Buku: Petualangan Huckleberry Finn

Umur saya sudah tujuh puluh dua tahun, barangkali sudah tidak pantas lagi membaca buku yang diperuntukkan anak-anak dan remaja ini. Akan tetapi ketika masa kecil saya, tidak menemukan buku karya Mark Twain ini. Oleh karena itu meskipun terlambat tetap akan saya baca, agar terhapus rasa penasaran itu.

Ketika di satu toko buku saya menemukannya langsung saja dibeli dan mulai dibaca. Sebetulnya bukan untuk pertama kali membaca buku petualangan Huckleberry Finn ini, akan tetapi karena buku ini kelihatan lebih lengkap dan cetakannya berasal dari Pustaka Jaya maka saya sangat penasaran untuk membeli dan membacanya.

Penerjemah adalah Djoko Lelono seperti juga buku terjemahan lain yang dicetak awal oleh Pustaka Jaya. Saya juga ingin tahu buku asli cetakan ke-1, mudah-mudahan bisa ketemu.

Tertulis di halaman belakang buku:

Karya klasik Amerika karangan Mark Twain ini merupakan sekuel buku petualangan Tom Sawyer. Huckleberry Finn si gelandangan ini diangkat anak oleh Nyonya Janda dan dididik menjadi orang terhormat. Tapi Huck tidak betah dengan segala tata krama yang dianggapnya terlalu kaku ditambah dengan kedatangan kembali ayahnya yang pemabuk. Huck memutuskan untuk kabur, di mulailah petualangan Huck bersama Jim seorang budak negro yang juga sedang melarikan diri, mereka berlayar menyusuri sungai Mississippi bertemu dengan orang-orang baru dan berkali-kali lolos dari maut.

Saat ini saya sedang asyik membacanya halaman demi halaman, jika anda seumuran saya dan sangat penasaran untuk membaca buku ini dipersilakan untuk membeli dan membacanya.

Membaca Buku “Tiga Tahun”

Buku ini dibeli dan dibaca karena saya tertarik pengarangnya Anton Chekov dan penerjemahnya Sapardi Djoko Damono. Disamping itu bukunya tipis hanya 155 halaman jadi tidak wegah membacanya.
Sebagaimana ditulis di jilid belakang buku:

Jatuh cinta kepada Yulia, Alexei atau Laptev tak mau lama-lama menunggu melamarnya. Yulia sendiri meski tak terbesit cinta sedikit pun merasa sayang jika harus melewatkan lamaran pria kaya begini dan pernikahan tanpa cinta itu pun berjalan tertatih di tahun-tahun pertama.

Buku ini ditulis pada 1885, “Tiga Tahun” menyorot perkembangan masyarakat Rusia pada masa itu. Dedikasi Chekov dalam dunia sastra bukan hanya menghadiahkan Pushkin Prize, penghargaan sastra bergengsi di Rusia saat itu. Dunia pun mengakuinya sebagai salah seorang sastrawan realis Rusia abad ke-19 yang patut disegani.

Diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono sastrawan legendaris Indonesia, novel ini semakin mendapatkan gaungnya sebagai karya sastra yang harus dibaca untuk memahami dinamika relasi antar manusia.

Sebagai pembaca awam, saya merasa berempati terhadap Alexei atau Laptev. Pertama Laptev menyadari dirinya tidak menarik dan tidak tampan, dan dia hampir yakin tentang keadaan tersebut. Dia agak pendek dan kecil, pipinya merah muda dan rambutnya mulai menipis di bagian atas sehingga kalau hawa sedang dingin dia bisa langsung merasakannya di kulit kepala. Wajahnya tidak memiliki daya tarik yang paling sederhana sekalipun yang bisa membuat wajah tampak menyenangkan. Kepada perempuan dia bersikap kaku terlalu banyak omong dan suka asyik dengan dirinya sendiri.

Keduanya ungkapan cintanya dengan serta merta ditolak oleh Yulia, seperti ditulis di buku itu: “Kalau kau setuju menjadi istriku aku akan siap memberikan segalanya untukmu, segalanya milikku … apa saja akan aku laksanakan dan korbankan untukmu. Gadis itu terkejut dan menatapnya dengan rasa takut dan kaget.

“Oh jangan” kata gadis itu mukanya memucat, “tu tidak mungkin. Yakinlah. Maaf”. Gadis itu berlari cepat ke atas gaunnya berdesik-desik, dan menghilang di balik pintu.

Ketiganya, meskipun akhirnya pernikahan telah berlangsung tapi tetap Yulia Sergeyevna tidak mencintainya. Dia semakin yakin dan merasakan bahwa dirinya kurang menarik bagi Yulia. Dan dia merasakan bahwa Yulia sama sekali tidak mencintainya. Inilah curahan Alexei yang disuatu saat berbicara mencurahkan segala perasaan hati kepada Yulia, sebagai berikut: Hampir pukul 04.00 pagi ketika dia akhirnya sampai di rumah, Yulia sudah berada di tempat tidur, tahu bahwa istrinya belum tidur lelap mendekatinya dan berkata tajam.

“Aku memahami kemuakanmu, kebencianmu, tetapi seharusnya kau mengerti perasaanku di depan orang banyak”.

Istrinya duduk dan menurunkan kakinya, matanya tampak besar dan hitam dalam cahaya lampu patung suci.

“Maafkan aku,” katanya.

Laptev berdiri bisu, terlalu marah untuk mengucapkan sesuatu, Yulia juga gemetar duduk di depannya dengan rasa bersalah.

“Ini neraka namanya. Aku tak tahan lagi”. Laptev mencengkeram kepalanya sendiri. “Kukira aku bisa gila”…

Demikian anda bisa melanjutkannya membaca sendiri.

Simsalabim Bahasa Lisan Menjadi Tulisan

Seminggu belakangan ini saya sedang senang melakukan perekaman suara di smartphone yang kemudian diterjemahkan menjadi teks. Atas kecanggihan ini saya harus mengucapkan terima kasih kepada orang yang menciptakannya.

Mengapa saya demikian terpesona dengan kemampuan smartphone ini karena saya mempunyai hobi atau kegemaran menulis teks atau apa apa yang ada di pikiran (meskipun memang hasil tulisannya karya saya tidak selalu baik). Yang ada di otak itu biarkan jadi tulisan dulu. Atau apa yang terpikir asal tertuang dulu dalam bentuk tulisan.

Memang kendalanya banyak terutama tidak seenaknya ngomong sendiri direkam di smartphone ini. Tapi, kalau ingat bahwa dalam kehidupan ini tidak semua kemauan bisa terlaksana, kadang sering sekali mendapatkan hambatan dan halangan dari pihak kita sendiri atau dari orang lain.

Subuh ini jam 03.00 setelah sholat saya langsung melakukan perekaman suara yang dengan lancar oleh smartphone diterjemahkan kedalam bentuk tulisan, saya juga sengaja sembunyi di kamar anak saya yang kosong sehingga tidak mengganggu kesepian subuh ini terutama mengganggu orang lain yang sedang tidur, yang sedang sholat, yang sedang berzikir, dan yang sedang berdoa.

Di kamar anak, saya melakukan perekaman sambil tiduran di atas tempat tidur yang kosong kemudian segala kelihatan langit-langit yang sudah agak kusam dimakan usia dan lampu yang kurang terang dan debu di atas lemari, lalu di atas lemari itu kelihatan ada dua gitar yang tidak pernah disentuh karena saya tidak bisa memainkannya. Gitar itu adalah peninggalan anak saya. Dulu masa selagi SMA dan kuliah, mereka senang main gitar tersebut. Di sebelah kiri saya, artinya sebelah kiri tempat tidur, ada meja rias dan di sebelahnya adalah pintu keluar yang selalu terkunci kalau malam. Kenapa harus terlalu selalu terkunci karena saya merasa bahwa pintu keluar yaitu ke arah balkon kuncinya tidak terlalu baik bisa dirusak oleh orang yang berniat jahat, sebegitu saja rekamannya dulu. (ini bahasa lisan yang diterjemahkan menjadi tulisan dengan sedikit editan).

Penulis Buku Nonfiksi Indonesia

Masih seputar Frankfurt Book Fair 2015, bukan hanya sastrawan penulis sastra fiksi yang akan dibawa ke sana tapi juga komikus, buku anak, buku non fiksi, digital, juru masak, tokoh kuliner, aktivis literasi, nara sumber seminar, arsitek, dan pembawa acara. Untuk mengurangi kebingungan anda jika memilih buku di toko buku, pesta buku, atau obralan, nama-nama dibawah ini patut untuk diperhitungkan.
Inilah sementara penulis buku nonfiksi yang dinominasi ikut ke Frankfurt Book Fair 2015.
1. Agustinus Wibowo, salah satu bukunya: Selimut Debu
2. Dian Pelangi, salah satu bukunya: Hijab Street Style
3. Imelda Akmal, salah satu bukunya: Seri Menata Rumah Dapur
4. Julia Suryakusuma, salah satu bukunya: julia’s Jihad
5. Noor Huda Ismail, salah satu bukunya: Temanku Teroris?
6. Perucha Hutagaol, salah satu bukunya: The Naked Traveler
7. Suwati Kartiwa, salah satu bukunya: Tenun Ikat
8. Wahyu Aditya, salah satu bukunya: Kreatif Sampai Mati
9. Yoris Sebastian, salah satu bukunya: Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies

Penulis Sastra dan Fiksi Indonesia

Anda pernah kebingungan memilih buku novel yang akan dibeli pada saat ke toko buku, pameran, atau obral buku? Saya kalau memilih buku selalu melihat penulisnya, tapi harus kenal dan hapal dulu pengarang Indonesia itu. Maksudnya bukan menganggap remeh penulis baru, tapi mendahulukan penulis yang sudah terkenal dulu. Untuk mengetahui mana saja sastrawan beken itu kadang lumayan rumit, apalagi kalau tidak mengikuti terus perkembangan perbukuan di Indonesia.

Akhir-akhir ini banyak informasi tentang rencana Pameran Buku di Frankfurt Jerman 2015 waktunya dari tanggal 14 -18 Oktober 2015. Terus ada daftar nama penulis Indonesia yang dinominasi akan diundang untuk menghadiri pameran buku terkenal tersebut. Tentu saja yang akan dikirim ke sana sudah lewat seleksi dan pasti bukan sastrawan sembarangan, itu pendapat saya. Saya menganggap pengarang yang jangan dilewatkan jika memilih buku di toko buku, pameran, atau obral buku.

Inilah deretan penulis buku sastra dan fiksi Indonesia yang dinominasi tersebut:

  1. Abidah El Khalieqy, salah satu bukunya: Perempuan Berkalung Sorban
  2. Afrizal Malna, salah satu bukunya: Abad Yang Berlari
  3. Agus R Sarjono, salah satu bukunya: Kenduri Airmata
  4. Ahmad Fuadi, salah satu bukunya: Negeri 5 Menara
  5. Ahmad Tohari, salah satu bukunya: Bekisar Merah
  6. Andrea Hirata, salah satu bukunya: Laskar Pelangi
  7. AS Laksana, salah satu bukunya: Bidadari Yang Mengembara
  8. Asma Nadia, salah satu bukunya: Derai Sunyi
  9. Avianti Armand, salah satu bukunya: Perempuan Yang Dihapus
  10. Ayu Utami, salah satu bukunya: Bilangan Fu
  11. Budi Darma, salah satu bukunya: Olenka
  12. Cok Sawitri, salah satu bukunya: Janda Dari Jirah
  13. Darwis (Tere Lie), salah satu bukunya: Hafalan Salat Delisa
  14. Dewi Lestari, salah satu bukunya: Supernova
  15. Dorothea Herliany, salah satu bukunya: Blencong
  16. Eka Kurniawan, salah satu bukunya: Cantik Itu Luka
  17. Goenawan Muhamad, salah satu bukunya: Tuhan Dan Hal-Hal yang Tak Selesai
  18. Gunawan Maryanto, salah satu bukunya: Sejumlah Perkutut buat Bapak
  19. Gus tf Sakai, salah satu bukunya: Kaki yang Terhormat: Kumpulan cerita pendek
  20. Ika Natassa, salah satu bukunya: Critical Eleven
  21. Intan Paramaditha, salah satu bukunya: Sihir Perempuan
  22. John Waromi, salah satu bukunya:
  23. Joko Pinurbo, salah satu bukunya: Kekasihku
  24. Laksmi Pamuncak, salah satu bukunya: Perang Langit dan Dua Perempuan
  25. Leila S Chudori, salah satu bukunya: Pulang
  26. Lily Yulianti Farid, salah satu bukunya: Makkunrai
  27. Linda Christanty, salah satu bukunya: Rahasia Selma
  28. M Iksaka Banu, salah satu bukunya: Semua Untuk Hindia
  29. Maggie Tiojakin, salah satu bukunya: Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi
  30. N Riantiarno, salah satu bukunya: Cermin Cinta
  31. NH Dini, salah satu bukunya: Pada Sebuah Kapal
  32. Nirwan Dewanto, salah satu bukunya: Buli-Buli Lima Kaki
  33. Nukila Amal, salah satu bukunya: Cala Ibi
  34. Oka Rusmini, salah satu bukunya: Tarian Bumi (2000)
  35. Okky Madasari, salah satu bukunya: Entrok
  36. Putu Oka Sukanta, salah satu bukunya: Istana Jiwa (2012)
  37. Ratih Kumala, salah satu bukunya: Tabula Rasa
  38. Sapardi Djoko Damono, salah satu bukunya: Duka-Mu Abadi
  39. Seno Gumira Ajidarma, salah satu bukunya: Atas Nama Malam
  40. Sindhunata, salah satu bukunya: Putri Cina (2007)
  41. Taufik Ismail, salah satu bukunya: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
  42. Toety Herati, salah satu bukunya: Seserpih pinang Sepucuk Sirih
  43. Triyanto Triwikromo, salah satu bukunya: Ular di Mangkuk Nabi
  44. Yusi Avianto Pareanom, salah satu bukunya: Rumah Kopi Singa Tertawa
  45. Zen Hae, salah satu bukunya: Paus Merah Jambu

Sekilas “Dataran Tortilla”

Saya sedang membaca buku “Dataran Tortilla” karya John Steinback, sangat menarik tapi belum tamat. Sementara sudah ada kemauan untuk posting, ya sudah menulis apa saja yang sudah diketahui

Menurut saya buku ini ditulis dengan semangat humor, lalu beberapa pernyataan tokoh-tokohnya menggelikan. Ukuran-ukuran kebaikan, batasan-batasan pemahaman kesolehan keagamaan diputarbalikan sesuai renungan sendiri. Niat-niat kebaikan tokoh-tokoh sering tidak terlaksana. Penipuan-penipuan yang dilakukan dibuat sedemikian rupa seolah suatu kebajikan.

Buku yang saya baca seperti di bawah ini
image

Judul: Dataran Tortilla
Judul asli: Tortilla Flat
Terbit pertama: 1935
Pengarang: John Steinbeck
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya
Cetakan: II, 2009

Ketika terbit buku ini seperti ini
image

Atau ada yang lain seperti ini
image

Membaca tentang kaum miskin zaman klasik di Amrik oleh penulis kawakan menarik sekali ya.
Begitu saja dulu.

Saling Menzalimi…

Pedagang kaki lima adalah pencari nafkah hidup untuk diri dan keluarganya adalah pekerjaan halal yang tentu saja baik. Akan tetapi jika tempat memasang lapaknya atau ngampar dagangannya di trotoar dimana trotoar adalah haknya pejalan kaki, maka pkl tersebut telah merebut hak orang lain, dan merebut hak orang lain adalah zalim, atau menzalimi orang lain. Dalam KBBI disebutkan menzalimi adalah menindas; menganiaya; berbuat sewenang-wenang terhadap… Berbuat zalim adalah perbuatan tercela dan ajaran agama melarang keras perbuatan itu.

Bukan hanya di trotoar haknya pejalan kaki yang pkl tidak boleh berjualan akan tetapi di tepi jalanan yang bahkan tidak dibuatkan trotoarnya, pkl tetap tidak boleh berjualan. Berjualan di jalanan kompleks perumahan juga tidak boleh, ini bukan hanya hak kendaraan yang lewat akan tetapi juga warga ketiban pulung, lingkungan yang tadinya asri dan nyaman menjadi kumuh, ramai, macet lalu lintas, bahkan untuk lewat hanya membawa badan sekali pun harus berdesakan. Dan meskipun warga sudah menolaknya, pkl tetap berjualan bahkan semakin panjang, semakin ramai, dan warga tanpa bisa berbuat apa-apa merasa dizalimi sudah lebih dari 15 tahun.

Menzalimi hak pejalan kaki bukan hanya pkl akan tetapi juga trotoar dijadikan tempat parkir liar. Ada lagi karena jalan haknya kendaraan penuh sesak alias macet yang disebabkan oleh kaum pkl yang berjualan di sembarang tempat maka kendaraan motor roda dua loncat ke trotoar. Artinya pengendara sepeda motor telah terzalimi pkl kemudian menzalimi hak pejalan kaki.

Akibat dari pkl yang berjualan di tempat yang bukan peruntukannya semisal di tepi jalan itu, yang paling terasa adalah kemacetan lalu lintas. Hak pengendara mobil dan motor telah terzalimi karena terampas oleh kaum pkl dan pembelinya. Akibat dari kemacetan lalu lintas berbagai dampak terjadi, yang sederhana pengguna kendaraan menjadi stres karena berbagai jadwal tidak terpenuhi. Walikota Bandung menyebutkan ada 600.000 orang warga yang menderita stres. Katanya tandanya stres yang paling kelihatan adalah tidak lagi menaruh perhatian atau simpati kepada orang lain, apalagi merasa empati.

Saya belum puas soal pkl ini di Bandung ada contoh abadi penzaliman terjadi akibat pkl ini. Lihat di kawasan Cicadas Bandung daerah paling kumuh dimana pkl mendominasi jalan trotoar dan yang terzalimi hak pejalan kaki dan pemilik toko, dan itu terjadi sudah 20 tahunan. Kalau masih kurang ada satu lagi penzaliman yang terjadi lebih dari 20 tahunan kemacetan lalu lintas akibat pkl dan pekerja yang keluar masuk di wilayah Rancaekek Bandung.

Perdanya untuk memberi hak penertiban oleh aparat sudah ada. Tapi mengapa kita saling menzalimi, dan mengapa melihat semua itu kita menjadi banyak yang impoten.

Bangunan Cagar Budaya Di Bandung

No. 109, PT Perkebunan XII, Lokasi Jl Cikapundung Barat 1, Fungsi Kantor, Arsitek belum diketahui, Tahun 1930, Kelas A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. 131, Nama Bangunan Bioskop Dian, Lokasi Jl Dalem Kaum 58, Fungsi Bioskop, Arsitek belum diketahui, Tahun 1925, Kelas A. Foto Koleksi Aki Eman 2011

No. 193, Nama Bangunan Bandung Milk Centre, Lokasi Jl Kebonsirih 1, Fungsi Banduengsche Melk Centrale (BMC), Arsitek belum diketahui, Tahun 1925, Kelas A

No. 228, Nama Bangunan Kantor Pusat PJKA, Lokasi Jl Perintis Kemerdekaan 1, Fungsi Hotel, Arsitek belum diketahui, Tahun 1910, Kelas A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. 244, Nama Bangunan Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Lokasi Jl Naripan 1, Fungsi Societeit Ons Genoegen, Arsitek G.J. Bel, Tahun 1930, Kelas A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. 300, Nama Bangunan Kantor Metrologi, Lokasi Jl Perintis Kemerdekaan 5, Fungsi Pengadilan Landraad, Arsitek belum diketahui, Tahun 19200, Kelas A. Foto koleksi Aki Eman 2011

No. 405, Nama Bangunan Gereja Bethel, Lokasi Jl Wastukencana 1, Fungsi Gereja Protestan, Arsitek C.P. Wolff Schomaker. Foto koleksi Aki Eman 2011

Sumber:  Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage) Tahun 1997 (bandungheritage.org)

Aku dan Buku

Aku sendiri  tidak begitu yakin apakah aku ini termasuk penggemar membaca buku atau bukan, tapi kalau mengumpulkan buku bacaan, buku apa saja, merasa iya, dan memang ada buktinya terkumpul sedikit buku yang aku tempatkan di mushala kecil di rumahku. Seperti terlihat di foto-foto di bawah ini

Kumpulan bukuku 1

Kumpulan bukuku 2

Kumpulan bukuku 3

Kumpulan bukuku 4

Ini bukan pameran buku karena mungkin milik Anda lebih banyak, lebih baik, dan lebih bermutu. Aku hanya ingin memperlihatkan bahwa buku-buku tersebut dikumpulkan satu demi satu selama kurang lebih 10 tahunan.

Cukup membuat aku merasa happy adalah kalau aku dibiarkan dilepas di toko buku.  Satu lagi kalau ditawari anak-anak untuk ditraktir makan atau diajak jalan-jalan di mal aku lebih baik dibiarkan di perpustakaan atau di toko buku saja.

Kalau dilacak sejak masa kecil di SD (saat itu bernama SR) tahun 50-an memang aku sering dimarahi kakak yang suami istri guru SD, karena membuat berantakan susunan bukunya, buku yang pertama aku baca adalah sebuah novel berjudul  “I Swasta Setahun di Bedahulu” karya AA Panji Tisna. Dimarahi berikut adalah karena membongkar dan membuka bungkus kiriman koran “Pikiran Rakyat” yang baru saja datang, bundel koran yang dikumpul beberapa  hari sekaligus, dan itu dikirim dari ibu kota kabupaten,  koran tersebut adalah langganan para guru SD. Alasan aku membongkarnya sederhana saja karena ingin melihat serial komik “Rip Kirby and The Mangler” yang terletak di halaman dalam koran tersebut.

Selanjutnya setelah berumah tangga, membaca dan mengunjungi toko buku atau juga perpustakaan agak berkurang karena pertama kesibukan di pekerjaan dan keduanya kalau di rumah bersama-sama istri mengurus dan membesarkan anak. Kami sekeluarga jarang sekali mempunyai pembantu. Meski begitu kalau turun ke kota kalau cuti aku tidak pernah lupa mengunjungi toko buku apalagi kalau cuti ke Bandung tidak lupa mengunjungi toko buku Gramedia baik yang ada di seberang BIP jln Merdeka  atau BSM jln Gatot Subroto . Semasa dinas jarang sekali membeli  buku karena merasa percuma karena tidak akan sempat membacanya.

Ketika saya bekerja di sebuah pembangunan konstruksi sebuah pabrik dimana banyak expatriat umumnya orang Amerika mereke menyekolahkan anaknya  di sekolah international school, dan karena ada perpustakaannya akupun sempat menjadi anggota. Baik meminjam maupun mengembalikan buku tidak terlalu jelimet, bahkan kalau mengembalikan cukup “dilempar” saja di keranjang di depan pintu perpustakaan.

Nah, saat usia pensiun tiba yaitu umur 55 tahun pada tahun 2001,  ada banyak waktu dan mulai membeli serta menyusun buku-buku yang letaknya berserakan di mana-mana di rumah. Dua anak aku yang pertama dan nomor dua tidak begitu banyak peninggalan buku kuliahnya, aku sendiri tidak mengerti mengapa mereka tidak pernah meminta uang untuk membeli buku kuliahnya atau bidangnya. Akan tetapi anak bungsu lebih rajin membeli buku jadi tidak cukup hanya foto kopian atau diktat-diktat dari kuliahnya, sehingga begitu selesai kuliah ada lumayan bukunya yang sekarang aku simpan.

Lanjut, sudah 10 tahun ini aku mulai mengumpulkan atau membeli buku, dan juga sudah mulai membacanya satu demi satu. Demikian juga mengunjungi toko buku dan perpustakaan daerah yang ada di kota  Bandung yang kebetulan relatif dekat dengan rumah. Setelah pensiun, sekali lagi, terasa banyak waktu dan kesempatan untuk baik membeli buku maupun membacanya. Akan tetapi bersamaan dengan itu kemampuan untuk  membeli buku berkurang karena menurut perasaanku harga buku semakin mahal. Misalnya sebuah buku baru berjudul  “100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung” karangan Harastoeti DH berharga Rp 175.000. Sedangkan buku-buku lain yang tergolong “murah” rata-rata diatas Rp 50.000-an.

Karena harga-harga buku demikian mahal, maka kalau aku datang ke toko buku hanya untuk membeli buku yang obralan atau yang discount  saja, misal harga buku novel hanya sekitar Rp 11.000 atau buku novel yang agak tebal seharga Rp 14.000. Jadi kalau belanja buku Rp 50.000 bisa membeli 3 tau empat buku. Buku-buku tersebut tidak pilih-pilih buku apa saja asal cocok dibeli saja. Saking seringnya datang ke tempat obralan buku sehingga bukuku menumpuk di rumah menunggu giliran untuk dibaca, bahkan payahnya aku terkadang lupa sehingga dobel membeli buku.

Di bawah ini adalah belanjaanku buku-buku obralan.

Buku obralan 1

Buku obralan 2, buku terbaru yang aku beli

Kemarin ini aku datang ke sebuah toko buku kecil di kota Bandung yang relatif dekat dari rumahku. Disana ada diobral buku-buku yang aku sama sekali belum pernah membaca referensinya apalagi mengenal karya lain pengarangnya. Tapi buku itu dibeli saja dahulu soal membacanya nanti belakangan, dan 3 buku tersebut belum tentu tamat dibaca dalam satu bulan.

Saat ini aku sedang menunggu “warisan” buku dari salah seorang kakak ipar yang gemar membaca dan mengumpulkan buku. Beliau almarhum dan kemudian istrinya menyusul berpulang ke rahmatullah. Kalau tidak dikasihkan juga biar saja diberi kesempatan untuk memelihara dan membacanya.

Dari pengalaman dalam mengumpulkan buku dan sekali gus membacanya aku merasa sangat prihatin karena kebanyakan dari kita sangat kurang minatnya tehadap buku, terlihat dari minat membaca misalnya di tempat umum jarang ditemukan, sepinya perpustakaan. Bahkan aku perhatikan di sebuah pusat perbelanjaan banyak pengusaha yang mencoba membuka toko buku akhirnya g gulung tikar karena sedikitnya peminat, kemudian beralih ke usaha lain.

Semoga ke depan minat membaca kitaakan lebih baik lagi.

Bakiak, Alas Kaki dari Kayu

Sepasang Bakiak

Alas kaki terbuat dari kayu yang ringan, berbahan kayu jenis albasiah, terus dibuat pengikatnya dari karet ban bekas dan dipakukan di kedua sisinya. Nama sandal jenis  ini bahasa Jawanya bakiak atau bangkiak, orang Sunda ada yang menyebut barang ini dengan keletek mungkin meniru bunyinya kalau memakainya setengah diseret di jalan berbatu atau beraspal akan berbunyi kletek..kletek..kletek.

Bukankah kita juga memberi nama tas dari plastik tipis dengan kresek atau keresek, karena kalau digunakan atau jika memasukan sesuatu ke dalamnya akan berbunyi kresek..kresek..kresek.

Bakiak atau keletek dahulu sangat populer karena murah untuk sekedar alas kaki, akan tetapi sekarang mungkin bersaing dengan sendal jepit plastik yang juga murah meriah. Sepasang keletek sekarang berharga sekitar Rp 5.000,  sendal jepit plastik pun harganya kurang lebih saja. Apalagi nanti ke depan kayu akan semakin langka, mungkin harga keletek akan lebih undak lagi.

Bakiak berbaris di depan pintu masuk rumah

Bakiak sampai sekarang masih banyak dipakai di mushola atau surau di perkampungan. Alasannya mungkin sederhana saja pertama harganya masih murah atau bahkan orang yang rajin bisa membuat sendiri. Keduanya, keterlaluan deh kalau masih digondol maling sendal yang marak di masjid-masjid.

Keletek tidak dipakai jarak jauh apalagi untuk jalan-jalan, dan apalagi jangan sampai memakai keletek ke mal, he.. he.. he… Hanya digunakan jarak dekat saja  misalnya untuk sekedar alas kaki kalu mengambil air wudhu dimasjid, atau hanya sekedar keluar rumah dari pada nyeker.

Jika ingin agak modis tapi tetep ingin memakai bakiak ke undangan atau bahkan ke mal, belilah kelom geulis produk Tasikmalaya Jabar. Kelom Geulis khas Tasikmalaya adalah sandal wanita yang indah dan menarik ini mempunyai ciri khas, yakni diukir dan dicat seperti kain batik.

Karena kelom geulis juga dibuat dari bahan kayu ringan, maka jika dipakai terus agak setengah diseret tetap berbunyi kletek.. kletek.. kletek.