Bangunan Cagar Budaya Di Kota Bandung, Jalan Braga

No. : 60, Nama Bangunan: Bioskop Mayestic, Lokasi: Jl Braga, Fungsi: Cinema (Bioskop), Arsitek: C.P. Wolff Schoemaker,Tahun: 1925, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman

No. : 61, Nama Bangunan: Apotik Kimia Farma, Lokasi: Jl Braga 2,4,6, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1902, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 64, Nama Bangunan: Sarinah, Lokasi: Jl Braga 10, Fungsi: Toko Onderling Belang , Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1937-1940, Kelas: B. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 67, Nama Bangunan: Centre Point, Lokasi: Jl Braga 117, Fungsi: Ruko, Arsitek: C.P. Wolff Schoemaker, Tahun: 1925, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 68, Nama Bangunan: LKBN Antara, Lokasi: Jl Braga 25, Fungsi: Kantor, Arsitek: A.F. Aalbers, Tahun: 1936, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 72, Nama Bangunan: Ex Toko Populair, Lokasi: Jl Braga 45, Fungsi: Toko, Arsitek: belum diketahui, Tahun: 1915, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 83, Nama Bangunan: Bank Indonesia, Lokasi: Jl Braga 108, Fungsi: Javasche Bank , Arsitek: Edward Cuypers, Tahun: 1917, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 86, Nama Bangunan: Landmark Building, Lokasi: Jl Braga 131, Fungsi: Toko Buku dan Percetakan Van Dorp, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1922, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 87, Nama Bangunan: MAPOLTABES, Lokasi: Jl Braga 135, Fungsi: Kantor Insulinde, Arsitek: R.L.A. Scoemaker, Tahun: 25 Mei 1917, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

Sumber: Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung Tahun 1997 (bandungheritage.org)

Advertisements

Bangunan Cagar Budaya Di Kota Bandung, Jalan Asia Afrika

No. : 25, Nama Bangunan: Kantor Pos Besar, Lokasi: Jl Asia Afrika 47, Fungsi: Posten Telegraf Kantor, Arsitek: J. Van Gent, Tahun: 1928-1931, Kelas : A. Bagian Samping Kantor Pos Bandung. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 26, Nama Bangunan: Bank Mandiri, Lokasi: Jl Asia Afrika 51, Fungsi: Kantor Bank, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1915, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 27, Nama Bangunan: P.T. Asuransi Jiwasraya, Lokasi: Jl Asia Afrika 53, Fungsi: Kantor Asuransi, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1917-1920, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 28, Nama Bangunan: Bank Mandiri, Lokasi: Jl Asia Afrika 61, Fungsi: Kantor Bank, Arsitek: Edward Cuypers,Tahun: 1912, Kelas: A. Foto Koleksi Aki Eman 2011

No. : 29, Nama Bangunan: Perusahaan Listrik Negara, Lokasi: Jl Asia Afrika 63, Fungsi: Gebeo, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1933, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 30, Nama Bangunan: Gedung Merdeka, Lokasi: Jl Asia Afrika, Fungsi: Societeit Concordia, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1902, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 31, Nama Bangunan: Kantor Pikiran Rakyat, Lokasi: Jl Asia Afrika 77, Fungsi: Kantor, Arsitek: C.P Wolff Schoemaker, Tahun: 1925, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 32, Nama Bangunan: Hotel Preanger, Lokasi: Jl Asia Afrika 81, Fungsi: Grand Hotel Preanger, Arsitek: C.P.Wolf Schoemaker,Tahun: 1929, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 33, Nama Bangunan: Gedung Punten, Lokasi: Jl Asia Afrika 90, Fungsi: Toko Lido ( Mebel Erisa), Arsitek: belum diketahui, Tahun: 1930, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 36, Nama Bangunan: Savoy Homann Heritage Hotel, Lokasi: Jl Asia Afrika 112, Fungsi: Hotel, Arsitek: belum diketahui,Tahun: 1939, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. : 39, Nama Bangunan: Vigano, Lokasi: Jl Asia Afrika 188, Fungsi: Pertokoan, Arsitek: Edward Cuypers, Tahun: 1910, Kelas: A. Foto koleksi Aki Eman 2011

Sumber: Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997  (bandungheritage.org)

Perda Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung

Written by DR. Harastoeti DH.   16 December 2009

Kriteria Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya
   Mengingat bahwa kegiatan pelestarian kawasan dan bangunan cagar budaya telah dilakukan jauh sebelum dibentuknya Peraturan Daerah ini, Bandung Heritage telah mencoba untuk melakukan studi mengenai kriteria yang dapat dijadikan sebagai ukuran dalam mencari, memilih dan menentukan kawasan maupun bangunan yang layak untuk (atau bahkan harus) dilestarikan. Setelah melalui argumentasi panjang, maka lahirlah kriteria yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini, dengan merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia no.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, yaitu:
(1) Nilai Sejarah
Hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa atau sejarah politik (perjuangan), sejarah ilmu pengetahuan, sejarah budaya termasuk di dalamnya sejarah kawasan maupun bangunan (yang lekat dengan hati masyarakatnya), tokoh penting baik pada tingkat lokal (Bandung atau Jawa barat), nasional (Indonesia) maupun internasional;
(2) Nilai Arsitektur
Berkaitan dengan wajah bangunan (komposisi elemen-elemen dalam tatanan lingkungan) dan gaya tertentu (wakil dari periode gaya tertentu) serta keteknikan. Termasuk di dalam nilai arsitektur adalah fasad, layout dan bentuk bangunan, warna serta ornamen yang dimiliki oleh bangunan. Juga berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan atau menunjang ilmu pengetahuan, misalnya, bangunan yang dibangun dengan teknologi tertentu atau teknologi baru (termasuk di dalamnya penggunaan konstruksi dan material khusus). Bangunan yang merupakan perkembangan tipologi tertentu.
(3) nilai ilmu pengetahuan
Mencakup bangunan-bangunan yang memiliki peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, misalnya ITB, UPI, Museum Geologi.
(4) nilai sosial budaya (collective memory)
Berkaitan dengan hubungan antara masyarakat dengan locusnya.
(5) umur
Berkaitan dengan umur kawasan atau bangunan cagar budaya. Umur yang ditetapkan adalah sekurang-kurangnya  50 tahun. Semakin tua bangunan, semakin tinggi nilai ke-‘tuaannya’.

Buku-Buku Tentang Bandung

Sampai saat ini sudah banyak buku tentang Bandung telah ditulis, jika Anda ingin mengetahui isi perutnya Kota Bandung, ada baiknya membaca dulu tentang Bandung lewat buku-buku tersebut. Buku-buku itu ada di toko buku, perpustakaan, atau di tempat penjualan buku-buku bekas yang berada di Kota Bandung.

Gambar cover 19 buah buku tersebut saya pajang di bawah ini dari berbagai sumber, mengapa diposting di sini, alasannya biar berkumpul menjadi satu, dan dengan harapan agar mudah mencarinya karena sudah melihat foto covernya.

Seharusnya iya memang buku-buku tersebut dibuat keterangannya lebih jelas,  apalagi jika oleh saya dibaca terus dibuat sinopsis atau resensinya, akan tetapi pertama itu baru cita-cita, keduanya dari sebagian buku-buku tersebut,  saya belum pernah menyentuhnya apalagi memilikinya.

1) Semerbak Bunga di Bandung Raya Oleh: Haryoto Kunto

2) Wajah Bandoeng Tempo Doeloe

3) Braga Jantung Parijs Van Java

4) Bandung Dalam Hitam Putih

5) Balai Agung di Kota Bandung

6) Album Bandung Tempo Doeloe

7) 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur!, Pikiran Rakyat

8) Where To Go Bandung

9) Jendela Bandung Perjalanan Bersama Kompas

10) Peta 100 Tempat Jajan Dan Makan Legendaris di Bandung

11) Jajanan Kaki Lima Khas Bandung

12) Ayo Ke Bandung, Peta Kuliner dan Wisata

13) 100 Bangunan Cagar Budaya Di Bandung

14) Oud Bandoeng Dalam Kartu Pos oleh: Sudarsono Katam

15) Pada Suatu Hari oleh: Alinafiah Lubis

16) Made in Bandung

17) Wisata Parijs van Java oleh: Her Suganda

18) Ciri Perancangan Kota Bandung

19) Ramadhan di Priangan Tempo Dulu oleh: Haryoto Kunto

Perjalanan Antara Malang – Bandung

Dengan KA Malabar saya datang ke Kota Malang untuk tujuan utamanya adalah menghadiri acara akad dan resepsi pernikahan keponakan. Hari ini tanggal 13 November 2011 saya sudah siap lagi untuk kembali ke Bandung. Perjalanan Bandung – Malang, sight seeing di  Kota Malang, membeli oleh-oleh berbagai kripik dan dodol buah-buahan, lalu acara intinya yaitu akad dan resepsi pernikahan telah dilalui dengan lancar tidak kurang satu apapun.

Pulang ke Bandung dari Malang segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan baik, maklum mempunyai waktu yang leluasa, kereta  yang akan berangkat jam 15:30 sudah okey dan status tiket sudah dikonfirmasi sejak pemberangkatan dari Bandung, apa lagi?  everything is OK.

Karena tidak punya acara lagi di Malang maka selanjutnya pada  jam 14:00 saya dan istri (kakak melanjutkan perjalanan ke Pasuruan) berdua sudah berada di Stasiun Malang. Tinggal menunggu rangkaian kereta apinya yang pada jam segitu masih diparkir di sana.

Stasiun Kereta Api Malang

Cari-cari makanan di Stasiun Malang yang khas Malang sepertinya tidak menemui, eh tahu-tahu ada pedagang roti didorong di gerobak kecil tertulis nama rotinya “roti Maryam”, ternyata hangat dan lumayan enak. Meski dari Malang tapi saya ternyata belum membeli apel Malang yang terkenal itu. Terpaksa istri saya mencari di stasiun dan kebetulan masih ada yang jualan tinggal satu kantung, memang apel yang berwarna hijau itu cukup manis.

Tepat jam 15:30 rangkaian KA Malabar datang, dan para calon penumpang segera saja tanpa dikomando naik, setelah semuanya beres kemudian kereta diberangkatkan. Kereta ini terus berjalan dari Malang – Blitar – Kediri, sampai di Kediri sudah gelap biasa di luar tidak kelihatan apa-apa. Setelah sholat dan makan seadanya maka kami sudah “tewas” padahal kereta terus berjalan melewati Kertosono – Madiun – Yogyakarta (jam 24:00) – Banjar – Tasikmalaya (jam 05:30) dan itu sudah terang di luar. Kereta terus berjalan sambil memasuki daerah Priangan yang oleh Pramudya Ananta Toer dalam bukunya “Jalan Raya Jalan Daendels” disebut Priangan si Jelita.

Sebutan si jelita mungkin karena pemandangannya yang elok dan hijau sejauh mata memandang. Kebetulan pagi itu saat kereta api memasuki wilayah Priangan udara sedang cerah dan langit membiru dihiasi awan putih yang bergerombol menambah indahnya pemandangan. Kelihatan di kejauhan gunung-gunung yang membiru, terus hamparan pesawahan yang menghijau, juga ada hamparan kuning dari padi yang sebentar lagi  menunggu untuk dipanen.

Kalau Pramudya Ananta Toer masuk Priangan dari arah barat, sebaliknya kereta api ini datang ke Priangan dari wilayah timur. Inilah pemandangan yang coba saya foto selagi kereta api berjalan agak pelan sehubungan dengan jalan yang berkelok-kelok mengikuti pinggiran gunung dan bukit.

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 1

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 2

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 3

Pemandangan kala kereta memasuki Priangan 4

Selanjutnya Pramudya menuliskan mengenai Priangan:

“Meninggalkan Bogor berarti memasuki daerah Priangan Si Jelita. Priangan lain dari Jawa Tengah. Penduduknya, etnis Sunda, bila bicara laksana menyanyi. Tidak mengherankan bila kesenia rakyat di sini hidup, berkembang, kreatif, dan lebih dari itu: komunikatif. Sebelum VOC mengacak di pedalaman Jawa, orang Sunda mereka namai Jawa Gunung. Dan etnis Sunda memang menduduki tanah pegunungan dan puncak‑puncaknya bertebaran seperti sedang melakukan rapat abadi. Kehidupan damai membuat Priangan seakan membuat penduduknya tidak pernah beranjak dari gunung-gunungnya. Mereka tidak menyukai kekerasan. Raja‑raja memerintah di sini tidak bertarung satu‑sama lain untuk memperebutkan tempat nomor satu “di atas dunia”. Mereka beruni, nemecahkan kesulitan bersama melalui dialog dan persetujuan bersama. Dalam zaman satria, feodal, yang biasa menulis sejarahnya dengan peperangan. Tidak demikian di Priangan. ”

Karena asik melihat pemandangan di luar sana, ternyata kereta sudah sampai di Stasiun Kiaracondong dan itu artinya Stasiun Bandung sudah di depan mata tinggal beberapa saat lagi. Dan, Alhamdulillah sampailah kami di Kota Bandung.

Tamat.

Akad Dan Resepsi Pernikahan

Saya dan istri sengaja datang ke Kota Malang dengan menggunakan KA Malabar untuk menghadiri akad dan resepsi pernikahan salah sorang keponakan. Baik akad (ikatan) pernikahan maupun resepsinya telah berjalan dengan baik, lancar, tidak kurang satu apapun. Saat tulisan ini dibuat mereka (pengantin) sudah kembali ke Yogyakarta, berbulan madu, dan tentu sudah kembali beraktifitas sebagaimana sebelumnya.

Kalau melihat KBBI bahwa nikah itu artinya adalah ikatan (akad) perkawinan yg dilakukan sesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama. Tentu saja untuk menjadi sahnya perkawinan yang paling pokok adalah rukunnya yakni, bahwa rukun nikah ada lima perkara:

1.      Pengantin lelaki

2.      Pengantin perempuan

3.      Wali pengantin perempuan

4.      Dua orang saksi

5.      Ijab dan Qabul

Wali adalah yang menikahkan, yaitu orang tua yakni bapak dari pihak perempuan atau yang mewakili , pada saatnya akad nikah si Wali mengucapkan ijab kepada pengantin pria yakni kata-kata “aku nikahkan engkau dengan..dan selanjutnya”, kemudian dijawab qabul oleh si pengantin lelaki: “terima saya nikahnya dengan .. dan seterusnya”. Maka sahlah kedua pengantin itu menjadi suami istri.

Pernikahan ternyata sederhana sekali, hanya ijab qobul itu yang paling inti, jadi sederhananya siapapun bisa mengatakan ijab qobul itu, bahkan kalau hanya itu biayanya murah sekali. Adapun mengapa menjadi demikian mahal dan melelahkan adalah tambahannya yang tidak ada hubungannya dengan sahnya sebuah perkawinan.

Yang agak menarik dalam pernikahan ini adalah ketika sebelum akad nikah berlangsung, diberikan dahulu hotbah nikah dengan tema atau topik perkawinan, bahwa dasar perkawinan dalam agama Islam adalah monogami dan bukan sekali lagi bukan poligami, demikian ditegaskan secara pasti oleh Bapak Ustadz. Dan ketika acara selesai baik pengantin maupun hadirin kelihatan cerah dan sumringah.

Tapi sudahlah saya tidak akan membahas tentang perkawinan, sebab acara akad dan resepsinya sekali lagi telah berjalan dengan mulus. Jika jaman dahulu pernikahan selalu diselenggarakan di rumah pengantin perempuan, sekarang ini lebih praktis menyewa gedung. Gedung tersebut biasanya dilengkapi dengan adanya masjid untuk akad nikah, aula untuk resepsi pernikahan, dan bahkan lengkap dengan penginapan. Agar lebih praktis dan memudahkan koordinasi rombongan pengantin pria, keluarga pengantin wanita, dan panitia, dari kemarinnya sudah berada dan menginap di kompleks tempat akad dan resepsi pernikahan diselenggarakan tersebut.

Dan, setelah selesai acara saya harus segera bersiap-siap untuk pulang ke Bandung, meninggalkan Kota Malang sebetulnya kota yang sangat menarik dan kemarin ketika saya datang ke toko buku Gramedia, ternyata ada buku lengkap panduan mengunjungi Malang, tapi harusnya jangan hanya satu hari, jika ada umur panjang boleh kiranya datang kembali.

Bersambung..

Memotret Gedung Lama di Bandung

Selagi muda saya sama sekali tidak menunjukan minat ke dalam dunia fotografi, jadinya mengenai pembuatan gambar dengan kamera hampir nol besar. Demikian juga dengan hobi mengumpulkan foto, juga tidak punya. Menyesalnya kini ketika masa tua minat saya timbul akan hal-hal yang berbau masa lalu, sebutlah foto-foto bangunan lama dengan sejarahnya.

Kalau saja saya rajin sejak masih muda mengumpulkan foto-foto lama, memail dokumen-dokumen, termasuk mengumpulkan  ijazah atau juga rapor sekolah zaman dahulu, mungkin kalau ada niat menulis atau posting di blog tentang sesuatu yang wis lawas tidak serepot ini. Belakangan ini saya sangat ingin melihat ijazahnya puny kakak saya yang sudah almarhum ketika dahulu lulus AMS Bandoeng.

Tapi, itu semua tak perlu disesali, karena sudah berlalu, dan itu tidak akan kembali, lebih baik apa yang ada dan bisa dilakukan saat ini dalam menjalani hobi atau minat baru yakni berburu foto gedung lama di Bandung. Maksud saya pertama semampunya seorang aki-aki, sekuatnya seorang lansia, seadanya peralatan yakni hanya kamera saku yang sederhana, bahkan hanya menggunakan kamera yang built in dengan HP. Tiada rotan akar pun berguna.

Seyogianya saya bersyukur untuk menunjang hobi baru ini saya mempunyai keuntungan yakni tinggal di Kota Bandung yang tentunya tidak terlalu membutuhkan dana khusus. Hanya dengan naik bus Damri dalam kota, berkendaraan  angkot yang tersedia ke berbagai arah lokasi, terus bahkan dengan cara berjalan kaki sekalian berolah raga dari satu lokasi ke lokasi lain yang berdekatan.

Berburu atau hunting foto gedung lama harus punya waktu, niat, kesempatan, bahkan he he he kesehatan bukan? Dan, menurut saya harus sendirian, waktunya khusus untuk itu, jadi jangan sambilan, jangan sambil belanja misalnya. Nah, kesempatan itu ternyata datang juga hampir dua hari berturut-turut yakni pada pertengahan bulan November 2011 ini.

Dari mana atau dari lokasi mana mulai berburu fotonya sampai kebingungan saking antusiasnya untuk mengawali pemotretan. Akhirnya saya mulai dengan kawasan seputar Alun-alun, dilanjutkan ke  jln Braga, Stasiun KA Bandung, jln Perintis Kemerdekaan, jln Watukencana, jln Merdeka, jln Sumatra,  jln Aceh,  jln Diponegoro,  dan beberapa tempat lagi.

Saat di lokasi pemotretan ternyata ada beberapa kendala misal tenyata memotret gedung yang berlokasi di tepi jalan sulit sekali karena demikian padatnya lalu-lintas kendaraan, padahal memotret gedung yang utuh perlu lahan yang luas dan itu didapat  umumnya diambil dari seberang jalan. Kendala berikut adalah gedung-gedung lawas tersebut ternyata sebagian besar dipagar, dan bahkan ada bangunan yang tertutup oleh rindangnya daun pepohonan, jadi cukup kebingungan dari sudut mana potret harus diambil. Ketiganya gedung-gedung banyak yang digunakan oleh instansi dinas seperti misal instansi militer, kepolisian, departemen, dan juga sekolah. Tentu ada penjaganya, ada piketnya, dan ada sekuritinya. Saya juga tidak begitu mengerti apakah kalau memotret  bangunan gedung perlu minta izin kepada yang jaga atau tidak? Mestinya iya memang harus, adab yang baik meskipun tidak tertulis seyogianya harus meminta izin.

Tapi karena saya cuma tukang foto amatiran, kemudian kalau minta izin rasanya terlalu berlebihan, apalagi harus melalui birokrasi permintaan permohonan tertulis. Akhirnya diambil kebijaksanaan sendiri, pertama selama masih bisa memotret lokasi dengan diam-diam ya.. dijepret saja. Atau keliling-keliling dahulu,  istirahat dahulu supaya jangan dicurigai orang, begitu ada kesempatan ya begitu saja,  jepret lagi. Jika ada sekuriti di situ dan saya hanya mengandalkan “ketuaan” , ditandai dengan uban, dan dengan gaya “segala kepolosan dan ketidak tahuan”, memohon dengan segala hormat untuk memoto gedung. Entah kasihan atau memaklumi seorang lansia maka selama ini tidak mengalami kesulitan, lancar saja tuh!

Dan dari begitu banyak lokasi atau gedung yang dianggap cagar budaya saya sudah berhasil memotret sekitar 50 lokasi/Gedung. Padahal dalam buku keluaran baru  “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” oleh Harastoeti DH,  baru 100 gedung yang dijadikan cagar budaya, dan masih banyak lagi.

Setelah dua hari berburu foto gedung lama di Kota Bandung, maka saya sudah berhasil mengumpulkan gambar-gambar sebagai berikut:

  1. Grand Hotel Preanger, jln Asia Afrika
  2. Savoy Homann, jln Asia Afrika
  3. Apotik Kimia Farma, jln Asia Afrika
  4. Gedung De Vriest, jln Asia Afrika
  5. Gedung Merdeka, jln Asia Afrika
  6. Gedung PLN, jln Asia Afrika
  7. Eskomto bank, jln Asia Afrika
  8. Kantor Pos Bandung, jln Asia Afrika
  9. Yayasan Kebudayaan, jln Naripan
  10. Centre Point, jln Braga
  11. Landmark, jln Braga
  12. Gedung Bank BJB, jln Braga
  13. Bank Indonesia, jln  Braga
  14. Gereja Bethel, Wastu Kancana
  15. Polrestabes Bandung, jln Merdeka
  16. Gereja, jln Merdeka
  17. SDN Banjarsari, Jln Merdeka
  18. SMPN 5 Bandung, jln Sumatra
  19. Kantor Pusat PT KA Indonesia
  20. Indonesia Menggugat, jln Perintis Kemerdekaan

Sekian 20 lokasi gambar dahulu nanti disambung lagi.

Sebagai contoh di bawah ini:

Hotel Savoy Homann Kini, koleksi Aki Eman

 

Hotel Savoy Homann dulu. (1947), koleksi Nederlands fotomuseum

He he he malah bagusan foto tempo dulunya ya..

Harapan saya semoga kelak satu persatu dari bangunan lawas di Kota Bandung ini akan menjadi  bahan untuk postingan.