Membaca Buku “Tiga Tahun”

Buku ini dibeli dan dibaca karena saya tertarik pengarangnya Anton Chekov dan penerjemahnya Sapardi Djoko Damono. Disamping itu bukunya tipis hanya 155 halaman jadi tidak wegah membacanya.
Sebagaimana ditulis di jilid belakang buku:

Jatuh cinta kepada Yulia, Alexei atau Laptev tak mau lama-lama menunggu melamarnya. Yulia sendiri meski tak terbesit cinta sedikit pun merasa sayang jika harus melewatkan lamaran pria kaya begini dan pernikahan tanpa cinta itu pun berjalan tertatih di tahun-tahun pertama.

Buku ini ditulis pada 1885, “Tiga Tahun” menyorot perkembangan masyarakat Rusia pada masa itu. Dedikasi Chekov dalam dunia sastra bukan hanya menghadiahkan Pushkin Prize, penghargaan sastra bergengsi di Rusia saat itu. Dunia pun mengakuinya sebagai salah seorang sastrawan realis Rusia abad ke-19 yang patut disegani.

Diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono sastrawan legendaris Indonesia, novel ini semakin mendapatkan gaungnya sebagai karya sastra yang harus dibaca untuk memahami dinamika relasi antar manusia.

Sebagai pembaca awam, saya merasa berempati terhadap Alexei atau Laptev. Pertama Laptev menyadari dirinya tidak menarik dan tidak tampan, dan dia hampir yakin tentang keadaan tersebut. Dia agak pendek dan kecil, pipinya merah muda dan rambutnya mulai menipis di bagian atas sehingga kalau hawa sedang dingin dia bisa langsung merasakannya di kulit kepala. Wajahnya tidak memiliki daya tarik yang paling sederhana sekalipun yang bisa membuat wajah tampak menyenangkan. Kepada perempuan dia bersikap kaku terlalu banyak omong dan suka asyik dengan dirinya sendiri.

Keduanya ungkapan cintanya dengan serta merta ditolak oleh Yulia, seperti ditulis di buku itu: “Kalau kau setuju menjadi istriku aku akan siap memberikan segalanya untukmu, segalanya milikku … apa saja akan aku laksanakan dan korbankan untukmu. Gadis itu terkejut dan menatapnya dengan rasa takut dan kaget.

“Oh jangan” kata gadis itu mukanya memucat, “tu tidak mungkin. Yakinlah. Maaf”. Gadis itu berlari cepat ke atas gaunnya berdesik-desik, dan menghilang di balik pintu.

Ketiganya, meskipun akhirnya pernikahan telah berlangsung tapi tetap Yulia Sergeyevna tidak mencintainya. Dia semakin yakin dan merasakan bahwa dirinya kurang menarik bagi Yulia. Dan dia merasakan bahwa Yulia sama sekali tidak mencintainya. Inilah curahan Alexei yang disuatu saat berbicara mencurahkan segala perasaan hati kepada Yulia, sebagai berikut: Hampir pukul 04.00 pagi ketika dia akhirnya sampai di rumah, Yulia sudah berada di tempat tidur, tahu bahwa istrinya belum tidur lelap mendekatinya dan berkata tajam.

“Aku memahami kemuakanmu, kebencianmu, tetapi seharusnya kau mengerti perasaanku di depan orang banyak”.

Istrinya duduk dan menurunkan kakinya, matanya tampak besar dan hitam dalam cahaya lampu patung suci.

“Maafkan aku,” katanya.

Laptev berdiri bisu, terlalu marah untuk mengucapkan sesuatu, Yulia juga gemetar duduk di depannya dengan rasa bersalah.

“Ini neraka namanya. Aku tak tahan lagi”. Laptev mencengkeram kepalanya sendiri. “Kukira aku bisa gila”…

Demikian anda bisa melanjutkannya membaca sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s