Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Ahmad Yani

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 11, Nama Bangunan: Bengkel Motor, Lokasi: Jl Ahmad Yani 216, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1900, Kelas: A

No. : 12, Nama Bangunan: Gudang, Lokasi: Jl Ahmad Yani 220-222, Fungsi: Gudang, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1905, Kelas: A

No. : 13, Nama Bangunan: Dinas Kebakaran, Lokasi: Jl Ahmad Yani, Fungsi: Kantor, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 14, Nama Bangunan: Pabrik Tekstil, Lokasi: Jl Ahmad Yani 16, Fungsi: Pabrik Tekstil, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya di Bandung, jln ABC

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 1, Nama Bangunan: Pertokoan Kodros, Lokasi: Jl. ABC 1,3,5,7,9, Fungsi: Pertokoan Ruko Gandeng, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1910, Kelas: A

No. : 2, Nama Bangunan: Toko “Bandung Baru”, Lokasi: Jl. ABC 50,52,54, Fungsi: Pertokoan, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1910-1920, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Aceh

No. : 3, Nama Bangunan: Kantor kotamadya DT II Bandung, Lokasi: Jl. Aceh 1, Fungsi: Kantor Pemerintah, Arsitek: E.H. de Roo,Tahun: 1929, Kelas: A

No. : 4, Nama Bangunan: Toko, Lokasi: Jl. Aceh 38, Fungsi: Rumah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1915, Kelas: A

No. : 5, Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl. Aceh 40, Fungsi: Rumah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1920, Kelas: A

No. : 6, Nama Bangunan: Pendidikan Guru Olahraga, Lokasi: Jl. Aceh 43, Fungsi: Sekolah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 7, Nama Bangunan: Perpustakaan UNPAR, Lokasi: Jl. Aceh 47, Fungsi: Perpustakaan, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A

No. : 8, Nama Bangunan: Kologdam, Lokasi: Jl. Aceh 50, Fungsi: Jaarbeurs.(Trade Center), Arsitek: C.P Wolff Schoemaker,Tahun: 1920, Kelas: A

No. : 9, Nama Bangunan: Kodam III Siliwangi, Lokasi: Jl. Aceh 59, Fungsi: Kantor Staf Militer, Arsitek: R.L.A & C.P Schoemaker,Tahun: 1918, Kelas: A

No. : 10, Nama Bangunan: Kawasan Kodam III Siliwangi, Lokasi: Jl. Aceh 59, Fungsi: Kantor Komandan Militer, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1900, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Ambon, Anggrek, Arjuna, Aruna

Niat semula postingan ini akan dipajang disertai gambarnya atau keadaan bangunannya pada saat ini, tapi ternyata memotret bangunan sampai upload di sini tidak selalu berhasil. Mungkin ke depan kalau sudah memungkinkan. Sementara ini saja dulu.

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 15, Nama Bangunan: Villa, Lokasi: Jl Ambon 3, Fungsi: Villa Militer, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 16, Nama Bangunan: Providentia, Lokasi: Jl Anggrek 60, Fungsi: Asrama Putri, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 17, Nama Bangunan: Rumah Potong Hewan, Lokasi: Jl Arjuna 45, Fungsi: Varkenslachtuis, Arsitek: Gemeente Bandung,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 18, Nama Bangunan: Pabrik Tekstil, Lokasi: Jl Aruna 53, Fungsi: Pabrik Tekstil, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 19, Nama Bangunan: Sharp Building, Lokasi: Jl Aruna 57, Fungsi: Pabrik, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 20, Nama Bangunan: Rumah Tinggal , Lokasi: Jl Arjuna 95,97,99,101,103,105,107,109,111, Fungsi: Rumah Tinggal, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: B

No. : 21, Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl Aruna 111, Fungsi: Rumah Tinggal, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: B

Sumber: bandungheritage.org

Ke Yogya Naik Kereta Lodaya

Ke Yogyakarta naik kereta api adalah pilihan yang patut dipertimbangkan karena PT KAI telah melakukan berbagai perbaikan agar penumpang bisa menikmati perjalanan. Kali ini saya ingin bercerita tentang kami tiga bersaudara dengan pasangan suami istri sehingga menjadi rombongan kecil para lansia berjumlah enam orang, melakukan perjalanan Bandung – Yogyakarta pp. Perbaikan PT KAI dimaksud adalah semisal sejak dari Bandung ditemukan beberapa kemudahan seperti stasiun kelihatan lebih tertib, lebih bersih, tidak ada calo tiket, dan tidak ada pedagang asongan yang biasanya berseliweran.

Entah karena apa mungkin angka harapan hidup orang Indonesia naik, ketika mulai masuk gerbong ternyata banyak teman sesama seragam uban. Betul-betul seperti sepasukan “laskar tak bergune” alias sekumpulan para pensiunan. Menjadi lansia usia diatas 60 tahun tidak selalu berwarna kelabu tapi banyak hal yang membawa kebahagiaan. Misal harga tiket KA mendapat potongan 20%, harga tiket kelas eksekutif yang seharusnya Rp 185.000, hanya membayar Rp 148.000 saja.

Di setiap stasiun yang dilewati memang lumayan nyaman tidak direcoki oleh pedagang asongan, tapi disisi lain tidak bisa menikmati kuliner khas tempat yang disinggahi kereta api tersebut.

Maksud utama kami ke Yogya adalah mengunjungi saudara yang sedang sakit. Bepergian rombongan para nini dan aki perlu persiapan yang matang seperti transportasi, penginapan, dan makanan harus yang relatif baik, sehat, aman, dan murah… apa ada ya? Ada misal penginapan, menemukan homestay yang bangunannya bergaya kolonial bernama penginapan “Ndalem Suratin” yang terletak di jalan AA Sangaji Yogyakarta. Tarif per malam disebut “Tulip Room” Rp 298.000 dengan perlengkapan biasa ac, water heater, free coffee, dan sarapan pagi, tempatnya untuk keluarga ok, hanya sayang agak jauh dari Stasiun harus naik kendaraan minimum naik beca.

Meskipun maksud utama bersilaturahmi tapi ketika segala urusan sudah beres maka seperti peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, atau jangan kena ungkapan “ke Mekah tak ke Madinah” maka sekalian ke Yogya tidak lupa plesiran ke Solo untuk sedikit belanja oleh-oleh di Pasar Klewer dan tidak lupa wisata kuliner.

Sewa kendaraan kijang 12 jam Rp 275.000, tambah bensin Rp 150.000, ngajak sopir makan, dan tip Rp 50.000. Dan kami pergi ke Solo tak lupa kaum ibu membeli pakaian batik, terus karena dapat informasi kuliner kami tidak ingin melewatkan kesempatan bagitu saja. Yang kami nikmati adalah serabi Notosuman yang rasanya emh kenyal dan lembut, terus Soto Gading memang istimewa dan enak rasanya, satu lagi sosis Solo yang beda dan gurih. Dua jam saja kami di Solo.

Di Jogya pun kami mencoba berbagai gudeg pertama gudeg “Bu Citro” yang agak kering dan hebat, kemudian gudeg “Yu Djum” yang untuk oleh-oleh, dicoba juga gudeg pinggir jalan penjualnya si mbok yang ngambil ayamnya dengan tangan begitu saja, tapi ya enak dan nikmat juga.

Demikian perjalanan 2 hari para gaek ke Yogyakarta, perjalanan yang cukup memuaskan dan relatif tidak menemukan kesulitan.

Galau…

Di KBBI kata galau atau bergalau adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak karuan pikiran. Belakangan ini kata “galau” lebih sering digunakan, dahulu rasanya jarang sekali kata ini dipakai. Oleh anak muda yang paling sering disebut adalah yang berhubungan dengan pikiran dan hati semisal perkara percintaan atau hubungannya dengan kekasih. Pacarnya sedang sibuk tugas lama tidak menghubungi disebut “sedang galau”. Kata lama yang bangkit kembali jadi sering digunakan tak masalah baik-baik saja.

Aki-aki setua saya bisa juga menggunakan kata “galau” tetapi tidak mengenai percintaan, ini mengenai rutinitas kegiatan atau kebiasaan harian yang terganggu. Misal sudah rutin hampir setiap hari berolah raga jalan kaki pagi eeh malah turun hujan, apa yang harus dilakukan, maklum pensiunan wah… galau juga nih… Mau bepergian eh malah bensinnya kosong, galau juga nih.

Ini inti yang mau saya ceritakan. Setiap hari bangun pagi selalu lebih awal, kadang jam 02.00, bahkan jam 01.00 tengah malam. Wah, karena jam biologisnya sudah begitu ya diterima saja, tapi memang sebetulnya ada penyebabnya yakni jam 20.30 dimana orang lain masih segar bugar saya sudah tewas… he he he.

Nah, karena dari pagi buta sudah menganggur, biasanya baca, dan buka komputer, dan kemudian menulis di blog membuat postingan. Topik menulisnya apa saja kadang menulis sesutu yang sangat sederhana misalnya mengenai cicak di dinding yang diam diam merayap… Jika merasa pantas diposting di blog ya dipajang saja, akan tetapi jika merasa tak bagus dibiarkan begitu saja, disimpan di file.

Kemudian dari pada itu, sudah sebulan ini komputerku out of order alias tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Terus sekarang setiap pagi buta menganggur…, meski ada tab jang jadul tidak leluasa nulis, rasanya pantas kalau aku sebagai aki-aki merasa galau…

Semangat Berbahasa Daerah

Jangan heran jika semakin jauh dari kota besar bahasa daerah seumpama bahasa Sunda dan bahasa Jawa masih ramai dipakai oleh para penuturnya. Jadi merasa optimistis bahwa bahasa ibu akan tetap terpelihara dengan baik. Untuk sementara berita akan banyak bahasa daerah yang hilang, lupakan saja.

Lihat saja semisal khotib naik mimbar pada saat hotbah hari Jumat di daerah Ciamis utara akan terdengar kata-kata yang harus diucapkan yang mengajak untuk bertaqwa: “Sim kuring cumeluk ngajak ngahiap ka sakumna jamaah kanggo ngandelan katakwaan urang ka Allah SWT“. Tentu juga di daerah berbahasa ibu lain, akan lain juga penuturannya.

Bukan hanya pada saat khotbah Jumat menggunakan bahasa daerah, akan tetapi semangat bertutur bahasa ibu juga pada acara resmi pernikahan misalnya. Pengantin pria akan lancar berbahasa Sunda tatkala akad nikah: “Tarima kuring nikah ka anu binti anu kalawan maskawin saanu dibayar lunas“. Baik-baik saja memang yang paling afdol dan dimengerti adalah bahasa daerah itu.

Saya mengusulkan kalau wawancara atau testing yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa bukan bahasa asing saja misal bahasa Inggris dan Perancis juga kemampuan berbahasa daerahnya dan bahasa daerah lain ditanyakan. Suatu saat orang akan bangga bisa berbahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Sunda, Jawa, dan Bugis.

Tapi meski menggebu berbahasa ibu, jangan lupa hadirin pendengar, jika hadirin banyak yang tidak menguasai bahasa daerah tertentu, seyogianya berbahasa Indonesia saja.

Pernah kejadian ketika mengantar calon pengantin pria dari daerah Jawa Barat ke wilayah Jawa Tengah. Rombongan pengiring pengantin dari Jawa Barat yang sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa kromo inggil sempat “berisik” karena tidak mengerti apa yang diucapkan kala protokol membawakan narasi sungkeman berbahasa jawa kelas keraton Solo. Seyogianya hadirin ikut haru karena sepasang pengantin akan dilepas oleh ibu bapaknya mengarungi hidup rumah tangga berdua. Karena keharuan itu tidak terasa malah sebagian diam-diam pada difoto. Dan sepertinya mengurangi kehidmatan yang diharapkan. Nah, demikian juga jika orang Sunda mengadakan upacara harus lihat-lihat dahulu hadirin.

Hujan Turun Di Bandung

Seingat saya dahulu tahun 50-an di salah satu tempat di Ciamis bagian utara jika datang kemarau panjang, dan hujan sangat diharapkan datang, ada tradisi memandikan kucing. Kucing yang cadu alias pantang mandi, beberapa ekor diarak oleh warga dibawa ke sungai kemudian dimandikan, meski kucing meronta, tetap saja harus mandi. Upacara ritual memandikan kucing dilaksanakan sederhana saja asal kucing mandi basah. Konon itu akan menyebabkan turun hujan yang diharapkan. Meski hujan datang karena sudah waktunya, tapi warga merasa puas karena telah berusaha dan berupaya.

Ternyata di daerah perkotaan, yang mata pencaharian warganya bukan hanya bercocok tanam, cuek saja akan datangnya musim penghujan. Bahkan pedagang kaki lima sangat berharap hujan tidak turun, bagaimana mungkin barang dagangan sudah ditebar, meski menghalangi yang lewat, kemudian cur hujan turun. Memandikan kucing peliharaan sering dilakukan tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan hujan, jadi meski sedang hujan besar jika mau memandikan kucing ya lakukan saja.

Tidak usah mengadakan ritual memandikan kucing, kemarin Kota Bandung yang sedang panas hareudang alias gerah diguyur hujan besar dan cukup lama, terasa udara kota lumayan sejuk. Breg hujan sing gede, tapi peupeujeuh ulah jadi mamala banjir

Roti Walanda…

image

Zaman dahulu zaman serba susah makanan dan pakaian. Memang bagi yang berduit masalah pangan sandang tidak menjadi persoalan. Tahun 50-an khususnya masyarakat Jawa Barat keamanannya diganggu oleh gerombolan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Terus tahun 1965 terjadi peristiwa g-30-s, jadi selain dihajar oleh kolonial Belanda juga gangguan oleh sebagian dari bangsa kita sendiri. Sudah dikatakan bahwa kekurangan kebutuhan hidup paling utama yakni makanan terjadi di mana-mana, bahkan wabah kelaparan.

Mulai tahun 70-an khususnya di Bandung mulai kelihatan berbagai kemajuan, pakaian mulai mampu dibeli oleh rakyat kebanyakan. Juga, yang akan diceritakan adalah masalah makanan, misalnya mulai kelihatan atau dirasakan sektor pangan adalah melimpahnya telur dan daging ayam. Masyarakat kebanyakan mampu mengkonsumsi protein yang relatif terjangkau. Di Pasar malam Cicadas misalnya banyak ditemukan penjual goreng ayam dan roti bumbu. Jadi oleh-oleh yang dibawa ke rumah bisa agak berkualitas.

Roti dahulu tahun sebelum 60-an tidak begitu populer di masyarakat kebanyakan, Hanya golongan atas dan mampu yang biasa mengenyamnya. Nah, di tahun 70-an mulainya wong cilik makan roti. Roti yang paling populer adalah roti bumbu. Roti tawar biasa atau roti “kasino” diiris dibelah memanjang terus dibumbui mentega, kacang pindekas, selai nanas, dan ditaburi serbuk coklat, rasanya apalagi dibakar saat itu enaaaak sekali. Penjualnya pun ada yang mangkal tepi jalan atau didorong dengan memakai roda keliling.

Lama kelamaan roti bumbu seperti kehilangan pamor tak begitu kelihatan di kota Bandung, kalau mencari yang seperti dahulu agak susah. Biasa popularitas roti bumbu menurun. Makanan lain yang serentak datang dan juga menghilang di kota Bandung adalah goreng singkong kiju, saat ini jarang ditemukan, tidak seperti ketika muli banyak penggemarnya awal tahun 200-an.

Sesekali ingin rasanya makanan jang rasanya zadul yaitu roti bumbu, baru-baru ini saya masih menemukan ada di Pasar Kosambi Bandung yaitu toko roti bernama “Cari Rasa”. Rasanya memang tidak mengecewakan, enak.

Saling Menzalimi…

Pedagang kaki lima adalah pencari nafkah hidup untuk diri dan keluarganya adalah pekerjaan halal yang tentu saja baik. Akan tetapi jika tempat memasang lapaknya atau ngampar dagangannya di trotoar dimana trotoar adalah haknya pejalan kaki, maka pkl tersebut telah merebut hak orang lain, dan merebut hak orang lain adalah zalim, atau menzalimi orang lain. Dalam KBBI disebutkan menzalimi adalah menindas; menganiaya; berbuat sewenang-wenang terhadap… Berbuat zalim adalah perbuatan tercela dan ajaran agama melarang keras perbuatan itu.

Bukan hanya di trotoar haknya pejalan kaki yang pkl tidak boleh berjualan akan tetapi di tepi jalanan yang bahkan tidak dibuatkan trotoarnya, pkl tetap tidak boleh berjualan. Berjualan di jalanan kompleks perumahan juga tidak boleh, ini bukan hanya hak kendaraan yang lewat akan tetapi juga warga ketiban pulung, lingkungan yang tadinya asri dan nyaman menjadi kumuh, ramai, macet lalu lintas, bahkan untuk lewat hanya membawa badan sekali pun harus berdesakan. Dan meskipun warga sudah menolaknya, pkl tetap berjualan bahkan semakin panjang, semakin ramai, dan warga tanpa bisa berbuat apa-apa merasa dizalimi sudah lebih dari 15 tahun.

Menzalimi hak pejalan kaki bukan hanya pkl akan tetapi juga trotoar dijadikan tempat parkir liar. Ada lagi karena jalan haknya kendaraan penuh sesak alias macet yang disebabkan oleh kaum pkl yang berjualan di sembarang tempat maka kendaraan motor roda dua loncat ke trotoar. Artinya pengendara sepeda motor telah terzalimi pkl kemudian menzalimi hak pejalan kaki.

Akibat dari pkl yang berjualan di tempat yang bukan peruntukannya semisal di tepi jalan itu, yang paling terasa adalah kemacetan lalu lintas. Hak pengendara mobil dan motor telah terzalimi karena terampas oleh kaum pkl dan pembelinya. Akibat dari kemacetan lalu lintas berbagai dampak terjadi, yang sederhana pengguna kendaraan menjadi stres karena berbagai jadwal tidak terpenuhi. Walikota Bandung menyebutkan ada 600.000 orang warga yang menderita stres. Katanya tandanya stres yang paling kelihatan adalah tidak lagi menaruh perhatian atau simpati kepada orang lain, apalagi merasa empati.

Saya belum puas soal pkl ini di Bandung ada contoh abadi penzaliman terjadi akibat pkl ini. Lihat di kawasan Cicadas Bandung daerah paling kumuh dimana pkl mendominasi jalan trotoar dan yang terzalimi hak pejalan kaki dan pemilik toko, dan itu terjadi sudah 20 tahunan. Kalau masih kurang ada satu lagi penzaliman yang terjadi lebih dari 20 tahunan kemacetan lalu lintas akibat pkl dan pekerja yang keluar masuk di wilayah Rancaekek Bandung.

Perdanya untuk memberi hak penertiban oleh aparat sudah ada. Tapi mengapa kita saling menzalimi, dan mengapa melihat semua itu kita menjadi banyak yang impoten.