Lagu Sanjung Buat Bandung

Meskipun kini Kota Bandung sering dikeluhkan karena tidak sejuk lagi, boro-boro ada halimun di alun-alun, boro-boro bisa bersepeda di dalam kota, dan muacetnyaaaa minta ampun tidak week end juga tidak week day sami mawon.

Dahulu sebutlah tahun-tahun sebelum 70-an Bandung banyak disanjung oleh para pengunjung. Tidak hanya Bandung yang diugung, juga Priangan atau Parahyangan atau umumnya Tanah Sunda banyak dipuja karena keindahan, kesejukan, keramahan penduduknya, bahkan kecantikan mojangnya.

Bandung juga sering dipuja para penyajak umpamanya kumpulan puisi “Di Atas Viaduct” walau sarat dengan kritik tapi menunjukan perhatian dan sayangnya ke Kota Bandung, dan juga telah menginspirasi Ramadhan KH dengan kumpulan puisinya “Priangan Si Jelita”

Zaman kolonial Walanda, Bandung sudah mulai disanjung misalnya menurut Haryoto Kunto (1984) ada lirik lagu menyanjung Bandung

Bandung, O, wonderstad
Dat zegt toch iedereen
Een stad vol pracht en praal
Altijd even schoon en rein
Kortom, een plaats bij uitnemendheid
Bandung, heerlijke stad

Kira-kira  artinya

Kota Bandung nan jelita
Menarik hati siapa saja
Gemerlap menyala tiada tara
Resik apik menarik hati
Memang nyata indah lestari
Bandung kota nan asri

Adapun lirik lagu yang menyebut Bandung kita temukan pada judul lagu seumpama: Ole-Ole Bandung, Halo-Halo Bandung, Sapu Tangan Bandung Selatan, Bandung Selatan, kemudian lagu-lagu berbahasa Sunda: Ari Imut-Imut Bandung (Kalau Senyum-Senyum Bandung), Peuyeum Bandung (Tape Bandung).

Yang paling produktif adalah seniman pencipta lagu terkenal yaitu Mang Koko (1917 – 1985), beliau yang telah menciptakan lagu lebih dari 400 judul dan sebagian dari lagunya itu menyanjung Bandung dan umumnya Tanah Sunda. Bukan hanya lagunya yang selalu digandrungi oleh pencinta dan pendengarnya akan tetapi juga liriknya pun dipilih yang puitis dan untaian kalimat yang bisa membawa nikmat.

Inilah beberapa judul lagu ciptaan H. Koko Koswara yang bahkan sampai kini masih dihariringkeun (disenandungkan) orang Bandung. Judul lagu-lagu Bandung oleh Mang Koko:  Bandung, Kota Bandung, Pagunungan Bandung, Bulan Bandung Panineungan (Bulan Bandung Dalam Kenangan), Di Langit Bandung Bulan Keur Mayung (Di Langit Bandung Bulan Sedang Dipuncak), Jali-Jali Aransemen Bandung.

Lagu Ciptaan Mang Koko tentang tanah Sunda dan alam Priangan lainnya:  Angin Priangan, Tatar Sunda, Tanah Sunda, Padusunan Priangan (Pedusunan Priangan), Parahiangan, Pasundan Eksiganda, Sunda Sawawa (Sunda Dewasa)

Sewaktu tahun 50-an anak-anak SD sangat keterlaluan kalau yang merasa orang Sunda tidak bisa menyanyikan dan hapal lagu wajib, lagu Tanah Sunda seperti dibawah ini:

Tanah Sunda gemah ripah
Nu ngumbara suka betah
Urang Sunda sing toweksa
Nyangga darma anu nyata
Seuweu Pajajaran
Muga tong kasmaran
Sing tulaten jeung rumaksa
Miara pakaya
Memang sawajibna
Geten titen rumawat Tanah Pusaka

Cag!

Remy Sylado Di Atas Viaduct

Di Atas Viaduct

Kumpulan Puisi Kota Bandung

Banyak penulis, sastrawan, juga wartawan yang teringat atau terkenang atau terinspirasi oleh Kota Bandung. Maka dari itu Kota Bandung tidak hanya dinikmati sebagai kota tujuan wisata tapi juga dalam karya sastra seumpama puisi.

Ahda Imran penulis puisi, cerpen dan esai, telah menyuguhkan kota Bandung dalam bentuk sekumpulan puisi atau sajak dari berbagai penulis yang telah dia pilihkan dalam sebuah buku “Di Atas Viaduct” (Bandung dalam puisi Indonesia). Pada pengantar buku tersebut beliau menyebutnya atau mempersamakan dengan buku lain yang bermaksud menulis arsitektur kota dalam puisi.

Viaduct adalah jembatan kereta api,  yang ada di Kota Bandung ini dibuat agar tidak mengganggu jalan kendaraan lain, di bawah viaduct  selain jalan kendaraan mobil juga ada sungai yang membelah kota Bandung yaitu sungai Cikapundung. Yang disebut Viaduct di Kota Bandung ada dua satu di sebelah baratnya setelah setasiun Bandung yakni viaduct jalan Pasirkaliki, sedangkan viaduct yang dimaksud buku ini adalah viaduct yang ada di Kebonjukut sebelum Stasiun Bandung dari arah timur.

Kalau nama Remy Sylado tentu tidak bireuk lagi beliau adalah penulis novel dan puisi yang lahir di Ujungpandang12 Juni 1945, mengasuh Puisi Mbeling di majalah Aktuil Bandung 72 – 75. Kumpulan puisinya adalah “Puisi Mbeling”.

Puisi adalah kumpulan kata-kata indah, penuh makna, penuh permainan bahasa yang memikat dan sebagainya. Dalam KBBI puisi adalah 1 ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak.

Lalu kalau puisi mbeling yang dikomandani Remy Sylado adalah dalam KBBI juga disebutkan pusi mbeling adalah sajak ringan yg tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah, dan tegang; sajak main-main. Tentu Remy Sylado tidak mau disebutkan main-main, beliau serius karena puisinya di buku ini termasuk paling panjang satu judul sampai 8 halaman.

Dalam puisi mbeling tulisannya di buku ini berjudul “Kota Kita”, Remy Sylado telah menulis puisi tersebut menceritakan Kota Bandung, ditulis tahun 1971, betul-betul bahasa yang campur aduk dalam bahasa Indonesia, Sunda, Inggris, bahkan Belanda. Bukan hanya bahasanya yang mungkin beberapa penikmat puisi tidak bisa mengerti maknanya, juga kata dan kalimatnya betul-betul edun (edan) dan pas kalau disebut mbeling.

Beliau Remy Sylado itu, dalam ke-mbelingan-nya tidak ragu menulia kata-kata ungkluk, ublag, dan bagong lieur untuk  menyebut pelacur yang demi sopan santun dalam bahasa umum diganti dengan wts atau pramu nikmat. Dan ini yang kalau anak-anak Sunda menyebutkannya bisa dijewer telinga oleh ibunya, yaitu secara terang terangan menulis, maaf, heunceut, itu adalah sebutan maaf sekali lagi, alat kelamin wanita.

Tapi demi kebebebasan berekspresi atau karena di KBBI juga terdapat ungkapan puisi mbeling, nampaknya pembaca telah memaklumi atau memberikan legitimasi kepada Remy Sylado untuk menulis kata atau kalimat yang jorang atau “cabul”. Barangkali disitulah nikmatnya membaca puisi mbelingnya Remy Sylado

Kalau Anda berkenan silakan membaca puisinya di bawah ini

Continue reading

Bandung Baheula Dalam Cerita

Tentang Kota Bandung zaman lawas sering ditulis orang, yang paling banyak membuat buku tentang Bandung tidak diragukan lagi orangnya adalah Haryoto Kunto, saking menguasainya sampai detil tentang Bandung, beliau sering digelari Kuncen Bandung. Misalkan saja bukunya yang telah ditulis: Bandoeng Tempo Doeloe, PT Granesia 1984, Semerbak Bunga Di Bandung Raya. PT Granesia 1986, Ramadhan Di Priangan (Tempo Doeloe). PT Granesia 1996, dan Balai Agung Di Kota Bandung. PT Granesia, 1996.

Ada seorang lagi sastrawan dan sekaligus wartawan, ini angkatan diatas Haryoto Kunto adalah Sjarif Amin atau Mohamad Kurdie. Ada tiga buku novel roman yang disamping cerita fiksi tentang percintaan itu, pengarang ini selalu menggambarkan tentang keadaan zaman saat itu.

Buku Manehna & Babu Kajajaden

Misal buku berbahasa Sunda yang cukup terkenal yakni  Manehna, Kiblat Buku Utama 2001, Babu Kajajaden, Kiblat Buku Utama 2012, dan Nyi Haji Saonah, Kiblat Buku Utama 2005,

Manehna ( Si Dia) bercerita tentang perjalanan zaman dahulu naik kereta api ke Pangandaran pantai selatan Jawa Barat, dan yang paling banyak menceritakan kondisi zaman kolonial Belanda di Bandung adalah Babu Kajajaden (babu/pembantu rumah tangga jadi-jadian).

Buku Nyi Haji Saonah

 

 

 

 

Sedangkan buku Nyi Haji Saonah bercerita tentang zaman gerombolan DI

Apa dan siapa Sjarif Amin atau Mohamad Kurdie itu diceritakan kembali secara detil oleh sastrawan angkatan muda yakni Kang Hawe Setiawan

Sjarif Anin atawa Moehamad KurdieSjarif Amin atau Muhammad Koerdie (Ciamis, 7 September 1907 – Bandung, 1991) adalah salah seorang pengarang terkemuka di lingkungan sastra Sunda.

Ia juga dikenal sebagai wartawan surat kabar “Sipatahoenan”, dan mendapatkan penghargaan sebagai Perintis Pers dari menteri Penerangan.

Makanya tidak aneh kalau dalam buku cerita romannya tidak lepas dari data dan fakta serta kondisi zaman itu.

Beliau Sjarif Amin yang sepertinya menguasai betul bahasa Belanda dalam bukunya Babu Kajajaden kerap mencantumkan kata atau kalimat dalam bahasa itu, yang karena saking banyaknya istilah Belanda di akhir bukunya perlu mencantumkan lampiran tentang arti kata atau kalimat tersebut.

Sjarif Amin adalah tamatan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sekolah zaman Belanda setingkat SMP kini. Di MULO murid-murid belajar menguasai bahasa Belanda.

Buku "Keur Kuring Di Bandung"Buku non fiksi yang bercerita khusus tentang Bandung Baheula adalah “Keur Kuring Di Bandung” (Sewaktu Aku Di Bandung).

Buku karyanya yang legendaris dan lumayan susah dicari berjudul “Keur Kuring Di Bandung”. Konon lebih otentik data yang ditampilkan karena selain beliau sebagai wartawan yang biasa selalu menulis berdasarkan data dan fakta, ia juga hidup dijaman “Bandoeng normal” (dikutip dari airologikadotmultiplydotcom).

Gambar cover buku “Keur Kuring Di Bandung” (Sewaktu Aku Di Bandung)  difoto baru-baru ini di Bapusda (badan Perpustakaan Daerah) Jabar Bandung. Sampai dengan  saat ini belum sempat membacanya (karena buku tersebut walau kopian tidak boleh dipinjam dibawa ke rumah), mudah-mudahan lain waktu cerita tentang Bandung dari buku ini bisa diposting.

Madat Baheula di Gang Aljabri Bandung

Semasa kecil usia SD di Ciamis Jawa Barat sana, meskipun berbahasa ibu Sunda akan tetapi ajaran kebaikan selain belajar berbahasa ahlak berbahasa Sunda dari agama berbahasa asal Arab, juga ahlak-ahlak baik dari bahasa Jawa. Mungkin juga karena Kabupaten Ciamis berbatasan dengan Jawa Tengah.

Ajaran kebaikan tersebut adalah dilarang keras melakukan MO-LIMO, mungkin supaya mudah diingat. Molimo adalah ma-lima atau ma yang lima. Ma-lima dimaksud adalah dilarang maen (berjudi), dilarang madon (prostitusi), dilarang maling (mencuri/korupsi), dilarang madat (candu/narkoba), minum (mabuk/minuman keras).

Tahun 70-an ke RS Immanuel sering ada pasien tua yang yang kurus kering kebetulan dari etnis Cina yang kecanduan madat, yang sambil menunggu hasil laboratorium oleh pengantarnya diberikan madatnya yang kalau tidak salah rupanya seperti dodol Garut bagitu. Ketika ditanya alamatnya berasal dari Pecinan Bandung.

Dua pemadat baheula di JawaBarangkali kurus keringnya seperti gambar di samping ini. Gambar disamping ini didapat dari koleksi KTLV dengan keterangan gambar sebagai berikut:

Dua perokok opium di pulau Jawa, Merokok opium diperkenalkan ke Jawa oleh Belanda, yang mendirikan pelabuhan utama Batavia (Jakarta). Merokok opium pada mulanya bagian terutama dari kehidupan sosial di kalangan kelas atas Jawa, tetapi di abad ke-19 semakin menyebar ke buruh yang melayani perkembangan ekonomi colonial.

Pecinannya Bandung adalah berada di kota lama atau kota tuanya Bandung yaitu seputar jalan Alkateri, jalan ABC, Pasar Baru, jalan Suniaraja, dan jalan Pecinan lama sendiri.

Nah kata orang tempat madat yang terkenal jaman baheula di Bandung adalah di gang Aljabri yang berada di jalan Alkateri kalau sekarang persisnya didepan toko mainan Gow & Gow atau depan lotek pincuk dan warung kopi Purnama.

Cerita mengenai gang sempit dan relung-relung kota Bandung bisa didapat dari pengarang-pengarang Sunda yang terkadang menyebutkan keadaan jalan dan gang-gang di Bandung secara tepat. Contoh pengarang yang begitu adalah Syarif Amin  dalam bukunya “Babu Kajajaden” (babu (prt) jadi-jadian).

Adapun pengarang terkenal yang bercerita tentang madat yang berlokasi di gang Aljabri Bandung itu adalah Us Tiarsa R dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan (Ketika Bandung Masih Berembun).  Beliau bercerita ketika masa kanak-kanaknya yang memang tinggal di Kota Bandung.

Ia bercerita: Pulang dari main bola di Tegallega, menyusuri jalan Kabupaten (Dewi Sartika) lurus ke Alun-alun, menyebrangi jalan Asia Afrika persis di depan Kantor Pos Besar Bandung, terus ke barat belok ke kanan jalan Alkateri. Di seberang Gow & Gow masuk saja ke gang Aljabri.

Selanjutnya di suatu rumah yang dipagar kelihatan ada encek bertiga sedang duduk di balai-balai seperti yang sakit parah badannya kurus kering, mungkin seperti gambar di atas.

Cerita selanjutnya disebutkan, ternyata betul di Bandung ada tempat yang disediakan untuk yang suka madat yang masih ada sampai tahun 1970-an yaitu di Aljabri. Banyak cina yang ketagihan madat yang sudah tua tidak ada yang masih muda. Karena lumayan banyak Cina tua yang ngamadat, maka oleh pemerintah “disediakan” tempat.

Tidak hanya kata orang tua yang beragama Islam saja bahwa madat itu haram, Cina pemadat sendiri yang sudah terlanjur pemadat melarang keras keturunannya yang mencoba-coba madat. Tidak haram bagaimana kelihatan akibatnya seperti gambar di atas.

Maka dari itu kalau zaman sekarang pantas selalu didengungkan bahwa dilarang dan jauhi narkoba! Itu kan kepanjangannya dari dilarang ma nya madat.

Rencana Membaca Buku Perpustakaan

Barangkali sudah 2 tahun aku menjadi anggota dari Perpustakaan Daerah Jawa Barat yang berlokasi di jalan Soekarno Hatta Bandung. Buku-bukunya lumayan lengkap sepanjang yang aku minati. Beberapa buku juga lumayan sudah aku selesaikan membacanya.

Tapi bagaimana ini, bukunya banyak yang diminati untuk dibaca tapi kemauannya malahan melampaui kemampuan. Membaca buku yang tebal dan menarik bisa memakan waktu satu bulan. Buku-buku tersebut mula-mula tentang kota Bandung zaman dahulu, tapi aku harus juga membaca buku sejarah kan! Jadinya semakin banyak buku yang harus aku baca.

Jadi, biar tidak careraman artinya buku ini belum selesai dibaca sudah mau membaca buku yang lain. Rencananya diantri saja dahulu, dibaca satu demi satu buku, seperti naik gunung lewat tangga satu langkah demi satu langkah dilalui, seperti berperang (berlebihan amat ya!) satu daerah demi satu daerah ditaklukan, dan seperti makan nasi satu piring demi satu piring dilahap… sampai ludas.

Sementar ini aku buat dahulu daftar buku yang bernawaitu dibaca secara serius. Mudah-mudahan jadi amunisi untuk postingan atau tulisan di blog. Inilah daftar buku tersebut.

RENCANA MEMBACA BUKU:

  1. Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe), oleh Haryoto Kunt
  2. Bandung Lautan Api, oleh Jayusman
  3. Gedung Sate Bandung, oleh Sudarsono Katam
  4. Bandung Kilas Peristiwa Di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah, oleh Sudarsono Katam K
  5. Ciri Perancangan Kota Bandung, olehDjefri W. Dana
  6. 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur, oleh Pikiran Rakyat
  7. Tradisi Dan Transformasi Sejarah Sunda, oleh Dr. Nina H. Lubis, M.S
  8. Dokumenter Runtuhnya Hindia Belanda, oleh Cj Bijkerk
  9. Kebudayaan Indis Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi, oleh Djoko Soekiman
  10. Batavia Awal Abad 20, oleh H.C.C Clockener Brousson
  11. K N I L, oleh Petrik Matanasi
  12. Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Barat, oleh Dr Edi S Ekajati dkk
  13. Api Sejarah 1, oleh Ahmad Mansur Suryanegara
  14. Api Sejarah 2, oleh Ahmad Mansur Suryanegara
  15. Kartosoewirjo Mimpi Negara Islam, oleh Seri Buku Tempo
  16. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008, oleh M. C. Ricklefs
  17. Sejak Indische Sampai Indonesia, oleh Sartono Kartodirdjo
  18. History Of The Arabs, oleh Philip K. Hitti
  19. Karangan Djeung Gambar Kar Atlas Hindia Nederland, oleh J. Van Reijen
  20. Jawa, Petualangan Seorang Antropolog oleh Niels Mulder
  21. Amanat Gua Pawon, oleh penyunting Budi Brahmantyo Dan T. Bachtiar

Rencananya jika sudah dibaca dibuat resensi atau sinopsisnya, wah apa tidak berlomba dengan umur ya?  Padahal umurku sekarang sudah 66 tahun. Semoga terlaksana!