Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Ahmad Yani

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 11, Nama Bangunan: Bengkel Motor, Lokasi: Jl Ahmad Yani 216, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1900, Kelas: A

No. : 12, Nama Bangunan: Gudang, Lokasi: Jl Ahmad Yani 220-222, Fungsi: Gudang, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1905, Kelas: A

No. : 13, Nama Bangunan: Dinas Kebakaran, Lokasi: Jl Ahmad Yani, Fungsi: Kantor, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 14, Nama Bangunan: Pabrik Tekstil, Lokasi: Jl Ahmad Yani 16, Fungsi: Pabrik Tekstil, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya di Bandung, jln ABC

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 1, Nama Bangunan: Pertokoan Kodros, Lokasi: Jl. ABC 1,3,5,7,9, Fungsi: Pertokoan Ruko Gandeng, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1910, Kelas: A

No. : 2, Nama Bangunan: Toko “Bandung Baru”, Lokasi: Jl. ABC 50,52,54, Fungsi: Pertokoan, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1910-1920, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Aceh

No. : 3, Nama Bangunan: Kantor kotamadya DT II Bandung, Lokasi: Jl. Aceh 1, Fungsi: Kantor Pemerintah, Arsitek: E.H. de Roo,Tahun: 1929, Kelas: A

No. : 4, Nama Bangunan: Toko, Lokasi: Jl. Aceh 38, Fungsi: Rumah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1915, Kelas: A

No. : 5, Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl. Aceh 40, Fungsi: Rumah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1920, Kelas: A

No. : 6, Nama Bangunan: Pendidikan Guru Olahraga, Lokasi: Jl. Aceh 43, Fungsi: Sekolah, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 7, Nama Bangunan: Perpustakaan UNPAR, Lokasi: Jl. Aceh 47, Fungsi: Perpustakaan, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A

No. : 8, Nama Bangunan: Kologdam, Lokasi: Jl. Aceh 50, Fungsi: Jaarbeurs.(Trade Center), Arsitek: C.P Wolff Schoemaker,Tahun: 1920, Kelas: A

No. : 9, Nama Bangunan: Kodam III Siliwangi, Lokasi: Jl. Aceh 59, Fungsi: Kantor Staf Militer, Arsitek: R.L.A & C.P Schoemaker,Tahun: 1918, Kelas: A

No. : 10, Nama Bangunan: Kawasan Kodam III Siliwangi, Lokasi: Jl. Aceh 59, Fungsi: Kantor Komandan Militer, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1900, Kelas: A

Sumber: bandungheritage.org

Bangunan Cagar Budaya Di Bandung, jln Ambon, Anggrek, Arjuna, Aruna

Niat semula postingan ini akan dipajang disertai gambarnya atau keadaan bangunannya pada saat ini, tapi ternyata memotret bangunan sampai upload di sini tidak selalu berhasil. Mungkin ke depan kalau sudah memungkinkan. Sementara ini saja dulu.

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997

No. : 15, Nama Bangunan: Villa, Lokasi: Jl Ambon 3, Fungsi: Villa Militer, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 16, Nama Bangunan: Providentia, Lokasi: Jl Anggrek 60, Fungsi: Asrama Putri, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 17, Nama Bangunan: Rumah Potong Hewan, Lokasi: Jl Arjuna 45, Fungsi: Varkenslachtuis, Arsitek: Gemeente Bandung,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 18, Nama Bangunan: Pabrik Tekstil, Lokasi: Jl Aruna 53, Fungsi: Pabrik Tekstil, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1935, Kelas: A

No. : 19, Nama Bangunan: Sharp Building, Lokasi: Jl Aruna 57, Fungsi: Pabrik, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A

No. : 20, Nama Bangunan: Rumah Tinggal , Lokasi: Jl Arjuna 95,97,99,101,103,105,107,109,111, Fungsi: Rumah Tinggal, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: B

No. : 21, Nama Bangunan: Rumah Tinggal, Lokasi: Jl Aruna 111, Fungsi: Rumah Tinggal, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: B

Sumber: bandungheritage.org

Lyceum Dago Riwayatmu Kini

SMAK Dagi 1 tahun 2011

Dua tahun yang lalu yaitu tahun 2011 saya membuat postingan mengenai Lyceum di jalan Dago Bandung kalau mau melihat klik disini. Kemudian karena kota khususnya Kota Bandung dinamis tentu mengalami perubahan, ada baiknya beberapa tulisan diupdate supaya pembaca mengetahui bagaimana keadaan saat ini.

Pada bulan Juli 2013 saya sengaja naik lagi ke jembatan penyebrangan, tragis jembatan penyebrangan di jalan Dago ini jarang digunakan oleh penyebrang. Perlu diberi acungan jempol karena jembatan ini paling artistik dan sekarang ada pegangan tangganya, tidak seperti dahulu sampai merasa takut terjerembab.

Ada juga yang tidak patut diberi jempol yakni bangunan Lyceum yang bersejarah dan merupakan penanda jalan Dago Bandung itu kini sudah rata dengan tanah, seperti gambar di bawah ini.

Lyceum nasibmu kini

Lyceum nasibmu kini

Mnyedihkan memang.

Indische Restaurant atawa Rumah Makan Naga Mas di Bandoeng

Sejak zaman dahoeloe Bandoeng terkenal dengan sebutan kota kuliner, bahkan sampai sekarang ini apalagi setelah ada jalan tol Jakarta – Bandung yang dengan kendaraan roda empat bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam saja. Nah karena salah satu sebab yaitu jajanan makanan alias menikmati kuliner di Bandung inilah orang Jakarta banyak berduyun-duyun datang ke Bandung.

 Jenis makanan sangat variatif misalkan saja yang padatnya ada nasi timbel, nasi bakar, bahkan nasi edan. Diantara berbagai jajanan yang paling banyak adalah yang terbuat dari tahu, mi, bakso, dan sejenisnya. Sedangkan jajanan khas Bandung lain adalah batagor, siomay, dan cireng. Batagornya ada batagor “Riri” dan batagor “Kingsley”. Sedikit lagi, kupat tahu, surabi, dan bubur ayam Mang Oyo. Wah masih banyak lagi sampai lupa untuk menyebutkannya satu per satu.

 Nah, rumah makan Tionghoa jangan dilupakan, umumnya orang Cina jago masak membuat makanan yang lezat-lezat sampai ada semboyan koki Cina berbunyi:

Semua yang berkaki empat, melata di muka bumi kecuali meja

Semua yang bisa terbang di awang-awang, kecuali layangan

Semuanya bisa dimasak, dihidangka,  dan dimakan

Urang Bandung biasanya tidak menyebut “bule” kepada bangsa kulit putih, sebab sebutan “bule” bukan untuk manusia tetapi untuk kerbau yang bule. Zaman kolonial Belanda menyebut orang kulit putih itu dengan sebutan bangsa Walanda. Makanan untuk bangsa Walanda, disebut makanan Eropa atau menu Eropa.

Adapun restoran beken Bandung baheula yang menghidangkan masakan Eropa diantaranya “Moison Bogerijen” di jl Braga, “Moison Boin” di jl Naripan, “Moison Smith” di jl Merdeka, “Rumah Makan Capitol” di jl Braga, “Paradise Restaurant” di Pasar Baru, dan , “Indisch Restaurant” di Aloen-Aloen Bandoeng.

Indisch Restaurant inilah yang akan saya beri keterangan, ada sebabnya, asal mulanya ada permintaan dari sahabat saya Nane yang menulis komentar pada tulisan saya berjudul …….. isi komentarnya adalah: “Numpang tanya… Mungkin anda punya informasi, tentang sebuah restauran jaman dulu. Namanya : Rumah Makan Naga Mas atau Indische Restaurant. Menurut orang tua kami, letaknya persis di bangunan BRI Tower sekarang”.

Keterangan yang diperoleh dari beberapa buku bacaan di rumah tentang Bandoeng tempo doeloe disebutkan, sekali lagi, bahwa Indisch Restaurant atau betul belakangan namanya menjadi Rumah Makan Naga Mas adalah rumah makan kelas berduit yang menyediakan selain makanan Cina juga menu makanan Eropa, maklum pada saat itu banyak orang Belanda dan Eropa lainnya yang perlu dipenuhi selera makannya. Selain bagi orang Eropa warga kota Bandung, juga bagi para Preanger planters alias para petani kaya yang turun gunung dari sekitar Bandung selatan yaitu petani teh dan kina.

Saat ini bangunan itu sudah tidak ada lagi akan tetapi di lokasi bekas Indisch Restaurant itu berdiri mahiwal alias berbeda dengan bangunan kiri kanannya yang antik, sebuah bangunan menjulang tinggi 16 tingkat bernama BRI Tower, tempatnya Bank Rakyat Indonesia usaha dan berkantor. Alamat jelasnya Jl. Asia Afrika No. 57-59.

 Sepertinya kalau mau nyukcruk sejarahnya bangunan itu, yaitu asal mula sebuah toko bernama Toko de Vries, Toko de Vries di Grote Postweg, sekarang Jln Asia Afrika, merupakan toko serba ada yang mulai dibuka pada awal tahun 1900-an. Pendirinya adalah Klaas de Vries. Toko de Vries berasal mula dari warung kecil  Klaas de vries di utara Aloen-Aloen dimana lokasinya di BRI Tower sekarang ini berdiri sekitar tahun 1986. Sepertinya dari bekas toko Klaas de Vries ini kemudian menjadi Indisch Restaurant.

Seni bangunan dari “Indisch Restaurant” masa dulu, yang banyak menggunakan konstruksi balok kayu adalah perpaduan dari bentuk  sebuah Pendopo (seperti Kabupaten) dengan gaya arsitektur barat dan Cina. Maklumlah, para anemer dan pekerja bangunan tempo dulu pada umumnya Cina, sehingga kreasi jamahan tangan mereka masih terlihat membekas. Yang seumuran dengan Restoran itu adalah bangunan kabupaten Bandung dan Mesjid Agung tempo dulu yang atapnya susun tiga berbau Hindu Jawa.

Yang paling sering disebutkan di tulisan-tulisan, jika kita browsing di internet, yaitu bahwa Indische Restaurant berperan dalam peristiwa heroik Bandung Lautan Api, ceritanya adalah: Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan masyarakat mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran dimulai pada pukul 21:00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang).

Mengapa para pejuang membumi hanguskan Bandung karena gedung-gedung strategis yang kemungkinan akan digunakan Belanda. TRI  merencanakan peledakan dimulai pukul 24.00 di Gedung Regentsweg, selatan alun-alun Bandung yaitu gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI)  sebagai aba-aba untuk meledakkan semua gedung. Tapi mengapa rencana peledakkan mulai jam 24.00 tapi jam 21.00 sudah mulai? Kemungkinan karena kesalahan teknis, maklum zaman dahoeloe, sebab pada jam 21.00 sudah kedengaran ada ledakan entah dari mana, maka dimulailah pembumihangusan Bandung pada jam itu.

Demikian cerita Indische Restaurant yang tinggal waasna atau tinggal kenangan.

Sumber bacaan: Semerbak Bunga di Bandung Raya oleh Haryoto Kunto, Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi, Wajah Bandung Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto.

Bangunan Berumur Sepanjang Jalan Pasteur Bandung

Jika Anda memasuki Kota Bandung dari pintu tol Pasteur akan segera sampai ke jalan Dr Junjunan, kemudian jika terus lurus akan menemui jembatan layang Pasupati. Jika sudah kelihatan tangara dayeuh atau landmark seperti gambar di bawah ini Anda pasti tidak akan katalimbung alias lost orientation, yakinlah bahwa Anda sudah berada di Kota Bandung.

Jembatan Layang Pasupati Menjadi Landmark Kota Bandung

Jembatan Layang Pasupati Menjadi Landmark Kota Bandung

Jembatan layang Pasupati (dari nama jl Pasteur dan jl Surapati) diuji coba tanggal 26 Juni 2005, sebagian sekira sepanjang 720 meter persis berada di atas jalan Pasteur. Nah, di jalan Pasteur yang ada di bawah jembatan layang itu terdapat bangunan lama, yang jika Anda tetap berada di jalan layang Pasupati dan naik kendaraan, tentu atau bisa dipastikan bangunan lama itu tidak akan kelihatan. Baru bisa melihat dan memotret bangunan lama itu jika Anda berjalan kaki lalu melongok ke tepi jalan layang tersebut. Foto-foto yang aku pajang di sini adalah hasil foto dimana aku sendiri masuk dan berjalan kaki sepanjang jalan layang Pasupati itu.

Cerita jalan Pasteur ditahun 60-an, dan barangkali beberapa tahun kemudian atau sebelum dibangun jalan layang Pasupati, sangatlah lengang dan asri, di kiri kanan jalan ditanami pohon palm yang menjulang tinggi.

Di sekitar jalan Pasteur ini adalah kompleks kesehatan, pertama akan ditemukan nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama dokter terkemuka dalam sejarah Nasional seperti Van der Hoopweg  = Jl. Abdulrachman Saleh, Tirionweg = Jl. Dokter Abdul Rivai, Vosmaerweg = Jl. Dokter Gunawan, Rotgansweg = Jl Dokter  Otten, Rotgansplein = Taman Dr. Otten, Helmersweg = Jl. Dokter Radjiman, Tesselschadeweg =  Jl. Dokter Rubini, Potgieterweg = Jl. Dokter Rum dan seterusnys.

Terus akan ditemukan gedung-gedung pendidikan seperti Sekolah Analis (Laboratorium Kesehatan), Sekolah Pengatur Rawat, dan Sekolah Asisten Apoteker. Tenaga kesehatan prakteknya di RS Hasan Sadikin, yang juga tempatnya para coas mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad berpraktek. Jangan lupa di seberang RS Rancabadak ada sekolah dan sekaligus asrama bidan.

Eh.., padahal aku lagi cerita bangunan lama. Lagian cerita pendidikan kesehatan tahun 60-an itu sekarang tinggal bekasnya, sekolahnya sudah tidak ada lagi diganti dengan jenjang akademi yang entah dimana tempatnya.

Bangunan lama tersebut adalah Het Algemeene Bandoengche Ziekenhuis yang dibangun Walanda pada tahun 1920, kemudian hari menjadi Rumah Sakit Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin. Gambar lokasi dahulu seperti di bawah ini

Bangunan Lama RS Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin Bandung

Bangunan Lama RS Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin Bandung

Saat ini Rumah Sakit itu sebagian sedang dibongkar menjadi bangunan baru yang tinggi menjulang dibangun sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Bangunan Lama Sebelah Kanan akan segera habis

Bangunan Lama Sebelah Kanan akan segera habis (jl Sukajadi)

Sisa Bangunan Lama RS Rantjabadak (Jl Pasirkaliki)

Sisa Bangunan Lama RS Rantjabadak (Jl Sukajadi)

Hanya demi menghargai bangunan warisan budaya disisakan di bagian mukanya.

Bagian depan RS Rantjabadak dibiarkan tetap utuh

Bagian depan RS Rantjabadak dibiarkan tetap utuh

Jika terus ke sebelah timurnya akan bertemu dengan kompleks Landskoepok Inrichting en Instituut Pasteur juga dibangun Belanda pada tahun 1923, sekarang namanya menjadi Bio Farma.

Institut Pasteur Th 1930

Institut Pasteur Th 1930

Bangunan Lama Pasteur Institute sebelah kanan Bisakah Bertahan?

Bangunan Lama Pasteur Institute sebelah kanan Bisakah Bertahan?

Bangunan lama masih dipertahankan, dengan lapangan rumput yang luas di depannya, indah bukan?

Bangunan lama masih dipertahankan, dengan lapangan rumput yang luas di depannya, indah bukan?

Menurut aku masih ada bangunan lama terletak di jalan Pasteur ini yaitu bangunan gapura masuk ke jalan Dr Slamet, sejarah bangunan ini belum ketemu raratannya.

Gapura Jl Dr Slamet

Gapura Jl Dr Slamet

Sumber:

1. Album Bandung Tempo Doeloe Oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi

2. Komunitas “Aleut”

Sepotong Jalan Raya Pos Di Bandoeng (1)

Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang membentang dari Anyer di Banten sampai ke Panarukan Jawa Timur, ternyata melewati Bandung. Jalan Raya Pos ini masuk tanah Priangan  menembus ke kota-kota Cianjur – Cimahi – Bandung – dan Sumedang.

Pembuat jalan adalah Gubernur Jendral Herman Willem Daendels yang memerintah tahun 1808-1811. Sedangkan yang menjadi Bupati Bandung pada saat itu adalah R. Adipati Wiranatakusumah II (Dalem Kaum) yang menjabat Bupati tahun 1794 – 1829. Pembuatan jalan sepanjang 1.000 Km ini dalam sejarah penuh dengan kesengsaraan, kemiskinan, airmata, darah, korban jiwa pribumi yang demikian banyak, karena Daendels melakukan kerja paksa, artinya menggunakan tenaga dengan tidak diupah. Dan tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan berat itu diambil dari warga setempat yang dilewati oleh jalan raya tersebut. Sedangkan tenaga kerja paksa itu diminta lewat para bupatinya.

Kesengsaraan nenek moyang kita itu selanjutnya dinikmati oleh cucu cicitnya dimana terbentang jalan mulus yang selanjutnya semakin diperlebar tentu mendatangkan berbagai kegiatan pertumbuhan ekonomi dan kegiatan sosial lainnya. Untuk menggambarkan hal ini Haryoto Kunto dalam bukunya “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” menulis bahwa sejarawan sependapat: Walaupun pemerintah Daendels ada cacadnya karena kelakuannya yang keras dan sewenang-wenang, terkadang amat kejam, beserta sifatnya yang agak loba, tetapi harus juga diakui jasanya yang besar, bahwa ia memegang pemerintahan dalam masa sulit dengan tangan kuat dan mengadakan perbaikan-perbaikan penting di berbagai lapangan ( Dr. P.C. Melhuysen dan Prof. Dr. P.J. Blok, “Neuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, 1911).

Jalan Raya Pos itu katanya bukan membuat jalan baru akan tetapi memperbaiki jalan yang sudah ada, barangkali kalau di Bandoeng tempo doeloe masih disebutkan jalan setapak. Nah, karena ada jalan itu kemudian dikeraskan dan dilebarkan maka berdirilah Kota Bandung yang semakin ramai.

Terus, sebagai Bupati yang berada dibawah pemerintahan Hindia Belanda tentunya sewaktu Daendels mengontrol pekerjaan pembuatan jalan tersebut, Bupati Wiranatakusumah II, tentu hadir menyambutnya. Tentu saja begitu karena pekerja yang membuat jalan adalah penduduk sekitar yang dikerahkan oleh Bupati masing-masing wilayah, seperti disebutkan tadi.

Lanjut, terjadilah saat dialog antara Gebernur Jendral Herman Willem Daendels dengan Sang Bupati Bandung yaitu kata-kata yang legendaries yakni: “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwed!” yang artinya: “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!”

Tak ada keterangan apakah Bupati menjawab iya, iya saja, atau dalam bahasa Sundanya “mangga, mangga” saja, tapi kalimat perintah tersebut telah diikuti dengan surat Dendels pada tanggal 25 Mei 1810 maka Bupati Bandung Wiranatakusumah II memindahkan ibukota Kabupaten Bandung yang asalnya di Dayeuhkolot ke sebelah utaranya sejauh 11 Km persisnya disekitar sekarang Alun-alun Bandung.

Nah, yang akan diceritakan berikutnya adalah sepotong jalan Raya Pos tersebut yaitu yang membujur dari barat sampai ke timur dari mulai dipotong oleh jl. Otto Iskandardinata. Berikut lengkapnya jalan Grote Posweg tersebut melewati simpangan-simpangan jalan yakni jalan: Banceuy,  Alun-alun Timur, Cikapundung Barat,  Cikapundung Timur, Braga, Homann, Lengkong Besar, berakhir di Perlimaan yakni pertemuan dengan empat jalan lainnya yaitu Karapitan, Sunda, Gatot Soebroto, dan A Yani (Raya Timur).

Di sepanjang sepotong jalan Raya Pos yang disebutkan tadi satu abad kemudian berjajar bangunan yang dibuat oleh kolonial Belanda. Banguna-bangunan gedung tua yang bersejarah dan membawa cerita tentang Kota Bandung, kini menjadi penanda kota atau landmark-nya kota Bandung, agar kalau kita datang lagi ke kota ini jangan sampai linglung. Gedung kuno tersebut sebagian dibiarkan berdiri dan dipelihara dan difungsikan atau digunakan dengan baik karena telah di-perda-kan menjadi bangunan cagar budaya Kota Bandung.

“Bandung Heritage” mendaftar bangunan-bangunan tua tersebut dari mulai jalan Otto Iskandardinata sampai ke Parapatan Lima, yang kemudian hari namanya menjadi jalan Asia Afrika yang terkenal itu, adalah:

  1. No. : 22, Nama Bangunan: Kimia Farma, Lokasi: Jl Asia Afrika 9, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1910, Kelas: A
  2. No. : 23, Nama Bangunan: Apotik Kimia Farma, Lokasi: Jl Asia Afrika 34, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A
  3. No. : 24, Nama Bangunan: Dezon NV/Bdg Promotion Centre, Lokasi: Jl Asia Afrika 39, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1925, Kelas: A
  4. No. : 25, Nama Bangunan: Kantor Pos Besar, Lokasi: Jl Asia Afrika 47, Fungsi: Posten Telegraf Kantor, Arsitek: J. Van Gent, Tahun: 1928-1931, Kelas : A
  5. No. : 26, Nama Bangunan: Bank Mandiri, Lokasi: Jl Asia Afrika 51, Fungsi: Kantor Bank, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1915, Kelas: A
  6. No. : 27, Nama Bangunan: P.T. Asuransi Jiwasraya, Lokasi: Jl Asia Afrika 53, Fungsi: Kantor Asuransi, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1917-1920, Kelas: A
  7. No. : 28, Nama Bangunan: Bank Mandiri, Lokasi: Jl Asia Afrika 61, Fungsi: Kantor Bank, Arsitek: Edward Cuypers,Tahun: 1912, Kelas: A
  8. No. : 29, Nama Bangunan: Perusahaan Listrik Negara, Lokasi: Jl Asia Afrika 63, Fungsi: Gebeo, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1933, Kelas: A
  9. No. : 30, Nama Bangunan: Gedung Merdeka, Lokasi: Jl Asia Afrika, Fungsi: Societeit Concordia, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1902, Kelas: A
  10. No. : 31, Nama Bangunan: Kantor Pikiran Rakyat, Lokasi: Jl Asia Afrika 77, Fungsi: Kantor, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1925, Kelas: A
  11. No. : 32, Nama Bangunan: Hotel Preanger, Lokasi: Jl Asia Afrika 81, Fungsi: Grand Hotel Preanger, Arsitek: C.P.Wolf Schoemaker,Tahun: 1929, Kelas: A
  12. No. : 33, Nama Bangunan: Gedung Punten, Lokasi: Jl Asia Afrika 90, Fungsi: Toko Lido ( Mebel Erisa), Arsitek: belum diketahui, Tahun: 1930, Kelas: A
  13. No. : 34, Nama Bangunan: Bank International Indonesia, Lokasi: Jl Asia Afrika 95-97, Fungsi: Pertokoan, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1940, Kelas: A
  14. No. : 35, Nama Bangunan: Toko Padang, Lokasi: Jl Asia Afrika 104,106,108,110, Fungsi: Pertokoan sewa, Arsitek: A.F. Aalbers, Tahun: 19220, Kelas: A
  15. No. : 36, Nama Bangunan: Savoy Homann Heritage Hotel, Lokasi: Jl Asia Afrika 112, Fungsi: Hotel, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1939, Kelas: A
  16. No. : 37, Nama Bangunan: P.D. Darawati, Lokasi: Jl Asia Afrika 132, Fungsi: Ruko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1940, Kelas: A
  17. No. : 38, Nama Bangunan: Kantor, Lokasi: Jl Asia Afrika 176-178, Fungsi: Ruko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1930, Kelas: A
  18. No. : 39, Nama Bangunan: Vigano, Lokasi: Jl Asia Afrika 188, Fungsi: Pertokoan, Arsitek: Edward Cuypers, Tahun: 1910, Kelas: A

Postingan berikut akan ditampilkan photo bangunan cagar budaya tersebut.

Bangunan Kuno Sepanjang Jalan Dago

Bangunan lama,  sebagai warisan zaman lawas, banyak ditemukan di sepanjang  jln Ir H Juanda. Jalan Ir H Juanda berada di Kawasan Dago yang ini adalah, apalagi dahulu, disebut kawasan elitenya Bandung, berada di Bandung bagian utara bagian sejuknya Kota Bandung.

Jalan Dago atau kemudian diberi nama jln Ir H Juanda pada zaman kolonial Belanda disebut Dagoweg. Dan di kawasan inilah dulu tuan-tuan tanah dan kaum terpelajar Belanda dan mungkin warga Bumiputera yang berduit tinggal. Dan itulah juga sebabnya  di jalan ini banyak didapat bangunan-bangunan kuno yang menarik, pantas dimasukkan sebagai bangunan cagar budaya Bandung yang seyogianya harus dilindungi.

Baru-baru ini, di tahun 2012,  aku berburu memoto bangunan-bangunan kuno tersebut yang berdasarkan atau sebagaimana yang diinventarisir oleh Paguyuban Bandung Heritage. Maksudku tiada lain, pertama ingin tahu dimana letak bangunan itu persisnya berada, berikutnya ingin memastikan apakah bangunan warisan Bandung tersebut masih ada dan utuh.

Dari hasil hunting foto bangunan tersebut didapatkan bahwa secara umum bangunan tersebut cukup terpelihara, Bangunan-bangunan tersebut ada yang disewakan oleh pemilik untuk dijadikan tempat belanja pakaian berupa factory outlet, distro, atau restoran. Atau juga beberapa digunakan sebagai kantor Bank. Lalu banyak rumah tinggal atau disebut juga villa yang memang dipakai  sebagai tempat tinggal. Terus beberapa bangunan juga sedang ditawarkan untuk dikontrakan, Sedang satu bangunan tempat tinggal sudah menghilang dan bekasnya menjadi semak belukar atau menghutan, nomornya masih ada tertera di pintu pagar.

Dalam postingan ini aku belum sempat mengetahui sejarah satu demi satu bangunan zaman dahulu tersebut. Karena kebanyakan dari bangunan tersebut adalah bekas rumah tinggal atau beberapa bekas villa, jadi tak terlalu banyak yang bias diceritakan.

Inilah bangunan-bangunan tua tersebut yang aku urut dari selatan ke utara sepanjang jalan Ir H Juanda, mulai dari awal yaitu jln RE Martadinata sampai setelah dipotong oleh jln Diapati Ukur.

Toko Dago no. 34. Foto koleksi Eman S

Ex Dispenda no. 37. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Dinas Pendapatan Daerah alamat Jl Ir. Juanda 37 fungsi Kantor, Arsitek A.F. Aalbers, Tahun 1935

Rumah Tinggal No. 45. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Rumah Tinggal, alamat  Jl Ir. Juanda 45, fungsi Kantor, arsitek belum diketahui, tahun 1920

Rumah Tinggal, PT BPRKS No. 63. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan PT BPR KS, alamat Jl Ir. Juanda 63, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1935

Rumah Prof Dr Kustejo No. 68. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Rumah Prof Dr Kustejo, alamat Jl Ir. Juanda 68, fungsi Rumah, arsitek belum diketahui, tahun 1930

SMAK Dago No. 93. Foto koleksi Eman S

Bekas SMAK Dago yang saat ini masih menjadi sengketa kepemilikan

SMAN I Dago No. 93. Foto koleksi Eman S

Sekolah SMAN 1 Dago berfungsi dengan baik

Bank Muamalat no. 98 A. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Bank Muamalat, alamat Jl Ir Juanda 98A (Jl Hasanudin), fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1940

Rumah Sakit Santo Borromeus. Foto koleksi Eman S

Rumah Sakit terpelihara dengan baik

Donotelo, factory outlet. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Donotelo, factory outlet, alamat Jl Ir. Juanda 104, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1925

Factory Outlet - Gossip. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Tiga Villa (Rumah Tinggal), alamat Jl Ir. Juanda 111, salah satu dari 3 Villa tersebut , arsitek A.F. Aalbers, tahun 1937

Toko Sepatu - Edward Forrer. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Tiga Villa (Rumah Tinggal), alamat Jl Ir. Juanda 113, salah satu dari 3 Villa tersebut, arsitek A.F. Aalbers, tahun 1937

Rumah Tinggal no. 115.Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Tiga Villa (Rumah Tinggal), alamat Jl Ir. Juanda 115, salah satu dari 3 Villa tersebut, arsitek A.F. Aalbers, tahun 1937

Grande Fashion. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Grande Fashion, alamat Jl Ir Juanda 118, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1925

Rumah Tinggal no. 133. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Rumah Tinggal, alamat Jl Ir. Juanda 133, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1935

Bank Bisnis no. 137. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Bank Bisnis, alamat Jl Ir. Juanda 137, fungsi Rumah Tinggal, arsitek belum diketahui, tahun 1935

Rumah Tinggal No. 140. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Rumah Tinggal, alamat Jl Ir. Juanda 140, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1940

BRI Dago no. 147. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan BRI Dago, alamat Jl Ir. Juanda 147, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1935

Villa No. 148. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Villa, alamat Jl Ir. Juanda 148, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1938

Rumah Tinggal No. 149. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Rumah Tinggal, alamat Jl Ir. Juanda 149, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1940

Kantor no. 151. Foto koleksi Eman S

Bangunan saat ini sedang ditawarkan untuk dikontrakan, alamat Jl Ir. Juanda 151, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1925

Esia no. 155. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Kantor Esia, alamat Jl Ir. Juanda 155, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1925

Rumah Tinggal no. 163. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Rumah Tinggal, alamat Jl Ir. Juanda 163, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1920

Bank Pundi No. 165. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Bank Pundi, alamat Jl Ir Juanda 165, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun

Jln Ir H Juanda no. 187. Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Rumah Tinggal, alamat Jl Ir Juanda 187, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1932

Rumah Tinggal no. 189, tinggal bekasnya. Foto koleksi Eman S

Bekas Rumah Tinggal, alamat Jl Ir Juanda 189, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1932. Rumah tinggalnya sudah hilang tinggal semak belukar.

26. Bank BJB No. 191.Foto koleksi Eman S

Nama bangunan Bank BJB, alamat Jl Ir Juanda 191, fungsi Villa, arsitek belum diketahui, tahun 1932

Bangunan Cagar Budaya Sepanjang Jalan Merdeka

Zaman kolonial Belanda dahulu jalan Merdeka di Kota Bandung ini disebut Schoolweg atau Merdikaweg, pernah di sekitar jalan ini ada “lio” yaitu pabrik pembuatan genting dari bahan tanah, lalu Bupati Bandung RAA Martanegara (1874 – 1918) mengganti nama Schoolweg atau Merdekaweg itu menjadi jln Merdika Lio. Akan tetapi selanjutnya menjadi jln Merdeka kembali.

Jalan Merdeka tersebut membentang dari selatan ke utara, dari mulai jln Lembong di selatan sampai di sebelah utaranya dipotong oleh jln RE Martadinata. Nama Schoolweg mungkin karena di jalan ini dahulu berdiri beberap sekolah yaitu SR Merdeka,  Kweekschool (sekolah guru SD), SR Banjarsari, dan Sekolah / Zusters Ursulinen Santa Angela.

Dari Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997 serta Daftar Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya di jalan Merdeka ini didapat 8 buah bangunan yang patut dilindungi. Di bawah ini foto-foto heritage Bandung berurut sepanjang jln Merdeka mulai dari selatan ke utara.

1. SDN Merdeka 5

SDN Merdeka 5 (Gouvernement Eur.1ste Lagere School B), tahun 2000

SDN Merdeka 5 alamat jln Merdeka no. 9, saat ini

 

2. Kantor Gereja St Petrus

Bangunan Kantor Gereja St Petrus, alamat Jl Merdeka 14, fungsi Rumah/Perpustakaan, arsitek belum diketahui, tahun pembuatan 1915, kategori kelas B

Perpustakaan Katedral St Petrus tahun 2012. Foto Eman S

 

3. Gereja St Petrus (Rooms-Katholieke Kerk)

Bangunan Gereja St Petrus (Rooms-Katholieke Kerk), alamat jln Merdeka no. 14, fungsi Gereja Katolik / Roman katholiek Petruskerk, arsitek C.P. Wolff Schumaker, tahun pembuatan 1922, kategori kelas A

Katredal Santo Petrus, tahun 1930-an

Katredal St Petrus, tahun 2012. Foto Eman S

Katedral St Petrus dilihat dari Kebon Raja, tahun 2012. Foto Eman S

 

4. Polwiltabes Bandung

Bangunan Polwiltabes Bandung, alamat Jl Merdeka 16,18,20, fungsi Sekolah Raja, arsitek belum diketahui, tahun pembuatan 1895, kategori kelas A

Kweekschool, tahun 1866

Kweekschool menjadi Polwiltabes Bandung 2012. Foto Eman S

 

5. SDN Banjarsari

SD Banjarsari Dulu

Gapura masuk SD Banjarsari, tahun 2012. Foto Eman S

SDN Banjarsari, tahun 2012. Foto Eman S

 

6. Santa Angela

Bangunan Santa Angela, alamat Jl Merdeka 24, fungsi Sekolah / Zusters Ursulinen, arsitek Hulswit Fermont & Cuypers Dikstaal, tahun pembuatan 1922, kategori kelas A

Zuster Ursulinen Bandoeng, tahun 1930-an

 

Santa Angela, tahun 2012. Foto Eman S

 

7. Popeye’s

Popeye’s pernah digunakan sebagai Restaurant Fast Food,sekarang bangunan ini  digunakan oleh Yogya Department store. Alamat jln Merdeka no. 54.

Gedung Popeyes tahun 2011. Foto Eman S

 

8. Ex Panti Karya alamat jln Merdeka no. 39

Gedung Panti Karya yang unik pada tahun 1970 – 1980 sempat dipakai sebagai gedung bioskop, namun kini gedung ini merana tidak ada yang haat mengurus.

Panti Karya tahun 1970 -1980 Foto: Bandung Heritage

Gedung Panti Karya tahun 2012. Ftoto Eman S

 

Sumber bacaan:

  1. Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (http://www.bandungheritage.org)
  2. Buku “Bandung Kilas Peristiwa Di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah” oleh Sudarsono Katam Kartodiwirio, PT Kiblat Buku Utama 2006
  3. Toponimi Kota Bandung oleh T. Bachtiar, Etti R.S., Tedi Permadi, Bandung Art & Culture Council (BACC) 2008