Lyceum Dago Riwayatmu Kini

SMAK Dagi 1 tahun 2011

Dua tahun yang lalu yaitu tahun 2011 saya membuat postingan mengenai Lyceum di jalan Dago Bandung kalau mau melihat klik disini. Kemudian karena kota khususnya Kota Bandung dinamis tentu mengalami perubahan, ada baiknya beberapa tulisan diupdate supaya pembaca mengetahui bagaimana keadaan saat ini.

Pada bulan Juli 2013 saya sengaja naik lagi ke jembatan penyebrangan, tragis jembatan penyebrangan di jalan Dago ini jarang digunakan oleh penyebrang. Perlu diberi acungan jempol karena jembatan ini paling artistik dan sekarang ada pegangan tangganya, tidak seperti dahulu sampai merasa takut terjerembab.

Ada juga yang tidak patut diberi jempol yakni bangunan Lyceum yang bersejarah dan merupakan penanda jalan Dago Bandung itu kini sudah rata dengan tanah, seperti gambar di bawah ini.

Lyceum nasibmu kini

Lyceum nasibmu kini

Mnyedihkan memang.

Advertisements

Bangunan Berumur Sepanjang Jalan Pasteur Bandung

Jika Anda memasuki Kota Bandung dari pintu tol Pasteur akan segera sampai ke jalan Dr Junjunan, kemudian jika terus lurus akan menemui jembatan layang Pasupati. Jika sudah kelihatan tangara dayeuh atau landmark seperti gambar di bawah ini Anda pasti tidak akan katalimbung alias lost orientation, yakinlah bahwa Anda sudah berada di Kota Bandung.

Jembatan Layang Pasupati Menjadi Landmark Kota Bandung

Jembatan Layang Pasupati Menjadi Landmark Kota Bandung

Jembatan layang Pasupati (dari nama jl Pasteur dan jl Surapati) diuji coba tanggal 26 Juni 2005, sebagian sekira sepanjang 720 meter persis berada di atas jalan Pasteur. Nah, di jalan Pasteur yang ada di bawah jembatan layang itu terdapat bangunan lama, yang jika Anda tetap berada di jalan layang Pasupati dan naik kendaraan, tentu atau bisa dipastikan bangunan lama itu tidak akan kelihatan. Baru bisa melihat dan memotret bangunan lama itu jika Anda berjalan kaki lalu melongok ke tepi jalan layang tersebut. Foto-foto yang aku pajang di sini adalah hasil foto dimana aku sendiri masuk dan berjalan kaki sepanjang jalan layang Pasupati itu.

Cerita jalan Pasteur ditahun 60-an, dan barangkali beberapa tahun kemudian atau sebelum dibangun jalan layang Pasupati, sangatlah lengang dan asri, di kiri kanan jalan ditanami pohon palm yang menjulang tinggi.

Di sekitar jalan Pasteur ini adalah kompleks kesehatan, pertama akan ditemukan nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama dokter terkemuka dalam sejarah Nasional seperti Van der Hoopweg  = Jl. Abdulrachman Saleh, Tirionweg = Jl. Dokter Abdul Rivai, Vosmaerweg = Jl. Dokter Gunawan, Rotgansweg = Jl Dokter  Otten, Rotgansplein = Taman Dr. Otten, Helmersweg = Jl. Dokter Radjiman, Tesselschadeweg =  Jl. Dokter Rubini, Potgieterweg = Jl. Dokter Rum dan seterusnys.

Terus akan ditemukan gedung-gedung pendidikan seperti Sekolah Analis (Laboratorium Kesehatan), Sekolah Pengatur Rawat, dan Sekolah Asisten Apoteker. Tenaga kesehatan prakteknya di RS Hasan Sadikin, yang juga tempatnya para coas mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad berpraktek. Jangan lupa di seberang RS Rancabadak ada sekolah dan sekaligus asrama bidan.

Eh.., padahal aku lagi cerita bangunan lama. Lagian cerita pendidikan kesehatan tahun 60-an itu sekarang tinggal bekasnya, sekolahnya sudah tidak ada lagi diganti dengan jenjang akademi yang entah dimana tempatnya.

Bangunan lama tersebut adalah Het Algemeene Bandoengche Ziekenhuis yang dibangun Walanda pada tahun 1920, kemudian hari menjadi Rumah Sakit Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin. Gambar lokasi dahulu seperti di bawah ini

Bangunan Lama RS Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin Bandung

Bangunan Lama RS Rantjabadak atau RS Hasan Sadikin Bandung

Saat ini Rumah Sakit itu sebagian sedang dibongkar menjadi bangunan baru yang tinggi menjulang dibangun sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Bangunan Lama Sebelah Kanan akan segera habis

Bangunan Lama Sebelah Kanan akan segera habis (jl Sukajadi)

Sisa Bangunan Lama RS Rantjabadak (Jl Pasirkaliki)

Sisa Bangunan Lama RS Rantjabadak (Jl Sukajadi)

Hanya demi menghargai bangunan warisan budaya disisakan di bagian mukanya.

Bagian depan RS Rantjabadak dibiarkan tetap utuh

Bagian depan RS Rantjabadak dibiarkan tetap utuh

Jika terus ke sebelah timurnya akan bertemu dengan kompleks Landskoepok Inrichting en Instituut Pasteur juga dibangun Belanda pada tahun 1923, sekarang namanya menjadi Bio Farma.

Institut Pasteur Th 1930

Institut Pasteur Th 1930

Bangunan Lama Pasteur Institute sebelah kanan Bisakah Bertahan?

Bangunan Lama Pasteur Institute sebelah kanan Bisakah Bertahan?

Bangunan lama masih dipertahankan, dengan lapangan rumput yang luas di depannya, indah bukan?

Bangunan lama masih dipertahankan, dengan lapangan rumput yang luas di depannya, indah bukan?

Menurut aku masih ada bangunan lama terletak di jalan Pasteur ini yaitu bangunan gapura masuk ke jalan Dr Slamet, sejarah bangunan ini belum ketemu raratannya.

Gapura Jl Dr Slamet

Gapura Jl Dr Slamet

Sumber:

1. Album Bandung Tempo Doeloe Oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi

2. Komunitas “Aleut”

Naik Spoor Mundur…

Aku tinggal di Bandung, adik sekeluarga berdomisili di Cirebon, dan adik bungsuku itu merencanakan mengawinkan anak laki-lakinya di Semarang. Terus dengan sangat, meminta agar aku sebagai sesepuh yang menyerahkan calon pengantin pria kepada keluarga calon besan, itu dilakukan sehari sebelum hari pernikahan dalam acara seserahan. Maka tidak ada pilihan lain aku dan istri harus datang ke Semarang pada waktunya. Kalau bepergian, sepanjang tidak ada aral melintang aku selalu ok saja, asal badan sehat, dan satu lagi ada bekalnya…

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Adapun jadual kereta api Bandung – Semarang adalah dari Bandung berangkat malam jam 20:30 dan sampai di Semarang pukul 05:06 (8.5 jam) keesokan harinya. Demikian juga dari Semarang ke Bandung berangkat pukul 20:30 dan sampai di Bandung keesokan harinya jam 04:58.

Tarifnya kalau pemberangkatan hari-hari week end yakni Sabtu dan Minggu lebih mahal ketimbang hari-hari week day. Misal aku dan istri berangkat hari Kamis di bulan September 2012 tarifnya kelas eksekutif Rp 155.000, kelas bisnis dewasa Rp 110.000 dan bisnis anak Rp 88.000. Sementara untuk Semarang – Bandung pada hari Sabtu tiketnya adalah kelas eksekutif Rp 185.000, kelas bisnis dewasa 140.000 dan anak-anak Rp 118.000.

Yang aku dan istri tumpangi adalah kereta api Harina kereta api eksekutif  yang melayani Bandung – Semarang Tawang. Nama Harina konon diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah kijang. Rute yang dilewati cukup unik, dari Bandung tidak ke arah timur melainkan ke arah barat dulu menuju Cikampek, sampai Cikampek kemudian lokomotifnya diputar dan terus berbalik ke arah timur melewati Cirebon, Tegal, Pekalongan, sampai Semarang Tawang.

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Ceritanya aku dan istri sudah ada di atas kereta api Harina tersebut, pikiranku melayang ke belakang, meskipun aku tidak mengalami, tapi dari buku yang aku baca yaitu buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” oleh Haryoto Kunto bahwa pemasangan rel kereta api dari Batavia ke Bandung, lewat Bogor dan Cianjur, diresmikan pada tanggal 17 Mei 1884.

Berikutnya Staats Spoor yaitu Perusahaan Kereta Api Negara saat zaman kolonial Belanda, juga membuat rel kereta pada tanggal 23 Februari 1918 yaitu jalur  K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali (kesemuanya ada di sekitar Bandung). Sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, namun tak pernah menjadi kenyataan.

Lima puluh tahun kemudian sejak sambungan dari Batavia ke Bandung lewat Bogor, pada tanggal 1 November 1934 diresmikan  jalan baru melalui Cikampek Purwakarta.

Jalur K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali,  yang sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, tidak pernah menjadi kenyataan, bahkan jika saja Bandung – Sumedang rampung, maka ada kemungkinan dibuat rel kereta apai Sumedang – Cirebon.

Karena jalan Bandung – Cirebon dengan kereta api jalannya tidak dibuat oleh Staatsspoor, maka pertama KA Harina harus ke utara barat dahulu sejauh 75 km, keduanya penumpang naik kereta Harina dari Cikampek ke Semarang Tawang terus-terusan sejauh 466 km-an dalam posisi mundur.

Meskipun jalan KA harina mundur, karena kursi tidak bisa diputar, kecuali kesepakatan bersama penumpang lain, tidak masalah, apalagi perjalanan malam hari dimana penglihatan ke luar gelap gulita, atau gelap-gulita karena kebanyakan tidur ya?

Naik KA Harina Bandung – Semarang atau sebaliknya Semarang Bandung secara umum relatif memuaskan, apalagi di Stasiun lebih tertib, bersih, dan nyaman pertama tidak ada calo, kedua aman karena tidak sembarangan orang bisa masuk Stasiun, terus juga pedagang, termasuk pedagang asongan sudah tidak ada.

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

Demikian perjalanan Bandung – Semarang pp dengan KA Harina berjalan dengan lancar dan cukup memuaskan. Demikian juga dengan acara pernikahan keponakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang berjalan dengan sukses.

Saat pulang ke Bandung harus posisi mundur lagi yaitu dari Cikampek ke Bandung sejauh 75 Km, tak masalah karena tidur lagi…

Jasa Kentongan dan Beduk di Tanah Sunda

Bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi, Komunikasi dengan menggunakan cara-cara tertentu yang sudah disepakati bersama seperti lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tongtong juga adalah alat komunikasi (“Komposisi” 1980 oleh Dr. Gorys Keraf). Di Priangan – juga di tempat lain –  sudah sejak lama alat bunyian kentongan dan beduk telah dipergunakan untuk mengadakan komunikasi antara anggota masyarakat.

Ilustrasi Bale Nyungcung Kota Bandung dan Beduk. Dari Ramadhan di Priangan oleh Haryoto Kunto

Ilustrasi Bale Nyungcung di Kota Bandung dan Beduk. Dari Ramadhan di Priangan oleh Haryoto Kunto

Kentongan atau dalam KBBI disebut kentungan adalah bunyi-bunyian dibuat dari bambu atau kayu berongga (dibunyikan atau dipukul untuk menyatakan tanda waktu atau tanda bahaya atau untuk mengumpulkan massa). Sedangkan beduk masih dari KBBI adalah gendang besar (di surau atau masjid yang dipukul untuk memberitahukan waktu salat).

Beduk sebagai hiasan terletak di luar Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Beduk sebagai hiasan terletak di luar Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Tidak hanya kentongan dan beduk saja yang memberikan informasi waktu, menurut Ari Andriansyah dalam Cupumanik Juni-Juli 2012 bahwa sebelum akrab dengan tanda waktu berupa jam tangan, beker, dan jam dinding, orang Sunda untuk menyebutkan waktu dalam sehari semalam berdasar pada kejadian alam, posisi matahari, dan kebiasaan hewan berbunyi akan menjadi petunjuk waktu. Contoh nama-nama waktu di Tanah Sunda seperti: wanci tumorek (waktu sedang sepi sekali) sekitar jam 00.30, wanci disada rorongkeng (sebangsa suara binatang insekta), atau suara ayam berkokok sekira jam 02.30,  wanci janari kira-kira jam 04:00, wanci pecat sawed (saat alat bajak sawah dilepas dari kerbau penghela) sekitar jam 10.00-11.00, wanci manceran (saat matahari ada di atas ubun-ubun) sekira jam 12:00, wanci tunggang gunung (matahari ada di atas gunung) sekira jam 16:00, wanci sareupna (mulai gelap) jam 18:00 – 18:30, dan seterusnya sampai wanci tengah peuting (waktu tengah malam) jam 24:00.

Selanjutnya sebagai petunjuk waktu ditambah dengan tanda waktu datangnya perintah sholat. Kentongan dan beduk ditempatkan di masjid dipukul pada saat-saat sholat maghrib, isya, shubuh, zuhur, dan ashar.Memukul kentongan dan beduk ada caranya dan itu di masjid besar dilakukan oleh petugas yang disebut merebot. Misal ketika datangnya waktu sholat shubuh, ashar, maghrib, dan isya, yang dipukul kentongan dulu tong..tong ..tong..tong..lalu dipukul beduk dua kali dug..dug, lalu ulangi sekali lagi memukul kentungan dan beduk. Agak berbeda dengan waktu sholat zuhur yakni memukul dulu kentongan 4 kali terus dipukul beduk dengan ritme yang sama dan dari suara yang pelan dahulu lalu semakin keras dan semakin keras, terus juga menurun semakin pelan dan akhirnya sampai tidak kedengaran. Terus beduk diulang dipukul seperti tadi dari pelan ke keras dan sebaliknya, dilakukan sampai tiga kali naik turun. Lalu diakhiri dengan tong..tong..tong..tong.. dug..dug suara beduk dipukul dua kali. Mengapa berbeda barangkali suka-suka saja sepanjang disepakati oleh warga.

Menurut Asep Saeful Muhtadin dalam “Cupumanik” Mei 2012 ,selain untuk memberi tahu waktu sholat, kentongan dan beduk juga digunakan untuk memberi tahu warga akan terjadinya sesuatu yang penting/keadaan darurat seperti ada pencuri, kebakaran, ada orang meninggal, dan banyak lagi. Cara memukulnya bermacam-macam atau berbeda-beda sesuai dengan apa yang mau disampaikan. Yaitu seperti telah disebutkan cara memukulnya sesuai dengan kesepakatan diantara warga masyarakat..

Kentongan atau kohkol (bhs Sunda) sangat akrab dengan masyarakat Parahyangan, pengalaman penulis tahun 50-an zaman masih merajalelanya gerombolan DI di Ciamis utara  Jawa Barat mereka yang tak bosan-bosannya menjarah, membunuh, membakar rumah warga, dan teroro-teror lainnya. Disinilah kentongan sangat berperan penting untuk memberitahu warga tentang kondisi keamanan saat itu. Ronda terdiri dari beberapa laki-laki dewasa kadang disertai anggota OKD (Organisasi Keamanan Desa) keliling kampung sambil sesekali memukul kentongan kecil yang terbuat dari bambu. Jika terdengar “laporan” bahwa ada gerombolan DI di tempat yang cukup jauh akan dibunyikan kentongan besar yang digantung di Pos Ronda cara memukulnya tiga kali-tiga kali dengan jeda sesaat, secara terus menerus.

Warga akan bertanya: “Dimana gerombolannya Mang?”

Ronda yang lewat menjawab: “Masih jauh di Cicanggong, jangan terlalu lelap tidurnya!”

Kalau sekira si gerombolan DI tidak akan datang ke kampong tersebut maka akan dibunyikan kentongan dipukul sekali- sekali dengan jeda yang cukup, secara terus menerus, dan warga bisa melanjutkan tidurnya. Lain lagi dengan tongtong dibunyikan secara terus menerus dengan jeda waktu yang cepat itu tandanya bahaya sudah dekat dan si gerombolan DI sudah dekat dan warga diharuskan untuk bersembunyi di tempat-tempat aman dibimbing oleh para ronda dan OKD itu.

Kentongan dan beduk bekerja keras saat bulan Ramadhan tiba, selain dipukuli setiap saatnya waktu sholat tiba juga akan ditabuh kala munggah beduk ditabuh sepanjang hari menandakan bahwa esok hari puasa atau saum dimulai. Kemudian memukul beduk yang disebut ngadulag juga dilakukan pada hari tanggal lilikuran yakni malam tanggal 21, 23, 25, dan 27,  memberi tahu bahwa esok adalah hari ganjil malamnya banyak berzikir siapa tahu bertepatan dengan malam lailatul qadar.

Demikian juga kentongan dan beduk terus ditabuh saat esok hari akan Lebaran, terus malamnya beduk bertalu mengikuti yang bertakbir. Terakhir ngadulag adalah saat selesai sholat Ied dimana memukulnya kadang-kadang seenaknya saja tidak berinduk pada irama pakem yang telah ditentukan orang tua.

Zaman sekarang kentongan dan beduk banyak menganggur terutama di kota-kota, sejak ada speaker atau pengeras suara banyak kentongan dan beduk diam istirahat. Mengingatkan waktu sholat cukup dengan didengungkannya suara adzan, terus berbagai pengumuman cukup dengan “halow-halow pengumuman!” terdengar dari menara masjid.

Kentongan dan beduk di Masjid Agung Bandung yang  pada zaman baheula, karena masih sepi, konon kedengaran suaranya sampai ke lapangan Tegallega atau Pasar Balubur di bagian utara Bandung, kini boro-boro kentongan dan beduk kedengaran  sedangkan adzan yang dengan memakai pengeras suara saja juga mustahil bisa didengar.

Beduk dan Kentongan yang masih difungsikan dengan baik di Masjid Agung Jawa Tengah Semarang

Beduk dan Kentongan yang masih difungsikan dengan baik di Masjid Agung Jawa Tengah Semarang

Ukuran Beduk Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Ukuran Beduk Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Beduk di masjid besar Bandung memang kelihatan ada tetapi hanya dijadikan hiasan, beda dengan beduk besar di Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang, selain dipajang jadi kebangaan juga sewaktu sholat Jumat, setengah jam sebelum waktu tiba beduk dipukul terus-terusan sementar jamaah berdoa, bahkan ada penghapal Alquran yang menampilkan kemampuannya.

Heureuy Bandung di Lagunya Bimbo

Akhir tahun 60 sampai tahun 70-an musim ramainya bermunculan  grup band dengan vokalis yang banyak penggemarnya seperti The Rollie’s (Gito), Paramor (Jajat), Rhapsodia (Ute), AKA (Ucok), God Bless (Achmad Albar), Rasela (Dicky), Fantastique (Deddy Dores), The Pro’s (Abadi Soesman), Gembel’s, Rhythm King’s, Terncem, Golden Wing, Freedom, Giant Step, dan lain-lain.

Muncul juga sebuah grup Band “Bimbo” yang saat itu kalau didengar-dengar baik nada maupun liriknya beda dari grup-grup musik lainnya. Bimbo adalah sebuah grup musik Indonesia yang didirikan sekitar tahun 1967. Personel Bimbo terdiri atas Sam Bimbo, Acil Bimbo, Jaka Bimbo, dan Iin Parlina.

Lagu-lagunya dengan lirik bernapas balada yakni sajak sederhana yang mengharukan. Lirik yang puitik, romantik, syahdu, dan sekaligus membawa kita ke alam pedesaan, pegunungan nan mempesona. Penciptaan lagunya melibatkan misalnya siapa yang tak kenal dengan tokoh lingkungan hidup Iwan Abdurahman, sasterawan terkenal seperti Taufiq Ismail, dan penyair kenamaan dari kota Bandung Wing Kardjo.

Lagu-lagu balada Bimbo seperti Balada Gadis Desa, Balada Peminta-minta, Balada Seorang Biduan, Balada seorang Penyair. Demikian juga yang lainnya Melati dari Jayagiri, Bunga Flamboyan, Cinta, dan Citra. Kemudian lagu-lagu religius Tuhan, Rindu Kami Padamu, Sajadah Panjang, dan lain-lain.

Namun meski lagu-lagunya kebanyakan cenderung serius, sebagai orang Bandung Bimbo tidak lupa akan heureuy Bandung dimana beberapa pengamat merasa heran bin aneh lagu-lagu Bimbo yang biasanya serius tiba-tiba banyak heureuy alias canda, yaitu banyolan Bandung. Heureuy Bandung adalah jenaka tapi tak lupa kesopanan. Lagu jenakanya Bimbo diantaranya adalah lagu Kumis, Tante Sun, dan Pacar.

Dalam Lagu Sunda Bimbo juga tidak lupa bergurau, seperti contoh dua lagu berjudul “Koboy Kolot” dan “Euleuh Euy Euleuh, sedangkan liriknya seperti di bawah ini, terjemahan dalam bahasa Indonesia dicetak tebal.

Koboy Kolot | Koboy Tua

Hey koboy kolot, nyisiran di tengah jalan |
Hey koboy kolot, nyisir rambut di tengah jalan
Hey koboy kolot, leumpang entong heheotan |
Hey koboy kolot, jalan tak sambil bersiul
Hey koboy kolot, gayana siga bujangan |
Hey koboy kolot, gayanya mirip bujangan
Hey koboy kolot di imah budak nungguan |
Hey koboy kolot, di rumah anak menunggu

Calana cutbray, ngagober nyapuan jalan |
Celana cutbray, melambai menyapu jalan
Dangsana totbray, teu inget enggeus huisan |
Dansanya totbray, tak ingat sudah ubanan
Nyemprung ngadudud, tumpak motor babalapan |
Melaju cepat, naik motor berbalapan
Motorna butut, tumpakna eundeuk-eundeukan |
Motornya butut, duduknya angguk-anggukan
Hey koboy kolot, tong gumasep tengah jalan |

Hey koboy kolot, kegantengan tengah jalan
Hey koboy kolot, siga monyet eukeur dangdan |
Hey koboy kolot, mirip monyet sedang dandan
Hey koboy kolot, gayana siga bujangan |
Hey koboy kolot, gayanya mirip bujangan
Hey koboy kolot di imah budak nungguan |
Hey koboy kolot, di rumah anak menunggu

Euleuh Euy Euleuh

Euleung euy euleung, yu batur urang ka Cibatu |
Euleung euy euleung, hayu kawan ke Cibatu
Euleuh euy euleuh, buuk jabrig sayang kutu |
Euleuh euy euleuh, rambut jabrik sarang kutu
Euleung euy euleung, yu batur urang ka Cimahi |
Euleung euy euleung, hayu kawan ke Cimahi
Euleuh euy euleuh, sirah dugul endog lini |
Euleuh euy euleuh, kepala plontos telur lini ( gempa)

Pek taliktik aya Encek dagang sate |
Pek taliktik ada Encek dagang sate
Pek rek jabrig asal Encek hade hate |
Boleh mau jabrik asal Encek baik hati
Pek taliktuk ka Cikajang ka Cianjur |
Pek taliktuk ke Cikajang ke Cianjur
Pek rek dugul asal ujang hirup jujur |
Boleh mau gundul asal Ujang hidup jujur

Euleung euy euleung, ragag rigig bari rabig |
Euleung euy euleung, gerak-gerik sambil rabig
Euleuh euy euleuh, buuk jabrig jiga jurig |
Euleuh euy euleuh, rambut jabrik  kaya setan
Euleung euy euleung, yu batur ‘rang ka Jakarta |
Euleung euy euleung, hayu kawan ke Jakarta
Euleuh euy euleuh, sirah dugul siga panggal |
Euleuh euy euleuh, kepala botak kaya gasing

Sumber:

http://www.youtube.com/watch?v=FM-PVf9Fq9I (Koboy Kolot)
http://www.youtube.com/watch?v=hcQJ8UR_Jko (Basa Sunda & Euleuh Euy)
http://id.wikipedia.org/wiki/Bimbo
Majalah Bulanan Basa Sunda “Cupumanik”, Januari 2007 judul “Lalaguan Pop Taun 1970-an” oleh Supriatna

Heureuy Bandung (Guyon Bandung)

Dalam Kamus Umum Basa Sunda disebutkan heureuy, banyol, kalakuan pangangguran pikeun karesepan sorangan, ngarah gumbira nu nenjo, nungadenge  (kelakuan iseng untuk kesenangan sendiri supaya gembira yang melihat, mendengar). Atau dalam KBBI, sama dengan banyol, lucu, jenaka; berkata atau berbuat sesuatu yang lucu; berjenaka; melucu; melawak.

Orang Bandung atau urang Bandung konon suka guyon yang bahasa Sundanya heureuy,  malah populernya disebut  heureuy Bandung. Adanya ungkapan heureuy Bandung diwakili oleh pantun atau sisindiran yang kerap dijadikan nyanyian (dalam degung klasik oleh Ida Widawati) pantunnya seperti di bawah ini:

Sisindiran (Pantun) heureuy Bandung

Ari reumbeuy reumbeuy reumbeuy Bandung (Kalau campur-campur-campur Bandung)
ngareumbeuy dina jambangan
(Mencampur dalam jembangan)
ari heureuy heureuy heureuy Bandung
(Kalau-guyon-guyon-guyon Bandung)
heureuy ge jeung kasopanan.
(Guyon dengan kesopanan)

Ari lilin lilin lilin Bandung, (Kalau lilin-lilin-lilin Bandung)
geus hurung sok poek deui,
(Sudah nyala gelap lagi)
ari ulin ulin ulin Bandung
(Kalau main-main-main Bandung)
geus embung sok hayang deui
. (Sudah nolak mau lagi)

Banyak orang Bandung ketika berbicara sering menyelipkan kata atau kalimat humor, guyonan, dan perilaku yang lucu, yang disebut heureuy Bandung. Jadi harap dimaklumi jika ada sekumpulan orang Bandung atau umumnya orang Sunda sedang ger-geran atau akey-akeyan ramai tertawa, itu bukan mentertawakan Anda, tapi sedang mentertawakan diri sendiri atau kekonyolan mereka sendiri.

Heureuy Bandung nampaknya dimulai sejak dari masa kanak-kanak dengan kaulinan urang lembur (permainan anak-anak desa atau kampung, jawa dolanan) baik nyanyian maupun gerakan disampaikan dengan guyonan sekaligus lucu.

Heureuy Bandung juga diceritakan oleh penulis zaman baheula Sjarif Amin dalam bukunya “Keur Kuring Di Bandung”  menceritakan bagaimana isengnya masa kecilnya di masjid Bandung, mempermainkan merebot (Peugas pemukul beduk), dan iseng menukar-nukarkan sandal jamaah sholat masjid di Alun-alun Bandung tersebut.

Haryoto Kunto mempraktekan heureuy Bandung dalam penulisan bukunya “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” dalam bab Pembukaannya kuncen Bandung ini mengatakan: “Bahasa yang sulit, tidak selalu mewakili pikiran yang bermutu, kata penulis Belanda Edgar du Perron. Agaknya sebuah tulisan yang ingin mengungkap wajah kota Bandung, belum dapat dikatakan berhasil tanpa dibumbui heureuy Bandung”. Gaya humor orang Bandung yang segar, namun tetap dalam batas kesopanan! Humor ala Bandung inilah yang banyak mewarnai gaya penulisan buku ini”.

Heureuy Bandung juga dipertunjukkan oleh pelawak zaman lawas dalam grup lawak “4 S” beranggotakan Sup Yusup, Sam, Sofyan, dan Suryana Fatah. Berikut juga tahun 70-an sangat terkenal obrolan malam di radio Mara yang dibawakan oleh Kang Ibing Kusmayatna betul-betul matak seeleun (terpingkal-pingkal) karena kata banyolan dan ucapan heureuynya yang terang-terangan dan lugas menceritakan diri sendiri, zamannya, dan kekonyolan teman-temannya. Belakangan juga heureuy Bandung sering dibawakan Aom Kusman.

Iseng-iseng search di google, kata “heureuy” akan ditemukan sekira 137.000 hasil pencarian,. Demikian juga searching di google kata “heureuy bandung” akan ditemukan sekira 46.000 hasil pencarian. jadi cukup banyak yang nulis kata “heureuy” di internet.

Juga majalah bulanan berbahasa Sunda “Cupumanik” mempunyai pojok guyon “Landong Baeud” (Obat Cemberut). Majalah “Mangle” punya kolom jenaka “Barakatak”. Ada majalah khusus humor berbahasa Sunda bernama “Cakakak” (Mengakak),

Pencipta lagu dan pembuat liriknya banyak yang iseng memasukan heureuy Bandung, seperti Mang Koko, Nano S, Bimbo, Doel Sumbang, dan beberapa yang lainnya.

Lain kali disambung…

Gaya Dan Mode Berpakaian Bandung Tempo Dulu

Dahulu tahun 60-an, jadi sekira 40 tahun yang lalu, gaya dan mode berpakaian ala Bandung sudah mulai aku perhatikan, yang saat itu sedang menginjak usia remaja, Misalnya ketika  itu sedang musimnya celana cut bray, dibagian paha sempit terus melebar di bagian bawah kaki sampai berkibar-kibar saking lebarnya. Terus potongan celana itu terbalik dari cut bray ke bray cut, dimana di bagian atas lebar terus bagian bawah menyempit, seperti pakaian zaman gerilya.

Potongan celana terus berkembang dari cut bray ke bray cut, terus ke bray bray betul-betul ukurannya lebar-lebar dari atas ke bawah. Demikian juga ada masanya celana tidak sampai menutupi bagian atas sepatu tapi dibiarkan menggantung seperti kekurangan bahan, itu ada maksudnya, yakni sedang mulai banyaknya warna-warni kaus kaki nylon, dan itu bagian dari bergaya perlu diperlihatkan.

Ada saatnya warna-warni pakaian juga baik pria maupun wanita seperti sepakat untuk bersama-sama memakai batik yang saat itu tidak asing lagi namanya “batik Wonogiri” dimana-mana orang berpakaian batik dengan corak bunga-bunga dengan latar kuning atau merah. Sesudah bosan itu hampir se kota Bandung mewabah baju warna biru laut, namanya  biru benhur, karena sewaktu itu sedang inn film “Benhur”.

Karena aku sudah mulai beger, senang melihat wanita cantik berpakaian menarik, jadi termasuk agak memperhatikan cara berpakaian para gadis, saat di SMA dimana seragam belum dianjurkan, sudah ada teman perempuan sekelas bermini yakni berpakaian rok mini, rok ukuran pendek di atas lutut, tidak peduli sulit duduk di beca atau di kendaraan bemo. Berikutnya tidak dipakai ke sekolah,datang musim  rok potongan midi tidak panjang dan tidak pendek yakni rok memanjang sampai setengah betis, dan sempat terperhatikan rok yang sampai menyapu jalan disebut potongan longdress, biasa dipakai pada saat-saat resmi.

Bukan hanya warna dan potongan pakaian yang dikenakan akan tetapi sejak tahun 60-an banyak bahan pakaian mulai dari bahan kain katun paling sederhana jenis mori, kaci, balacu, dan berkolin, selanjutnya sepedrill, dan berikutnya masa bahan pakaian non katun yang praktis dari bahan tetoron kadang tidak perlu disetrika. Baju kaus bahan nylon demikian kaus kakinya sangat populer saat itu.

Ternyata gaya dan mode berpakaian di Bandung ada diceritakan oleh penulis misalnya cerita zaman kolonial Belanda dalam bukunya “Braga Jantung Parijs van Java” oleh Ridwan Hutagalung ( 2008) berbicara tentang mode pakaian para nonih Belanda belanja pakaian mahal dan modern di sepanjang Bragaweg.

Berikut Syarif Amin (1907-1991) dalam bukunya “Keur Kuring Di Bandung” (Saat Aku Di Bandung) zaman baheula, beliau menulisnya sampai 8 halaman dengan judul “Prak-Prakan Dangdan” (Cara-Cara Berpakaian).

Selanjutnya sasterawan yang lebih muda adalah Us Tiarsa R. dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Saat Bandung Masih Berembun) 2011,  bercerita tentang “Modeu”, “Koboy Peot”, dan “Klirmaker”.

Buku yang menyebut tentang pakaian di Bandung zaman ayeuna  (sekarang) ada pada buku “Wisata Paris van Java” 2011 oleh Her Suganda dengan judul: “Pasar Baru Bukan Pasar Biasa”, “Jalan Tamim Sisa Masa Lalu”, “Factory Outlet”, “Distribution Outlet Supaya Tampil Beda”, “Celana Cowboy dari Cihampelas”, “Mahanagri”, sampai ke “Rajutan Dari Binongjati”, “Cibaduyut”, dan “Biar Bekas Tetap Diburu”.

Pada tahun 1900-1930 terdapat toko-toko dan butik pakaian dengan mode terbaru dari Paris misal Au Bon Marche, Au Chat Noir, dan bermacam Maison. Toko-toko yang berada di Bragaweg (jalan Braga). Orang-Orang Belanda selalu memakai djas toetoep (satu jenis jas biasanya warna putih kancingnya sampai ke atas mendekati leher) sudah merasa menjadi Belanda modis. Demikian juga para nonih Walanda yakni para juffrouw dan mevrouw berebut fesyen di kota Bandung kata Ridwan Hutagalung 2008.

Itu untuk bangsa Belanda, pribuminya tidak mau kalah untuk golongan menengah dan sekolahan tulis Syarif Amin: Saat itu sedang musimnya memakai baju tutup sejenis jas lengkap dengan kancing depan dan kancing lengan. Ada yang aneh saat memasang celana panjang katanya didahulukan memakai sepatu, baru celana (apa tidak susah masuknya ya?). Katanya bepergian masih memakai dasi berbagai cara memasangnya juga jangan lupa membawa sapu tangan dengan cara dilipat tertentu dan kelihatan nongol di saku baju depan, dan jangan lupa saat itu masih memakai tutup kepala yang bernama bendo.

Demikian sementara Gaya Dan Mode Berpakaian Bandung Tempo Dulu, ceritanya masih panjang…