Kina Priangan dan Bangunan Tua Kimia Farma di Bandung

Aku teringat masa tahun 50-an semasa usia sekolah SD di sono di kampung Ciamis utara jika sakit panas entah flu, malaria, atau barangkali typhus, obatnya cukup satu macam dari warung yakni pil kina, tablet dilapisi rasa manis di luar, tapi bagian dalamnya pahiiiit sekali.

Pabrik Kina Bandung dari Blog Prasetyo

Lalu, di sekolah kalau pelajaran Ilmu Bumi (geografi) sungguh k e t e r  l a l u a n !!! kalau tidak tahu bahwa Pabrik Kina ada di Bandung.

Pada tahun 1997 Bandung Heritage membuat inventaris bangunan tua ternyata beberapa bangunan adalah milik Kimia  Farma, tentu adanya gudang dan apotek tersebut ada kaitannya dengan sejarah kefarmasian yang ada di Priangan hususnya di kota Bandung.

Sejarah panjang farmasi di Bandung dimulai dengan berdirinya perusahaan NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co., perusahaan farmasi pertama di Hindia Timur, didirikan pada tahun 1917, dan inilah cikal bakal perusahaan Kimia Farma.

Iklan Apotek dari Album Bandoeng Tempo Doeloe

Ada iklannya juga lho!

Dan adanya perusahaan farmasi NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co itu tidak lepas dari adanya bahan kulit kina yang ditanam oleh Frans Wilhem Junghuhn, seorang dokter dan peneliti berkebangsaan Jerman yang bertugas di Hindia Belanda.

Dari rasa pahitnya kina itu kemudian mencapai masa kejayaan kina yang dinikmati oleh para tuan tanah Belanda di wilayah Pangalengan sana. Bagaimana tidak demikian, karena pada saat itu pada tahun 1875 produksi kina baru mencapai 22 ton selanjutnya tahun 1895 menjadi 1.000 ton. Pada awal abad ke 20 Pulau Jawa menjadi terkenal karena menghasilkan lebih dari 90 persen produksi kina dunia.

Kina yang semula menjadi primadona mulai meredup setelah PD II, Nasib perkebunan kina makin parah, ketika tahun 1965 terjadi penjarahan besar-besaran. Tanaman kina dibabat secara membabi buta, dikuliti lalu dijemur kemudian hasilnya dijual kepada penadah yang siap menampung. Sampai tahun 2005, areal perkebunan kina di Jawa barat tinggal 4.400 hektar, produksinya hanya sekitar 1.000 ton, jauh dibanding sebelum PD II yang mencapai 12.000 ton kulit kering. Sehingga Indonesia yang semula dikenal sebagai pengekspor kina terbesar, kini harus mengimpor kulit kina yang setiap tahunnya mencapai 3.000-3.500 ton.

Begitulah nasib kina di khususnya Priangan disamping ada kambing hitam yakni perang dunia II yang konon menyebabkan kehilangan pasar kina dunia, tapi yang jelas biasa… garuda, good if only arranged by Dutch.

Demikian sedikit cerita mengapa banyak bangunan farmasi milik Kimia Farma di Bandung, yang oleh Bandung Heritage bangunan tersebut didaftar atau diinventarisasi sebagai bangunan cagar budaya. Tapi, sekali lagi bangunannya juga saat ini sama merananya…tidak terurus.

Apotik Kimia Farma, jln Braga no. 2,4,6

Keterangan gambar: Nama Bangunan Apotik Kimia Farma, Lokasi Jl Braga 2,4,6, Fungsi  Toko, Arsitek belum diketahui,Tahun 1902.

Hanya bangunan lama di atas yang masih dipakai oleh Kimia Farma. Sedangkan tiga bangunan lainnya, oh kasihan dikau!

Eks Kimia Farma jln AA No. 9 Bandung

Keterangan gambar: Nama Bangunan  Kimia Farma, Lokasi  Jl Asia Afrika 9, Fungsi  Toko, Arsitek belum diketahui,Tahun: 1910

Eks Apotek Kimia Farma no. 34 Bandung

Keterangan gambar: Nama Bangunan Apotik Kimia Farma, Lokasi  Jl Asia Afrika 34, Fungsi  Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930

Aubon Marche dari opakopik.multiply.com

Keterangan gambar: Nama Bangunan Gudang  Kimia Farma, Lokasi Jl Braga 3, Fungsi  Departemen Store Aubon Marche , Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1915

Aku selalu optimistis dan berharap baik pemilik maupun Pemda segera merenovasi dengan mempertahankan bentuk asli atau semula. Semoga!

Bacaan: kompasiana, blog prasetyo, opakopik, Buku “Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi

Advertisements

Mengukur Bangunan Berumur di Jln Dipatiukur Bandung

Jalan Dipatiukur terletak di kawasan Dago jadi masih di Bandung bagian utara. Mahasiswa Unpad biasa menyebut jalan ini cukup dengan “DU” saja karena di jalan inilah terletak kampus pertama Universitas Padjadjaran. Sekarang kampus Unpad ada satu lagi yang lokasinya di Jatinangor Sumedang kampusnya lebih luas dari yang pertama.

Sketsa Dipati Ukur, Dari Website Pemerintah Kabupaten Bandung

Lalu, Dipatiukur itu apa dan siapa, Dipati Ukur adalah seorang Adipati di Tanah Ukur, beliau adalah tokoh penting dalam sejarah kehidupan masyarakat Sunda.

Cerita singkat Dipati Ukur adalah sebagai berikut, bahwa akibat ekspansi Mataram ke Tanah Sunda maka pada abad ke 17 Tanah Sunda sudah menjadi kekuasaannya. Singkat cerita demi menyingkirkan VOC dari Batavia sebagai saingan dagang Mataram selanjutnya Sultan Agung memerintahkan Adipati Ukur untuk memimpin pasukan dan bergabung dengan tentara Jawa di daerah Karawang.

Namun karena sudah seminggu pasukan Jawa tidak kunjung datang maka Adipati Ukur membawa pasukannya datang ngajorag VOC di Batavia. Hal ini dianggap tidak menurut perintah Sultan Agung dari Mataram, maka Dipati Ukur ditangkap dan dihukum pancung di alun-alun Mataram.

Itulah cerita singkat Dipati Ukur, itu terjadi abad ke 17, bangunan yang akan saya perlihatkan tidak ada sangkut pautnya dengan cerita Dipatiukur sangkutannya hanya bahwa bangunan yang dibuat pada awal abad ke 20 itu terletak di jalan Dipatiukur.

Ada 5 bangunan yang diinventaris oleh Bandung Heritage terletak di jln Dipatiukur Bandung itu yakni empat rumah dan satu lagi kantor. Inilah bangunan cagar budaya tersebut

Kantor, jln Dipati Ukur no. 3

Rumah, jln Dipatu Ukur 17

Rumah, jln Dipati Ukur no. 25

Rumah, sekarang berfungsi sebagai hotel, jln Dipati Ukur no. 30

Rumah, jln Dipati Ukur no. 42

Demikian cerita rumah tua yang ada di jln Dipatiukur Bandung.

 

Bacaan: Dipati Ukur Pahlawan Pasundan (http://budayanusantara.blogsome.com)

Rumah Tua di Bandung Utara, Jln Sawunggaling

Saya hampir lupa bahwa saya punya hobi baru yakni memotret bangunan tua yang ada di  kota Bandung. Sebetulnya sih mana ada orang lupa akan hobinya sendiri, tapi karena ada liburan panjang ahir tahun 2011, maksudnya liburan bagi yang bekerja, jadi tergeser tuh hobi. Dan kali ini saya ingin memperlihatkan bangunan-bangunan lama yang berada di Bandung Utara yang kalau lebih jelas lokasinnya ada di wilayah Dago.

Jangan salah kawan, jalan Sawunggaling letaknya berdekatan dengan jln Tamansari, jln Ranggamalela, jln Sulanjana. Jalan ini termasuk pendek barangkali ada 1 Km ya?, betul tidak akan lebih dari 1 Km. Tapi nanti dulu jalan ini asri sekali, apalagi bukan jalan protokol jadi termasuk tidak termasuk yang padat lalu lintasnya. Sangat ideal buat pemukiman sejuk karena Bandung utara termasuk daerah lebih tinggi, terus kawasan elit bo!

Di sini di jalan Sawunggaling Bandung itu oleh “Bandung Heritage” didaftar bangunan tuanya sebagai bangunan cagar budaya yakni 5 rumah tinggal dan dua Vila, jadi jumlahnya ada 7 . Satu vila saat ini dijadikan kantor Bank NISP, juga sebelahnya digunakan sebagai Cafe, kemudian satu vila lagi saat ini menjadi Bumi Sawunggaling yang berfungsi sebagai hotel

Bumi Sawunggaling yang menurut bumisawunggaling.com mempunyai sejarah yang agak panjang yakni

Rumah khas bergaya Art Deco ini dibangun pada tahun 1920, dihuni oleh Merv. Bossch Jacobs. Seiring dengan perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, rumah ini kemudian dihibahkan kepada pemerintah dan dialihfunngsikan menjadi Asrama para siswi yang sedang menimba ilmu di ITB dan selanjutnya menjadi Asrama Putra atau lebih dikenal dengan Rumah E.

Bangunan Indo Eropa ini menyimpan banyak sejarah dan kenangan bagi para alumni dari jaman Dames Internat sampai Rumah E.

Pada tanggal 6 Januari 1997, Prof. Wiranto Arismunandar, Rektor ITB pada saat itu memberi gagasan agar Rumah E dialihfungsikan menjadi WIsma Tamu ITB Sawunggaling. WIsma ini terus mengalami perkembangan sehingga pada tanggal 27 April diresmikan menjadi Bumi Sawunggaling”

Inilah bangunan-bangunan tersebut akan tetapi baru enam buah satu lagi belum ketemu, hilang kemana ya?

Jln Sawunggaling no. 2

Rumah tinggal, jln Sawunggaling no.

Rumah tinggal, jln Sawunggaling no. 10

Rumah tinggal, jln Sawunggaling no.

Rumah tinggal, Jl Sawunggaling no.

Bumi Sawunggaling (Hotel), jln Sawunggaling no. 13

Bumi Sawunggaling yang sekarang menjadi hotel pada bulan Februari 2011 mendapatkan award bersamaan dengan 25 bangunan cagar budaya di Bandung lainnya yakni Bandung Herritage Award 2011. Selamat untuk Bumi Sawunggaling.

Komentar saya mengenai bangunan antik kuno di jalan Sawunggaling pertama saya hanya memotret lokasi apakah bangunan tersebut telah dirubah oleh pemilik atau tidak, saya tidak tahu. Untuk rumah tinggal tidak saya sertakan nomornya mengingat kemungkinan perlu privasi, karena tidak semua pemilik happy jika rumahnya dijadikan bangunan cagar budaya. Ketiganya seperti biasa kualitas fotonya hanya termasuk katagori “lulumayanan“.

Berakhirnya Tahun Baru-an

Ketika aku membuka mata di tahun baru 2012 persis sama dengan kemarin yang tahun 2011, memang hari-hari apakah dirayakan atau tidak tetap matahari bulan dan bumi berjalan pada garis edarnya, tidak mau menunggu dan tidak bisa ditunggu.

Setiap pesta selalu ada ahirnya, demikian juga liburan anak-anak harus berakhir, saat anak-anak merencanakan pulang ke tempat masing-masing, para cucu pada protes karena liburan sekolahnya masih lama. Tapi mana mungkin liburan diperpanjang sebab orang tuanya harus segera masuk bekerja. Lewat diskusi, argumentasi, pertengkaran, malahan diiringi tangis ahirnya anak-anak alias cucuku menyerah akan tetapi dengan syarat harus puas-puas dulu main di Bandung, meski begitu karena waktu dan juga keuangan terbatas hanya bisa ke, kebetulan di Bandung sedang ada “Bandung Bersalju”, dan satu lagi, meski seperti umumnya anak-anak tidak suka, yaitu mengunjungi Museum Geologi yang ada di jln Diponegoro Bandung.

Pada saatnya melihat “Bandung bersalju” kami kakek, nenek, anak, dan cucu, pergi bersama, rencananya mau ikut melihat salju di kota Bandung. Meskipun cucu memaksa agar aku ikut masuk arena tapi terpaksa mundur teratur, setelah aku perhatikan tidak ada seoarang kakek pun yang ikut ngantri. Tapi ternyata anak-anak di dalam tidak begitu lama karena pada kedinginan, menurut promosi temperaturnya minus 15 derajat celcius, katanya hiiiiiih dingiiiin sekali, bisa dimaklumi maklum sa-umur-umur hidup di udara dan iklim tropis.

Meskipun aku tinggal di Bandung dan sering sekali melewati gedung Museum Geologi, tidak pernah terbersit untuk mengunjungi Museum tersebut, memang dahulu ketika anak-anakku masih kecil perkiraan 25 tahun yang lalu pernah masuk ke Museum Geologi ini. Saat ini, seperti 25 tahun yang lalu, aku menggiring anak-anak mereka yakni cucu-cucuku. Seperti juga dahulu ketika membawa anak-anakku aku tidak berharap banyak apakah mereka akan serius memperhatikan apa yang berada di Museum atau hanya sekedar kejar-kejaran sebagaimana kesenangan mereka. Sedikitnya kelak ada suatu kenangan masa kecil diajak kakeknya masuk ke Museum manaaaa ya? Oh, iya Museum Geologi.

Tapi, aku melihatnya dari kacamata seorang kakek, Museum Geologi ini sangat-sangat bagus. Akan sangat disesalkan kalau anak-anak belum pernah diajaknya ke sini, meski tak usah serius, sambil diajak bermain saja. Demikian banyak ilmu pengetahuan dan tentu dengan pengalaman melihat sendiri diantaranya fosil-fosil dan tulang belulang binatang-binatang purba yang pernah menghuni planit kita jutaan tahun yang lalu. Begitu banyak batu-batuan yang sangat indah dan penuh makna dipajang di etalase kaca.

Mengunjungi Museum Geologi di Bandung ini tanpa dipungut bayaran hanya dipersilakan untuk mengisi buku tamu dan kemudian dilepas. Dibanding dengan 25 tahun yang lalu Museum Geologi ini semakin lengkap dan semakin diperluas. Bahkan di luar Museum Geologi dibuatkan taman namanya “Taman Siklus Bebatuan”.

Meskipun aku yakin Anda semua sudah melihatnya dan sudah mengunjunginya, beberapa foto akan aku pajang di sini, namun karena dikejar deadline, hehehe buatan sendiri, sehingga keterangan mengenai gambar begitu terbatas.

Museum Geologi

Museum sedang padat pengunjung, berbaris menuju auditorium pemutaran film

Fosil binatang purba

Fosil binatang purba

Fosil binatang purba

Batu-batu kristal

Batu-batu kristal

Batuan juga dipajang di taman

Demikian kisah liburan anak dan cucuku di Bandung, lapangan Kurusetra tempat perang keluarga Bharata imajinasiku dari cerita pewayangan telah sepi, tidak ada celoteh, tangis bahkan teriakan anak-anak, di rumahku kembali ke “modal” semula yakni tinggal berdua seorang kakek dan seorang nenek. Tapi itu tidak masalah dalam kehidupan ini selalu silih berganti sebagaimana roda pedati yang terus berputar.