Wisata Bersama Bocah di Sumatra Barat

Sewaktu masih muda umurku sekitar 32 tahun, he he sekarang 67 tahun, tua banget dan cerita lama banget… saya beserta keluarga karena pekerjaan merantau ke Kalimantan Timur, padahal saya orang Bandung. Tahun 1978 orang tua saya bilang: “Mau mencari apa jauh-jauh amat?”. Saat itu ungkapan mangan ora mangan ngumpul, meskipun berbahasa Jawa berlaku juga buat orang Sunda yang artinya “makan tidak makan yang penting berkumpul”. Saya, karena pekerjaan sekali lagi, maksa. Menyedihkan memang saat kedua orang tua meninggal, saya selalu datang terlambat hanya melihat pusara dengan tanah yang masih merah.

Oh, saya melantur kalau cerita bisa kesana kemari, dan untuk itu istri saya selalu protes, karena pertama melantur itu, dan keduanya mulainya terlalu jauh seperti permulaan cerita ini. Nah, jika cuti tahunan dari pekerjaan, kebetulan dibelikan tiket pesawat pp, dan juga bekal uang cuti, kami tidak langsung ke Bandung, tapi berwisata dahulu di tanah air, membawa anak-anak yang kala itu masih usia sekolah SD. maksudnya agar anak-anak banyak pengetahuan dan pengalaman. Dan saat ini tahun 2013, anak saya yang kala itu masih sekolah di SD, telah dewasa telah menikah dan telah memberikan cucu-cucu kepada saya.

Itu peristiwa wisata keluarga 30 tahunan yang lalu, saat ini bulan Agustus 2013 terulang kembali, tapi anggota keluarga bukan hanya 5 orang sekarang sudah menjadi 11 orang, karena ditambah mantu dan cucu, bahkan sudah jadi 12 orang karena tambah mantu satu lagi. Tujuan yang akan saya ceritakan adalah wisata ke Bukittinggi dan Padang, dalam rangka pernikahan anak bungsu saya.

Kata orang jika ingin kebebasan berwisata yang sesungguhnya adalah bepergian sendirian, kemana pergi mengikuti kemauan kaki melangkah, tidak ada yang protes, tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang rewel berbeda kemauan. Sepertinya iya begitu tetapi bagi saya kalau boleh memilih enakan rame-rame dengan keluarga, sambil menerapkan pendidikan ke anak cucu, contoh-contoh mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak. Soal direcokin cucu itu biasa, dan he he he kan ada kedua orang tuanya.

Wisata keluarga kali ini selama lima hari itu juga harus punya persiapan yang matang utamanya disesuaikan dengan kebutuhan bocah-bocah itu dari pakaian, makanan, penginapan, dan juga tempat rekreasi harus ditambahkan dan disesuaikan dengan selera anak-anak. Malahan akhirnya wisata orang tua nebeng kepada pikniknya anak-anak. Dunia piknik anak-anak harus dilengkapi dengan kolam renang, arena bermain anak, dan ke mall. Demikian juga makanan jangan lupa KFC, Pizza, McD, ice cream, dan jajanan warung kesukaannya, anak-anak mana suka makanan RM Padang yang serba pedas yang sebaliknya dengan orang tua menyukai sambal hijau dan merah dengan daun singkong, ayam pop, dan daging rendang mana boleh terlewat.

Demikian namanya juga anak-anak, ketika sudah matang merencanakan pergi melihat-lihat Jam Gadang dan Ngarai Sianok, malahan pagi-pagi sukar bangun dan apabila sudah bangun ngotot ingin main game dahulu. Orang tua mau melihat danau Maninjau anak-anak mogok ingin membeli mainan sekitar jam Gadang, wah kalau tidak pandai-pandai merayunya bakalan banyak acara wisata terlewat. Melihat itu saya senyum sendiri, karena ketika anak saya kecil dahulu perilakunya tidak jauh berbeda dengan cucuku saat ini.

Ketika segala urusan telah kelar, liburan telah lekasan, sampailah saatnya pulang, badan terasa sudah loyo, mata mengantuk, tulang-tulang terasa remuk redam, dan pegal segala persendian, baru juga terlelap sesaat di pesawat, karena cucu saya senang sekali bertanya yang aneh-aneh, sebagai kakek gengsi dong kalau tidak tahu seluk beluk pesawat terbang. Terdengar sorakan cucu bahwa pesawat akan mendarat di Cengkareng.

Sekian dahulu…

Meresmikan Tali Kasih di Bukittinggi

Sampai usia pensiun yakni 55 tahun saya belum pernah menginjak tanah Sumatra, padahal cita-citanya sebelum tua renta, selagi masih kuat dan sehat, sangat ingin datang ke sana. Suatu kali pernah akan diajak anak cikal ke Palembang diajak menikmati makanan khasnya pekmpek, tapi ternyata tidak terlaksana. Demikian juga mantu pernah mengajak ke seberang saja ke kota Lampung, sekedar ada cerita pernah datang ke Pulau Andalas, eh gagal juga. Akhirnya hampir putus asa (padahal jangan berputus asa, sebab putus asa adalah dosa!) karena usia terus merayap sampai berumur 67 tahun belum juga ada kesempatan ke sana.

Milik teu pahili-hili, bagja teu paala-ala, demikian peribahasa Sunda menyebutkan bahwa artinya rizki tidak akan tertukar, kalau sudah kepastiannya begitu, ya terjadilah. Asal mulanya anak bungsu lelaki saya yang masih bujangan tertarik kepada seorang gadis asal Bukittinggi. Demikian kuatnya rasa cinta, tingginya tarikan kasih, sampai kepada keinginan membuktikan tali kasih itu menjadi sebuah tali pernikahan. Seiring berjalannya waktu ternyata jalan ke arah perkawinan semakin mendekati kenyataan. Kami sebagai orang tua setelah melihat bahwa anak saya demikian menyayangi dan mencintai anak daro dari rantau, anak Minang, dan sekali lagi putri dari Bukittinggi. Akhirnya kedua orang tua sepakat untuk menikahkannya di Sumatra Barat, di Ranah Minang, di pangkuan bundo kanduang, di tingginya perbukitan Bukittinggi.

Dan… akhirnya, tariknya jodoh yang dicanangkan oleh yang empunya penentu nasib, dua insan, satu lelaki dari tanah Sunda dan satu lagi anak daro cantik asal Bukittinggi ketemu di akad nikah, bersanding di pelaminan. Kami sadulur dari Bandung, dan pihak besan serta ninik mamak dari Ranah Minang turut bersyukur dan berbahagia atas pernikahan anak-anak kami tersebut.

Saya beserta istri ditambah anak dan mantu, ditambah lagi cucu empat total sebelas orang dari jauh sebelumnya telah booking tiket pesawat dari JKT – PDG pp. Kemudian peserta menjadi bertambah banyak karena beberapa saudara dan juga keluarga besan dari si cikal turut serta, sehingga total jendral 25 orang. Saya sangat terharu karena mereka termasuk keluarga anak-anak saya datang dengan mengeluarkan biaya sendiri. Tak disangka penerimaan besan di Bukittinggi juga demikian senang atas kedatangan kami. “Serasa banyak yang menyetujui dan banyak yang merestui” kata pihak besan, ketika saya memohon maaf atas banyaknya anggota yang datang, karena batin saya pribumi akan kerepotan karena ternyata pribumi sering sekali menjamu makan, maklum lima hari begitu…

Kami pihak pria telah menyerahkan segala acara yang akan dilalui sepanjang akad dan resepsinya kepada pemangku hajat yaitu pihak wanita. Ciri sabumi cara sadesa, yang artinya setiap tempat punya tradisi sendiri, atau dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tentu memang masing-masing mempunyai budaya sendiri-sendiri. Tapi insya allah mereka terutama pengantin baru dapat membina rumah tangga yang diridhai Allah SWT penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan harus dicari dan diperjuangkan, bahkan mungkin pengorbanan perasaan dan ego masing-masing, insya allah sekali lagi kebahagiaan akan datang.

So… saya aki-aki tujuh mulud hejo cokor badag sambel, pasti banyak yang tidak mengerti artinya, tentu saja saya juga tidak begitu faham maksudnya. Hanya akhirnya sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, saya dengan bangga memproklamirkan bahwa saya telah pernah menginjakan kaki di Pulau Sumatra, dan bukan main-main di tanah sejuk nan paginya berembun, tanah berbukit dan bertebing, tanah elok tak terperi di Bukuttinggi.

Sekian dahulu…

Ukuran Sopan Santun

Anak sulung saya beserta kelurganya tinggal di Jakarta, sedangkan anak nomor dua dengan kelurganya memilih tinggal di Bandung.

Ketika saya menengok cucu yang di Jakarta itu kelas 2 SD, keberatan jika Akinya yaitu saya, yang coba-coba berbicare ala Jakarte. Saya menyebutkan diri saya “gue” hanya iseng-iseng dengan istri.
“Mamah Aki bilang “gue”!” Laporan kepada ibunya. Saya baru tahu bahwa menyebutkan diri dengan “gue” bagi anak-anak dianggap tidak sopan.

Lain kali, cucu yang di Jakarta itu berkunjung ke Bandung dan bertemu dengan cucu saya yang urang Bandung banget kelas 3 SD. Nampaknya cucu yang orang Jakarte biasa sekali menyebutkan nama temannya atau adiknya didahului dengan panggilan “Si”
Giliran cucu, yang saya sebut orang Bandung itu, lapor kepada ibunya: “Mamah Dafif memanggil orang pakai “Si”!”
Saya hanya tersenyum.

Sewaktu masih muda, karena pekerjaan, saya merantau dan tinggal sekeluarga cukup lama di Kalimantan Timur. Kebetulan kakak laki-laki ikut serta ke sana. Suatu saat dia mengemukakan kekesalannya hanya karena rekan sekerjanya yang seumur memanggil dia dengan sebutan “kamu”.
Kamu dalam bahasa Sunda adalah maneh atau sia. Dan itu menurutnya kasar sekali.

Apa sih kesopanan itu, menurut KBBI adalah adat sopan santun, tingkah laku tutur kata yang baik, tata krama. Meski dengan catatan bangsa-bangsa di dunia mempunyai nilai kesopanan yang berbeda-beda.

Bahasa Sunda Banten, bahasa yang dipakai adalah ragam bahasa yang sama. Sama dalam arti tidak mengenal undak-usuk bahasa seperti bahasa Sunda Priangan termasuk Bandung, atau apalagi bahasa Jawa. Bahasa yang sama, kaprah, setara, tidak mengenal tingkatan-tingkatan kata bahasa asing disebut egaliter (Ki Hasan). Bukan hanya bahasa Banten yang bangga dengan bahasa yang bersifat egaliter, dan demokratis juga budaya Minangkabau. Bahasa sangat besar pengaruhnya pada budaya. Orang Minang bahwa bahasa mereka adalah bahasa yang egaliter, demokratis, dan tidak feodalis.

Bahasa minang hampir sama dengan bahasa Melayu yang punya sipat egaliter. Kita bangsa Indonesia beruntung para pendiri negeri ini memilih bahasa Indonesia yang egaliter dan tidak feodalis.

Posted from WordPress for Android

Merdeka!

Hari ini tanggal 17 Agustus 2013, jadi sudah 68 tahun Indonesia merdeka. Mari kita pertahankan kemerdekaan itu. Saya ingi menempelkan gambar yang sangat heroik dan terus terang meremang bulu kuduk

Poster Proklamasi

Foto diambil dari buku “Bandung Lautan Api” oleh Wildan Insan Fauzi

Lihat sekeliling poster demikian miskinnya kita saat itu, tapi dengan lantang “Every Foreign Domination Is Gone”

Induk dan Anak Ayam

Ayam adalah ayam, meskipun dagingnya enak untuk digoreng, dipanggang, dikari, digulai, bahkan dikalio dan diayam pop dengan cara sebagimana orang Padang memasak, dan jelas puenak… ya begitu tetap saja ayam. Jaman saya kecil usia SD dan SMP ayam sangat-sangat tidak aneh. Pagi-pagi kandang ayam dibuka terus puluhan ayam keluar dan dengan bebasnya kesana kemari, tetangga tidak protes meskipun ayam milik saya berak diemperan rumahnya,  sebab tetangga pun sama memelihara ayam yang dibebaskan mencari dan mengais rezekinya, biarpun nyakar jemuran padi saya di halaman. Yang agak aneh saat itu saya jarang sekali makan daging ayam, kecuali kalau mauludan atau lebaran. Ada peribahasa Sunda yang menyebutkan “kokoro manggih mulud, puasa manggih lebaran” Jadi makan enak daging ayam pada saat perayaan maulid Nabi dan saat lebaran saja.

Adapun mengapa ayam kampung yang dagingnya lebih enak tidak pernah disembelih untuk dikonsumsi sendiri adalah wallohu alam. Mungkin saja dijual satu demi satu untuk biaya kelangsungan hidup, maklum segala serba susah, sudah ada beras alhamdulillah.

Ketika maghrib tiba ayam-ayam tersebut digiring lagi ke kandangnya, dan ndilalahnya, jarang sekali terjadi ayam tetangga ikut nginap, mereka sudah maklum akan kandangnya masing-masing.

Ini sambungannya, ketika saya sudah tua dan ceritanya tinggal di kota, jarang sekali menemukan orang yang memelihara ayam kemudian dibiarkan lepas nyakar mencari makanan seenaknya, kalau berani memelihara ayam seperti begitu alamat dimusuhi tetangga dan dilaporkan ke ketua RT, berabe kan? Kalau demikian rindunya memelihara ayam harap dikandang atau dikurung seumur-umur.

Saya punya sebidang tanah yang tidak begitu luas di luar kota Bandung, ya termasuk di kampung. Nah orang yang dititipi menjaga tanah dan rumah di desa itu memelihara ayam, dan oleh dia sama dengan jaman dahulu di kampung saya ayam dibiarkan bebas berkeliaran, barkan saja nyakar di kebun kesana kemari.

Ibu & Anak Ayam 1Ada induk dan anak ayam yang baru menetas sedang lucu-lucunya, karena ayam itu demikian lincah dan cekatan sehingga cucu saya kebingungan menghitung jumlah anaknya, maklum anak ayam bergerak kesana kemari mengikuti ibunya.

Ibu & Anak Ayam 2Mungkin harus dipotret biar bisa santai menghitungnya, eh meski begitu susah juga mengambil gambarnya, mungkin yang ini tahu berapa jumlah anaknya.

Ibu & Anak Ayam 4Atau bangaimana yang ini? tapi awas ibunya sangat melindungi anak-anaknya, kalau terlalu dekat memotretnya, ibunya bisa berjibaku menyambar kita

Ibu & Anak Ayam 5Induk ayam betul-betul sangat sayang akan anak-anaknya, jika malam tiba sebelum masuk kandang seluruh anaknya berlindung dibawah sayapnya biar biar merasakan hangatnya kasih sayang seorang eh seekor ibu.

Kalau induk ayam demikian sayang terhadap anak-anaknya apalagi manusia harus menjaga anaknya dengan kasih sayang membesarkan dan mendidik dengan ahlak yang baik agar bisa hidup damai dengan sesama manusia.

Anda sudah menghitung jumlahnya? Betul jumlahnya 10 ekor anak ayam. Anak-anak TK akan belajar nyanyian: “Tek kotek kotek kotek anak ayam turun sepuluh, anak ayam turun sepuluh mati satu tinggal sembilan”. Terus diurut agar sekalian belajar berhitung, nanti, anak ayam tutunlah satu mati satu tinggal ibunya…. kasihan ya.

Jaman baheula saat jika masuk jadi mahasiswa harus dipelonco, para senior paling suka menyuruh cama cami menyanyikan “tek kotek kotek” ini. Tapi anak ayamnya tidak turun sepuluh akan tetapi harus dimulai dengan turun sejuta, bayangkan lamanya kan mati satu tinggal 999.999.

Tapi calon mahasiswa harus pintar: “Tek kotek kotek kotek anak ayam turun sejuta, anak ayam turun sejuta mati semua tinggal ibunya”, he he he, sekedar iseng.