai jajanan yang paling banyak adalah yang terbuat dari tahu, mi, bakso, dan sejenisnya. Sedangkan jajanan khas Bandung lain adalah batagor, siomay, dan cireng. Batagornya ada batagor “Riri” dan batagor “Kingsley”. Sedikit lagi, kupat tahu, surabi, dan bubur ayam Mang Oyo. Wah masih banyak lagi sampai lupa untuk menyebutkannya satu per satu.

 Nah, rumah makan Tionghoa jangan dilupakan, umumnya orang Cina jago masak membuat makanan yang lezat-lezat sampai ada semboyan koki Cina berbunyi:

Semua yang berkaki empat, melata di muka bumi kecuali meja

Semua yang bisa terbang di awang-awang, kecuali layangan

Semuanya bisa dimasak, dihidangka,  dan dimakan

Urang Bandung biasanya tidak menyebut “bule” kepada bangsa kulit putih, sebab sebutan “bule” bukan untuk manusia tetapi untuk kerbau yang bule. Zaman kolonial Belanda menyebut orang kulit putih itu dengan sebutan bangsa Walanda. Makanan untuk bangsa Walanda, disebut makanan Eropa atau menu Eropa.

Adapun restoran beken Bandung baheula yang menghidangkan masakan Eropa diantaranya “Moison Bogerijen” di jl Braga, “Moison Boin” di jl Naripan, “Moison Smith” di jl Merdeka, “Rumah Makan Capitol” di jl Braga, “Paradise Restaurant” di Pasar Baru, dan , “Indisch Restaurant” di Aloen-Aloen Bandoeng.

Indisch Restaurant inilah yang akan saya beri keterangan, ada sebabnya, asal mulanya ada permintaan dari sahabat saya Nane yang menulis komentar pada tulisan saya berjudul …….. isi komentarnya adalah: “Numpang tanya… Mungkin anda punya informasi, tentang sebuah restauran jaman dulu. Namanya : Rumah Makan Naga Mas atau Indische Restaurant. Menurut orang tua kami, letaknya persis di bangunan BRI Tower sekarang”.

Keterangan yang diperoleh dari beberapa buku bacaan di rumah tentang Bandoeng tempo doeloe disebutkan, sekali lagi, bahwa Indisch Restaurant atau betul belakangan namanya menjadi Rumah Makan Naga Mas adalah rumah makan kelas berduit yang menyediakan selain makanan Cina juga menu makanan Eropa, maklum pada saat itu banyak orang Belanda dan Eropa lainnya yang perlu dipenuhi selera makannya. Selain bagi orang Eropa warga kota Bandung, juga bagi para Preanger planters alias para petani kaya yang turun gunung dari sekitar Bandung selatan yaitu petani teh dan kina.

Saat ini bangunan itu sudah tidak ada lagi akan tetapi di lokasi bekas Indisch Restaurant itu berdiri mahiwal alias berbeda dengan bangunan kiri kanannya yang antik, sebuah bangunan menjulang tinggi 16 tingkat bernama BRI Tower, tempatnya Bank Rakyat Indonesia usaha dan berkantor. Alamat jelasnya Jl. Asia Afrika No. 57-59.

 Sepertinya kalau mau nyukcruk sejarahnya bangunan itu, yaitu asal mula sebuah toko bernama Toko de Vries, Toko de Vries di Grote Postweg, sekarang Jln Asia Afrika, merupakan toko serba ada yang mulai dibuka pada awal tahun 1900-an. Pendirinya adalah Klaas de Vries. Toko de Vries berasal mula dari warung kecil  Klaas de vries di utara Aloen-Aloen dimana lokasinya di BRI Tower sekarang ini berdiri sekitar tahun 1986. Sepertinya dari bekas toko Klaas de Vries ini kemudian menjadi Indisch Restaurant.

Seni bangunan dari “Indisch Restaurant” masa dulu, yang banyak menggunakan konstruksi balok kayu adalah perpaduan dari bentuk  sebuah Pendopo (seperti Kabupaten) dengan gaya arsitektur barat dan Cina. Maklumlah, para anemer dan pekerja bangunan tempo dulu pada umumnya Cina, sehingga kreasi jamahan tangan mereka masih terlihat membekas. Yang seumuran dengan Restoran itu adalah bangunan kabupaten Bandung dan Mesjid Agung tempo dulu yang atapnya susun tiga berbau Hindu Jawa.

Yang paling sering disebutkan di tulisan-tulisan, jika kita browsing di internet, yaitu bahwa Indische Restaurant berperan dalam peristiwa heroik Bandung Lautan Api, ceritanya adalah: Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan masyarakat mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran dimulai pada pukul 21:00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang).

Mengapa para pejuang membumi hanguskan Bandung karena gedung-gedung strategis yang kemungkinan akan digunakan Belanda. TRI  merencanakan peledakan dimulai pukul 24.00 di Gedung Regentsweg, selatan alun-alun Bandung yaitu gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI)  sebagai aba-aba untuk meledakkan semua gedung. Tapi mengapa rencana peledakkan mulai jam 24.00 tapi jam 21.00 sudah mulai? Kemungkinan karena kesalahan teknis, maklum zaman dahoeloe, sebab pada jam 21.00 sudah kedengaran ada ledakan entah dari mana, maka dimulailah pembumihangusan Bandung pada jam itu.

Demikian cerita Indische Restaurant yang tinggal waasna atau tinggal kenangan.

Sumber bacaan: Semerbak Bunga di Bandung Raya oleh Haryoto Kunto, Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi, Wajah Bandung Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto.

Nikah Urang Bandung di Bale Nyungcung

Masa kecilku tahun 50-an di kampung sana Ciamis Jawa Barat, acara pernikahan yaitu akad nikah dilakukan di masjid sedangkan resepsi pernikahannya diselenggarakan di rumah pengantin perempuan, tradisi sekarang tidak begitu terperhatikan, mungkin saja sampai sekarang masih melakukan akad nikah di masjid atau di Kantor Urusan Agama (KUA) yang biasanya terletak di dekat masjid juga.

Pelaksanaan walimatul urusy dalam hal ini akad nikahnya dilaksanakan di masjid kemudian selamatannya di rumah. Seingatku pengantin perempuan mengenakan kebaya, terus pengantin pria berpakaian sederhana saja bercelana panjang baju hem biasa, terus berkopiah hitam. Sebelum akad nikah dimulai pengantin perempuan dijajal kemampuannya atau diperlihatkan kebisaannya membaca ayat suci Alquran, beberapa ayat (tentusaja jauh sebelumnya sudah diajarkan bagaimana membaca Alquran dengan tajwid yang baik).

Setelah selesai akad nikah terus kedua pengantin dengan berjalan kaki pulang ke rumah dan dimulai acara adat biasanya acara nginjak telur, buka pintu, dan terakhir nyawer. Kemudian kedua pengantin duduk di pelaminan sederhana, terkadang duduk di bawah dengan hanya diberi tilam seadanya saja untuk menerima ucapan selamat dari para undangan.

Pangantenan di Bandung diceritakan oleh Us Tiarsa R. dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Ketika Bandung Masih Berembun). Tahunnya adalah tahun 1951, disebutnya saat itu sedang segala susah, bahkan hajatannya disebut siduru isuk (memanaskan badan pagi-pagi di depan tungku dapur) saja untuk menyebutkan kesederhanaan penyelenggaraannya. Meskipun hanya siduru isuk tapi seserahan dan upacara  adat dilakukan lengkap.

Pelaksanaan akad nikah saat itu belum lajim dilakukan di rumah akan tetapi di masjid, urang Bandung menyebutnya kaum. Ada dua kaum yang dipakai menikahkan yaitu di Alun-alun (Kaum Bandung) dan kaum Cipaganti.

Kendaraan yang digunakan untuk berangkat ke kaum adalah delman atau kretek, kereta ditarik kuda. Pakaian perempuan di kepala memakai makuta kemudian memakai sleyer yang panjang sampai ke belakang.

Waktunya menikahkan biasanya mengambil bulan Rayagung (bulan Zulhijah), jadi bulan itu ramai yang kawinan. Jika banyak yang ditikahkan terpaksa ngantri jadi penghulu sibuk dibuatnya, pengantin dan pengantar pada nunggu di emperan kaum, sudah cape dangdan dan memakai sleyer yang panjang sampai menyapu jalan, terpaksa menunggu selonjoran di emperan bahkan ada yang jajan sirop segala, calon pengantin merasa haus barangkali.

Selesai akad nikah kembali naik delman yang sudah menunggu dibariskan di depan kaum, terus kuda dipacu dan bel delman dibunyikan, nong nang, nong nang.  Umumnya pengantin dan pengiring tidak pulang dulu ke rumah tapi jalan-jalan dahulu pengantin diarak ada yang keliling kota Bandung, ada yang ke Derenten (kebun binatang), ke Situ Aksan, bahkan merasa perlu untuk lewat dulu di depan Hebe (Gedung Sate).

Masjid atau kaum itu disebut  Bale Nyungcung, bale adalah bangunan, kalau nyungcung bahasa Sunda yang artinya kerucut seperti bentuk limas runcing ke atas. Menyebut bale nyungcung di Bandung  tak diragukan lagi merujuk ke penyebutan masjid atau kaum itu. Bahkan dipercakapan hari-hari kalimat “pulang dari bale nyungcung” adalah habis dinikahkan.

Lagu Sanjung Buat Bandung

Meskipun kini Kota Bandung sering dikeluhkan karena tidak sejuk lagi, boro-boro ada halimun di alun-alun, boro-boro bisa bersepeda di dalam kota, dan muacetnyaaaa minta ampun tidak week end juga tidak week day sami mawon.

Dahulu sebutlah tahun-tahun sebelum 70-an Bandung banyak disanjung oleh para pengunjung. Tidak hanya Bandung yang diugung, juga Priangan atau Parahyangan atau umumnya Tanah Sunda banyak dipuja karena keindahan, kesejukan, keramahan penduduknya, bahkan kecantikan mojangnya.

Bandung juga sering dipuja para penyajak umpamanya kumpulan puisi “Di Atas Viaduct” walau sarat dengan kritik tapi menunjukan perhatian dan sayangnya ke Kota Bandung, dan juga telah menginspirasi Ramadhan KH dengan kumpulan puisinya “Priangan Si Jelita”

Zaman kolonial Walanda, Bandung sudah mulai disanjung misalnya menurut Haryoto Kunto (1984) ada lirik lagu menyanjung Bandung

Bandung, O, wonderstad
Dat zegt toch iedereen
Een stad vol pracht en praal
Altijd even schoon en rein
Kortom, een plaats bij uitnemendheid
Bandung, heerlijke stad

Kira-kira  artinya

Kota Bandung nan jelita
Menarik hati siapa saja
Gemerlap menyala tiada tara
Resik apik menarik hati
Memang nyata indah lestari
Bandung kota nan asri

Adapun lirik lagu yang menyebut Bandung kita temukan pada judul lagu seumpama: Ole-Ole Bandung, Halo-Halo Bandung, Sapu Tangan Bandung Selatan, Bandung Selatan, kemudian lagu-lagu berbahasa Sunda: Ari Imut-Imut Bandung (Kalau Senyum-Senyum Bandung), Peuyeum Bandung (Tape Bandung).

Yang paling produktif adalah seniman pencipta lagu terkenal yaitu Mang Koko (1917 – 1985), beliau yang telah menciptakan lagu lebih dari 400 judul dan sebagian dari lagunya itu menyanjung Bandung dan umumnya Tanah Sunda. Bukan hanya lagunya yang selalu digandrungi oleh pencinta dan pendengarnya akan tetapi juga liriknya pun dipilih yang puitis dan untaian kalimat yang bisa membawa nikmat.

Inilah beberapa judul lagu ciptaan H. Koko Koswara yang bahkan sampai kini masih dihariringkeun (disenandungkan) orang Bandung. Judul lagu-lagu Bandung oleh Mang Koko:  Bandung, Kota Bandung, Pagunungan Bandung, Bulan Bandung Panineungan (Bulan Bandung Dalam Kenangan), Di Langit Bandung Bulan Keur Mayung (Di Langit Bandung Bulan Sedang Dipuncak), Jali-Jali Aransemen Bandung.

Lagu Ciptaan Mang Koko tentang tanah Sunda dan alam Priangan lainnya:  Angin Priangan, Tatar Sunda, Tanah Sunda, Padusunan Priangan (Pedusunan Priangan), Parahiangan, Pasundan Eksiganda, Sunda Sawawa (Sunda Dewasa)

Sewaktu tahun 50-an anak-anak SD sangat keterlaluan kalau yang merasa orang Sunda tidak bisa menyanyikan dan hapal lagu wajib, lagu Tanah Sunda seperti dibawah ini:

Tanah Sunda gemah ripah
Nu ngumbara suka betah
Urang Sunda sing toweksa
Nyangga darma anu nyata
Seuweu Pajajaran
Muga tong kasmaran
Sing tulaten jeung rumaksa
Miara pakaya
Memang sawajibna
Geten titen rumawat Tanah Pusaka

Cag!