Persiapan Keluarga Menyambut Tahun Baru 2012

Aku tidak akan mengupas masalah mengapa tahun baru harus dirayakan atau disambut dengan penuh kebahagiaan. Itu adanya di pikiran kita masing-masing, kala aku di kampung dulu bukan hanya tahun baru yang tidak pernah dianggap istimewa, tapi hari ulang tahun sendiri pun tidak ingat, apalagi diperingatkan atau diperingati orang lain, tapi itu sekali lagi dahulu zaman aku masih kecil dan tinggal di kampung.

Kini, anak-anak muda beda, menyambut tahun baru dengan penuh suka cita, demikian juga seperti dua tahun yang lalu, kali ini anak dan cucuku sepakat untuk merayakan pergantian tahun baru 2011 ke 2012 di rumahku di Bandung. Alasannya adalah sambil liburan anak-anak, terus biasanya pada mengambil panjar cuti barang satu atau dua hari. Disamping itu, hitung-hitung isirahat dari kesibukan hari-hari sibuk bekerja,  tempatnya di rumah orang tua. No problem, it’s good.

Tentu saja menyambut kedatangan mereka yaitu anak cucuku perlu dipersiapkan dengan baik. Misalnya untuk menyiapkan dua keluarga dengan dua asisten (hehehe maksudnya pembantu) perlu persiapan kamar tidurnya. Keluarga si sulung di kamar mana, keluarga si nomor dua dimana, terus satu lagi  yang masih bujangan di mana. Ini semua perlu tenaga ekstra membersihkan kamar, menyulap mushala jadi kamar tidur, dan gelar karpet di tengah rumah. Menarik meja kursi ke pinggir, lalu menciptakan lapangan bola mini yang kelak dipakai pertandingan.

Demikian juga yang pertama dan utama pada setiap gempungan, pertemuan, silaturahmi, adalah persiapan makanan. Makanan yang disiapkan adalah makanan yang disukai bersama termasuk juga makanan yang disukai cucu-cucuku yang masih pada duduk di TK dan SD. Istri kala merencanakan makanan meskipun sudah rutin tapi tetap mengabsen satu demi satu makanan yang akan disuguhkan selama perhelatan (wah saya berlebihan ya?). Kami suami istri sudah komit kalau salah seorang punya ide jangan cepat-cepat disanggah, karena itu lewat pemikiran, rencana, dan bahkan he he he  renungan.. pembiayaannya. Makanya ketika dia mengatakan daftar makanan yang agak panjang saya meng-ia-kan dengan khusuk.

Mulai dari “soto ayam tambah prekedel” katanya, “iya” jawab saya. “sayur kacang merah makannya bersama pindang tongkol masak cabe”, “okey”, “spaghetti”, “setuju”, “hamburger”, “ikutan”, “Aki membeli mpek empek”, “hah? tapi acc lah”, “Aki juga membeli bakso tahu dan siomay”, siap komandan!”. “

Tambah satu lagi, karena ada mantu yang senang masakan tulang ikan asin (masih ada dagingnya) dimasak cabe asam manis, juga dibuatkan. Eh terlewat pepes ikan patin, itu mah kesukaan Aki atuh! Termasuk buah-buahan, karena ada cucu yang senang makan buah-buahan “Aki jangan lupa membeli salak, manggis, jeruk”, “beres!”, kalau rambutan memetik sendiri di pohon kebetulan sedang berbuah.

Okey persiapan sudah matang everything is okey, jangan lupa hari Minggunya cucu sudah pesan mau naik kuda bersama Aki, beres lah!

Demikian persiapan kenduri menyambut tahun baru di keluargaku sudah ready, biasanya pengalaman dua tahun lalu pada saatnya menunggu datangnya tahun baru dari sejak sore di rumah sudah seperti kapal pecah, para cucu bermain kejar-kejaran, sudah berkumpul bersama di depan TV sambil  lesehan, bahkan tiduran di karpet. Dan, seperti kejadian dua tahun yang lalu itu menjelang jam 12:00 biasanya satu demi satu baik anak dan mantu demikian juga cucu “tewas” duluan dan TV nyala sendirian menonton yang tidur. Ketika aku terbangun dini hari (karena ikut tertidur kelelahan persiapan), kelihatan bergelatakan kurban kantuk bak di lapangan kurusetra ketika bharatayudha.

Hari ini masih hari Jumat, sore ini anak dan cucu akan berdatangan, aku dan istri menunggu dengan penuh rasa bahagia.

Advertisements

Hilangnya Estetika Bangunan Tua

Tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya, nah itulah kata kamus mengenai estetika. Aku tengah menulis soal bangunan cagar budaya yang ada di kota Bandung. Bandung sudah punya perda yakni “Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor: 19 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya”, bahkan pada perda tersebut dilampirkan 99 bangunan cagar budaya.

Demikian juga Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, di situs nya didapatkan “Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997” sebanyak 420 alamat atau lokasi bangunan cagar budaya. Heritage dari kamus adalah something that is passed down from preceding generations; a tradition. Juga aku dapat informasi dari internet dengan format pdf yakni “Daftar Kawasan Dan Bangunan Cagar Budaya Di Kota Bandung” di sini lengkap dengan gambarnya.

Dalam rangka mengembangkan hobiku, hah hobi? Hobi adalah kegemaran, atau kesenangan pada waktu senggang. Hobi baruku tersebut adalah menelusuri bangunan tua di Kota Bandung. Hobi baruku ini bukan pekerjaan utama karena pekerjaan utamaku adalah pensiunan, pensiunan apa pekerjaan ya? Setidaknya itulah kata untuk mengisi status pekerjaan di KTP.

Pada bulan November dan Desember 2011 hobi dadakanku yaitu menelusuri bangunan tua di Kota Bandung ini sudah dimulai yakni dengan cara mendatangi  lokasi lalu memotret satu per satu bangunan yang disebut pada inventaris itu. Ternyata bukan pekerjaan gampang, sampai dengan saat ini belum ada 50 bangunan cagar budaya yang sudah bisa dilihat dan dipotret.

Kembali ke estetika, dalam pikiran aku bangunan tua itu selain menorehkan sejarah, lamanya bangunan, arsitektur yang unik, penanda kota (landmark), juga estetika atau keindahannya, dan keindahan berhubungan dengan pemeliharaan dan yang paling klasik adalah berhubungan dengan dana dan sekali lagi maintenance bangunan harus disemangati oleh rasa keindahan khususnya dari pengelola atau pemiliknya.

Bangunan Cagar budaya di Kota Bandung memang banyak yang terpelihara dengan baik terutama yang dikelola atau dimiliki oleh instansi pemerintahan hususnya yang dimiliki oleh instansi militer, bank, atau hotel. Di lain pihak pada kenyataan banyak bangunan cagar budaya di kota Bandung tersebut yang tidak terurus bahkan rusak sama sekali.

Untuk menampilkan keindahan banguna tua, biar bisa dinikmati oleh warga atau pengunjung, setidaknya bangunan tersebut harus terbuka sederhananya bisa terlihat jelas dari jalan.

Beberapa hal yang menghalangi bahkan menutupi  pemandangan terhadap bangunan tua tersebut adalah misalnya bangunan terhalangi oleh pagar yang demikian tinggi, terhalangi oleh pemasangan billboard sehingga bangunan hampir tidak kelihatan. Terus juga pemasangan plang nama bangunan atau gedung yang terlalu besar akan menghalangi keindahannya, lalu juga terhalangi oleh terparkirnya bus-bus wisata yang diletakkan berjejer menghalangi bangunan.

Ada lagi, penanaman pepohonan yang rindang dan besar di depan bangunan otomatis menghalangi pemandangan. Selain itu juga banyaknya PKL yang berjualan di depan bangunan yang cenderung membawa kumuh lingkungan, terahir adalah padatnya lalu lintas dengan kendaraan yang lewat mau tidak mau menghalangi pemandangan terhadap bangunan tersebut.

Semoga kedepan bangunan tua tetap terpelihara agar bisa dinikmati dan dikagumi keindahannya lebih lama lagi oleh generasi-benerasi mendatang.

Mencari Lokasi Hotel Wilhelmina Di Jalan Braga Bandung

Zaman kolonial Belanda hotel ini dinamai Hotel Wilhelmina, lalu tahun 50-an berubah menjadi Hotel Braga. Hotel ini terkenal dan banyak tamunya, bukan karena besar dan bergensi seperti Savoy Hotel Homann atau sebelah timurnya Hotel Preanger, akan tetapi karena letaknya yang strategis persis di wilayah tempat shoping pertokoan jalan Braga.

Foto dari Buku Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi

Hotel Wilhelmina pada tahun 1946 sempat dikunjungi Lord Louis Mountbatten kakek Pangeran Charles Putra mahkota Kerajaan Inggris.

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage), Tahun 1997 Hotel ini dicatatkan sebagai bangunan cagar budaya. Nama bangunan: Hotel Braga, Lokasi: Jl Braga 8, Fungsi: Hotel Wilhelmina , Arsitek: belum diketahui,Tahun pembuatan: 1928-1931, Kelas: B.

Dalam pikiran aku, rasanya pada tahun 80-an awal, aku pernah datang ke hotel Braga ini, saat itu datang untuk mengunjungi salah seorang kakak yang kebetulan menginap di hotel ini. Tapi aku kok lupa di jalan Braga itu letaknya di sebelah mana, membuat aku penasaran. Sejak itu aku ingin mencari sendiri dengan pasti dimana tempat dan raratana hotel tersebut.

Suatu saat lewat di lokasi yang aku bayangkan bahwa letaknya di sana, tapi maklum sambil mengemudi mobil jadinya tidak leluasa mencari karena kawasan Braga ini terkenal demikian padat dengan lalu lintas kendaraan. Nah, kalau begitu aku harus mempunyai waktu khusus dan jangan naik mobil karena susah mencari tempat parkir, harus sengaja berjalan kaki.

Akhirnya rencana tersebut kesampaian juga, aku berjalan-jalan di kawasan jalan Braga pendek (awal jalan Braga). Mengira-ngira lokasinya bahwa di sebelah kiri ada Museum Asia Afrika, terus sebelah kanan ada Apotek Kimia Farma, terus ada gedung bioskop Majestic. Nah, di depan gedung Majestic atau disamping Apotek Kimia Farma tersebut seharusnya letak Hotel Braga itu, tapi dimana? Sepertinya Hotel Braga tidak ada dan menghilang, aku seperti katalimbung tidak mengenal lingkungan alias lost orientation.

Hotel Wilhelmina dibelakang rimbunnya pagar tanaman

Setelah saya bismillah dan sambil ngagibrigkeun kepala, dan melihat ke seberang gedung bioskop Majestic,  baru ingatan saya terbuka pasti gedung hotel Braga itu berada dibalik rumpun pagar pepohonan itu. Tapi bagaimana melihatnya? Terpaksa aku, aki-aki 65 tahun, memanjat pohon, dan.. betul saja bangunan Hotel Wihelmina atau Hotel Braga itu ada di belakang rumpun pepohonan tersebut. Kelihatan tiga bangunan inti dari hotel tersebut, kemudian seperti biasa aku buat beberapa jepretan foto, seperti dibawah ini:

Bangunan utama hotel wilhelmina

Bangunan kedua Hotel wilhelmina

Bangunan ketiga Hotel Wilhelmina

Eh, ternyata di sebelah sono, di samping bekas bangunan gedung Sarinah, ada pintu gapura darurat terbuat dari seng yang terbuka dan seseorang masuk ke dalam, tanpa pikir panjang saya segera turun dari pohon dan secepat kilat masuk ke lokasi hotel,  dan secepat itu pula saya mengambil beberapa foto, maklum takut kehilangan momen terbaik. Selanjutnya karena saya pikir kondisinya aman, maka saya berdiri di halaman hotel tersebut sambil membayangkan saat LL Mountbatten dari kerajaan Inggris ketika  menyalami pasukan Belanda yang tergabung dalam tentara sekutu.

Foto dari Buku Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi

Hotel Wilhelmina saat ini Desember 2011

Selidik punya selidik berdasarkan pengamatan sesaat bahwa sudah demikian lama hotel Braga ini tidak digunakan. Kelihatan pada  saat aku meninjau ke lokasi keadaan hotel tidak begitu terurus seperti rumah tak berpenghuni. Beberapa orang kelihatan sedang bekerja tapi mengerjakan apa tidak tahu. Aku berpendapat bahwa karena di belakang bangunan hotel  Braga tersebut ada lapangan yang luas kemungkinan besar akan dibuatkan bangunan gedung sedang bagian depannya tetap seperti Hotel Braga atau hotel Wilhelmina.

Demikian cerita mencari lokasi Hotel Wilhelmina yang sempat hilang dalam memori ingatanku.

 

Surprise Dari WordPress

Kemarin, tanggal 23 Desember 2011, ketika saya sebagaimana biasa rutin membuka WordPress.com, tampilan halaman pertama, sebagaimana diseting, langsung ke  “Freshly Pressed” dimana akan ditemukan blog-blog pilihan (entah bagaimana kriterianya) yang ditulis dalam bahasa Inggris, demikian juga penulisnya orang sono.

Meski dalam bahasa Inggris dan saya tidak begitu happy membacanya akan tapi selewat, yang judulnya menarik, dibaca sepintas. Ceritanya soal di luar negeri yang kadang umumnya cerita yang tidak begitu nyambung dengan tradisi dan budaya kita. Penampilan blog-blog bahasa Inggris terus berlanjut sejak saya gabung dengan WordPress sekitar tahun 2010, perasaan belum pernah ada blog yang ditulis dalam bahasa lain, bisa dimaklumi memang, karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional.

Eh, ndilalah, kejutan ketika tadi malam tanggal 24 Desember 2011 sekitar jam 02.00 AM, saya membuka WordPress lagi dan tetap langsung ke halaman “Freshly Pressed” akan tetapi, setelah login, ini yang surprise, ada 19 blog ditulis dalam bahasa Indonesia dan sepertinya yang menulis adalah orang Indonesia, apa ada yang dari Malaysia ya? Saya juga tidak tahu bagaimana kriterianya blog berbahasa Indonesia bisa tampil di sana.

Tentu saja saya senang dengan dilipihkan blog-blog berbahasa Indonesia, walau kali ini kebanyakan mengenai speda motor. Ada blog yang cukup menarik yakni blog dalam bahasa Indonesia itu, saya sempatan membaca Video dan Foto tragedi Mesuji Lampung yang sungguh mengenaskan,  sampai begitunya bangsa kita.

Membaca blog berbahasa Indonesia dan penulisnya orang Indonesian ada perasaan  happy dalam membacanya dan yang penting mengerti 100%. Harapan semoga dilanjutkan terus oleh WordPress, kalaupun tidak cukup setidaknya diselingi berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia.

Untuk itu diucapkan terima kasih kepada Wordapress.

Better Late than Never “I Love You Istriku”

Saya ingin berterus terang bahwa saya ini termasuk pria yang tidak romantis, tidak tahu mengapa apakah pendidikan sejak kecil atau pengaruh lingkungan masa saya dibesarkan, jelasnya  tidak pernah menyatakan baik dengan kata maupun dengan tulisan kata-kata cinta. Kalau dengan hati dan perbuatan tentu saja diekspresikan  bahwa saya mempunyai rasa cinta. Saat sebelum menikah dan selama dalam ikatan pernikahan terhadap istri saya hampir lupa kapan saya mngucapkan kata cinta. Lagi pacaran juga rasanya tidak pernah, hanya harapan mudah-mudahan dimaklumi saja bahwa saya mencintainya.

Bersamaan dengan bertambahnya umur dan pengalaman hidup demikian juga pengalaman berumah tangga apalagi setelah mempunyai anak perempuan saya semakin sadar bahwa ternyata demikian besar peran perempuan dalam mengelola rumah tangga, menyayangi suami, bekerja keras mengurus pekerjaan rumah dari mulai matahari terbit sampai mata suami terpejam (kalimat terakhir diambil dari ucapan salah seorang pembela perempuan).

Persepsi baik saya terhadap perempuan memang sudah saya sadari sedari muda bahwa mereka memang luar biasa dan perlu dihormati. Yang mengilhami saya adalah ajaran agama yang harus menghormati kaum Ibu bahwa sorga ada ditelapak kaki Ibu, terus tentang ajaran nabi bahwa  siapakah yang duluan harus dihormati atau disayangi atau dicintai, nabi sampai menyataka tiga kali bahwa “Ibumu, Ibumu, Ibumu, setelah itu baru ayahmu”.

Terus saya juga tersadarkan ketika memperhatikan anak perempuan saya ternyata perempuan juga berprestasi baik atas pelajaran baik di sekolah atau dimanapun jika diberi kesempatan. Bahkan saya merasa kagum bahwa baik di sekolah maupun di perguruan tinggi predikat juara sering dimenangkan oleh perempuan.

Terus perjalanan hidup semakin panjang, jasa kaum Ibu semakin saya sadari sangat besar, sebagai penghormatan terhadap kaum perempuan, secara pribadi saya tidak pernah terlibat pada pembicaraan, dengan sesama lelaki  dalam membicarakan soal beristri lebih dari satu misalnya.  Pada saat bapak-bapak sering guyon tentang perempuan, biasanya di kantor saat bekerja atau beristirahat, membicarakn  soal poligami, saya tidak begitu tertarik. Biar saja  misalnya disebut atau digolongkan  sebagai komunitas suami takut istri. Karena saya selalu teringat atas Ibu, istri, dan anak saya yang mereka itu perempuan. Bagaimana sedihnya jika Ibu, saudara, bahkan anak perempuan saya dipoligami oleh suaminya, itu pendapat saya.

Berikut saya menyaksikan cucu saya, mereka diajarkan oleh ibunya (mantu) untuk pertama belajar mengucapkan “terima kasih”, juga belajar menyatakan “sayang” jika memang menyayangi seseorang, dalam ukuran anak tentu sayang terhadap Ibu Bapaknya, kepada kakek dan neneknya, bahkan kepada gurunya misalnya. Cucu saya tujuh tahun, kalau berkunjung ke rumah sering menyatakan kepada saya “Aki, aku sayang Aki!” atau kepada istri saya “Aku sayang Ninin!”. Demikian juga adiknya yang berumur 2 tahun meskipun belum lancar bicara mengekspresikan kesayangannya dengan cara membuka kedua tangannya mengajak berpelukan, bahkan tangannya menepuk-nepuk punggung saya.

Kerja keras kaum perempuan atau jelasnya mereka kaum ibu tentu saja patut mendapat penghargaan dan pengakuan dari suaminya dimana mereka “berbakti”, dan itu perlu dengan bahasa lisan utamanya perasaan kasih sayang dan cinta khususnya dari suami.

Pada tanggal 22 Desember 2012, hari itu adalah hari Ibu,  seusai sholat subuh berjamaah hanya berdua, saya pertama mengucapkan “Selamat Hari Ibu, Saya mencintai mu!”. Istri saya membalasnya dengan mengucapkan terima kasih. Kelihatan matanya berbinar, wajahnya sumringah bahagia.

Entah mengapa  perasaan saya demikian plong.

Sepanjang Jalan Ganeca Bandung

Jika Anda merencanakan akan datang ke Kota Bandung jangan lupa untuk lewat di jalan Ganeca, banyak yang bisa dilihat di jalan ini. Pertama tentu di jalan Ganeca no 10 yakni ITB sekolahnya Bung Karno presiden pertama RI, dahulu namanya Koninklijk Institut Vor Hooger Technich Onderwijs dibuat tahun 1920.

Selanjutnya bisa dilihat beberapa bangunan lama yang sudah terdaftar sebagai Bangunan Cagar Budaya Bandung. Atau istirahat sejenak di Masjid Salman disebelahnya ada kantin mahasiswa yang murah banget. Kalau tidak ke Salman istirahat saja di taman Ganeca pepohonan rindang terasa sejuk jika berlama-lama duduk di taman ini.

Jika hari Jumat datang, jangan heran jalan Ganeca ini terutama sekitar Masjid Salman akan menjadi pasar kaget menjaring pembeli sehabis sholat jumat. Terus kalau hari Minggu sebelah sono ada banyak kuda mangkal biasanya untuk anak-anak yang mau naik kuda.

Jalan Ganeca ini juga dekat dengan jalan Dago tempatnya belanja di factory outlet, jalan Dago pada hari Minggu dijadikan hari car free day biasa ada pertunjukan seni di sini. Terus sebelah sono di jalan Tamansari ada Kebun Binatang Bandung. Jadi semakin lengkap yang bisa dinikmati.

Di bawah ini beberapa tempat yang baru-baru ini (Desember 2011) saya buat fotonya:

Rumah Tinggal jln Ganeca no. 5

Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl Ganesa No. 5, Fungsi: Villa, Arsitek: belum diketahui, Tahun: 1925, Kelas: A

Rumah di atas ini termasuk hasil inventarisasi Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) tahun 1997, termasuk jugabangunan-bangunan di bawah ini

Mess Puslitbang, jln Ganeca no. 6

Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl Ganesa No. 6, Fungsi: Villa, Arsitek: belum diketahui, Tahun: 1925, Kelas: A

Kantor Pos ITB, jln Ganeca no. 15

Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl Ganesa No. 15, Fungsi: Villa, Arsitek: belum diketahui, Tahun: 1922, Kelas: A

LPM Jln Ganeca no. 17

Pintu masuk kompleks ITB

Bangunan lamanya ada di dalam sana. Nama Bangunan: Institut Teknologi Bandung, Lokasi: Jl Ganesa No. 10, Fungsi: Koninklijk Institut Vor Hooger Technich Onderwijs, Arsitek: Maclaine Pont, Tahun: 1920, Kelas: A

Asrinya Taman Ganeca

Hijaunya Taman Ganeca

Nah, selamat berlibur!

Taman Maluku di Kota Bandung

Taman Maluku koleksi Sudarsono Katam & Lulus Abadi

Ketika saya membuka buku “Album Bandung Tempo Doeloe” karya Sudarsono Katam & Lulus Abadi terdapat uraian mengenai taman dan lahan terbuka di Kota Bandung.

Salah satu taman itu namanya, pada saat zaman kolonial, disebut Molukkenpark yang selanjutnya disebut Taman Maluku. Kemudian saya jadi teringat pada tahun 1964 sewaktu saya masih sekolah menengah. Saya sering lewat di taman ini karena memang jajalaneun kalau pulang pergi sekolah. Sering singgah di taman ini hanya untuk membaca atau menghapal pelajaran maklum di rumah banyak keponakan karena saya tinggal bersama salah seorang kakak.

Karena saya tidak punya foto Taman Maluku pada tahun 1964 jadi tidak bisa menunjukan bagaimana keadaan taman itu pada tahun tersebut. Namun di buku yang saya baca tersebut ada foto tahun 1938 yang menurut saya tidak banyak berubah dengan apa yang saya lihat pada tahun 1964.  Seperti foto terlampir di atas.

Empat puluh tujuh tahun kemudian, saya sangat ingin bernostalgia duduk sesaat di taman tersebut syukur sambil membaca dan mengenang masa lalu, terutama saat itu di jalan Saparua, disamping Taman Maluku, ada tukang mie kocok yang perasaan pada saat itu mie kocoknya rasanya enaaak sekali. Mie kocok adalah mie kuah yang tidak ada baksonya akan tetapi penuh dengan kulit kaki sapi yang gurih dan empuk. Walah.. menghapalnya sedikit malah kenyang dengan mie kocok.

Pintu masuk taman dikunci digembok rapat

Maka ketika ada kesempatan, pada bulan Desember 2011 ini saya sengaja datang ke Taman Maluku ini. Akan tetapi saya lumayan agak kecewa karena taman Maluku yang berada diantara jln Sulawesi, jln Ambon, jln Saparua, dan jln Aceh ini dipagar rapat setinggi kurang lebih 2 meter dan ada tiga pintu masuk namun digembok dikunci rapat.

Kemudian saya hanya bisa melihat dari luar dan terus berkeliling taman yang luasnya 6.000 meter persegi sambil memotretnya. Mengapa taman yang tadinya terbuka jadi dipagar setinggi itu, alasannya  adalah “selain demi estetika kota dan revitalisasi Taman Maluku bertujuan untuk menghilangkan praktik asusila yang kerap terjadi di taman tersebut. Oleh karena itu, pagar setinggi 2,5 meter itu dipasang rapat dan tanpa tiang palang sehingga menyulitkan orang untuk meloncatinya.

Selama ini, area taman tersebut juga kerap dijadikan tempat tinggal para tunawisma. Menurut Mustofa, di arena taman terdapat belasan tunawisma yang setiap hari tidur dan bertempat tinggal.”Nanti, kalau sudah dipugar dan dikunci pagarnya, mereka tidak bisa lagi tinggal di taman,” ujarnya.” Demikian dikutip dari koran Bandung.

Saat ini bulan Desember tahun 2011, karena dikunci dengan gembok, pengujung tidak bisa masuk juga dengan sendirinya tidak ada lagi kaum tuna susila juga tidak kelihatan para tuna wisma. Taman kelihatan lebih rimbun dengan pohon-pohon yang sudah menjulang tinggi, sejuk dan semakin enak kalau duduk-duduk di Taman ini sambil.. makan mie kocok.

Inilah foto-foto yang saya buat dijepret dari luar pagar:

Taman Maluku dengan kolamnya

Taman Maluku dengan pepohonan yang sudah menjulang tinggi

Taman Maluku ada jembatan dan saluran air yang rapi

Patung Pastor Verbraak penungu Taman Maluku, kesepian tanpa pengunjung

Disatu sisi memang Taman Maluku jadi terpelihara keindahannya, bersih tidak ada sampah plastik, tidak ada PSK, tidak ada para tuna wisma, akan tetapi di sisi lain taman tidak berfungsi maksimal karena pengunjung tidak boleh masuk. Oleh karena itu kepada pemerintah daerah saya usulkan:

  1. Tolong taman ini segera dibuka untuk umum dan tentu saja harus ada penjaganya agar tidak dipakai hal-hal negatif.
  2. Dan jika memungkinkan tolooooong kembalikan tukang mie kocok, karena ketika saya lewat jalan Saparua angkringan mie kocok sudah tidak ada bekasnya lagi, he he he..