Datuk Meringgih Dan Trio Bimbo

Buku cerita Siti Nurbaya adalah buku lama karangan Marah Rusli seorang pengarang Pujangga Baru, buku ini banyak dibaca oleh kalangan tua muda. Bahkan hanya dengan menyebutkan zaman Siti Nurbaya saja orang sudah mengerti itu bahwa zaman dahulu zaman jodoh atau calon suami dipaksakan oleh orang tuanya.

Kemudian kalau tokoh Datuk Meringgih adalah tokoh kakek yang menginginkan Siti Nurbaya sedangkan Siti Nurbaya tidak Suka karena disamping sudah tua ia pun sudah punya kekasih bernama Syamsul Bahri. Aka tetapi Datuk Meringgih tidak mau menyerah untuk agar cita-citanya menyunting Siti Nurbaya terlaksana. Jadi tokoh Datuk Meringgih adalah tokoh yang paling dibenci.

Menurut orang, dalam mencari jodoh, antara pria dan wanita berbeda, wanita zaman sekarang dalam mencari jodoh paling rasional, paling masuk akal, terkadang rupa tidak menjadi utama. Wanita kalau memilih suami yang utama menjamin kehidupan masa depan sebutlah harus berada dan kelihatan menjanjikan, terus syukur  kalau berpendidikan alias pintar, berpangkat, terkenal, dan anak orang kaya. Beda dengan laki-laki mencari jodoh syaratnya katanya tak perlu kaya, tak perlu pintar, tak perlu berpendidikan dan tak perlu orang kaya satu saja syaratnya asal cantik. Tentu saja cantik itu, untungnya, relative, jadi semua wanita itu cantik menarik menurut pasangan yang mencintainya. Itulah sebabnya hampir selalu menemukan jodohnya.

Datuk Meringgih adalah sebutlah  seorang datuk yang kaya dan disegani terus cinta mati kepada Siti Nurbaya, menurut Bimbo  andai saja Datuk Meringgih hidup pada zaman modern akan mengantri berjuta Siti Nurbaya lain untuk meminta dipinangnya.

Kegigihan Datuk meringgih menggugah Grup Musik Bimbo yang dalam lirik lagunya sangat memuji Datuk Meringgih, inilah sebagian liriknya, meski maaf tidak lengkap:

Datuk Meringgih

Kau tebarkan bunga-bunga

Datuk Meringgih kau tebarkan cinta

Datuk Meringgih, andai hidup zaman modern

Berjuta-juta Siti Nurbaya menanti cinta

 Bimbo dalam memilih lirik nyanyiannya sering berguyon yang sering disertai dengan kritik sosial. Bagi orang Sunda itu tidak aneh karena itu bagian dari kebiasaan yang disebut “heureuy Bandung”. Yaitu guyon Bandung yang konon dengan kesopanan tapi kadang penuh makna.

Indische Restaurant atawa Rumah Makan Naga Mas di Bandoeng

Sejak zaman dahoeloe Bandoeng terkenal dengan sebutan kota kuliner, bahkan sampai sekarang ini apalagi setelah ada jalan tol Jakarta – Bandung yang dengan kendaraan roda empat bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam saja. Nah karena salah satu sebab yaitu jajanan makanan alias menikmati kuliner di Bandung inilah orang Jakarta banyak berduyun-duyun datang ke Bandung.

 Jenis makanan sangat variatif misalkan saja yang padatnya ada nasi timbel, nasi bakar, bahkan nasi edan. Diantara berbagai jajanan yang paling banyak adalah yang terbuat dari tahu, mi, bakso, dan sejenisnya. Sedangkan jajanan khas Bandung lain adalah batagor, siomay, dan cireng. Batagornya ada batagor “Riri” dan batagor “Kingsley”. Sedikit lagi, kupat tahu, surabi, dan bubur ayam Mang Oyo. Wah masih banyak lagi sampai lupa untuk menyebutkannya satu per satu.

 Nah, rumah makan Tionghoa jangan dilupakan, umumnya orang Cina jago masak membuat makanan yang lezat-lezat sampai ada semboyan koki Cina berbunyi:

Semua yang berkaki empat, melata di muka bumi kecuali meja

Semua yang bisa terbang di awang-awang, kecuali layangan

Semuanya bisa dimasak, dihidangka,  dan dimakan

Urang Bandung biasanya tidak menyebut “bule” kepada bangsa kulit putih, sebab sebutan “bule” bukan untuk manusia tetapi untuk kerbau yang bule. Zaman kolonial Belanda menyebut orang kulit putih itu dengan sebutan bangsa Walanda. Makanan untuk bangsa Walanda, disebut makanan Eropa atau menu Eropa.

Adapun restoran beken Bandung baheula yang menghidangkan masakan Eropa diantaranya “Moison Bogerijen” di jl Braga, “Moison Boin” di jl Naripan, “Moison Smith” di jl Merdeka, “Rumah Makan Capitol” di jl Braga, “Paradise Restaurant” di Pasar Baru, dan , “Indisch Restaurant” di Aloen-Aloen Bandoeng.

Indisch Restaurant inilah yang akan saya beri keterangan, ada sebabnya, asal mulanya ada permintaan dari sahabat saya Nane yang menulis komentar pada tulisan saya berjudul …….. isi komentarnya adalah: “Numpang tanya… Mungkin anda punya informasi, tentang sebuah restauran jaman dulu. Namanya : Rumah Makan Naga Mas atau Indische Restaurant. Menurut orang tua kami, letaknya persis di bangunan BRI Tower sekarang”.

Keterangan yang diperoleh dari beberapa buku bacaan di rumah tentang Bandoeng tempo doeloe disebutkan, sekali lagi, bahwa Indisch Restaurant atau betul belakangan namanya menjadi Rumah Makan Naga Mas adalah rumah makan kelas berduit yang menyediakan selain makanan Cina juga menu makanan Eropa, maklum pada saat itu banyak orang Belanda dan Eropa lainnya yang perlu dipenuhi selera makannya. Selain bagi orang Eropa warga kota Bandung, juga bagi para Preanger planters alias para petani kaya yang turun gunung dari sekitar Bandung selatan yaitu petani teh dan kina.

Saat ini bangunan itu sudah tidak ada lagi akan tetapi di lokasi bekas Indisch Restaurant itu berdiri mahiwal alias berbeda dengan bangunan kiri kanannya yang antik, sebuah bangunan menjulang tinggi 16 tingkat bernama BRI Tower, tempatnya Bank Rakyat Indonesia usaha dan berkantor. Alamat jelasnya Jl. Asia Afrika No. 57-59.

 Sepertinya kalau mau nyukcruk sejarahnya bangunan itu, yaitu asal mula sebuah toko bernama Toko de Vries, Toko de Vries di Grote Postweg, sekarang Jln Asia Afrika, merupakan toko serba ada yang mulai dibuka pada awal tahun 1900-an. Pendirinya adalah Klaas de Vries. Toko de Vries berasal mula dari warung kecil  Klaas de vries di utara Aloen-Aloen dimana lokasinya di BRI Tower sekarang ini berdiri sekitar tahun 1986. Sepertinya dari bekas toko Klaas de Vries ini kemudian menjadi Indisch Restaurant.

Seni bangunan dari “Indisch Restaurant” masa dulu, yang banyak menggunakan konstruksi balok kayu adalah perpaduan dari bentuk  sebuah Pendopo (seperti Kabupaten) dengan gaya arsitektur barat dan Cina. Maklumlah, para anemer dan pekerja bangunan tempo dulu pada umumnya Cina, sehingga kreasi jamahan tangan mereka masih terlihat membekas. Yang seumuran dengan Restoran itu adalah bangunan kabupaten Bandung dan Mesjid Agung tempo dulu yang atapnya susun tiga berbau Hindu Jawa.

Yang paling sering disebutkan di tulisan-tulisan, jika kita browsing di internet, yaitu bahwa Indische Restaurant berperan dalam peristiwa heroik Bandung Lautan Api, ceritanya adalah: Pada siang tanggal 24 Maret 1946, TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan masyarakat mulai mengosongkan Bandung Selatan dan mengungsi ke selatan kota. Pembakaran dimulai pada pukul 21:00 di Indisch Restaurant di utara Alun-alun (BRI Tower sekarang).

Mengapa para pejuang membumi hanguskan Bandung karena gedung-gedung strategis yang kemungkinan akan digunakan Belanda. TRI  merencanakan peledakan dimulai pukul 24.00 di Gedung Regentsweg, selatan alun-alun Bandung yaitu gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI)  sebagai aba-aba untuk meledakkan semua gedung. Tapi mengapa rencana peledakkan mulai jam 24.00 tapi jam 21.00 sudah mulai? Kemungkinan karena kesalahan teknis, maklum zaman dahoeloe, sebab pada jam 21.00 sudah kedengaran ada ledakan entah dari mana, maka dimulailah pembumihangusan Bandung pada jam itu.

Demikian cerita Indische Restaurant yang tinggal waasna atau tinggal kenangan.

Sumber bacaan: Semerbak Bunga di Bandung Raya oleh Haryoto Kunto, Album Bandoeng Tempo Doeloe oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi, Wajah Bandung Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto.

Membeli dan Membaca Buku

Dari mana saya membeli dan mengumpulkan buku di perpustakaan kecil di rumah, hampir selalu ingat. Buku sebagian didapat dari membeli di toko buku, dari pameran buku, dari obralan, samapi dari bursa buku bekas. Mengenai tempat mendapatkan buku di Bandung adalah toko buku Gramedia, Gunung Agung, Togamas, dan lainnya. Dari Pesta atau pameran buku yang kerap diadakan di Landmark jalan Braga Bandung. Juga didapat dari obralan yang sering diadakan oleh toko-toko buku. Dari bursa buku bekas di Bandung ada setidaknya di tiga tempat  di Jalan Cikapundung, di Pasar Palasari di Jalan Palasari, dan di simpang tiga Jalan Dewi Sartika dengan Jalan Kautamaan Istri

Kebiasaan buruk yang jangan ditiru adalah membeli dan mengunpulkan buku tetapi tidak dibaca padahal yang paling utama dari membeli dan mengumpulkan buku adalah membacanya. Saya baru insaf belakangan dan ketika perpustakaan kecil itu dibongkar ternyata banyak buku yang belum dibaca. Itulah sebabnya sudah beberapa bulan terakhir sedang berjuang membacanya satu demi satu. Inilah buku-buku lama dibeli akan tetapi belum sempat dibaca.

Saya tidak tahu alasannya mengapa suatu buku menjadi buku obralan, harganya menjadi hanya antara Rp 10.000 s/d rp 20.000 saja inilah15 buku didapat dari obralan diantaranya:

  1. Melawan Korupsi oleh Editor Irawan Saptono
  2. The Road oleh Cormac Mc Carthy
  3. NU dan Keindonesiaan oleh Mohamad Sobary
  4. Purnama Di Atas Pura oleh Wayan Sunarta
  5. Anne of Avonlea oleh Lucy M. Montgomery
  6. Let’s Travel oleh Nexx Media Inc.
  7. Satu Jam Lebih Dekat oleh TYOne
  8. Make Over Marriage oleh Sharon Kendrick
  9. Saudagar Buku dari Kabul oleh Asne Seierstad
  10. Star Craving Mad oleh Elise Abrams Miller
  11. Dengan Hati oleh Syafrina Siregar
  12. Kematian Yang Indah oleh Dianing Widya Yudhistira
  13. Hero Of Lesser Causes oleh Julie Johnston
  14. Dewi Kawi oleh Arswendo Atmowiloto
  15. Perjalanan Wartawan Boke Keliling Dunia oleh Tony Ryanto

Didapat dari Bursa buku bekas, harganya Rp 10.000 – an:

  1. Polemik Kebudayaan oleh Achdiat K. Miharja
  2. Apa & Siapa Orang Jawa barat oleh Bambang Sadono
  3. Ismail Marzuki oleh Depsos RI

Inilah buku-buku novel yang ditinggalkan oleh pemiliknya di rumah:

  1. The Adventures Of Sherlock Holmes Oleh Sir Arthur Conan Doyle, Vardhman Offset, Delhi 2003
  2. Black Beauty By Anna Sewell. Published by Priory Books, Bridlington.
  3. Lembah Ketakutan Sherlock Holmes Oleh Sir Arthur Conan Doyle, PT Gramedia Pustaka Utama  2002
  4. Pergilah Ke Mana Hati Membawamu Oleh Susanna Tamaro PT Gramedia Pustaka Utama  2005
  5. Keponakan Penyihir Oleh C.S. Lewis PT Gramedia Pustaka Utama  2005
  6. The Horse and His Boy C.S. Lewis PT Gramedia Pustaka Utama  2005
  7. Hallowe’en Party Oleh Agatha Christy PT Gramedia Pustaka Utama  2002
  8. Bertahan dari Siksaan Masa Kecil Oleh Richard B. Pelzer PT Gramedia Pustaka Utama  2005

Buku-buku serius yang harusnya segera dibaca:

  1. Muhammad Para Pengeja Hujan oleh Tasaro GK
  2. Sejarah Tuhan oleh Karen Armstrong
  3. Masa Depan Tuhan oleh Karen Armstrong
  4. Singgasana Terakhir Pajajaran oleh Tatang Sumarsono
  5. Darah Laut, Kumpulan Cerita Pendek dan Puisi oleh H.B. Jassin
  6. Tuhan Tidak Perlu Dibela oleh Abdurrahman Wahid
  7. Salah Pilih oleh N. St. Iskandar

Buku berbahasa Sunda:

  1. Budak Motekar oleh Juniarso Ridwan
  2. Andar-Andar Statsion Banjar oleh Aan Merdeka Permana
  3. Beregejed oleh Taufik Faturohman
  4. Oknum, Kumpulan Cerpen oleh Hadi AKS
  5. Si Donca oleh Yus Rusyana

Buku yang sukar dimengerti, padahal ini konon buku terbaik

  1. Cinta oleh Toni Morrison
  2. Bilangan Fu oleh Ayu Utami
  3. Berfikir ala Filsuf oleh Bertrand Russell
  4. Hermeneutika & Tafsir Al Quran oleh Adian Husain M.A., Abdurrahman Al Baghdadi
  5. Dialektika Kesadaran Perspektif Hegel  oleh Martin Heidegger
  6. Sialektika Islam oleh Yudi Latif

Dan ini buku entah dari mana datangnya

  1. Kesustraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia oleh Penyunting markus A.S., Pax Benedanto

Demikianlah ada sekira 45 buah buku yang menunggu untuk dibaca. Ayo semangat!

Buku Tua “Oliver Twist” Karya Charles Dickens

Dimulai dengan masa kanak-kanaksaya kemudian remaja lalu dewasa kegiatan membaca buku hanya sesekali saja dilakukan, jauh dari istilah menjadi kutu buku, demikian juga buku-buku tak ada yang terkumpul, maklum disibukkan dengan pekerjaan dan lain-lain. Setelah gaek dan pensiun dimulai membaca dan mengumpulkan buku, sebab banyak punya waktu luang. Andai saja waktu bisa diulang maka pasti pertama-tama yang akan dipentingkan adalah membaca buku, karena demikian banyaknya manfaat membaca dalam mendapatkan pengetahuan.

Lalu seperti “kegilaan”, untuk mengejar ketinggalan, sekali lagi diusia tua ini mulai giat membaca. Dan demikian banyaknya buku yang menarik dan harus dibaca, termasuk buku-buku klasik, buku-buku tua yang seyogianya telah aku baca itu dahulu sejak masa remaja.

Sangat banyak buku-buku lama yang dahulu tidak sempat kubaca seperti buku-buku pengarang angkatan Pujangga Baru, Pujangga angkatan Balai Pustaka, Pujangga Angkatan 45. Belum lagi pengarang dan penulis asing seperti salah satu yang akan saya bicarakan yakni buku “Oliver Twist” karyanya Charles Dickens.

Ketika terakhir saya datang ke Perpustakaan Bapusipda Jabar di Bandung, dalam rangka mencari buku untuk dibaca, saya menemukan buku tua lembarannya sudah menguning yaitu buku “Oliver Twist” karyanya Charles Dickens. Meskipun remang-remang dalam ingatan nama Charles Dickens pernah mendengar atau membaca dimana, akhirnya buku tipis tersebut dipinjam dan mulai dibaca.

Zaman sekarang ada internet tak usah lama-lama mencari jawaban apa dan siapa Charles Dickens dan bukunya “Oliver Twist” bisa dicari atau searching di google, wah betul-betul informasi mengenai hal tersebut banyak sekali. Kalau dipikir betul-betul saya ketinggalan zaman dan sekaligus “memalukan” sampai tidak tahu buku “Oliver Twist” karyanya Charles Dickens tersebut.

Charles John Huffam Dickens (Landport Inggris 1812 – London 1870) beliau meninggal pada usia relatif muda 58 tahun. Penulis roman masa lampau ternama ini karya uatmanya seperti “ThePickwick Papers” (1836), “Oliver Twist” (1837), “Nicholas Nickleby” (1838), dan masih banyak lagi.

Oliver Twist adalah judul sebuah novel kedua karangan Charles Dickens. Novel ini mengisahkan tentang seorang anak yatim piatu bernama Oliver Twist yang hidup di Inggris pada tahun 1830an. Melalui novel ini, Dickens mengangkat tema kemiskinan, kelas sosial, dan kekerasan yang terjadi pada masa revolusi industri di Inggris.

Kisah “Oliver Twist” pun bahkan difilmkan tak perlu jauh-jauh mencari di youtube ada beberapa film tentang “Oliver Twist” setidaknya ada dua judul kalau tak salah. Satu lagi yakni Genre : Drama keluarga, Pemain : Ben Kingsley, Barney Clark, Leanne Rowe, Jamie Goreman Harry Eden, Sutradara : Roman Polanski, Produksi : Alain Sarde & Robert Benmussa.

Kalau bisa sambil pendalaman dan belajar, bagusnya postingan berikut adalah resensi buku “Oliver Twist”.

Buku Yang Ditinggalkan Pemiliknya

Buku-buku yang ada di perpustakaan kecilku di rumah, hampir semua hapal sejarahnya mengenai kapan membelinya, mengapa dibeli, dari mana didapat. Dan buku-buku tersebut “aku banget”, memang tidak semua buku bagus, masih banyak buku-buku lain yang bagus tapi tak dimiliki dengan alasan tertentu, yang utama karena tidak punya uang untuk membelinya.

Dahulu teman kuliah anak bungsu saya adalah penggemar membaca buku, karena sering diajak ke rumah, ternyata ada sejumlah bukunya yang ditinggalkan, tetu saja buku tersebut adalah buku kesukaannya, buku novel fiksi, yang menurut saya, adalah buku-buku bermutu. Disamping gemar membaca buku, dia juga termasuk anak yang cerdas, lulus S1 dengan predikat cum laude.

Pada setiap bukunya itu dicantumkan nama, tanda tangan, dan tanggal pembelian, kalau melihat tanggal pembelian tertulis pembelian tahun 2003 dan 2005. Jadi buku-buku tersebut ditinggalkan begitu saja di rumah setidaknya sudah 8-tahunan. Setelah lulus kuliah tak pernah lagi muncul ke rumah apalagi untuk mengambil bukunya. Maklum sibuk bekerja dan tinggal di lain kota. Buku-buku tersebut muncul ketika saya membongkar dan membersihkannya dari debu.

Inilah buku-buku novel yang ditinggalkan tersebut:

  1. The Adventures Of Sherlock Holmes Oleh Sir Arthur Conan Doyle, Vardhman Offset, Delhi 2003
  2. Black Beauty By Anna Sewell. Published by Priory Books, Bridlington.
  3. Lembah Ketakutan Sherlock Holmes Oleh Sir Arthur Conan Doyle, PT Gramedia Pustaka Utama  2002
  4. The  Suitcase Kid Oleh Jacqueline Wilson PT Gramedia Pustaka Utama  2003
  5. Pergilah Ke Mana Hati Membawamu Oleh Susanna Tamaro PT Gramedia Pustaka Utama  2005
  6. Keponakan Penyihir Oleh C.S. Lewis PT Gramedia Pustaka Utama  2005
  7. The Horse and His Boy C.S. Lewis PT Gramedia Pustaka Utama  2005
  8. Hallowe’en Party Oleh Agatha Christy PT Gramedia Pustaka Utama  2002
  9. Bertahan dari Siksaan Masa Kecil Oleh Richard B. Pelzer PT Gramedia Pustaka Utama  2005

Dari Kesembilan buku ini ternyata baru satu yang selesai kubaca yakni buku “The  Suitcase Kid” Oleh Jacqueline Wilson, tentang kesengsaraan dan kepiluan sekaligus buku yang mengharukan menceritakan seorang anak dari keluarga yang pecah berantakan. Akhirnya anak itu tidak punya rumah, malahan kesana kemari sambil menenteng kopor pakaiannya, sekali ke rumah ibunya, lain kali ke rumah bapaknya, atau di rumah yang lainnya berpindah-pindah.

Mumpung saya lagi senang dan banyak waktu untuk membaca, lalu saya bismilah untuk merencanakan buku tersebut satu persatu akan saya taklukan artinya berniat untuk membacanya. Syukur buku-buku tersebut ditinggalkan untuk melengkapi perpustakaan kecilku, alhamdulillah dan terima kasih kalau diberikan, jika tidak pun masih tetap aku simpan dengan aman, sesekali diambil mangga saja.

Resensi Buku “Teu Pegat Asih” Soeman Hs.

Buku Teu Pegat AsihJudul buku: Teu Pegat Asih, Pengarang: Soeman HS., Didongengkan dalam bahasa Sunda oleh: Moh. Ambri, Penerbit: PT. Kiblat Buku Utama, Cetakan ke 2 tahun 2007, jumlah halaman: 62, jenis kertas: HVS, harga buku Rp 20.000

Yang menarik dari buku ini pertama sangat tipis hanya 62 halaman sehingga harganya terjangkau, kedua ditulis dalam bahasa Sunda oleh Moh. Ambri penulis terkenal pada zamannya, ketiga pengarang aslinya Soeman Hs., seorang penulis Angkatan Balai Pustaka.

Dua-duanya adalah pengarang terkenal, Moh. Ambri  (Sumedang, 1892 – Jakarta, 1936) adala sastrawan realis Sunda. Beliau menerbitkan 6 judul buku karangan asli dan 16 buku terjemahan dan saduran diantaranya buku “Teu Pegat Asih”. Soeman Hs. (Bengkalis, Riau, 1904 – Pekanbaru, Riau 1999) siapa yang tak kenal akan beliau seorang sastrawan angkatan Balai Pustaka. Dari 6 buku karyanya satu diantaranya berjudul “Kasih Tak Terlarai” pertamakali terbit tahun 1930 oleh Penerbit Balai Pustaka. “Kasih Tak Terlarai” inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi  “Teu Pegat Asih”.

Ceritanya dimulai dengan: Ada seorang jejaka bernama Taram anak pungut orang biasa ketua kampung, dan ada seorang gadis bernama Nurhaida anak seorang berada, remaja berparas cantik bintang kampungnya yang sangat dicintai oleh Taram, ternyata kasihnya tidak bertepuk sebelah tangan.

Akan tetapi ketika Taram melalui orang tuanya mengajukan lamaran dengan serta merta ditolak oleh orang tuanya  yakni Ence Abas. Ence Abas adalah orang kaya yang menginginkan menantunya kelak juga orang kaya, bermartabat, dan seorang yan alim ilmu agama. Tentu saja Taram sangat kecewa dan sakit hati.

Nurhaida berikrar dan bersumpah dalam hatinya bahwa tidak akan mempunyai suami selain kepada Taram. Pada suatu malam seluruh kampung ramai bahwa Nurhaida menghilang. Ternyata dibawa oleh Taram yang dalam pelariannya itu menyamar sebagai seorang Cina yang sedang mengurus penyembelihan dan pengiriman hewan babi. Selanjutnya dibawa merantau ke Singapura, kemudian menikah dengan wali hakim. Diceritakan karena Taram adalah seorang yang rajin berusaha dan bekerja maka hidup berumah tangganya penuh kesenangan akan harta dan kebahagiaan dalam percintaannya.

Akan tetapi lama kelamaan istrinya merasa rindu akan orang tua dan kampung halamannya, atas ajakan kerabat Nurhaida yang tak bosan-bosannya merayu untuk pulang ke orang tuanya. Lama kelamaan Nurhaida terbujuk juga saking sudah rindunya untuk pulang. Sementara tentu suaminya belum lagi akan mengijinkan, maka disaat Taram sedang pergi, sehubungan dengan usahanya yang memakan waktu 2 malam, Nurhaida dan kerabatnya pergi tanpa pamit menuju kampung orang tuanya, dan Nurhaida diterima baik oleh bapaknya Ence Abas.

Lama kemudian ke kampung Ence Abas datang seorang Arab yang usahanya berjualan obat-obatan, dan diceritakan orang itu sangat alim dan dipercaya oleh orang kampung untuk menjadi guru agama yang dari dahulu sangat dibutuhkan, demikian oleh Ence Abas bahwa Syeh tersebut sangat disayangi bahkan akan dikawinkan dengan anaknya Nurhaida yang sudah janda karena dicerai oleh suaminya terdahulu.

Cerita berakhir dengan happy ending sebab meski mula-mula Nurhaida tak suka, akhirnya berbuah kebahagiaan karena belakangan ketahuan bahwa Syekh tersebut adalah Taram yang dicintainya.

Menarik dari buku ini karena bahasanya mudah dipahami, tidak berbelit-belit, meskipun mula-mula si tokoh cerita mendapatkan kesukaran untuk berjodoh tapi karena cintanya yang tak lekang berakhir dengan kebahagiaan juga. Buku asli karya Soeman Hs. ini dicetak tahun 1930 tentu saja banyak cerita lama yang jauh sangat berbeda dari masa kini, misal diceritakan bahwa Taram dan orang tua angkatnya baru saja masuk agama Islam.

Kelemahan terletak pada akhir cerita dimana Taram tahan lama menyamar sebagai Syekh yang memakai kumis dan janggut palsu, lama penyamaran tidak terbongkar, padahal sangat mungkin cepat ketahuan misalnya dari postur dan suara. Sedangkan terjemahan ke dalam bahasa Sunda oleh Moh. Ambri dalam buku itu sama sekali tidak disebutkan judul  buku asalnya meskipun memang penulis aslinya disebutkan.

Kebaikan buku ini adalah seperti kata Duduh Durahman, bahwa Moh. Ambri telah berhasil memindahkan suasana “asing” kepada suasana yang kena dengan rasa orang Sunda, sambil “keasingannya” masih tetap utuh.

Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh remaja hingga tua, untuk mengenal budaya lain pada zaman dahulu, bagi pemula berkenalan dengan pengarang sastrawan bermutu Angkatan Balai Pustaka.

Sukreni Gadis Bali

Cover Buku Sukreni Gadis BaliPenulis: A.A. Panji Tisna, Penerbit: Balai Pustaka, Sampul: Soft cover, Cetakan ke: 22, Jenis kertas: HVS, tebal  100 hlm, ilus ; 21 cm, Tahun terbit:  2001, ISBN 979 – 407 – 271 – 0, Harga: Rp 35.000

Buku fiksi ini adalah romantisme percintaan, menceritakan tentang pada saat lampau wanita Bali berada dalam derajat yang rendah, sehingga dapat dipermainkan orang, terutama oleh kaum bangsawan hidung belang.

Meskipun ini cerita lama yang tentunya sangat berbeda dengan zaman kini, akan tetapi menunjukkan kepada kita bagaimana kehidupan roman percintaan dan peradaban di Bali pada suatu masayang berada di tanah air kita.

Buku ini sangat baik dibaca oleh usia remaja yang mulai memupuk kegemaran membaca buku-buku bermutu, baik juga untuk usia dewasa, sampai  juga dibaca oleh  usia tua tetap menarik.

Kisahnya dimulai dengan sebuah kedai milik seorang wanita bernama Men Negara yang digambarkan sebagai wanita yang tidak baik dan sangat mendambakan harta dan kekayaan dengan jalan tidak jujur. Karena daya tarik putrinya yang hitam manis warung tersebut menjadi ramai dikunjungi para pemuda yang menaksirnya. Pada suatu hari Men Negara kedatangan tamu bernama Sukreni yang disertai pengantarnya. Sukreni  datang ke kedai tersebut mencari seseorang barnama I da Gde Swamba, seorang pemuda  pengawas kebun kelapa,  Sukreni adalah seorang gadis yang digambarkan sangat cantik.

Kecantikan Sukreni menarik hati seorang lelaki bernama I Gusti Made Tusan seorang Mantri polisi yang juga seorang bangsawan. I Gusti Made Tusan adalah seorang buaya darat yang asalnya mencintai Men Negeri, cintanya tak terbalas karena Men Negeri lebih mencintai Ida Gde Swamba sang pengawas kebun kelapa, yang belakangan dicari oleh Sukreni.

Saking tertariknya oleh kecantikan Sukreni, I Gusti Made Tusan berniat buruk dan meminta bantuan kepada Men Negara untuk mencarikan akal agar nafsu berahinya kepada gadis rupawan itu terlaksana dengan menjanjikan uang yang banyak untuk Men Negara.

Pada suatu hari Sukreni datang kembali ke kedai Men Negara untuk bertemu dengan Ida Gde Swamba, tetapi karena pemuda itu tidak sedang berada di situ maka oleh Men Negara dianjurkan untuk menunggu di kedai tersebut dengan bermalam. Persekongkolan antara durjana Men Negara karena ingin mendapatkan hadiah uang, I Gusti Made Tusan sang buaya yang ingin menyalurkan hasrat nafsunya, kemudian rasa cemburu Men Negeri yang merasa terkalahkan kecantikannya dan karena dia juga mencintai pemuda Ida Gde Swamba yang dicari-cari oleh Sukreni itu.

Cerita pilu Sukreni gadis suci dimulai dari sini, malam jahanam itu terjadi dimana I Gusti Made Tusan berhasil memperkosa Sukreni. Malam itu juga Sukreni menghilang. Kisah “Sukreni Gadis Bali” diselesaikan oleh penulis Pujangga Baru A.A. Panji Tisna dengan baik, semua yang jahat dan bersalah mendapatkan hukuman dari Hyang Widi Wasa. Men Negara yang merasa berdosa karena ternyata Sukreni yang dicelakakannya adalah anaknya sendiri dimana masa silam ditinggalkannya di kampung halamannya, akhirnya Men Negara menjadi gila.

Ada beberapa hal yang menarik dalam membaca buku ini, pertama oleh Penulis kita dibawa ke zaman dahulu di Pulau Bali. Kedua memberi tahu kepada kita bahwa bagaimana seorang ibu mendidik kepada anaknya tentang hal-hal yang tidak baik, yang akibatnya membawa sengsara. Ketiganya . bagaimana A.A. Panji Tisna menggambarkan kecantikan seseorang gadis Sukreni, sehingga kita seolah melihat gadis yang sangat molek itu.

Berikut adalah meskipun cerita ini adalah cerita fiksi tapi dalam beberapa hal yang diceritakan bisa betul-betul terjadi, seperti bahwa penyembelihan hewan keperluan sendiri dalam hal ini penyembelihan babi  harus mendapatkan izin dari aparat. Bahwa terhukum karena perbuatan salahnya dipekerjakan di kegiatan kebersihan kota. Sedikit yang tersembunyi bahwa petugas kebersihan lingkungan membuang sampahnya ke kali, hal yang saat ini dilarang tapi masih tetap saja dilakukan.

Unsur intrinsik buku, tema buku ini adalah tentang roman percintaan, alurnya baik, seting cerita menarik, amanat yang kita dapatkan sebagai pembaca adalah bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan dan kebahagiaan, sedangkan kejahatan akan mendapatkan akibatnya selagi masih hidup di dunia ini.

Kelemahan buku ini karena menceritakan masa lampau, sebutlah roman percintaan masa lampau, banyak hal yang sangat jauh berbeda dengan zaman sekarang yang serba praktis, semisal saat cerita itu dibuat belum ada alat-alat komunikasi secanggih saat ini. Jadi kemungkinan saja pembaca muda remaja akan mengerenyutkan kening ketika membacanya. Selanjutnya tokoh Sukreni sejak terjadi peristiwa keji pemerkosaan tidak dimunculkan lagi, tidak biberi kesempatan oleh penulis untuk bicara, sehingga pembaca bertanya-tanya apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Meskipun pembaca mengharapkan Sukreni akan happy ending berjodoh dengan Ida Gde Swamba, tapi hal itu tidak terjadi.

Kelebihan buku ini sangat nudah dipahami, bercerita tentang moral yang baik dan perilaku yang jahat tidak bias dicampur aduk, wawasan pembaca bertambah dengan seting zaman dahulu di Bali, menginspirasi kita untuk mempelajari lebih jauh tentang suatu budaya hususnya budaya Bali.

Kesimpulan: Sudah disebutkan bahwa buku ini sangat menarik, menginspirasi, mendidik, apalagi ditulis oleh pengarang kenamaan pada masanya Pujangga Baru yakni A.A. Panji Tisna. Terutama sangat baik dibaca oleh paraa remaja yang sedang memupuk kebiasaan baik yakni membaca buku khususnya buku fiksi bermutu