Aku dan Buku

Aku sendiri  tidak begitu yakin apakah aku ini termasuk penggemar membaca buku atau bukan, tapi kalau mengumpulkan buku bacaan, buku apa saja, merasa iya, dan memang ada buktinya terkumpul sedikit buku yang aku tempatkan di mushala kecil di rumahku. Seperti terlihat di foto-foto di bawah ini

Kumpulan bukuku 1

Kumpulan bukuku 2

Kumpulan bukuku 3

Kumpulan bukuku 4

Ini bukan pameran buku karena mungkin milik Anda lebih banyak, lebih baik, dan lebih bermutu. Aku hanya ingin memperlihatkan bahwa buku-buku tersebut dikumpulkan satu demi satu selama kurang lebih 10 tahunan.

Cukup membuat aku merasa happy adalah kalau aku dibiarkan dilepas di toko buku.  Satu lagi kalau ditawari anak-anak untuk ditraktir makan atau diajak jalan-jalan di mal aku lebih baik dibiarkan di perpustakaan atau di toko buku saja.

Kalau dilacak sejak masa kecil di SD (saat itu bernama SR) tahun 50-an memang aku sering dimarahi kakak yang suami istri guru SD, karena membuat berantakan susunan bukunya, buku yang pertama aku baca adalah sebuah novel berjudul  “I Swasta Setahun di Bedahulu” karya AA Panji Tisna. Dimarahi berikut adalah karena membongkar dan membuka bungkus kiriman koran “Pikiran Rakyat” yang baru saja datang, bundel koran yang dikumpul beberapa  hari sekaligus, dan itu dikirim dari ibu kota kabupaten,  koran tersebut adalah langganan para guru SD. Alasan aku membongkarnya sederhana saja karena ingin melihat serial komik “Rip Kirby and The Mangler” yang terletak di halaman dalam koran tersebut.

Selanjutnya setelah berumah tangga, membaca dan mengunjungi toko buku atau juga perpustakaan agak berkurang karena pertama kesibukan di pekerjaan dan keduanya kalau di rumah bersama-sama istri mengurus dan membesarkan anak. Kami sekeluarga jarang sekali mempunyai pembantu. Meski begitu kalau turun ke kota kalau cuti aku tidak pernah lupa mengunjungi toko buku apalagi kalau cuti ke Bandung tidak lupa mengunjungi toko buku Gramedia baik yang ada di seberang BIP jln Merdeka  atau BSM jln Gatot Subroto . Semasa dinas jarang sekali membeli  buku karena merasa percuma karena tidak akan sempat membacanya.

Ketika saya bekerja di sebuah pembangunan konstruksi sebuah pabrik dimana banyak expatriat umumnya orang Amerika mereke menyekolahkan anaknya  di sekolah international school, dan karena ada perpustakaannya akupun sempat menjadi anggota. Baik meminjam maupun mengembalikan buku tidak terlalu jelimet, bahkan kalau mengembalikan cukup “dilempar” saja di keranjang di depan pintu perpustakaan.

Nah, saat usia pensiun tiba yaitu umur 55 tahun pada tahun 2001,  ada banyak waktu dan mulai membeli serta menyusun buku-buku yang letaknya berserakan di mana-mana di rumah. Dua anak aku yang pertama dan nomor dua tidak begitu banyak peninggalan buku kuliahnya, aku sendiri tidak mengerti mengapa mereka tidak pernah meminta uang untuk membeli buku kuliahnya atau bidangnya. Akan tetapi anak bungsu lebih rajin membeli buku jadi tidak cukup hanya foto kopian atau diktat-diktat dari kuliahnya, sehingga begitu selesai kuliah ada lumayan bukunya yang sekarang aku simpan.

Lanjut, sudah 10 tahun ini aku mulai mengumpulkan atau membeli buku, dan juga sudah mulai membacanya satu demi satu. Demikian juga mengunjungi toko buku dan perpustakaan daerah yang ada di kota  Bandung yang kebetulan relatif dekat dengan rumah. Setelah pensiun, sekali lagi, terasa banyak waktu dan kesempatan untuk baik membeli buku maupun membacanya. Akan tetapi bersamaan dengan itu kemampuan untuk  membeli buku berkurang karena menurut perasaanku harga buku semakin mahal. Misalnya sebuah buku baru berjudul  “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” karangan Harastoeti DH berharga Rp 175.000. Sedangkan buku-buku lain yang tergolong “murah” rata-rata diatas Rp 50.000-an.

Karena harga-harga buku demikian mahal, maka kalau aku datang ke toko buku hanya untuk membeli buku yang obralan atau yang discount  saja, misal harga buku novel hanya sekitar Rp 11.000 atau buku novel yang agak tebal seharga Rp 14.000. Jadi kalau belanja buku Rp 50.000 bisa membeli 3 tau empat buku. Buku-buku tersebut tidak pilih-pilih buku apa saja asal cocok dibeli saja. Saking seringnya datang ke tempat obralan buku sehingga bukuku menumpuk di rumah menunggu giliran untuk dibaca, bahkan payahnya aku terkadang lupa sehingga dobel membeli buku.

Di bawah ini adalah belanjaanku buku-buku obralan.

Buku obralan 1

Buku obralan 2, buku terbaru yang aku beli

Kemarin ini aku datang ke sebuah toko buku kecil di kota Bandung yang relatif dekat dari rumahku. Disana ada diobral buku-buku yang aku sama sekali belum pernah membaca referensinya apalagi mengenal karya lain pengarangnya. Tapi buku itu dibeli saja dahulu soal membacanya nanti belakangan, dan 3 buku tersebut belum tentu tamat dibaca dalam satu bulan.

Saat ini aku sedang menunggu “warisan” buku dari salah seorang kakak ipar yang gemar membaca dan mengumpulkan buku. Beliau almarhum dan kemudian istrinya menyusul berpulang ke rahmatullah. Kalau tidak dikasihkan juga biar saja diberi kesempatan untuk memelihara dan membacanya.

Dari pengalaman dalam mengumpulkan buku dan sekali gus membacanya aku merasa sangat prihatin karena kebanyakan dari kita sangat kurang minatnya tehadap buku, terlihat dari minat membaca misalnya di tempat umum jarang ditemukan, sepinya perpustakaan. Bahkan aku perhatikan di sebuah pusat perbelanjaan banyak pengusaha yang mencoba membuka toko buku akhirnya g gulung tikar karena sedikitnya peminat, kemudian beralih ke usaha lain.

Semoga ke depan minat membaca kitaakan lebih baik lagi.

8 thoughts on “Aku dan Buku

  1. Punya buku menyenangkan pak. Jadi teman kala suntuk. Masih jadi teman kala tak suntuk. Selamat membaca Pak🙂

  2. Pingback: Menjadikan Buku Sebagai Pajangan Dinding Rumah Kita | TotoSociety.com

  3. Heni, wah terima kasih, tapi rasanya masih jauh panggang dari api, wassalam

  4. Pak Eman, sesama pencinta buku salam hangat untuk anda. Koleksi saya tertua adalah buku bacaan SR kelas 2 tahun 50anTJAHAYA, karangan Johan van Hulzen dicetak oleh Noordhoff Kolf N.V. Djakarta. Buku jadul lainnya juga ada beberapa baik bacaan populer atau pelajaran sekolah. Sebagai koleksi saya ingin sekali mendapatkan buku bacaan SR thn 50an yang saya ingat seperti DIKAMPUNG, DIDALAM DAN DILUAR KAMPUNG, MATAHARI TERBIT, PELANGI. Juga majalah seperti TERANG BULAN, DUTA SUASANA, LUKISAN DUNIA, PUSPARAGAM, SELECTA. Terimakasih bila anda bisa memberi informasi.

  5. Pak Sjamsul salam kenal dan hangat, wah Anda hebat memiliki secara fisik buku SR tahun 50-an. saya memang punya buku lama tapi dalam bentuk digital alias dipotret lembar demi lembar, karena tidak boleh dipinjam dibawa ke rumah, dari perpustakaan daerah. Buku tersebut sepertinya untuk siswa HIS (Hollandsch Inlandsch School, hehehe kalau tak salah menulisnya), buku itu semacam atlas atau pelajaran ilmu bumi, cetakan J.B. Wolters, Weltevreden 1930

  6. Terima kasih Pak Eman, salam kenal juga. Memang hobby saya koleksi buku. Dulu saya sering hunting di Jln Cihapit Bandung. Sekalian beli buku terbitan baru tapi bekas karena lebih murah. Saya baru ingat mau menghubungi teman di Perpustakaan Daerah di Bandung, namanya Ibu Tienny Surya. Mungkin Bapak kenal. Kalau saya kebetulan ke Bandung, boleh lihat-lihat perpustakaan Bapak? Dimana alamatnya?? O ya, mungkin benar buku-buku tsb bacaan di HIS terbitan JB Wolters Groningen. Tapi buku yang sama adalah buku bacaan sesi pelajaran membaca waktu saya duduk dikelas 2, 3 dan 4 SR tahun 1952, 1953 dan 1954. Di kelas 1 bukunya ” Belajar Membaca” yang tokohnya si Didi dan si Minah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s