Makan-Makan Makanan Minang

Cerita tentang makanan Padang tidak akan ada selesainya, demikian juga di dunia maya banyak telah ditulis orang tentang makanan yang sedap nian ini. Saya ingin menulis pengalaman sendiri dan pandangan saya sendiri dalam hal menikmati kuliner Tanah Minang ini.

Kami datang ke Tanah Minang dalam rangka meresmikan tali kasih anak kami dalam sebuah pernikahan di Bukittinggi. Pengantin putra dari Jawa Barat sedang anak daronya dari Sumatra Barat asli Bukittinggi.

Datang ke Bukittinggi termasuk sambil menyelam minum air, yang fardunya menikahkan tambahannya wisata ke tempat-tempat yang menarik dan juga jangan lupa menikmati hidangan makanan Padang. Khusus mengenai kuliner makanan Sumatra Barat dari beberapa informasi dalam hal ini Bukittinggi adalah juaranya.

Kami rombongan dari Bandung mula-mula berjumlah 15 orang kemudian karena berdatangan sanak saudara akhirnya berjumlah 25 orang. Karena kami juga berada disana selama 5 hari jadi so pasti ukuran perut menjadi masalah yang diutamakan he he he. Jika di Bandung paling-paling datang ke rumah makan Padang tidak sampai sebulan sekali, tapi pada lawatan ke Bukittinggi pada bulan Agustus 2013 ini makan hidangan Padang hampir setiap hari.

Pemanasan makan makanan Padang

Pemanasan makan makanan Padang

Mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dari Jakarta pada jam 13.00 tentu saja perut sudah menagih untuk diisi, tapi seperti tidak ada kesempatan karena kendaraan sudah siap untuk membawa kami ke Bukittinggi, jadi perjalanan belum lama sepakat untuk berhenti di Padang Panjang langsung masuk rumah makan, dan sikaaat makanan Padang pemanasan.

Pemanasan makan di sini lumayan lama, makanan yang saya nikmati adalah gulai kepala ikan tapi nampaknya kepala ikan tongkol besar. Karena ikannya masih segar jadi dagingnya yang putih dan bumbunya yang meresap, cukup membuat saya lupa daratan.

Perjalanan dilanjutkan dengan guyuran hujan, dan biasa terjadi iring-iringan mobil sehingga perjalanan terpaksa merayap, sehingga air terjun lembah Anai hanya dilihat dari mobil saja. Dengan perut kenyang mobil terus meluncur, sekitar jam 17.00 sampailah ke kota tujuan Bukittinggi.

Hidangan ditata di tempat duduk lesehan

Hidangan ditata di tempat duduk lesehan

Malam hari kami diundang makan oleh calon besan, dan yang luar biasa cara menghidangkan lauk pauk yang dimasak ala Bukittinggi sebagaimana umumnya masakan Padang. Puluhan piring berisi lauk pauk dan teman nasi lainnya ditata diatas karpet dimana kami duduk lesehan. Setelah beberapa patah kata selamat datang kami dipersilakan makan. Dan.. masya allah nikmatnya makan dengan lauk pauk yang sangat mengundang selera. Dan malam itu setelah mengucapkan terima kasih kami pulang ke hotel dengan perut kenyang. Undangan makan serupa masih kami terima yaitu saat selesai akad nikah dan sewaktu pamitan kala segala acara telah selesai.

Ikan bilis dalam karung Jangan menangis dan jangan bingung

Ikan bilis dalam karung
Jangan menangis dan jangan bingung

Jangan lupa garingnya goreng ikan bilis atau bilih, ikan kecil ini didapat dari danau. Ketika saya jalan-jalan pagi saya pertama menemukannya di pasar pagi dadakan di jalan ke arah Ngarai Sianok, dipajang begitu saja dalam karung plastik harga perkilonya Rp 60.000,- Ternyata banyak yang sudah dikemas dan tinggal dimakan ditambul bisa, dengan nasi hangat apalagi enak. Ada berita bahwa ikan bilis ini hanya hidup di Danau Singkarak akan tetapi ada juga di Danau Maninjau, bahkan katanya dibudidayakan di Danau Toba.

Ikan bilis dalam kemasan Jangan menangis kan ada yang merindukan

Ikan bilis dalam kemasan
Jangan menangis kan ada yang merindukan

Ikan bilis dijual juga dalam kemasan plastic, demikian juga daging rendang dijual dalam kemasan yang tahan lama, sangat cocok untuk oleh-oleh.

Tidak cukup hanya itu, kami mencoba hidangan nasi kapau di Pasar Lereng dekat Jam Gadang, mencoba sate mak Sakur sewaktu pulang dari Bukittinggi ke Padang, makan ikan bakar di Rumah makan Fujo di kota Padang.

 

Hidangan nasi kapau di Pasar Lereng

Hidangan nasi kapau di Pasar Lereng

Sate Mak Syakur, uih enaknya

Sate Mak Syakur, uih enaknya

 

Gulai kepala ikan kakap, enak sekali, dihangatkan sesampai di bandung

Gulai kepala ikan kakap, enak sekali, dihangatkan sesampai di bandung

Dan oleh seorang kawan anak saya yang sangat baik karena demikian perhatian terhadap kami selama kami di Sumbar, bahkan sebelum naik pesawat dioleh-olehi gulai kepala ikan kakap, yang ketika sampai di Bandung dihangatkan betul-betul lamak bana.

Nuhun ka Kang Gungun dan istri.

Sekian dahulu….

Advertisements

Wisata Bersama Bocah di Sumatra Barat

Sewaktu masih muda umurku sekitar 32 tahun, he he sekarang 67 tahun, tua banget dan cerita lama banget… saya beserta keluarga karena pekerjaan merantau ke Kalimantan Timur, padahal saya orang Bandung. Tahun 1978 orang tua saya bilang: “Mau mencari apa jauh-jauh amat?”. Saat itu ungkapan mangan ora mangan ngumpul, meskipun berbahasa Jawa berlaku juga buat orang Sunda yang artinya “makan tidak makan yang penting berkumpul”. Saya, karena pekerjaan sekali lagi, maksa. Menyedihkan memang saat kedua orang tua meninggal, saya selalu datang terlambat hanya melihat pusara dengan tanah yang masih merah.

Oh, saya melantur kalau cerita bisa kesana kemari, dan untuk itu istri saya selalu protes, karena pertama melantur itu, dan keduanya mulainya terlalu jauh seperti permulaan cerita ini. Nah, jika cuti tahunan dari pekerjaan, kebetulan dibelikan tiket pesawat pp, dan juga bekal uang cuti, kami tidak langsung ke Bandung, tapi berwisata dahulu di tanah air, membawa anak-anak yang kala itu masih usia sekolah SD. maksudnya agar anak-anak banyak pengetahuan dan pengalaman. Dan saat ini tahun 2013, anak saya yang kala itu masih sekolah di SD, telah dewasa telah menikah dan telah memberikan cucu-cucu kepada saya.

Itu peristiwa wisata keluarga 30 tahunan yang lalu, saat ini bulan Agustus 2013 terulang kembali, tapi anggota keluarga bukan hanya 5 orang sekarang sudah menjadi 11 orang, karena ditambah mantu dan cucu, bahkan sudah jadi 12 orang karena tambah mantu satu lagi. Tujuan yang akan saya ceritakan adalah wisata ke Bukittinggi dan Padang, dalam rangka pernikahan anak bungsu saya.

Kata orang jika ingin kebebasan berwisata yang sesungguhnya adalah bepergian sendirian, kemana pergi mengikuti kemauan kaki melangkah, tidak ada yang protes, tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang rewel berbeda kemauan. Sepertinya iya begitu tetapi bagi saya kalau boleh memilih enakan rame-rame dengan keluarga, sambil menerapkan pendidikan ke anak cucu, contoh-contoh mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak. Soal direcokin cucu itu biasa, dan he he he kan ada kedua orang tuanya.

Wisata keluarga kali ini selama lima hari itu juga harus punya persiapan yang matang utamanya disesuaikan dengan kebutuhan bocah-bocah itu dari pakaian, makanan, penginapan, dan juga tempat rekreasi harus ditambahkan dan disesuaikan dengan selera anak-anak. Malahan akhirnya wisata orang tua nebeng kepada pikniknya anak-anak. Dunia piknik anak-anak harus dilengkapi dengan kolam renang, arena bermain anak, dan ke mall. Demikian juga makanan jangan lupa KFC, Pizza, McD, ice cream, dan jajanan warung kesukaannya, anak-anak mana suka makanan RM Padang yang serba pedas yang sebaliknya dengan orang tua menyukai sambal hijau dan merah dengan daun singkong, ayam pop, dan daging rendang mana boleh terlewat.

Demikian namanya juga anak-anak, ketika sudah matang merencanakan pergi melihat-lihat Jam Gadang dan Ngarai Sianok, malahan pagi-pagi sukar bangun dan apabila sudah bangun ngotot ingin main game dahulu. Orang tua mau melihat danau Maninjau anak-anak mogok ingin membeli mainan sekitar jam Gadang, wah kalau tidak pandai-pandai merayunya bakalan banyak acara wisata terlewat. Melihat itu saya senyum sendiri, karena ketika anak saya kecil dahulu perilakunya tidak jauh berbeda dengan cucuku saat ini.

Ketika segala urusan telah kelar, liburan telah lekasan, sampailah saatnya pulang, badan terasa sudah loyo, mata mengantuk, tulang-tulang terasa remuk redam, dan pegal segala persendian, baru juga terlelap sesaat di pesawat, karena cucu saya senang sekali bertanya yang aneh-aneh, sebagai kakek gengsi dong kalau tidak tahu seluk beluk pesawat terbang. Terdengar sorakan cucu bahwa pesawat akan mendarat di Cengkareng.

Sekian dahulu…

Meresmikan Tali Kasih di Bukittinggi

Sampai usia pensiun yakni 55 tahun saya belum pernah menginjak tanah Sumatra, padahal cita-citanya sebelum tua renta, selagi masih kuat dan sehat, sangat ingin datang ke sana. Suatu kali pernah akan diajak anak cikal ke Palembang diajak menikmati makanan khasnya pekmpek, tapi ternyata tidak terlaksana. Demikian juga mantu pernah mengajak ke seberang saja ke kota Lampung, sekedar ada cerita pernah datang ke Pulau Andalas, eh gagal juga. Akhirnya hampir putus asa (padahal jangan berputus asa, sebab putus asa adalah dosa!) karena usia terus merayap sampai berumur 67 tahun belum juga ada kesempatan ke sana.

Milik teu pahili-hili, bagja teu paala-ala, demikian peribahasa Sunda menyebutkan bahwa artinya rizki tidak akan tertukar, kalau sudah kepastiannya begitu, ya terjadilah. Asal mulanya anak bungsu lelaki saya yang masih bujangan tertarik kepada seorang gadis asal Bukittinggi. Demikian kuatnya rasa cinta, tingginya tarikan kasih, sampai kepada keinginan membuktikan tali kasih itu menjadi sebuah tali pernikahan. Seiring berjalannya waktu ternyata jalan ke arah perkawinan semakin mendekati kenyataan. Kami sebagai orang tua setelah melihat bahwa anak saya demikian menyayangi dan mencintai anak daro dari rantau, anak Minang, dan sekali lagi putri dari Bukittinggi. Akhirnya kedua orang tua sepakat untuk menikahkannya di Sumatra Barat, di Ranah Minang, di pangkuan bundo kanduang, di tingginya perbukitan Bukittinggi.

Dan… akhirnya, tariknya jodoh yang dicanangkan oleh yang empunya penentu nasib, dua insan, satu lelaki dari tanah Sunda dan satu lagi anak daro cantik asal Bukittinggi ketemu di akad nikah, bersanding di pelaminan. Kami sadulur dari Bandung, dan pihak besan serta ninik mamak dari Ranah Minang turut bersyukur dan berbahagia atas pernikahan anak-anak kami tersebut.

Saya beserta istri ditambah anak dan mantu, ditambah lagi cucu empat total sebelas orang dari jauh sebelumnya telah booking tiket pesawat dari JKT – PDG pp. Kemudian peserta menjadi bertambah banyak karena beberapa saudara dan juga keluarga besan dari si cikal turut serta, sehingga total jendral 25 orang. Saya sangat terharu karena mereka termasuk keluarga anak-anak saya datang dengan mengeluarkan biaya sendiri. Tak disangka penerimaan besan di Bukittinggi juga demikian senang atas kedatangan kami. “Serasa banyak yang menyetujui dan banyak yang merestui” kata pihak besan, ketika saya memohon maaf atas banyaknya anggota yang datang, karena batin saya pribumi akan kerepotan karena ternyata pribumi sering sekali menjamu makan, maklum lima hari begitu…

Kami pihak pria telah menyerahkan segala acara yang akan dilalui sepanjang akad dan resepsinya kepada pemangku hajat yaitu pihak wanita. Ciri sabumi cara sadesa, yang artinya setiap tempat punya tradisi sendiri, atau dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tentu memang masing-masing mempunyai budaya sendiri-sendiri. Tapi insya allah mereka terutama pengantin baru dapat membina rumah tangga yang diridhai Allah SWT penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan harus dicari dan diperjuangkan, bahkan mungkin pengorbanan perasaan dan ego masing-masing, insya allah sekali lagi kebahagiaan akan datang.

So… saya aki-aki tujuh mulud hejo cokor badag sambel, pasti banyak yang tidak mengerti artinya, tentu saja saya juga tidak begitu faham maksudnya. Hanya akhirnya sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, saya dengan bangga memproklamirkan bahwa saya telah pernah menginjakan kaki di Pulau Sumatra, dan bukan main-main di tanah sejuk nan paginya berembun, tanah berbukit dan bertebing, tanah elok tak terperi di Bukuttinggi.

Sekian dahulu…

Ukuran Sopan Santun

Anak sulung saya beserta kelurganya tinggal di Jakarta, sedangkan anak nomor dua dengan kelurganya memilih tinggal di Bandung.

Ketika saya menengok cucu yang di Jakarta itu kelas 2 SD, keberatan jika Akinya yaitu saya, yang coba-coba berbicare ala Jakarte. Saya menyebutkan diri saya “gue” hanya iseng-iseng dengan istri.
“Mamah Aki bilang “gue”!” Laporan kepada ibunya. Saya baru tahu bahwa menyebutkan diri dengan “gue” bagi anak-anak dianggap tidak sopan.

Lain kali, cucu yang di Jakarta itu berkunjung ke Bandung dan bertemu dengan cucu saya yang urang Bandung banget kelas 3 SD. Nampaknya cucu yang orang Jakarte biasa sekali menyebutkan nama temannya atau adiknya didahului dengan panggilan “Si”
Giliran cucu, yang saya sebut orang Bandung itu, lapor kepada ibunya: “Mamah Dafif memanggil orang pakai “Si”!”
Saya hanya tersenyum.

Sewaktu masih muda, karena pekerjaan, saya merantau dan tinggal sekeluarga cukup lama di Kalimantan Timur. Kebetulan kakak laki-laki ikut serta ke sana. Suatu saat dia mengemukakan kekesalannya hanya karena rekan sekerjanya yang seumur memanggil dia dengan sebutan “kamu”.
Kamu dalam bahasa Sunda adalah maneh atau sia. Dan itu menurutnya kasar sekali.

Apa sih kesopanan itu, menurut KBBI adalah adat sopan santun, tingkah laku tutur kata yang baik, tata krama. Meski dengan catatan bangsa-bangsa di dunia mempunyai nilai kesopanan yang berbeda-beda.

Bahasa Sunda Banten, bahasa yang dipakai adalah ragam bahasa yang sama. Sama dalam arti tidak mengenal undak-usuk bahasa seperti bahasa Sunda Priangan termasuk Bandung, atau apalagi bahasa Jawa. Bahasa yang sama, kaprah, setara, tidak mengenal tingkatan-tingkatan kata bahasa asing disebut egaliter (Ki Hasan). Bukan hanya bahasa Banten yang bangga dengan bahasa yang bersifat egaliter, dan demokratis juga budaya Minangkabau. Bahasa sangat besar pengaruhnya pada budaya. Orang Minang bahwa bahasa mereka adalah bahasa yang egaliter, demokratis, dan tidak feodalis.

Bahasa minang hampir sama dengan bahasa Melayu yang punya sipat egaliter. Kita bangsa Indonesia beruntung para pendiri negeri ini memilih bahasa Indonesia yang egaliter dan tidak feodalis.

Posted from WordPress for Android

Aki-Aki Piknik Ke Bali, Cita-Cita Terlaksana

Karena Anda masih muda, dan tentu belum merasakan seperti pengalamanku, saat ini usiaku 67, istri 60, jadi sudah menjadi kakek dan nenek dari empat cucu. Aku ingin bercerita tentang penantian untuk melakukan wisata keluarga bersama ke Bali . Karena meskipun sudah aki-aki kalau ada yang mengajak piknik selalu mau saja. Alasannya sederhana sesuai dengan hak azasi kakek untuk ikut atau tidak ikut berwisata, keduanya kakek-kakek juga mausia…, maksa ya.

Liburan di Bali Tahun 1987, anak sulungku masih 14 tahun

Liburan di Bali Tahun 1987, anak sulungku masih 14 tahun

Dahulu ketika masih muda usia sekitar 40 tahunan, ketika saat-saat mendidik dan membesarkan anak-anak, kalau mendapatkan cuti dari pekerjaan dan biasanya cutinya disamakan dengan liburan anak-anak aku selalu mengajak keluarga pulang kampung dari Kalimantan Timur ke Bandung. Nah biasanya sebelum sampai ke tujuan, kami berwisata dulu, kala itu tahun 1987 kami pergi ke Bali. Waktu itu di Bali hanya 3 hari, jadi baik aku maupun anak-anak sepakat bahwa suatu saat ingin kembali mengunjungi Bali, terus terang belum puas.

Tapi rencana tinggal rencana, cita-cita hanya mimpi belaka, pergi ke Bali hanya sampai dijanji, lamaaaa belum juga terlaksana. Banyak alasan mengapa piknik ke Bali tidak terjadi, misal masalah waktu, diantara anggota keluarga tidak selalu mempunyai libur  yang bersamaan, terus dana juga kadang memprioritaskan  yang penting dulu, dan berikutnya dengan rentang waktu yang demikian panjang anak-anak setamat SD terus ke SMP terus ke SMA lanjut ke PT, dan itu sudah pada melanjutkan sekolah di Bandung sementara aku dan istri tetap tinggal di Kalimantan Timur menyelesaikan tugas sampai usia pensiun datang.

Kesempatan untuk berdarmawisata bersama ke Bali ada titik terang ketika aku sudah pension dari pekerjaan dan kembali bertempat tinggal di Bandung. Tetapi anak-anak sudah semakin dewasa, sudah selesai sekolah, dan sudah muai bekerja,  dan bahkan akhirnya satu demi satu mulai membina hidup berumah tangga. Ya itulah, dari dua anak masing-masing sudah memberikan cucu kepada diriku.

Harapan untuk piknik bersama ke Bali semakin menipis karena melihat kondisi keuangan dimana aku sudah pensiun. Tapi di hati kecil masih ada harapan untuk melaksanakan itu. Hingga suatu saat anak sulungku merceritakan bahwa ada rencana akan mengikuti semacam kursus atas biaya perusahaan tempatnya bekerja, tempatnya di Bali. Dan satu lagi anak sulungku itu mengajak untuk sekalian aku dan istri untuk piknik ke Bali bersama dengan keluarganya. Belum apa-apa istriku sudah mau dan menyetujuinya.

Anak sulungku dan dua orang anaknya saat piknik ke Bali 2013

Anak sulungku dan dua orang anaknya saat piknik ke Bali 2013

Maka kalau Tuhan menghendaki meski 26 tahun kemudian sejak ke Bali tahun 1987 itu, akhirnya aku menginjakan kaki  kembali di Pulau Bali. Pada pelaksanaannya karena aku dan istri tinggal di Bandung sementara keluarga anakku di Jakarta, jadi agar gabung bersama aku harus ke Jakarta dahulu. Meskipun saat itu Jakarta sedang kebanjiran dan untuk sampai ke Bandara Cengkareng penuh was-was akhirnya tembus juga dan betul-betul aku jadi terbang ke Bali. Memang iya tidak pergi se keluarga besar anak-anakku akan tetapi hanya keluarga anak sulungku empat orang kemudian aku dan istri jadi kami berwisata berenam.

Dalam pesawat citilink dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju  Bandara Ngurah Rai Denpasar, pertama aku baru merasakan lagi naik pesawat setelah 11 tahun absen, kemudian aku melihat anakku sibuk mengurus segalanya disamping mengurus keluarganya juga ditambah menjaga dua manula yang tentu merepotkanya. Aku teringat 26 tahun yang lalu saat itu aku yang mengurus anak-anak ketika anak sulungku masih ber umur 14 tahun kemudian dua adiknya usia 12 dan 3 tahun.

Demikian dengan perasaan lega dan puas aku dan istri pulang duluan ke Jakarta dan anakku masih melanjutkan training sampai satu minggu. Masih ada cerita mengenai wisata di pulau seribu pura ini, nanti disambung tapi aku bersyukur kepada Tuhan masih diberi kesempatan untuk melakukan wisata keluarga ke pulau dewata itu.

Berakhirnya Tahun Baru-an

Ketika aku membuka mata di tahun baru 2012 persis sama dengan kemarin yang tahun 2011, memang hari-hari apakah dirayakan atau tidak tetap matahari bulan dan bumi berjalan pada garis edarnya, tidak mau menunggu dan tidak bisa ditunggu.

Setiap pesta selalu ada ahirnya, demikian juga liburan anak-anak harus berakhir, saat anak-anak merencanakan pulang ke tempat masing-masing, para cucu pada protes karena liburan sekolahnya masih lama. Tapi mana mungkin liburan diperpanjang sebab orang tuanya harus segera masuk bekerja. Lewat diskusi, argumentasi, pertengkaran, malahan diiringi tangis ahirnya anak-anak alias cucuku menyerah akan tetapi dengan syarat harus puas-puas dulu main di Bandung, meski begitu karena waktu dan juga keuangan terbatas hanya bisa ke, kebetulan di Bandung sedang ada “Bandung Bersalju”, dan satu lagi, meski seperti umumnya anak-anak tidak suka, yaitu mengunjungi Museum Geologi yang ada di jln Diponegoro Bandung.

Pada saatnya melihat “Bandung bersalju” kami kakek, nenek, anak, dan cucu, pergi bersama, rencananya mau ikut melihat salju di kota Bandung. Meskipun cucu memaksa agar aku ikut masuk arena tapi terpaksa mundur teratur, setelah aku perhatikan tidak ada seoarang kakek pun yang ikut ngantri. Tapi ternyata anak-anak di dalam tidak begitu lama karena pada kedinginan, menurut promosi temperaturnya minus 15 derajat celcius, katanya hiiiiiih dingiiiin sekali, bisa dimaklumi maklum sa-umur-umur hidup di udara dan iklim tropis.

Meskipun aku tinggal di Bandung dan sering sekali melewati gedung Museum Geologi, tidak pernah terbersit untuk mengunjungi Museum tersebut, memang dahulu ketika anak-anakku masih kecil perkiraan 25 tahun yang lalu pernah masuk ke Museum Geologi ini. Saat ini, seperti 25 tahun yang lalu, aku menggiring anak-anak mereka yakni cucu-cucuku. Seperti juga dahulu ketika membawa anak-anakku aku tidak berharap banyak apakah mereka akan serius memperhatikan apa yang berada di Museum atau hanya sekedar kejar-kejaran sebagaimana kesenangan mereka. Sedikitnya kelak ada suatu kenangan masa kecil diajak kakeknya masuk ke Museum manaaaa ya? Oh, iya Museum Geologi.

Tapi, aku melihatnya dari kacamata seorang kakek, Museum Geologi ini sangat-sangat bagus. Akan sangat disesalkan kalau anak-anak belum pernah diajaknya ke sini, meski tak usah serius, sambil diajak bermain saja. Demikian banyak ilmu pengetahuan dan tentu dengan pengalaman melihat sendiri diantaranya fosil-fosil dan tulang belulang binatang-binatang purba yang pernah menghuni planit kita jutaan tahun yang lalu. Begitu banyak batu-batuan yang sangat indah dan penuh makna dipajang di etalase kaca.

Mengunjungi Museum Geologi di Bandung ini tanpa dipungut bayaran hanya dipersilakan untuk mengisi buku tamu dan kemudian dilepas. Dibanding dengan 25 tahun yang lalu Museum Geologi ini semakin lengkap dan semakin diperluas. Bahkan di luar Museum Geologi dibuatkan taman namanya “Taman Siklus Bebatuan”.

Meskipun aku yakin Anda semua sudah melihatnya dan sudah mengunjunginya, beberapa foto akan aku pajang di sini, namun karena dikejar deadline, hehehe buatan sendiri, sehingga keterangan mengenai gambar begitu terbatas.

Museum Geologi

Museum sedang padat pengunjung, berbaris menuju auditorium pemutaran film

Fosil binatang purba

Fosil binatang purba

Fosil binatang purba

Batu-batu kristal

Batu-batu kristal

Batuan juga dipajang di taman

Demikian kisah liburan anak dan cucuku di Bandung, lapangan Kurusetra tempat perang keluarga Bharata imajinasiku dari cerita pewayangan telah sepi, tidak ada celoteh, tangis bahkan teriakan anak-anak, di rumahku kembali ke “modal” semula yakni tinggal berdua seorang kakek dan seorang nenek. Tapi itu tidak masalah dalam kehidupan ini selalu silih berganti sebagaimana roda pedati yang terus berputar.

Persiapan Keluarga Menyambut Tahun Baru 2012

Aku tidak akan mengupas masalah mengapa tahun baru harus dirayakan atau disambut dengan penuh kebahagiaan. Itu adanya di pikiran kita masing-masing, kala aku di kampung dulu bukan hanya tahun baru yang tidak pernah dianggap istimewa, tapi hari ulang tahun sendiri pun tidak ingat, apalagi diperingatkan atau diperingati orang lain, tapi itu sekali lagi dahulu zaman aku masih kecil dan tinggal di kampung.

Kini, anak-anak muda beda, menyambut tahun baru dengan penuh suka cita, demikian juga seperti dua tahun yang lalu, kali ini anak dan cucuku sepakat untuk merayakan pergantian tahun baru 2011 ke 2012 di rumahku di Bandung. Alasannya adalah sambil liburan anak-anak, terus biasanya pada mengambil panjar cuti barang satu atau dua hari. Disamping itu, hitung-hitung isirahat dari kesibukan hari-hari sibuk bekerja,  tempatnya di rumah orang tua. No problem, it’s good.

Tentu saja menyambut kedatangan mereka yaitu anak cucuku perlu dipersiapkan dengan baik. Misalnya untuk menyiapkan dua keluarga dengan dua asisten (hehehe maksudnya pembantu) perlu persiapan kamar tidurnya. Keluarga si sulung di kamar mana, keluarga si nomor dua dimana, terus satu lagi  yang masih bujangan di mana. Ini semua perlu tenaga ekstra membersihkan kamar, menyulap mushala jadi kamar tidur, dan gelar karpet di tengah rumah. Menarik meja kursi ke pinggir, lalu menciptakan lapangan bola mini yang kelak dipakai pertandingan.

Demikian juga yang pertama dan utama pada setiap gempungan, pertemuan, silaturahmi, adalah persiapan makanan. Makanan yang disiapkan adalah makanan yang disukai bersama termasuk juga makanan yang disukai cucu-cucuku yang masih pada duduk di TK dan SD. Istri kala merencanakan makanan meskipun sudah rutin tapi tetap mengabsen satu demi satu makanan yang akan disuguhkan selama perhelatan (wah saya berlebihan ya?). Kami suami istri sudah komit kalau salah seorang punya ide jangan cepat-cepat disanggah, karena itu lewat pemikiran, rencana, dan bahkan he he he  renungan.. pembiayaannya. Makanya ketika dia mengatakan daftar makanan yang agak panjang saya meng-ia-kan dengan khusuk.

Mulai dari “soto ayam tambah prekedel” katanya, “iya” jawab saya. “sayur kacang merah makannya bersama pindang tongkol masak cabe”, “okey”, “spaghetti”, “setuju”, “hamburger”, “ikutan”, “Aki membeli mpek empek”, “hah? tapi acc lah”, “Aki juga membeli bakso tahu dan siomay”, siap komandan!”. “

Tambah satu lagi, karena ada mantu yang senang masakan tulang ikan asin (masih ada dagingnya) dimasak cabe asam manis, juga dibuatkan. Eh terlewat pepes ikan patin, itu mah kesukaan Aki atuh! Termasuk buah-buahan, karena ada cucu yang senang makan buah-buahan “Aki jangan lupa membeli salak, manggis, jeruk”, “beres!”, kalau rambutan memetik sendiri di pohon kebetulan sedang berbuah.

Okey persiapan sudah matang everything is okey, jangan lupa hari Minggunya cucu sudah pesan mau naik kuda bersama Aki, beres lah!

Demikian persiapan kenduri menyambut tahun baru di keluargaku sudah ready, biasanya pengalaman dua tahun lalu pada saatnya menunggu datangnya tahun baru dari sejak sore di rumah sudah seperti kapal pecah, para cucu bermain kejar-kejaran, sudah berkumpul bersama di depan TV sambil  lesehan, bahkan tiduran di karpet. Dan, seperti kejadian dua tahun yang lalu itu menjelang jam 12:00 biasanya satu demi satu baik anak dan mantu demikian juga cucu “tewas” duluan dan TV nyala sendirian menonton yang tidur. Ketika aku terbangun dini hari (karena ikut tertidur kelelahan persiapan), kelihatan bergelatakan kurban kantuk bak di lapangan kurusetra ketika bharatayudha.

Hari ini masih hari Jumat, sore ini anak dan cucu akan berdatangan, aku dan istri menunggu dengan penuh rasa bahagia.