Kandang Hewan Qurban di Tengah Kota

Hari Minggu depan tanggal 6 November 2011 jika Allah menghendaki maka akan sampai kepada hari raya Iedul Adha atau hari Raya Qurban. Seperti dalam Al Quranul Karim surat : Ash-Shaaffat Ayat : 107 yang berbunyi : Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Sesudah nyata kesabaran dan keta’atan Ibrahim dan Ismail a.s. maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari Raya Haji.

Tidak aneh banyak kaum muslimin yang mampu untuk melaksanakan qurban mengikuti syariat ibadah ritual dan sekaligus melakukan ibadah sosial dengan membagikan daging qurban kepada merekayang membutuhkannya, pemerataan protein hewani kepada kaum dhuafa.

Beberapa tahun belakangan ini setiap menjelang hari raya Qurban dibeberapa titik di Kota  Bandung banyak bermunculan “showroom” dadakan hewan qurban, biar para muqorib bisa memilih hewan qurbannya yang baik khususnya yang sesuai dengan syariat. Mereka yang memilih khewan qurban bak memilih mobil yang akan dibeli lebih santai, lebih leluasa, dan lebih bersih sekalian mengajak keluarga.

Kandang hewan di tengah kota 1

Kandang hewan qurban di tengah kota 2

Kandang hewan qurban di tengah kota 3

Dengan adanya showroom dadakan yang lebih sehat diharapkan menunjukkan adanya kemajuan dalam memperlakukan hewan khususnya hewan qurban. Tempatnya lebih besar, persediaan makanannya terpenuhi, tidak begitu saja digelar dilapangan seadanya dimana hewan diperlakukan sebagai barang jualan semata, makanan, kesehatan tidak terurus bahkan menderita karena hujan dan kepanasan.

Saya kira kita harus mulai untuk memperlakukan mahluk Allah SWT yang lain yakni binatang lebih “hewani”. Mungkin ke depan akan lebih maju bagaimana penyembelihan yang lebih baik dan tidak lebih menyakiti hewan qurban sendiri. Bahkan juga umumnya cara penyembelihan hewan yang lebih baik di pejagalan atau di rumah pemotongan hewan. Semoga

Advertisements

Trotoar Masih Untuk Pejalan Kaki Bukan?

Bangunan diatas trotoar

Seingat saya trotoar dibuat atau disediakan untuk pejalan kaki. Oleh karena itu jika tiba-tiba ada bangunan di lahan atau diatas trotoar, manusia yang akan lewat terhalangi bukan? dan harus lewat mana?

Di salah satu sudut Kota Bandung ada bangunan baru persis diatas trotoar, dan menurut saya menghalangi orang lewat.

Kalau sedang lowong memang turun saja ke jalan yang disediakan untuk kendaraan, tapi kalau lalu-lintas lagi padat? Terpaksa menerobos lewat bangunan itu saja sambil kalau kebetulan sedang “sholeh” lewat sambil berucap kepada yang lagi duduk berbaris menunggu bis “permisi numpang lewat!”

Lahan usaha diatas trotoar

Masih di sudut Kota Bandung juga kelihatan ada yang membuka usaha tambal ban kendaraan, itu  juga persis diatas trotoar dan jelas menghalangi yang lewat.

Oleh karena itu saya ingin bertannya: ” Trotoar Masih Untuk Pejalan Kaki Bukan?”

 

 

 

Sisa Sawah Di Tengah Kota

Menggarap sisa sawah di tengah kota

Jika berjalan-jalan seputar kota Bandung sekarang ini akan ditemukan di beberapa tempat yaitu pesawahan yang masih digarap.Akan tetapi keberadaan sawah di tengah kota ini tinggal menunggu waktu saja. Hanya dalam hitungan satu atau dua tahun bahkan dalam hitungan bulan pesawahan akan hilang. Biasanya mulai sawah itu tidak digarap, kemudian dikeringkan, terus diuruk brangkal, jadi saja pelataran kering, dan berikutnya berdiri rumah-rumah pemukiman.

Dengan berubahnya lahan sawah menjadi kawasan pemukiman, maka para petani yang mengais rezeki dari keberadaan sawah semakin terpinggirkan. Bukan hanya petani yang menggarap tanaman padi akan tetapi juga akan kehilangan mata pencaharian bagi pencari tutut atau keong sawah, pencari belut, pencari genjer, bahkan peternak bebek pada kehilangan mata pencaharian.

Kandang bebek dibawah menara sutet

Ini cerita peternak kecil bebek yang sempat ngobrol tentang bagaimana usaha beternak bebek di sawah.

Dia membuat kandang bebek dibawah menara sutet (saluran udara tegangan ekstra tinggi). Pengangon bebek itu baru saja membongkar kandang bebek untuk dipindah ke tempat lain.

Cara ngangon atau memelihara bebek mencari makan dengan lahan sawah semakin sempit, semakin sulit dan biayanya menjadi tinggi. Dahulu katanya, kalau menggembala bebek di sawah tinggal menggiring bebek dari satu lokasi sawah ke lokasi sawah yang baru saja selesai dipanen. Tapi sekarang karena sawahnya semakin sempit dan berada di beberapa tempat yang berbeda maka jika bebek-bebek itu akan dipindah ke lokasi lain dan itu harus diangkut menggunakan kendaraan dan itu perlu ongkos transportasi bukan?

Dan ini ada kisah yang dia ceritakan, bahwa sekarang ini kandang bebek di tengah sawah itu harus selalu diawasi siang malam. Mengapa? Karena sejak masakan goreng bebek semakin populer dan disenangi banyak orang, sekaligus harga bebek menjadi naik per ekornya, kalau tidak diawasi sering kejadian kehilangan beberapa  ekor bebek dicuri orang.

Yah, demikian  secuil cerita tentang mereka yang mencari rezeki di pesawahan dimana hanya tinggal menunggu waktu saja, sim salabim! besoknya sudah berubah jadi kompleks perumahan.

Kelapa Muda

Kelapa muda

Untuk kelapa muda orang Sunda menyebutnya duwegan. Dongengnya begini ada beberapa orang kulit putih (tidak biasa memanggil “bule” karena sebutan panggilan itu hanya untuk kerbau yang tak berpigmen saja atau munding bule).

Nah, ceritanya salah seorang Walanda (Belanda) itu ingin makan buah kelapa muda, terus temannya memerintah “Do by gun!” maksudnya biar buahnya jatuh, ya ditembak saja, he he he bahasa Belanda atau Inggris dasar  dongeng!

Tapi kedengaran oleh telinga orang Sunda “Do by gun!” menjadi duwegan..

Sebetulnya saya ingin cerita tentang udara di kota Bandung sebulan belakangan ini terasa panas karena tidak turun-turun hujan. Padahal biasanya kotaBandung lumayan dingin. Saat ini udara terasa panas dan gerah, matahari dipagi hari sekitar jam 08:00 sudah terasa panas, padahal biasanya jam-jam segitu berjemur. Siang hari udara terasa terik terus sampai sore hari, malam hari yang biasanya berselimut tebal sekarang ini malahan selimut dijauhkan.

Enaknya mandi berlama-lama atau berendam di kolam air dingin, dan ditengah hari minum es kelapa muda, uih segarnya!!!

Semoga hujan segera turun membasahi bumi biar tidak gersang tempat kaki berpijak.

Toko Serba Ada “De Vries” di Bandoeng Tempo Doeloe

Toko De Vries. Koleksi Tropenmuseum

Ada baiknya diceritakan bahwa pada masa itu yaitu saat di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah mencapai ribuan orang. Pada tahun 1884 kereta api sudah singgah di kota Bandung. Sedangkan pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati RAA Martanagara (1893-1918).

Dari dahulu selalu saja ada orang yang jeli melihat peluang usaha tersebutlah Tuan M. Klass de Vries adalah seorang wiraswastawan Belanda yang berani mengadu nasib di kota mungil Bandung pada tahun 1890-an.

Kemudian de Vries membuka toko kecil di Posweg yang tentu saja pada saat itu jalan raya Pos sudah ada. Adapun lokasi toko tersebut persis tempatnya di gedung BRI sekarang. Tapi kemudian pindah  menyewa bangunan di sebelah barat Hotel Homann (ujung selatan JI, Braga).

Tentu saja lokasi tersebut pada saat itu sangat strategis karena berada di jantung kota Bandung, dan sekitarnya sudah ada beberapa bangunan diantaranya di seberangnya ada Societeit Concordia, demikin juga sudah disebutkan bahwa sebelah timur sudah berdiri hotel Homann.

Toko De Vries yang dibuka oleh Klaas de Vries pada tahun 1895 berjualan  makanan dan minuman (P & D), alat dapur (pecah belah), kain cita, sepatu, alat tulis dan buku, juga obat‑obatan ‑ tergolong “toko serba ada” pertama di Bandung.

Tuan-tuan tanah dan orang Belanda yang memiliki perkebunan di Bandung Selatan di kawasan Pangalengan kalau mencari hiburan akan turun ke kota  Bandung, dan selanjutnya pasti shoping di toko De Vries ini.

Bagi orang Belanda (orang Sunda sering menyebutnyabangsa Walanda) De Vries adalah toko tempat membeli minuman beralkohol. Dahulu orang Sunda kalau ada orang marah-marah tanpa sebab sering disebut Walanda mabok, mungkin karena dulu Walanda perkebunan sering minum berlebihan dan kelihatan oleh orang Sunda dalam keadaan mabok dan membentak-bentak.

Ada cerita yang langsung saya ambil dari buku “Semerbak Bunga Di Bandung Raya karya Haryoto Kunto:

“Sekali tempo di malam Minggu, pintu toko terkunci rapat tanpa penjaga. Vries sekeluarga pergi pesta. Besok paginya pintu toko didapati terbongkar kuncinya. Botol‑botol minuman keras licin tandas dari etalage dan rak di gudang. Segepok uang melebihi harga minuman yang hilang, tergeletak di meja kasir. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan para tuan kebon slebor berkantong tebal yang jadi langganan De Vries. Begitulah kelakuan para Preangerplanters, haus dan gersang seperti cowboy turun ke saloon.”

Demikian sedikit cerita mengenai Toko De Vries tempo doeloe.

Bahan bacaan: Semerbak Bunga di bandung Raya oleh: Haryoto Kunto, Jabar Tribun, Pikiran Rakyat, Djawatempodoeloe.multiply.com.

Bekas Toko Serba Ada “De Vries” di Bandung Kini

Memotret Gedung panjang dengan seutuhnya dari lahan pengambilan gambar yang sempit memang agak sulit dilakukan, apalagi dengan kamera seadanya seperti yang saya miliki. Terpaksa dipajang sepotong-sepotong,  gambar yang agak utuh dari Toko De Vries sekarang adalah seperti di bawah ini:

Toko De Vries dilihat dari sebelah barat

Dan dari sebelah timur:

Toko De Vries. Dokumen PRLM

Kemudian saya sangat ingin tahu tulisan yang tertera di dinding depan Toko De Vries yang telah menjadi hak milik/hak guna bangunan bank OCBC NISP. Terpaksa fotonya dipotong-potong seperti di bawah ini:

Tulisan di dinding Toko De Vries 1

Tulisan di dinding Toko De Vries 2

Tulisan di dinding Toko De Vries 3

Tulisan di dinding Toko De Vries 4

Tulisan di dinding Toko De Vries 5

Kalau disatukan ternyata lengkapnya adalah:

“LANDBOUW  BENOODIGDHEBEN IMPORT  COMMISSIONAIRS VENDUHOUDERS  WARENHUIS  DE  VRIES  EXPORT  KUNST  BOEK –  PAPER  HANDEL”

Menurut Priambodo Prayitno di situsnya (Djawa Tempo Doeloe) maksudnya adalah: Bahwa J.R. de Vries & Co tidak mengusahakan toko sendiri. Mereka adalah “comissionairs” yang memiliki gedung dan menyewakan tempat penjualan kepada para “concessionairs” yang bereksplotasi toko-toko di gedungnya

Saya melihat di terjemahan oleh google walah.. terjemahannya tak karu-karuan.

Juga di dinding ujung gedung ada tulisan sebagai berikut:

Tulisan di ujung gedung De Vries

Tulisannya: “ALLEN VERKOOP VOOR WEST-JAVA VAN RUBEROID DAKBEDEKKING“. Sama saja maksudnya belum bisa dijelaskan, kalau ada yang mengerti dipersilakan untuk memberi informasi.

Ternyata pada pertengahan tahun 2010, bangunan ini kembali dilakukan pemugaran dengan arsitek Ir. David Bambang Soediono. Pemugaran ini menggunakan konsep rekonstruksi semi-restorasi karena ingin mengembalikan tampilan bangunan pada tahun 1955. Bangunan ini, kelak akan dipakai oleh salah satu bank, yakni Bank OCBC NISP. ( “PR”)

Tribun Jabar menulis bahwa Ketua Bandung Heritage, Harastuti Dibyo Hartono, menyambut baik pemugaran bangunan Toko De Vries. Menurutnya, pemugaran yang sekarang sudah sesuai dengan wajah Toko De Vries pada tahun 1955 yang merupakan tahun bersejarah bagi Kota Bandung.

“Saya kira ini bisa menjadi contoh pemugaran-pemugaran terhadap gedung bersejarah. pemugaran De Vries dilakukan dengan tidak mengubah atau mengurangi nilai sejarah di dalamnya. Konsep bangunan yang paling unik dari bangunan ini juga masih dipertahankan,” katanya.

Selamat kepada mereka yang berupaya untuk melindungi warisan budaya kota Bandung!

Oh..Buku Yang Malang!

Semerbak Bunga di Bandung Raya

Sudah lama saya ingin membaca buku “Semerbak Bunga Di Bandung Raya”, kemudian betapa senangnya saya, akhirnya terlaksana juga, baru-baru ini dapat pinjaman dari salah seorang kakak yang habis membongkar gudang.

Ketika menyerahkan buku beliau berkata: “tapi sebagian bukunya sudah dalam keadaan rusak, maklum lama disimpan di dalam peti sejak pindah dari Jakarta ke Bandung!”. Dan seingat saya pindahnya sudah 7 tahun-an yang lalu.

Bagian tengah buku rusak dimakan ngengat

Dan betul saja hampir 30%-nya rusak dimakan ngengat.

Buku itu “Semerbak Bunga Di Bandung Raya” karya Haryoto Kunto, Penerbit PT Granesia, Cetakan ke 1 April 1986.

Saat ini saya sedang mulai membaca halaman demi halaman sambil membersihkannya dan dengan memakai.. masker!  karena bukunya disamping dimakan ngengat sekaligus berdebu.

Meski kondisinya demikian saya tetap suka dan semangat membacanya karena kalau harus membeli yang baru harganya sekitar Rp 400.000. mahal bukan?