Orang- Orang yang Malang

image
Judul : Orang-Orang yang Malang
Penulis: Victor Hugo
Alih bahasa: A. Haryono
Penerbit: PT Gramedia, 1977
Sampul: Soft cover, kertas koran, 175 hal.
Ukuran: 18 x 12 cm
Judul asli: Les Miserables (The McMillan Company of India Ltd 1971)
Diceritakan kembali oleh: Beatric Conway

Continue reading

Advertisements

Resensi Buku “Teu Pegat Asih” Soeman Hs.

Buku Teu Pegat AsihJudul buku: Teu Pegat Asih, Pengarang: Soeman HS., Didongengkan dalam bahasa Sunda oleh: Moh. Ambri, Penerbit: PT. Kiblat Buku Utama, Cetakan ke 2 tahun 2007, jumlah halaman: 62, jenis kertas: HVS, harga buku Rp 20.000

Yang menarik dari buku ini pertama sangat tipis hanya 62 halaman sehingga harganya terjangkau, kedua ditulis dalam bahasa Sunda oleh Moh. Ambri penulis terkenal pada zamannya, ketiga pengarang aslinya Soeman Hs., seorang penulis Angkatan Balai Pustaka.

Dua-duanya adalah pengarang terkenal, Moh. Ambri  (Sumedang, 1892 – Jakarta, 1936) adala sastrawan realis Sunda. Beliau menerbitkan 6 judul buku karangan asli dan 16 buku terjemahan dan saduran diantaranya buku “Teu Pegat Asih”. Soeman Hs. (Bengkalis, Riau, 1904 – Pekanbaru, Riau 1999) siapa yang tak kenal akan beliau seorang sastrawan angkatan Balai Pustaka. Dari 6 buku karyanya satu diantaranya berjudul “Kasih Tak Terlarai” pertamakali terbit tahun 1930 oleh Penerbit Balai Pustaka. “Kasih Tak Terlarai” inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi  “Teu Pegat Asih”.

Ceritanya dimulai dengan: Ada seorang jejaka bernama Taram anak pungut orang biasa ketua kampung, dan ada seorang gadis bernama Nurhaida anak seorang berada, remaja berparas cantik bintang kampungnya yang sangat dicintai oleh Taram, ternyata kasihnya tidak bertepuk sebelah tangan.

Akan tetapi ketika Taram melalui orang tuanya mengajukan lamaran dengan serta merta ditolak oleh orang tuanya  yakni Ence Abas. Ence Abas adalah orang kaya yang menginginkan menantunya kelak juga orang kaya, bermartabat, dan seorang yan alim ilmu agama. Tentu saja Taram sangat kecewa dan sakit hati.

Nurhaida berikrar dan bersumpah dalam hatinya bahwa tidak akan mempunyai suami selain kepada Taram. Pada suatu malam seluruh kampung ramai bahwa Nurhaida menghilang. Ternyata dibawa oleh Taram yang dalam pelariannya itu menyamar sebagai seorang Cina yang sedang mengurus penyembelihan dan pengiriman hewan babi. Selanjutnya dibawa merantau ke Singapura, kemudian menikah dengan wali hakim. Diceritakan karena Taram adalah seorang yang rajin berusaha dan bekerja maka hidup berumah tangganya penuh kesenangan akan harta dan kebahagiaan dalam percintaannya.

Akan tetapi lama kelamaan istrinya merasa rindu akan orang tua dan kampung halamannya, atas ajakan kerabat Nurhaida yang tak bosan-bosannya merayu untuk pulang ke orang tuanya. Lama kelamaan Nurhaida terbujuk juga saking sudah rindunya untuk pulang. Sementara tentu suaminya belum lagi akan mengijinkan, maka disaat Taram sedang pergi, sehubungan dengan usahanya yang memakan waktu 2 malam, Nurhaida dan kerabatnya pergi tanpa pamit menuju kampung orang tuanya, dan Nurhaida diterima baik oleh bapaknya Ence Abas.

Lama kemudian ke kampung Ence Abas datang seorang Arab yang usahanya berjualan obat-obatan, dan diceritakan orang itu sangat alim dan dipercaya oleh orang kampung untuk menjadi guru agama yang dari dahulu sangat dibutuhkan, demikian oleh Ence Abas bahwa Syeh tersebut sangat disayangi bahkan akan dikawinkan dengan anaknya Nurhaida yang sudah janda karena dicerai oleh suaminya terdahulu.

Cerita berakhir dengan happy ending sebab meski mula-mula Nurhaida tak suka, akhirnya berbuah kebahagiaan karena belakangan ketahuan bahwa Syekh tersebut adalah Taram yang dicintainya.

Menarik dari buku ini karena bahasanya mudah dipahami, tidak berbelit-belit, meskipun mula-mula si tokoh cerita mendapatkan kesukaran untuk berjodoh tapi karena cintanya yang tak lekang berakhir dengan kebahagiaan juga. Buku asli karya Soeman Hs. ini dicetak tahun 1930 tentu saja banyak cerita lama yang jauh sangat berbeda dari masa kini, misal diceritakan bahwa Taram dan orang tua angkatnya baru saja masuk agama Islam.

Kelemahan terletak pada akhir cerita dimana Taram tahan lama menyamar sebagai Syekh yang memakai kumis dan janggut palsu, lama penyamaran tidak terbongkar, padahal sangat mungkin cepat ketahuan misalnya dari postur dan suara. Sedangkan terjemahan ke dalam bahasa Sunda oleh Moh. Ambri dalam buku itu sama sekali tidak disebutkan judul  buku asalnya meskipun memang penulis aslinya disebutkan.

Kebaikan buku ini adalah seperti kata Duduh Durahman, bahwa Moh. Ambri telah berhasil memindahkan suasana “asing” kepada suasana yang kena dengan rasa orang Sunda, sambil “keasingannya” masih tetap utuh.

Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh remaja hingga tua, untuk mengenal budaya lain pada zaman dahulu, bagi pemula berkenalan dengan pengarang sastrawan bermutu Angkatan Balai Pustaka.

Sukreni Gadis Bali

Cover Buku Sukreni Gadis BaliPenulis: A.A. Panji Tisna, Penerbit: Balai Pustaka, Sampul: Soft cover, Cetakan ke: 22, Jenis kertas: HVS, tebal  100 hlm, ilus ; 21 cm, Tahun terbit:  2001, ISBN 979 – 407 – 271 – 0, Harga: Rp 35.000

Buku fiksi ini adalah romantisme percintaan, menceritakan tentang pada saat lampau wanita Bali berada dalam derajat yang rendah, sehingga dapat dipermainkan orang, terutama oleh kaum bangsawan hidung belang.

Meskipun ini cerita lama yang tentunya sangat berbeda dengan zaman kini, akan tetapi menunjukkan kepada kita bagaimana kehidupan roman percintaan dan peradaban di Bali pada suatu masayang berada di tanah air kita.

Buku ini sangat baik dibaca oleh usia remaja yang mulai memupuk kegemaran membaca buku-buku bermutu, baik juga untuk usia dewasa, sampai  juga dibaca oleh  usia tua tetap menarik.

Kisahnya dimulai dengan sebuah kedai milik seorang wanita bernama Men Negara yang digambarkan sebagai wanita yang tidak baik dan sangat mendambakan harta dan kekayaan dengan jalan tidak jujur. Karena daya tarik putrinya yang hitam manis warung tersebut menjadi ramai dikunjungi para pemuda yang menaksirnya. Pada suatu hari Men Negara kedatangan tamu bernama Sukreni yang disertai pengantarnya. Sukreni  datang ke kedai tersebut mencari seseorang barnama I da Gde Swamba, seorang pemuda  pengawas kebun kelapa,  Sukreni adalah seorang gadis yang digambarkan sangat cantik.

Kecantikan Sukreni menarik hati seorang lelaki bernama I Gusti Made Tusan seorang Mantri polisi yang juga seorang bangsawan. I Gusti Made Tusan adalah seorang buaya darat yang asalnya mencintai Men Negeri, cintanya tak terbalas karena Men Negeri lebih mencintai Ida Gde Swamba sang pengawas kebun kelapa, yang belakangan dicari oleh Sukreni.

Saking tertariknya oleh kecantikan Sukreni, I Gusti Made Tusan berniat buruk dan meminta bantuan kepada Men Negara untuk mencarikan akal agar nafsu berahinya kepada gadis rupawan itu terlaksana dengan menjanjikan uang yang banyak untuk Men Negara.

Pada suatu hari Sukreni datang kembali ke kedai Men Negara untuk bertemu dengan Ida Gde Swamba, tetapi karena pemuda itu tidak sedang berada di situ maka oleh Men Negara dianjurkan untuk menunggu di kedai tersebut dengan bermalam. Persekongkolan antara durjana Men Negara karena ingin mendapatkan hadiah uang, I Gusti Made Tusan sang buaya yang ingin menyalurkan hasrat nafsunya, kemudian rasa cemburu Men Negeri yang merasa terkalahkan kecantikannya dan karena dia juga mencintai pemuda Ida Gde Swamba yang dicari-cari oleh Sukreni itu.

Cerita pilu Sukreni gadis suci dimulai dari sini, malam jahanam itu terjadi dimana I Gusti Made Tusan berhasil memperkosa Sukreni. Malam itu juga Sukreni menghilang. Kisah “Sukreni Gadis Bali” diselesaikan oleh penulis Pujangga Baru A.A. Panji Tisna dengan baik, semua yang jahat dan bersalah mendapatkan hukuman dari Hyang Widi Wasa. Men Negara yang merasa berdosa karena ternyata Sukreni yang dicelakakannya adalah anaknya sendiri dimana masa silam ditinggalkannya di kampung halamannya, akhirnya Men Negara menjadi gila.

Ada beberapa hal yang menarik dalam membaca buku ini, pertama oleh Penulis kita dibawa ke zaman dahulu di Pulau Bali. Kedua memberi tahu kepada kita bahwa bagaimana seorang ibu mendidik kepada anaknya tentang hal-hal yang tidak baik, yang akibatnya membawa sengsara. Ketiganya . bagaimana A.A. Panji Tisna menggambarkan kecantikan seseorang gadis Sukreni, sehingga kita seolah melihat gadis yang sangat molek itu.

Berikut adalah meskipun cerita ini adalah cerita fiksi tapi dalam beberapa hal yang diceritakan bisa betul-betul terjadi, seperti bahwa penyembelihan hewan keperluan sendiri dalam hal ini penyembelihan babi  harus mendapatkan izin dari aparat. Bahwa terhukum karena perbuatan salahnya dipekerjakan di kegiatan kebersihan kota. Sedikit yang tersembunyi bahwa petugas kebersihan lingkungan membuang sampahnya ke kali, hal yang saat ini dilarang tapi masih tetap saja dilakukan.

Unsur intrinsik buku, tema buku ini adalah tentang roman percintaan, alurnya baik, seting cerita menarik, amanat yang kita dapatkan sebagai pembaca adalah bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan dan kebahagiaan, sedangkan kejahatan akan mendapatkan akibatnya selagi masih hidup di dunia ini.

Kelemahan buku ini karena menceritakan masa lampau, sebutlah roman percintaan masa lampau, banyak hal yang sangat jauh berbeda dengan zaman sekarang yang serba praktis, semisal saat cerita itu dibuat belum ada alat-alat komunikasi secanggih saat ini. Jadi kemungkinan saja pembaca muda remaja akan mengerenyutkan kening ketika membacanya. Selanjutnya tokoh Sukreni sejak terjadi peristiwa keji pemerkosaan tidak dimunculkan lagi, tidak biberi kesempatan oleh penulis untuk bicara, sehingga pembaca bertanya-tanya apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Meskipun pembaca mengharapkan Sukreni akan happy ending berjodoh dengan Ida Gde Swamba, tapi hal itu tidak terjadi.

Kelebihan buku ini sangat nudah dipahami, bercerita tentang moral yang baik dan perilaku yang jahat tidak bias dicampur aduk, wawasan pembaca bertambah dengan seting zaman dahulu di Bali, menginspirasi kita untuk mempelajari lebih jauh tentang suatu budaya hususnya budaya Bali.

Kesimpulan: Sudah disebutkan bahwa buku ini sangat menarik, menginspirasi, mendidik, apalagi ditulis oleh pengarang kenamaan pada masanya Pujangga Baru yakni A.A. Panji Tisna. Terutama sangat baik dibaca oleh paraa remaja yang sedang memupuk kebiasaan baik yakni membaca buku khususnya buku fiksi bermutu