Semangat Berbahasa Daerah

Jangan heran jika semakin jauh dari kota besar bahasa daerah seumpama bahasa Sunda dan bahasa Jawa masih ramai dipakai oleh para penuturnya. Jadi merasa optimistis bahwa bahasa ibu akan tetap terpelihara dengan baik. Untuk sementara berita akan banyak bahasa daerah yang hilang, lupakan saja.

Lihat saja semisal khotib naik mimbar pada saat hotbah hari Jumat di daerah Ciamis utara akan terdengar kata-kata yang harus diucapkan yang mengajak untuk bertaqwa: “Sim kuring cumeluk ngajak ngahiap ka sakumna jamaah kanggo ngandelan katakwaan urang ka Allah SWT“. Tentu juga di daerah berbahasa ibu lain, akan lain juga penuturannya.

Bukan hanya pada saat khotbah Jumat menggunakan bahasa daerah, akan tetapi semangat bertutur bahasa ibu juga pada acara resmi pernikahan misalnya. Pengantin pria akan lancar berbahasa Sunda tatkala akad nikah: “Tarima kuring nikah ka anu binti anu kalawan maskawin saanu dibayar lunas“. Baik-baik saja memang yang paling afdol dan dimengerti adalah bahasa daerah itu.

Saya mengusulkan kalau wawancara atau testing yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa bukan bahasa asing saja misal bahasa Inggris dan Perancis juga kemampuan berbahasa daerahnya dan bahasa daerah lain ditanyakan. Suatu saat orang akan bangga bisa berbahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Sunda, Jawa, dan Bugis.

Tapi meski menggebu berbahasa ibu, jangan lupa hadirin pendengar, jika hadirin banyak yang tidak menguasai bahasa daerah tertentu, seyogianya berbahasa Indonesia saja.

Pernah kejadian ketika mengantar calon pengantin pria dari daerah Jawa Barat ke wilayah Jawa Tengah. Rombongan pengiring pengantin dari Jawa Barat yang sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa kromo inggil sempat “berisik” karena tidak mengerti apa yang diucapkan kala protokol membawakan narasi sungkeman berbahasa jawa kelas keraton Solo. Seyogianya hadirin ikut haru karena sepasang pengantin akan dilepas oleh ibu bapaknya mengarungi hidup rumah tangga berdua. Karena keharuan itu tidak terasa malah sebagian diam-diam pada difoto. Dan sepertinya mengurangi kehidmatan yang diharapkan. Nah, demikian juga jika orang Sunda mengadakan upacara harus lihat-lihat dahulu hadirin.

Advertisements

Yang Menarik Dari Berbahasa Daerah

Meskipun bahasa daerah terancam punah, tapi jangan pernah menyerah, selagi masih bisa terus pertahankan, dan berbicaralah dengan bahasa ibu dengan yang mengerti, dengan urang lembur, dan jika kita datang ke lembur. Budaya dan bahasa sangat besar ikatannya, jadi kalau bahasa ibu tak pernah lagi ada yang menuturkan, akan hilang juga berbagai kearifan lokal, contoh-contoh kebajikan, kebijakan, kebaikan, peninggalan karuhun. Salah satu lagu berbahasa Sunda dari Bimbo yang di haleuangkeun oleh Iin Parlina dalam sebaris sairnya yang saya ingat disebutkan bahwa bahasa daerah adalah induknya perasaan yang mendalam, dan maka dari itu jangan malu untuk berbahasa daerah.

Di Bandung, apalagi di daerah yang komunikasi sehari-hari berbahasa Sunda dalam acara pernikahan umpamanya, selalu menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. Apalagi saat-saat upacara adat nyawer, nincak endog, buka panto, meuleum harupat, sungkeman, selalu narasinya bahasa Sunda. Hadirin yang mengerti bahasa Sunda akan ikut meneteskan air mata saat kedua pengantin berpamitan dan kedua orang tua melepas mereka untuk memulai hidup baru.

Penggunaan bahasa daerah di acara-acara budaya sangat lajim di kita, meskipun ada sebagian hadirin yang tidak mengerti maka biasanya mereka memakluminya. Karena di beberapa daerah lain pun jika melibatkan upacara adat selalu menggunakan bahasa ibu. Misal yang pernah saya alami ketika menghadiri acara pernikahan suku Banjar, Minang, Bugis, dan Jawa.

Ada kejadian yang cukup menarik, teman saya suku Bugis akan menikahkan keponakannya dengan mojang Priangan dari daerah Garut. Dia ngotot ingin sambutan “menyerahkan calon mempelai pria” dibawakan dengan menggunakan bahasa Sunda. Saya membuatkan teks pidato dalam bahasa Sunda, dan ada terjemahan dalam bahasa Indonesia biar dia sendiri yang akan membacakannya mengerti juga artinya. Dia teman saya itu tidak main-main, betul-betul membacakannya, dan mendapat tepuk tangan aplaus dari fihak tuan rumah.

Ternyata meskipun banyak dan warna warni bahasa daerah di Indonesia ini, penuturnya atau pendengarnya dari penutur bahasa lain sangat-sangat saling memaklumi. Kerukunan lewat bahasa mengagumkan bukan?

Perikebinatangan…

Yang ini pasti sudah hapal: Kemanusiaan yang adil dan beradab mempunyai makna menimbang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar. Mengembalikan hak kepada yang empunya, dan tidak berlaku zalim atau aniaya. (Nurlinda Permatasari).

Tapi untuk binatang, karena hewan tidak berakal budi seperti manusia maka kita ambil  dan diterapkan kepada binatang adalah “tidak berlaku zalim dan aniaya”. Ajaran agama pun misal dalam agama Islam sering dijadikan contoh “seseorang akan masuk neraka karena mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makan, hingga kucing itu mati”. Juga ada contoh cerita lain “bahwa seseorang akan masuk sorga gara-gara memberi minum anjing yang kehausan, padahal airnya dari sumur diciduk dengan sepatu butut”.

Beberapa hal yang baik tentang memperlakukan hewan atau binatang bisa dilihat di filem-filem buatan barat, hal-hal baik tentang menyayangi binatang perlu ditiru. Menjaga keseimbangan hewan buruan, hanya yang betul-betul populasinya sudah kebanyakan, atau hanya berburu binatang yang sudah tua saja. Sampai memancing pun andai tidak perlu, karena di rumah ikan sudah cukup, tidak perlu rakus hasil tangkapan dilepaskan bebas kembali.

Kita pernah dikritik oleh Negara lain atas perlakuan yang tidak hewani terhadap binatang sembelihan yang tidak diperlakukan sebagaimana layaknya, karena sepertinya penyembelihan cara begitu dianggap membuat panjangnya penderitaan  hewan yang disembelih. Belum lagi ayam yang didistribusikan ke pasar-pasar untuk disembelih, dimana ayam ditempatkan di keranjang ala kadarnya, terus dibawa memakai kendaraan motor roda dua, dimana kepala ayam hampir terseret di aspal jalanan. Juga perlakuan yang sungguh keterlaluan terhadap hewan yang akan dijual, dimana sapi “digelonggong” dipaksa meminum air biar timbangan hewan tersebut menjadi lebih berat.

Yang astagfirullah alazim, jauh dari perikebinatangan adalah sewaktu karapan sapi dimana dilakukan tradisi rekeng (kekerasan) terhadap hewan yang diperlombakan itu. Kekerasan berupa pemberian rangsangan terhadap sapi berupa penggosokan balsam ke mata sapi dan ada yang membalur dengan sepiritus sesaat sebelum lomba dimulai. Tambahan lagi adalah saat berpacu di arena balapan dimana bagian belakang sapi di atas ekor di pecut dengan batang kayu berujung tajam berpaku. (MUI Pamekasan). Itulah cerita kelam tentang perlakuan kita terhadap binatang.

Dari buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” oleh Haryoto Kunto, Sejak kota Bandung mendapat status Gemeente (1906) berdiri “Vereeniging tot Bescherming van Dieren” (Perkumpulan bagi Perlindungan Binatang). Perkumpulan itu berusaha untuk mencegah perlakuan kejam manusia terhadap binatang. Seorang kusir dokar jangan coba-coba menyiksa kuda dengan cemeti di jalan raya. Ia bakal ditahan opas dan mesti mendekam dalam sel! Selain itu di Bandung terdapat pula sebuah  “Wisma Perlindungan Hewan”, sebuah tempat untuk menampung dan memelihara binatang piaraan yang diserahkan  oleh pemiliknya, karena tidak sanggup lagi mengurusnya.

Satu abad kemudian kita masih boro-boro perhatian terhadap kesejahteraan binatang, wong kepada kesejahteraan manusia juga masih menyedihkan.

Ukuran Sopan Santun

Anak sulung saya beserta kelurganya tinggal di Jakarta, sedangkan anak nomor dua dengan kelurganya memilih tinggal di Bandung.

Ketika saya menengok cucu yang di Jakarta itu kelas 2 SD, keberatan jika Akinya yaitu saya, yang coba-coba berbicare ala Jakarte. Saya menyebutkan diri saya “gue” hanya iseng-iseng dengan istri.
“Mamah Aki bilang “gue”!” Laporan kepada ibunya. Saya baru tahu bahwa menyebutkan diri dengan “gue” bagi anak-anak dianggap tidak sopan.

Lain kali, cucu yang di Jakarta itu berkunjung ke Bandung dan bertemu dengan cucu saya yang urang Bandung banget kelas 3 SD. Nampaknya cucu yang orang Jakarte biasa sekali menyebutkan nama temannya atau adiknya didahului dengan panggilan “Si”
Giliran cucu, yang saya sebut orang Bandung itu, lapor kepada ibunya: “Mamah Dafif memanggil orang pakai “Si”!”
Saya hanya tersenyum.

Sewaktu masih muda, karena pekerjaan, saya merantau dan tinggal sekeluarga cukup lama di Kalimantan Timur. Kebetulan kakak laki-laki ikut serta ke sana. Suatu saat dia mengemukakan kekesalannya hanya karena rekan sekerjanya yang seumur memanggil dia dengan sebutan “kamu”.
Kamu dalam bahasa Sunda adalah maneh atau sia. Dan itu menurutnya kasar sekali.

Apa sih kesopanan itu, menurut KBBI adalah adat sopan santun, tingkah laku tutur kata yang baik, tata krama. Meski dengan catatan bangsa-bangsa di dunia mempunyai nilai kesopanan yang berbeda-beda.

Bahasa Sunda Banten, bahasa yang dipakai adalah ragam bahasa yang sama. Sama dalam arti tidak mengenal undak-usuk bahasa seperti bahasa Sunda Priangan termasuk Bandung, atau apalagi bahasa Jawa. Bahasa yang sama, kaprah, setara, tidak mengenal tingkatan-tingkatan kata bahasa asing disebut egaliter (Ki Hasan). Bukan hanya bahasa Banten yang bangga dengan bahasa yang bersifat egaliter, dan demokratis juga budaya Minangkabau. Bahasa sangat besar pengaruhnya pada budaya. Orang Minang bahwa bahasa mereka adalah bahasa yang egaliter, demokratis, dan tidak feodalis.

Bahasa minang hampir sama dengan bahasa Melayu yang punya sipat egaliter. Kita bangsa Indonesia beruntung para pendiri negeri ini memilih bahasa Indonesia yang egaliter dan tidak feodalis.

Posted from WordPress for Android

Merdeka!

Hari ini tanggal 17 Agustus 2013, jadi sudah 68 tahun Indonesia merdeka. Mari kita pertahankan kemerdekaan itu. Saya ingi menempelkan gambar yang sangat heroik dan terus terang meremang bulu kuduk

Poster Proklamasi

Foto diambil dari buku “Bandung Lautan Api” oleh Wildan Insan Fauzi

Lihat sekeliling poster demikian miskinnya kita saat itu, tapi dengan lantang “Every Foreign Domination Is Gone”

Induk dan Anak Ayam

Ayam adalah ayam, meskipun dagingnya enak untuk digoreng, dipanggang, dikari, digulai, bahkan dikalio dan diayam pop dengan cara sebagimana orang Padang memasak, dan jelas puenak… ya begitu tetap saja ayam. Jaman saya kecil usia SD dan SMP ayam sangat-sangat tidak aneh. Pagi-pagi kandang ayam dibuka terus puluhan ayam keluar dan dengan bebasnya kesana kemari, tetangga tidak protes meskipun ayam milik saya berak diemperan rumahnya,  sebab tetangga pun sama memelihara ayam yang dibebaskan mencari dan mengais rezekinya, biarpun nyakar jemuran padi saya di halaman. Yang agak aneh saat itu saya jarang sekali makan daging ayam, kecuali kalau mauludan atau lebaran. Ada peribahasa Sunda yang menyebutkan “kokoro manggih mulud, puasa manggih lebaran” Jadi makan enak daging ayam pada saat perayaan maulid Nabi dan saat lebaran saja.

Adapun mengapa ayam kampung yang dagingnya lebih enak tidak pernah disembelih untuk dikonsumsi sendiri adalah wallohu alam. Mungkin saja dijual satu demi satu untuk biaya kelangsungan hidup, maklum segala serba susah, sudah ada beras alhamdulillah.

Ketika maghrib tiba ayam-ayam tersebut digiring lagi ke kandangnya, dan ndilalahnya, jarang sekali terjadi ayam tetangga ikut nginap, mereka sudah maklum akan kandangnya masing-masing.

Ini sambungannya, ketika saya sudah tua dan ceritanya tinggal di kota, jarang sekali menemukan orang yang memelihara ayam kemudian dibiarkan lepas nyakar mencari makanan seenaknya, kalau berani memelihara ayam seperti begitu alamat dimusuhi tetangga dan dilaporkan ke ketua RT, berabe kan? Kalau demikian rindunya memelihara ayam harap dikandang atau dikurung seumur-umur.

Saya punya sebidang tanah yang tidak begitu luas di luar kota Bandung, ya termasuk di kampung. Nah orang yang dititipi menjaga tanah dan rumah di desa itu memelihara ayam, dan oleh dia sama dengan jaman dahulu di kampung saya ayam dibiarkan bebas berkeliaran, barkan saja nyakar di kebun kesana kemari.

Ibu & Anak Ayam 1Ada induk dan anak ayam yang baru menetas sedang lucu-lucunya, karena ayam itu demikian lincah dan cekatan sehingga cucu saya kebingungan menghitung jumlah anaknya, maklum anak ayam bergerak kesana kemari mengikuti ibunya.

Ibu & Anak Ayam 2Mungkin harus dipotret biar bisa santai menghitungnya, eh meski begitu susah juga mengambil gambarnya, mungkin yang ini tahu berapa jumlah anaknya.

Ibu & Anak Ayam 4Atau bangaimana yang ini? tapi awas ibunya sangat melindungi anak-anaknya, kalau terlalu dekat memotretnya, ibunya bisa berjibaku menyambar kita

Ibu & Anak Ayam 5Induk ayam betul-betul sangat sayang akan anak-anaknya, jika malam tiba sebelum masuk kandang seluruh anaknya berlindung dibawah sayapnya biar biar merasakan hangatnya kasih sayang seorang eh seekor ibu.

Kalau induk ayam demikian sayang terhadap anak-anaknya apalagi manusia harus menjaga anaknya dengan kasih sayang membesarkan dan mendidik dengan ahlak yang baik agar bisa hidup damai dengan sesama manusia.

Anda sudah menghitung jumlahnya? Betul jumlahnya 10 ekor anak ayam. Anak-anak TK akan belajar nyanyian: “Tek kotek kotek kotek anak ayam turun sepuluh, anak ayam turun sepuluh mati satu tinggal sembilan”. Terus diurut agar sekalian belajar berhitung, nanti, anak ayam tutunlah satu mati satu tinggal ibunya…. kasihan ya.

Jaman baheula saat jika masuk jadi mahasiswa harus dipelonco, para senior paling suka menyuruh cama cami menyanyikan “tek kotek kotek” ini. Tapi anak ayamnya tidak turun sepuluh akan tetapi harus dimulai dengan turun sejuta, bayangkan lamanya kan mati satu tinggal 999.999.

Tapi calon mahasiswa harus pintar: “Tek kotek kotek kotek anak ayam turun sejuta, anak ayam turun sejuta mati semua tinggal ibunya”, he he he, sekedar iseng.

Dasar, Si Borokokok…!

Anda pernah mendengar tokoh imajinatif budaya Sunda Si Kabayan? Si Kabayan adalah tokoh yang dianggap lucu, polos, bisa cerdas, tapi juga bisa menjadi tokoh pemalas atau tokoh yang tidak patut untuk ditiru. Seperti tokoh lain Abu Nawas atau Nasrudin cerita mengenai Si Kabayan telah ditulis oleh banyak pengarang Sunda diantaranya Si Kabayan oleh Utuy Tatang Sontani (1959), Si Kabayan Manusia Lucu oleh Achdiat Karta Mihardja (1997), Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang oleh Achdiat Karta Mihardja, Si Kabayan dan beberapa dongeng Sunda lainnya oleh Ayip Rosidi (1985), Si Kabayan jadi Wartawan oleh Muhtar Ibnu Thalab (2005), Si Kabayan jadi Dukun oleh Moh. Ambri, Kabayan Bikin Ulah (2002, komik kompilasi), dan ada beberapa lagi.

Bukan hanya berbentuk buku cerita tentang Si Kabayan ditulis orang, akan tetapi juga dalam rupa film, seperti film Si Kabayan (1975), Si Kabayan Saba Metropolitan (1992), Si Kabayan Cari Jodoh (1994), Kabayan Jadi Milyuner (2010), dan beberapa lagi film lainnya. Dalam film Si Kabayan itu ada tokoh lain yaitu Nyi Iteung sebagai istri Si Kabayan, dan mertua lakinya dalam bahasa Sunda mertua itu disebut mitoha. Nah, karena Si Kabayan ini tokoh yang malas dan meskipun seringnya lucu, dalam pandangan mitohanya Si Kabayan itu menyebalkan (pikasebeleun) dan punya gelar “Si Borokokok”.

Perilaku-perilaku lain yang pikasebeleun dalam ungkapan bahasa Sunda ada beberapa lagi misal “Si Atah Adol”, “Si Tukang Ngabuhiam” Si Purunyus”, “Si Bangkawarah”, bahkan “Si Dodol” ini semua kalau mau mengambil istilah dari Pak Mario Teguh adalah perilaku yang “not cool” lawan dari perilaku “not cool” atau yang terpuji adalah yang “cool”, dan kebalikan dari “Si Borokokok” dalam cerita Si Kabayan itu dipuji sebagai “Si Kabayan tea atuh!”.

Perilaku tidak terpuji dari para pemimpin baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yaitu  korup, kolusi, dan nepotis adalah juga termasuk kelompok yang perlu disebut Si Borokok! Dari kelompok eksekutif umpama para pemimpin daerah misal bupati seyogianya menjadi contoh tauladan atau panutan warganya. Makanan berupa dodol dari Garut memang enak tapi kalau pemimpin daerah yang dodol! Termasuk kategori Si Borokokok!

Memang kita tidak perlu heran dengan para pemimpin daerah semisal dari 400-an lebih Bupati dan walikota se Indonesia ada saja yang dodol atau Si Borokokok! itu.

Apakah ada hubungannya dengan perilaku beberapa Bupati zaman dahulu saat kolonial Belanda? sewaktu zaman menak yang biasa dimemenan dan dienak-enak, banyak saja perilaku para Bupati yang patut diberi gelar Si Borokokok ini. Misal saja dari tiga godaan bagi para pejabat yaitu harta, tahta, dan wanita, banyak yang tidak tahan dengan wanita.

Bupati dan Bawahannya di daerah

Bupati dan Bawahannya di daerah

Dalam eseynya A Sobana Hardjasaputra berjudul “Nyangrah” yang dimuat di majalah bulanan Sunda Cupumanik bulan September 2008 bahwa perilaku pejabat pemerintah yang tidak harus ditiru sebagai berikut:

Di Tatar Sunda dahulu, sampai ke akhir abad ke 19 yang disebut “nyangrah” diterapkan kepada salah satu hak istimewa bupati, yaitu meminta sesuatu kepada bawahan atau rakyat di wilayah kekuasaannya.

Kebiasaan begitu utamanya jika bupati turni ke wilayah kekuasaannya. Kalau sedang berkunjung disediakan pesangrahan dan selalu disertai lurah atau kuwu di tempat itu. Kalau ada kemauan biasanya bertanya dahulu. Misalnya melihat seekor kuda yang bagus yang bupati seperti menginginkannya. “Bagus kuda itu, Siapa pemiliknya Lurah?” Dijawab Ki Lurah: ”Itu kan milik dalem sendiri…” Kuda itu biasanya diberi tanda dengan digunting bulu surinya. Seterusnya kuda tersebut diantarkan ke pusat kota sekalian mengantar bupati.

Kalau kuda biarlah hanya binatang, Bagaimana kalau bupati melihat yang bening? Mojang langsing. Kalau sudah disangrah nggak bisa menolak. “Anak itu begitu cantik, anak siapa itu Lurah?” begitu kata bupati kalau melihat gadis yang disukainya. Ki Lurah, Orang tua anak itu, demikian juga Nyi Mojang tidak bisa lagi menolak meskipun bakal menjadi selir bupati yang ke sekian belas atau bahkan yang ke sekian puluh.

Juga dalam bukunya “Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800 – 1942” Dr. Nina H. Lubis pada judul Perkawinan dan Konkubinasi menulis: Kaum menak Priangan pada umumnya melakukan poligami (beristri lebih dari satu) dan konkubinasi (berselir banyak). Disamping istri resmi (yang dinikahi) ada juga istri-istri tidak resmi (yang tidak dinikahi). Salah seorang istri resmi berkedudukan sebagai garwa padmi yang setaraf dengan permaisuri seorang raja. Istri yang bukan padmi biasa disebut garwa leutik. Istri yang tidak dinikahi biasa disebut parekan (selir).

Jika menemukan bupati yang not cool sebut saja “Si Borokokok!” tapi kalau ada pemimpin atau dalam istilah Majalah Tempo sebagai Bukan Bupati biasa karena jasa-jasanya memajukan wilayahnya sebut saja bupati cool atau “Siapa dulu bupatinya atuh!”.