Membuat Kartu NPWP

Sebagai tanda pengenal diri bagi para wajib pajak diharuskan memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan kelak diwajibkan mengisi SPT (Surat Pemberitahuan), kemudian akan dapat diketahui berapa pajak yang terhutang. Itu saja dulu!

Sampai usia 63 tahun ini saya belum memiliki NPWP pribadi, pertama karena saat itu sebagai pegawai bahwa pajak pendapatan sudah dipotong oleh bagian keuangan, keduanya tidak mempunyai usaha yang menghasilkan uang. Kalau juga punya kendaraan setiap tahunnya sudah membayar STNK, punya rumah dan tanah itu pun sudah dibayarkan PBBnya. Jadi perasaan, harus bagaimana lagi dengan perpajakan itu, jadi tidak perlu amat memiliki NPWP gitu!

Akan tetapi saya mulai ragu akan pendirian saya mengenai NPWP itu, selanjutnya mulai tidak bergeming (saya sedang belajar menggunakan kata bergeming!), tanya sana dan tanya sini. Tapi sewaktu tanya kepada kawan-kawan pensiunan, ternyata jawabannya pro dan kontra untuk pembuatan kartu NPWP tersebut. Sebagian balik bertanya “buat apa?”, dan sebagian lagi “buat saja, tidak susah mendapatkannya kok!”

Dalam keadaan ragu antara membuat dan tidak, masa sunset policy pertama sudah terlewati. Kemudian Direktorat Jenderal Pajak memperpanjang sunset policy hingga tanggal 28 Nopember 2009. Ahirnya sebelum bulan Februari 2009 berahir, saya pergi membuat kartu NPWP di Kantor Pelayanan Pajak Cicadas Bandung.

Cara saya mendapatkan kartu NPWP adalah sbb: Pergi ke Kantor Pajak tersebut, membawa fotocopy KTP, terus mengambil nomor daptar antrian, sambil menunggu mengisi formulir dengan mencantumkan nama, alamat, dan lainnya sebagaimana tercantum pada KTP, dan menandatanganinya. Ketika nomor urut dipanggil, serahkan fotocopy KTP dan formulir isian kepada petuga. Dalam hitungan sebelum dua menit saya sudah menerima surat tanda pengambilan kartu NPWP. Kartu NPWP harus diambil seminggu kemudian pada hari yang sama.

Dan pada hari yang sudah ditentukan, saya datang lagi ke Kantor Pelayanan Pajak tersebut, dan ahirnya horeee! saya sudah mendapatkan NPWP soal penggunaannya bagaimana nanti saja. Tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Pelayanannya lumayan lah!

Terima kasih untuk Kantor Pelayanan Pajak Cicadas Bandung!

Advertisements

Burgo ala Bandung

Kejadiannya sepuluh atau lima belas tahun yang lalu ketika kami sekeluarga masih tinggal di Bontang, Pak Zaini, wong Plembang nian, mengundang saya dan istri untuk makan makanan khas Palembang namanya burgo. Rasanya tiada duanya, enak sekali, gurih sekali, dan sekarang ini sangat ingin menyantapnya.

Meskipun di Bontang saat itu banyak yang menjual makanan khas Palembang seperti mpekmpek, tekwan, kapal selam, dan sebagainya, akan tetapi burgo jarang yang membuatnya.

Sekarang kami sudah tinggal di Bandung, kemudian, kemarin istri saya – karena sudah lama saya ingin merasakan kembali enaknya burgo – terlaksana membuatnya. Akan tetapi – tidak seperti mpekmpek dan tekwan – burgo ini istri saya belum pernah membuatnya.

Jadi, inilah aktivitas istri saya dalam membuat makanan burgo tersebut. Mula-mula sekali saya mencari resepnya dengan cara Googling, dan dengan permisi copy paste dari blognya Rogan, inilah respnya:

Bahan:
250 gr tepung beras50 gr tepug sagu1 sdm kapur sirih250 ml air mendidih500 ml air biasagaram secukupnya500 ml santan250 gr ikan gabus, direbus, disuwir halus3 lembar daun salambawang goreng secukupnya[Photo] Haluskan: 1/2 sdm ketumbar2 sdm lengkuas2 sdm kencur1 sdm irisan bawang putih1/2 sdm garam50 gr kelapa parut

Cara Membuat : Seduh sebagian tepung beras dengan 250 ml air mendidih. Aduk merata. Tambahkan sisa tepung beras sedikit demi sedikit, lalu sagu, garam, dan air kapur sirih serta air biasa. Aduk hingga menjadi adonan. Buat dadar tipis-tipis dari adonan tadi, angkat lalu digulung. Potong-potong, sisihkan

Rebus bumbu yang telah dihaluskan dengan santan bersama daun salam.Masukkan daging ikan yang sudah disuwir halus. Setelah mendidih, angkat

Hidangkan burgo dengan potongan dadar, lalu disiram dengan kuah ikan. Taburi bawang goreng

Mengapa disebut ala Bandung, pertama karena istri saya belum pernah membuatnya, jadi mungkin dilakukan beberapa modifikasi. Keduanya he, he, he, kan dibuatnya di Bandung.

Tapi soal rasa, jangan tanya, persis seperti apa yang disuguhkan Pak Zaini sepuluh atau lima belas tahun yang lalu di Bontang.

Serasa sambil mendengarkan lagu gending Sriwijaya dan menonton tari tanggay, saya menikmati burgo untuk porsi ketiga.

Kareta Api Bandung, “Baraya Geulis”

Kereta api baru yang melayani rute Padalarang – Cicalengka diberi nama “Baraya Geulis” meskipun nama itu merupakan singkatan dari Bandung Raya Geulis, tapi saya sebagai orang Sunda merasa tidak rela. Karena apa? karena tidak enak, tidak cocok, tidak ada maknanya, tidak lucu, pokoknya dipandang dari segi apapun, apalagi philosophy-nya, tetap tidak enak.

Baraya geulis; saudara cantik apa maknanya, satu ungkapan yang tidak membawa arti yang jelas. Kalau “baraya anu geulis” artinya “saudara yang cantik” masih mendingan. Baraya itu barayana saha?; saudara itu saudaranya siapa? Mojang geulis; gadis cantik, enak didengar, tapi coba baraya geulis? maaf tak enak dibaca dan tak enak didengar bagi hususnya yang biasa bertutur bahasa Sunda

Fotonya Didiet Ardi Wibowo

Coba saja baraya itu kerabat apa, siapa, dan mengapa. Lalu kata geulis tak pas diletakkan setelah baraya.

Contoh kalimat yang lazim dipakai jika mempergunakan kata baraya dan geulis:

“Di Bontang teh geuning loba baraya urang, iaraha-iraha mun geus boga duit keur piongkoseunana urang longok yu!”

“Jih, geuning ieu teh baraya urang keneh ti Bandung, rerehan Ua haji Syukur nu linggih di jalan Buahbatu sanes?”

“Kuring kungsi papanggih jeung adina si Toto geuning mani geulis pisan nya?”

“Eta mah Neng Dyah keur geulis teh lungguh andalemi, jeung someah hade ka semah”

“Baraya ti mana ieu teh mani geulis kieu?”

Boleh saja memberi nama ”Baraya Geulis”, tapi sakali deui teu ngeunah dibaca, teu matak mawa reueus ka urang Sunda. Mending pakailah bahasa Sunda yang enak dibaca dan didengar umpamanya saja:

“Baraya kuring”, “Baraya urang sadaya”, atau “Barayana Urang Parahiangan”

Etika Timbal Balik

Ini saya dapatkan dari Wikipedia: Do unto others as you would have others do unto you kemudian bahasa Indonesianya adalah “Lakukan kepada orang lain seperti apa yang anda inginkan orang lain perbuat kepada diri anda”.

Ini sangat meresap kedalam hati saya, tapi perlu berbesar hati untuk menerimanya karena belum apa-apa sudah dinyatakan bahwa “Frase ini dapat ditemukan di Matius 7:12” dari Bible bukan? Tentu saja iya, dan ini adalah kitab sucinya umat Nasrani. Inilah hubungannya dengan berbesar hati tersebut. Bukankah kita hususnya umat Islam sangat alergi tentang Nasrani, Yahudi, atau agama lain apapun selain Islam.

Kalau kita yakin bahwa dalam keimanan kita salahsatunya adalah beriman kepada kitab-kitab Allah, inilah untuk membuktikan keimanan kita. Jika Anda menyatakan bahwa mereka telah merubah sebagian ayat-ayat Bible, kontrol saja kebenarannya dengan ayat-ayat Al Quranul karim, berlawanan tidak? kalau tidak berlawanan harus diterima. Begitulah kata Kang Jalal atau ustad Jalaludin Rahmat.

Setelah menerima, mari kita kembangkan “Lakukan kepada orang lain seperti apa yang anda inginkan orang lain perbuat kepada diri anda”. “Lakukan kepada orang lain” artinya melakukan sesuatu kepada orang lain maksudnya semuanya jangan dibeda-beda, dan juga artinya manusia selain dari kita. Disini hubungannya dengan multi etnis dan multi cultural, lintas suku, agama, ras, bahwa semuanya adalah mahluk buatan Allah yang tentu tidak dipilih kasihkan oleh Allah tersebut.

Terus “seperti apa yang anda inginkan orang lain perbuat kepada diri anda”, jelas bukan karena kita mengharapkan orang lainpun harus berbuat baik seperti yang anda inginkan. Ingat ini bukan seperti menjilat jadi harus penuh dengan kejujuran, tidak licik, tidak pamrih, tidak bermaksud biar ada lebihnya orang lain berbaik kepada kita.

Kita ingin lebih mendalam mencoba dibalik “Jangan lakukan kepada orang lain seperti apa yang tidak anda inginkan orang lain berbuat kepada diri anda”. Jangan menyakiti hati orang lain jika kita tidak ingin orang lain menyakiti hati kita. Jangan mengganggu jika tidak ingin diganggu. Masih banyak contoh lainnya.

Tapi coba kembangkan bagaimana mengukur omongan kita menyakiti orang lain atau tidak?

Tekwan

Tekwan adalah makanan khas Palembang yang bahan utamanya adalah ikan dicampur dengan tepung tapioka. Makana ini asal mulanya dari mana, tidak begitu jelas, kalau melihat suku kata “tekwan” seperti bahasa Cina, apa mungkin aslinya dari Cina? Siapa tahu makanan tersebut dibawa oleh perantau-perantau Cina yang kemudian membudayakannya di Palembang. Biar saja nanti dibicarakan lagi tentang asal usulnya.

Saya mengenal makanan tersebut pada akhir tahun 70-an sewaktu mulai merantau dan bekerja di Bontang Kalimantan Timur. Lho kok Bontang..? Begini, saat start up kilang LNG; pabrik pencairan gas alam di Bontang, Pertamina mendatangkan tenaga ahli yang berasal dari kilang minyak Plaju dan Sungai Gerong di Sumatera Selatan. Jadi para tenaga terlatih yang mengelola kilang gas alam cair tersebut adalah kebanyakan wong Plembang. Mereka “eksodus” atau “jebol desa” dari Sumatera Selatan lengkap dengan keluarganya datang ke Bontang.

Istri-istri mereka yang kebanyakan adalah rajin dan ulet membawa budaya makanannya hususnya tekwan ini. Kebetulan di Bontang – daerah tepi laut yang indah – sorganya ikan terutama ikan tenggiri sebagai bahan pokoknya. Setiap minggu mereka belanja ikan berkilo bahkan berpuluh kilogram dari pasar Tanjung laut atau pasar Berebas dan mulailah membuat makanan khas Palembang tersebut. Memang tidak hanya tekwan tapi juga mpek-mpek, laksa, burgo, kapal selam, dan sebagainya.

Cara singkat membuat tekwan adalah sebagagai berikut, yang utama adalah membuat pentolannya, yaitu membuat adonan terdiri dari kerokan ikan tenggiri dengan tepung tapioka. Kemudian adonan tersebut dicemplungkan ke dalam air mendidih sepentul demi sepentul (lebih kecil dari bakso) sehingga dihasilkan bentuk pentulan yang kenyal dan enak, karena memang bahannya dari ikan. Ikan adalah sumber gizi yang sangat baik.
Disamping pentulan tekwan tersebut, juga dibuat kuahnya, semacam kuah soto yang tentu saja sangat terasa udangnya.

Ke dalam kuah tekwan tersebut ditambahkan irisan jamur kuping dan bunga sedap malam kering. Bunga sedap malam direndam air panas, dan setangkai demi setangkai diikatkan. Kuah tersebut ditempatkan di mangkuk yang besar (kalau bukan mangkuk besar nanti bisa bolak balik nambah!), ke dalam kuah pentulan tekwan juga ditambahkan irisan bengkoang dan mentimun, soun, goreng bawang merah, dan tambahkan cuko (cuka)agar ada rasa sedikit asam, terahir pakai pedas kalau suka. Harus dimakan panas-panas, jadi diambilnya selagi mendidih. Badan bisa banjir keringat apalagi di Bontang yang panas karena dilewati garis khatulistiwa.

Tekwan adalah makanan setengah berat, jadi banyak disuguhkan di acara-acara syukuran, pengajian, arisan, ulang tahun, bahkan kalau reuni wong Plembang galo.

Belakangan, bahkan kemudian berdiri banyak warung yang menjual aneka makanan Palembang di kompleks perumahan karyawan. Terkenal misal tekwan buatannya Bu Agus, Bu Zaini, Bu Herman, dan Bu Brojol. Anak-anak Bontang belum merasa puas kalau malam minggu tidak makan tekwan.

Karena tekwan tersebut demikian populernya di Bontang, jadi meskipun saya bukan berasal dari Kalimantan Selatan akan tetapi makanan itu sudah menjadi pavorit keluarga, dan ank-anak sangat menyukainya.

Di Bontang pada tahun awal 80-an harga ikan tenggiri per kilogramnya adalah Rp 6.000. Sekarang di Bandung sekilonya Rp 40.000, meski agak mahal dan tidak sebanyak di Bontang, ketika kami sudah tinggal di Bandung lagi, sesekali istri saya membuatnya untuk sekedar melepas rindu terhadap makanan lezat tersebut. Dan tentu saja istri saya berani bertanding dengan ahlinya dalam hal membuat tekwan meskipun istri saya asli wong mBandung.

Di bawah ini tersaji tekwan buatan istri saya, dipersilakan!
Siap disantap

Biarkan panas

Gado-Gado

Bukan makanan enak gado-gado yang akan dibicarakan akan tetapi variasi tulisan yang saya posting ke dalam blog ini terlalu banyak macamnya, terlalu gado-gado. Harusnya setiap blog mempunyai topik sendiri-sendiri (apa memang harus begitu?) sehingga pembaca tidak kebingungan (kalau ada yang mau membaca!).

Karena usia saya sudah hampir 63 tahun, takut tidak sempat menulis segalanya, dan untuk memilah-milah tulisan juga sangat memakan waktu, maka nampaknya penulisan dalam blog ini akan dibiarkan variatif begitu!

Menulis di blog ini utamanya dalam rangka belajar menulis (kadung kale!), mengungkapkan kata hati dalam bentuk tulisan. Jadi tergantung dari apa yang ada dalam pikiran kemudian ditulis. Akan tetapi tulisan “stok” lama yang ada di file komputer pribadi juga kadang ikut dipajang (suka-suka Aki!).

Suka menonton infotainment? Selebriti yang diwawancarai kalau menyebutkan Tuhan dengan sebutan “Yang di Atas” (sambil menunjuk ke langit). Kalau menyebutkan biarkan kehidupan ini berjalan seperti apa adanya dengan menyebut “Biarkan kehidupan ini seperti air mengalir”. Saya juga ingin menyebut begitu, tapi apa boleh ya? karena saya bukan selebriti. Nampaknya harus dicoba!

Kalau saya masih diberi umur oleh Yang di Atas dan dalam menulis ini akan saya biarkan seperti air mengalir. Sebetulnya saya ingin mengatakan bahwa karena tulisan-tulisan saya tidak layak tayang di koran, makanya menulis di blog pribadi saja tidak akan ada yang menolak.

Tambahan lagi tampilan blog pribadi ini sederhana sekali, karena baru belajar nge-blog dan langsung posting tulisan-tulisan.Jadi biarkan saja dengan segala kekurangannya ya.

Harapan saya mungkin kelak masih sempat melihat-lihat tulisan lama yang akan saya biarkan begitu apa adanya (tidak akan di edit). Mudah-mudahan kelihatan ada perbaikan dari waktu ke waktu. Wassalam.

Dyah Pitaloka dan Rieke “Oneng”

Dyah Pitaloka adalah putri Sunda yang tewas di Bubat tahun 1357, itulah yang tercantum pada buku “Dyah Pitaloka, Senja di langit Majapahit” sebuah novel sejarah karya Hermawan Aksan. Buku ini, telah dua kali dicetak – setidaknya itu yang saya tahu – cetakan pertama judulnya “Dyah Pitaloka, Senja di langit Majapahit” bulan Desember 2005. Sedangkan Juli 2007 cetakan kedua dibuat dengan judul “Dyah Pitaloka, Korban Ambisi Politik Gajah Mada”

Pada resensi buku yang ditulis oleh H Tanzil di blognya yang beralamat bukuygkubaca.blogspot.com. Tanzil menulis bahwa dalam novel tersebut “Dyah Pitaloka dideskripsikan sebagai seorang putri yang cantik yang haus akan ilmu dan gemar membaca kitab-kitab sastra dan mempelajari ilmu kanarugan. Dyah juga sangat peduli tentang nasib kaum perempuan di negeri Sunda dan memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang putri yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan.” dan Tanzil berkomentar bahwa “Karena berada dalam area fiksi deskripsi ini mungkin sah-sah saja, namun mungkin akan menimbulkan tanda tanya bagi pembacanya, apakah mungkin seorang putri yang hidup di abad 13 telah memiliki pandangan yang jauh kedepan terutama dalam hal-hal emansipasi?”

Bisa saja komentar Tanzil begitu, tapi dalam rangka membandingkan antara “Oneng” dan Dyah Pitaloka adalah rada-rada mirip, setidaknya begitu menurut pendapat saja. Entah apa maksud orang tua Rieke melengkapi namanya dengan Dyah Pitaloka, tapi nama adalah doa dan harapan pemberinya. Legenda atau sejarah putri cantik Dyah Pitaloka adalah cerita tentang kegamangan psikologis antara suku Sunda dengan suku Jawa. Inilah misalnya di puseur kota Bandung tidak ada nama Majapahit, Hayam Wuruk, apalagi Gajah Mada. Sementara kota lain berlomba ingin memberi nama jalan dengan salah satu nama seperti tersebut, kota Bandung malahan mungkin di seluruh provinsii Jawa Barat, nggak tuh!

“Oneng” Ryeke Diah Pitaloka hampir mirip dengan Putri Dyah Pitaloka, syukur kalau rupanya mirip seperti yang ditulis Hemawan Aksan adalah putri cantik. Ditambahkan bahwa Putri Dyah Pitaloka adalah haus akan ilmu dan gemar membaca kitab-kitab sastra dan mempelajari ilmu kanarugan. Putri Dyah juga sangat peduli tentang nasib kaum perempuan di negeri Sunda dan memiliki pandangan yang jauh kedepan mengenai peran seorang putri yang dibesarkan dalam lingkungan kerajaan. “Oneng” juga memiliki sifat itu, dia pintar lulusan S2 (koreksi saya kalau salah), menggemari sastra (sering membuat puisi), juga peduli dengan bangsanya, dia kalau tak salah menjadi salah satu caleg. Belum diperoleh keterangan apakah Rike juga belajar ilmu kanuragan (bela diri)?

Dan “Oneng” juga sangat bangga menjadi orang Sunda, seperti yang dituturkan kepada koran harian PR 13 Maret 2009. Konsistensi bangga menjadi orang Sunda adalah dengan memberi nama anaknya sangat berbau Sunda yaitu Sagara Kawani Adiansyah seperti katanya “ Sagara itu bahasa Sunda artinya laut, sedangkan Kawani adalah keberanian, kalau Adiansyah diambil dari keturunan suami saya dari Ternate. Saya memang ingin anak ini kelak menjadi seorang pemberani, namnya Sunda banget kan. Saya bangga menjadi orang Sunda, anak juga namanya berbau Sunda.”

Buat Rieke Diah Pitaloka “Oneng” dan suami diucapkan selamat atas kelahiran putranya yang pertama bernama Sagara Kawani Adiansyah, semoga menjadi anak yang sesuai dengan harapan kedua orangtuanya Lautan Keberanian, berani memperjuangkan untuk kemajuan bangsanya yakni bangsa Indonesia ini.