Ke Cirebon? Sega Jamblang Atuh!

Bandung – Cirebon, sebetulnya dekat saja itu! Kira-kira 130 Km, dengan mengemudi yang tidak terburu-buru dalam 4 jam juga sudah sampai.  Sebagai driver saya sih ok-ok saja dan merasa sangat sanggup mengemudikan mobil menempuh jarak tersebut. Tapi istri saya sebagai co-pilot he he he, selalu bertanya “sanggup nggak?”, “ngantuk nggak?’, maklum umur saya sudah 65 tahun.

Kali ini pergi ke Cirebon untuk menghadiri acara silaturahmi keluarga, waktu penyelenggaraannya hampir 2 minggu setelah lebaran tahun 2011 ini. Mengapa saya sangat PD untuk mengemudikan sendiri, karena jalanan insya allah tidak lagi macet, karena para pemudik sudah berada di tempatnya masing-masing. Disamping itu sekarang adalah musim kemarau biasanya hambatan di jalan karena hujan deras nampaknya tak akan terjadi.

Masih pagi yang jualan tahu sudah siap

Dimana ada kemauan di situ ada semangat, akhirnya dengan hanya berdua saja dengan istri, pada hari H saya sudah sampai di Sumedang pada jam 06:45, maklum berangkat dari Bandung jam 05:00 pagi. Dan sesuai dengan cita-cita dan rencana singgah dahulu untuk makan tahu Sumedang yang masih panas, terlaksana sudah. Perasaan saya setiap makan tahu Sumedang selagi panas-panasnya sepertinya tidak begitu terasa asinnya, baru terasa jika tahunya sudah dingin.

Ternyata di perjalanan selanjutnya lancar saja tuh, habis tidak dipikirkan tentang sulitnya perjalanan, santai saja, bahkan yang diingat hanya makanan.

Sesampai di Cirebon sekitar jam 09:00 langsung ke Pasar Pagi untuk membeli oleh-oleh, kan acara silaturahminya nanti jam 10:00.

Lihat saja macam oleh-oleh yang berada di Pasar Pagi Cirebon seperti di bawah ini:

Ikan asin jambal roti

Ikan asin tipis kering

Kerupuk melarat

Kerupuk kulit

Dan, sesampainya di lokasi silaturahmi ternyata telah disambut oleh makanan pembuka yakni soto, pasnya di Cirebon disebut empal gentong. Daging yang digunakan adalah jeroan berupa  usus, babat, dan lainnya, juga daging sapinya sendiri. Empal gentong ini sudah sering saya makan terutama pada resepsi pernikahan, biasanya disajikan berupa stand khusus empal gentong.

Adapun makanan seriusnya setelah selesai acara silaturahmi adalah sega jamblang atau nasi jamblang.

Sega jamblang

Sega Jamblang (Nasi Jamblang) adalah makanan khas masyarakat kota Cirebon. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Nasi jamblang dengan lauk pauknya yang lengkap akan tetapi dimasak dalam bentuk keringan, jadi nampaknya tidak ada kuahnya, dan khasnya adalah sambalnya yang berwarna merah memang dari sambal irisan cabe merah. Lihat menu nasi jamblang ada sambal goreng, tahu goreng, tempe goreng, semur hati, perkedel, sate telur puyuh, telur dadar, dan goreng ikan. Ok, enak juga.

Karena acara silaturahmi cepat selesai maka waktu maghrib sore harinya saja sudah berada di Bandung lagi, dengan perut masih kenyang sega jamblang.

Sensasi Pedasnya Keripik Singkong Ma Icih

Iklan keripik Ma Icih

Pernahkah Anda mendengar tentang keripik singkong produk dari Ma Icih? Saya sudah lama mendengarnya, tapi tidak begitu diperhatikan karena itulah cuma sekedar keripik apalagi keripik singkong apa anehnya.

Tapi suatu kali saat saya ngabuburit lewat jalan Peta di Bandung tiba-tiba anak saya yang sedang mengemudi sekonyong-konyong mebelokkan mobil ke tepi dan selanjutnya berhenti.

Ternyata anak saya melihat mobil yang sedang parkir di pinggir jalan, yang  sedang berjualan keripik Ma Icih itu.

Cara berjualannya begitu saja sekumpulan anak muda pakai mobil kemudian langsung saja parkir di tepi jalan, dimana saja sekehendaknya, karena sudah tahu nanti juga pembeli akan berdatangan sendiri.

Mula-mula yang mendatangi mobil penjual kripik itu adalah hanya kami bertiga yaitu saya, istri, dan anak saya.

Penjajanya anak muda bermobil

Eh berikutnya hanya dalam hitungan menit banyak mobil menepi sengaja ingin membeli yaitulah kerikip singkong buatan Ma Icih.

Dalam beberapa saat pembeli berdatangan

Kemasan keripik tersebut adalah seperti ini, setiap bungkus yang dikemas secara apik seberat 1/4 Kg dengan mematok harga Rp 20.000.

Kemasan keripik singkong Ma Icih

Setelah tiba saatnya berbuka puasa anak saya yang mula-mula mencicipi karena demikian penasaran. Dia berteriak-teriak merasakan kepedasan, tapi katanya ingin terus-terusan memakannya.

Menurut saya kalau rasa keripiknya biasa saja tapi memang pedasnya demikian menendang lidah. Mengapa yang “hanya keripik singkong” demikian banyak digemari pembeli. Kemungkinan besar karena rasanya yang pedas menyengat bahkan  mempunyai level kepedasan yang berurut semakin pedas yaitu level 3, level 5, dan level 10.

Terus sensasinya ini diberitakan dari mulut ke mulut, dijual oleh anak-anak muda bermobil jadi cenderung kelas bergensi. Tambahan lagi cara pengemasannya yang sengaja menarik tidak cenderung murahan.

Meski begitu saya suka agak heran dengan jenis makanan yang sederhana bisa menarik demikian banyak peminat, kalau lagi hoki keripik singkong pun bisa naik daun.

Sekali Lagi “Bebecek” Bandung

Satukan dalam panci dan langsung dipanaskan sampai agak kering

Sudah saya tulis mengenai bebecek yaitu kakaren atau sisa-sisa tumis atau sanga masakan dari kenduri atau lebaran. Caranya yaitu beraneka macam masakan yang tidak habis saat lebaran misal tumis buncis, sanga kacang, sekumpulan rendang dan semur, juga beraneka masakan bahan mie dan juga sudah saya sebutkan tumis besengek yang super pedas. Kesemua-muanya dimasukan kedalam satu tempat dan kemudian dipanaskan sampai menjelang kering, diangkat dan langsung dihidangkan.

Jangan malu-malu hidangkan di meja makan

Rasanya memang sejuta, dan ada semi-semi asem, dan karena besengek itu jadinya lumayan pedaaas. Jangan ragu memakannya dengan nasi hangat yang agak pera atau dengan ketupat sisa atau sudah saya sebutkan pasangan paling serasi adalah ulen ketan atau uli kata orang Jakarta.

Eh, yang disamping bebecek yang di wadah besar itu adalah ikan ayam yang telah menjadi abon, asalnya dari kare ayam karena pengunduran lebaran sudah keburu basi. Makanya air karenya dibuang, kemudian dengan bersemangat agak dibasuh sedikit, dan dipanaskan diorak-arik dibuang tulang ayamnya maka jadilah abon yang tak kalah sedapnya.

Kalau saja, sekali lagi kalau, jadi agak sering buang air ke belakang biarkan saja nanti juga sembuh paling-paling karena kepedasan. Kalau saja sih makan bebecek terus-terusan, maklum istri lagi belum ada ide untuk memasak lagi, ya tak apa-apa juga tuh!

“Bebecek”, Kakaren Lebaran

Lebaran tahun ini 2011 atau 1432 H agak istimewa, mengapa?  Karena banyak keluarga yang mengira lebaran akan kompak jatuh pada hari Selasa 30 Agustus, eh ternyata pemerintah mengumumkan lebaran hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Bagi khususnya ibu-ibu di dapur tidak mempersoalkan mengapa lebaran saja sampai tidak kompak, akan tetapi masalah managemen makanan atau pasakan khas lebaran, yang bukan hanya kue yang tahan lama akan tetapi pasakan basah yang mempunyai masa kadaluwarsa.

Banyak rumah tangga yang mempersiapkan ketupat dan kare ayam sejak hari Senin , maksudnya biar buka terakhir sudah bisa takjil langsung kuah ketupat dan kare ayam. Tetapi ternyata itu bukan buka puasa terakhir namun besoknya harus puasa lagi. Oke, tak masalah puasa lagi tapi bagaimana ini, pasakan basah dan tumis-tumis kan makanan yang tidak tahan lama alias cepat basi. Tapi juga itu tidak terlalu persoalan besar karena selalu ada jalan keluar.

Kakaren kalau diterapkan di makanan adalah makanan sisa hajatan atau sisa lebaran. Tumis-tumis, yang kalau di Ciamis disebut sanga, yaitu berupa sanga kentang pakai ati dan petai, sanga kacang, sanga besengek masakan dari bahan cabe yang pedaaas sekali, opor ayam, kare ayam, dan sebagainya. Nah, lebaran ini, karena persiapannya lebih awal jadinya ketika tiba saatnya lebaran tumis-tumis atau sanga-sang sudah mulai basi, dan kalau basi itu rasanya sudah mulai asam.

Seperti tadi saya sebutkan bahwa ibu-ibu di dapur selalu punya jalan keluar agar jangan sampai makanan itu terbuang percuma maka jadilah masakan tersebut menjadi kakaren yang masih sedap kalau disantap. Caranya masakan basah tersebut dimasak dicampurkan menjadi satu dalam kuali yang besar dan orang Bandung punya nama yakni bebecek. Tak peduli campuran masakan itu akan “sejuta rasanya” tapi terus terang kalau dimakan pada hari ketiga atau seterusnya rasanya enak dan nikmat.

Rupa-rupanya saja bebecek yang adalah makanan daur ulang tersebut telah dilakukan ibu-ibu secara turun temurun, sehingga lidah orang Bandung selalu ketagihan makanan kakaren berupa bebecek yang kalau mau jujur dan terus terang rasanya agak sedikit basi malahan sedikit rasa asam, yang kemudian malah jadi enak itu.

Berikutnya karena sekarang zaman rekayasa, coba saja sebagai contoh kopi luwak, aslinya kan memungut buangan biji kopi dari kotoran luwak liar di kebun kopi, akan tetapi selanjutnya malahan sengaja memelihara luwak dan buangan kototorannya itu yang diolah, kan tidak orisinil kali? Demikian juga dengan bebecek bahwa tidak selalu setiap lebaran ada kakaren bahkan boro-boro ada kakaren yang akan dibuat bebecek malahan makanan lebaran sudah habis sebelum hari-hari lebaran berakhir.

Tapi, sekali lagi selalu ada jalan agar tiap tahun merasakan masakan bebecek itu, yaitu dengan sengaja khusus membuat tumis-tumis atau sanga-sanga spesial untuk bebecek beberapa hari sebelum lebaran tiba dan begitu lebaran makanan tersebut sudah bisa dijadikan bebecek yang pasangan disantapnya  akan lebih nikmat dengan ulen ketan dan sekali lagi itu bisa direkayasa dipersiapkan sebelumnya.

Dan bebecek pun di hari lebaran sudah menjadi menu pilihan

bade nyobian bebecek oge aya!” (“mau mencoba bebecek juga ada!”) kata pribumi.

Tukang Jualan Es Puter Keliling

Pedagang es puter keliling tahun 1950 -an.

Gambar dari:  “Album Bandoeng Tempo Doeloe”, oleh Sudarsono Katam & Lulus Abadi.

Kalau melihat gambar di samping ini jadi teringat masa SR/SD dan SMP di wilayah Ciamis utara Jawa Barat, saat itu tahun 50 dan 60-an.

Gambar ini adalah pedagang es keliling yang berada di Bandung, kalau di Ciamis bentuk batang pikulannya tidak melengkung begitu akan tetapi lurus, tempat es puter di sebelah depan dan tempat mencuci gelas di belakang memang hampir sama begitu.

Lihat pedagangnya bercelana pendek (kalau sekarang jualan es bercelana pendek? nggak deh!). Dia bertopi, menenteng bel kecil yang keleneng itu terus menerus dibunyikan, meskipun ada orang tua yang sedang melarang omat-omatan anaknya jangan minum es karena sedang batuk.

Lihat juga kakinya nyeker, dan itu keliling menempuh jarak yang kadang-kadang jauh sambil sesekali harus menginjak aspal panas. Zaman itu yang tidak beralas kaki bukan hanya tukang jualan es kelliling akan tetapi hampir semua orang,  kecuali yang cukup berada, saya ketika sekolah SR/SD dan awal SMP juga tidak bersendal apalagi bersepatu, dan itu semua siswa begitu.

Di Kawali dimana es balok diturunkan,  es itu didatangkan dari kota Ciamis, di situ pula berbaris tukang es yang sudah menunggu dan siap-siap untuk membuat es jualannya. Begitu menerima jatah es baloknya langsung es tersebut diserut menggunakan serutan khusus untuk es, seperti alat serutan kayu yang dipasang terbalik. Serutan esnya ditampung di wadah es jualannya itu, sementara di dalamnya sudah ada santan dan air gula (kinca) yang memakai gincu berwarna merah, kadang berwarna kuning. Terus es tersebut diaduk-aduk beberapa kali, sudah cukup begitu saja, siap untuk dijual.

Dipinggiran tempat es itu diletakan lapisan sejumlah es batu dan garam, seperti halnya termos, maksudnya agar es jualannya bertahan lama untuk tetap dingin.

Saya tidak yakin apakah ini yang disebut es puter? Bagaimana orang Bandung saat itu membuat es puternya, jika sama membuatnya seperti yang dilakukan di Ciamis waktu itu, lalu yang di-“puter”-nya apa.

Di Ciamis kadang-kadang es tersebut dijualnya ditambah tape singkong yang dibungkus kecil-kecil dengan daun pisang, demikian juga tapenya dari singkong sengaja sudah dipotong kecil-kecil.

Meski memakai campuran tape singkong, tidak semua pembeli otomatis ke dalam gelasnya ditambahkan tape, karena harganya beda kan yang memakai tape dan tidak. Tak bosan-bosannya si pedagang bertanya kepada pembeli ketika mau mengisi es kedalam gelas kecil berwarna hijaunya:

Peuyeuman?” kata tukang es bertanya memakai tape atau tidak

Ulah!” jika si pembeli tidak mau

Sebaliknya jika esnya mau memakai tape jawab saja:  “enya atuh!” atau “muhun!”

Baik di-peuyeuman atau ulah rasanya sama saja bagi lidah saya saat itu enak sekali dan esnya terasa gurih. Saya rela menabung dulu untuk mendapatkan segelas kecil es dengan di-peuyeuman

Lama saya tidak mencicipi es buatan Mang Mansur dari Ciamis itu, apalagi di Bandung, tempat saya kemudian tinggal, tidak ada lagi yang jualan es semacam itu. Tapi di suatu undangan resepsi pernikahan ditemukan stand “Es Puter” saya langsung memesannya atau jelasnya mengambilnya karena sudah disediakan diwadah-wadah kecil. Tadinya saya siap kecewa karena rupanya mirip ice cream biasa yang tidak aneh lagi. Kemudian saya terkejut ternyata rasanya persis seperti buatan Mang Mansur di Ciamis tempo doeloe. Gurih, agak kasar-kasar esnya terasa di lidah, dan warnanya itu agak merah seperti gincu yang ditambahkan kepada gula kinca-nya. Oh, Mang Mansur entah dimana sekarang dia berada.

 

Kerupuk Jumbo

Makanan jajanan yang renyah dan kalau dikunyah berbunyi kriuk-kriuk, atau kukurutukan mesti tidak jauh dari kerupuk atau keripik. Rasanya enak sebagai camilan ada berbagai jenis makanan krauk-krauk itu seperti keripik pisang, keripik singkong, opak (kalau ke Bandung tanyakan opak Linggar, uih rasanya enak dan tidak ada grenjil-grenjil di gigi), renginang, kembang goyang, kecimpring, kerupuk, dan lain-lainnya. Kesemuanya dalam ukuran lumrah seperti yang kita kenal.

Kalau yang namanya kecimpring bahannya dari singkong, bukan, bukan keripik singkong tapi ini sejenis opak yang disebut kecimpring atau cimpring (bhs Sunda). Di Ciamis jaman dahulu ketika saya masih kecil disebut keterlaluan, sekali lagi keterlaluan, kalau sampai belum pernah tahu atau melihat cara pembuatannya, apalagi kalau belum pernah mencicipinya. Karena hampir di setiap rumah sudah biasa membuat kecimpring itu. Ini juga dibuat dengan ukuran biasa bulat dengan diameter rata-rata 10 cm.

Ada lagi yang renyah-renyah gurih dan sangat-sangat murah namanya kerupuk saja, ini tidak lagi disebutkan kerupuk dari bahan apa, tapi sekali lagi kerupuk saja banyak disimpan di kaleng atau dibungkus plastik dalam jumlah sepuluh-sepuluh di warung-warung nasi atau pasangan mie kocok di jalanKebon Kawung Bandung. Kerupuk paling efisien untuk teman nasi jika lagi bokek alias lagi kantong kosong. Kerupuk ini juga berukuran dalam diameter yang lumrah umumnya kerupuk, sekedar cukup di mulut manusia normal.

Belakangan ini, jika datang ke Kota Bandung, di pinggir jalan kalau lagi jalanan macet (bukannya selamanya macet?), atau umumnya di setopan lampu merah banyak yang menjajakan cimpring atau kecimpring yang besar atau lebar melebihi ukuran normalnya kecimpring itu kalau ukurannya tidak 20 cm pasti lebih diameternya, saya belum pernah membeli apalagi iseng mengukurnya.

Kerupuk jumbo

Sewaktu awal bulan Juli 2011 yang lalu saya jalan-jalan ke Kota Bogor saya merasa surprise karena apa? karena ada yang berjualan kerupuk di pinggir jalan itu juga sama dengan kecimpring, berukuran besar, makanya disebutnya juga kerupuk jumbo.

Nah kalau kerupuk jumbo ini saya membelinya karena ingin sensasinya dan tentu rasanya, dimakan berempat dengan anak dan cucu saya sambil mobil terus berjalan. Rasanya biasa saja sebagaimana kerupuk, berani sumpah tidak jauh dengan rasa kerupuk normal atau ukuran biasa.

Baik kerupuk maupun kecimpring jumbo ini tentunya baik cara membuat, menjemur, bahkan menggoreng dan juga janga lupa mengemasnya dan membawanya sewaktu menjajakan harus hati-hati dan penuh konsentrasi, sebab kalau sampai remuk pasti bukan golongan jumbo lagi.

Disamping kerupuk jumbo juga dijajakan berondong ketan dan jagung dengan menyerupai lambang “love” juga dalam ukuran besar alias jumbo. Meskipun membuatnya dan menjajakannya harus extra hati-hati tapi lumayan kreatif untuk mengundang minat pembeli, soal rasa kan sudah maphum bagaimana rasanya kecimpring, kerupuk, dan berondong.

Sayur Batang Talas

Istri saya sempat protes dalam suatu pertemuan keluarga karena kaum lelaki menyatakan bahwa dalam suatu acara silaturahmi konsumsi atau makanan itu tidak begitu perlu, yang perlu silaturahminya atau temu kangennya, lanjutnya. Sekali lagi menurut istri saya makanan itu membawa ramainya, akrabnya, betahnya, cerianya, suatu pertemuan. Saya selalu menyetujui gagasan istri saya, terutama menyangkut makanan, untuk itu saya rela jadi pelopornya.

Nah, dalam rangka memanjakan isi perut saat acara pertemuan silaturahmi keluarga di daerah Ciamis sebelah utara sana, sering dengan sengaja disediakan makanan jadul alias makanan ketika kami yang sudah aki dan nenek dulu semasa kecil sering memakannya. Misalnya di suatu saat pertemuan pribumi menyediakan angeun tutut/olahan dari semacam siput atau keong sawah, atau disaat pertemuan berikutnya pindang  nangka muda, pindang ikan nilem, goreng ikan kecil nan renyah, sambal cabe rawit thok atau tolenjeng, dsb itu lauk-pauk teman nasi. Selanjutnya jajaburna alias makanan kecil atau yang sekarang disebut jajanan pasar misal papais/bugis, apem, adas, gulampo/tape ketan yang telah direbus, hunkue asin dengan ditaburi goreng bawang, dan lain sebagainya.

Dan ini yang cukup istimewa adalah makanan bernama colok gembrung, colok itu tusuk, sedangkan gembrung adalah nama alat musik tabuh yang terbuat dari kulit sapi semacam beduk. Nah,colok gembrung adalah tusukan potongan kecil kulit sapi yang empuk karena penggodogan yang matang, adapun bumbunya dituangi tumisan galendo/produk sisa ketika membuat minyak goreng dari bahan kelapa.

Jenis batng talas yang bisa disayur

Ada teman nasi yang hampir terlupakan juga disediakan di satu kesempatan silaturahmi adalah sayur batang talas. Sebetulnya hampir semua talas rasanya selalu ada gatal di tenggorokan. Jadi harus pandai-pandai memasaknya agar terhindar dari gatal tersebut.

Untuk membuat sayur batang talas atau sayur lompong atau sayur poloy tidak sembarangan talas meskipun memang banyak macamnya yang bisa disayur. Gambar di samping ini adalah jenis pohon talas yang bisa dimasak atau dibuat sayur.

Cara menyiapkan bahannya biasa saja, setelah satu pohon talas dicabut kemudian dibuang daunnya, padahal daunnya juga masih bisa dimasak, potong-potong batangnya juga kupas umbinya, dan juga dipotong-potong, cuci kemudian semuanya direbus, setelah cukup empuk kemudian diangkat dan air rebusannya dibuang.

Masaklah rebusan batang dan umbi talas itu, dengan cara ditumis begitu saja atau dimasak memakai santan.

Sayur Lompong

Dan jadilah sayur lompong tersebut, cocock bagi akai-aki dan nini-nini karena sayurnya super empuk.

Betul saja pertemuan silaturahmi menjadi ramai dan ceria karena cukup tersdia makanan, apalagi makanan jadul kesukaan hadirin. Tak rugi saya mendukung pendapat istri.

Goreng Ikan

Di kawasan Ciamis utara yakni Cipaku, Kawali, Rajadesa, Panjalu Jawa Barat hampir setiap keluarga memiliki kolam ikan. Umumnya memelihara dan mengembangbiakan ikan untuk dikonsumsi sendiri. Asal banyak air atau jangan kemarau panjang, umumnya kebutuhan rumah tangga akan ikan terpenuhi sudah.

Khususnya di desa saya di Cipaku ketika saya masih kecil sejak kanak-kanak sudah dibiasakan makan ikan – karena tidak ada yang lain – hanya dari ikanlah umumnya protein didapat, karena protein hewani lain seperti daging sapi dan daging ayam harganya mahal.

Ikan biasa dikonsumsi dari ukuran kecil sampai besar umumnya dimasak dengan  digoreng, tapi memang kadang-kadang juga dipepes, dipindang, bahkan disop. Karena dari kecil terbiasa makan ikan maka tak aneh kalau kemanapun, seperti saya, mengembara ke Bandung atau bahkan ke Kalimantan, ikan tidak pernah lepas. Ikannya ikan apa saja tidak peduli kecil atau besar, ikan asin atau ikan biasa, ikan laut atau ikan kolam sama saja disukai.

Nah, ketika baru-baru ini saya dan istri pulang kampung teman nasi yang harus tidak boleh alpa adalah goreng ikan. Dan oleh pribumi, adik saya, sengaja sudah disediakan goreng ikan.

Goreng ikan baby

Sekarang ini di Ciamis sedang mulai musim kemarau, dimana debit air di sungai ataupun di mata airnya mulai mengecil,  pemilik kolam ikan sudah tahu bahwa pada musim tidak turun hujan kolamnya akan mengering.

Kemudian kebetulan semua ikan dari yang masih ukuran orok atau baby ikan sampai yang lumayan besar diangkat dan dimasak sengaja menyediakan tamu yang pulang mudik. Kebetulan diantara tamu banyak yang menyukai ikan kecil yang digoreng kering renyah hampir seperti keripik.

Mengurus atau membuat goreng ikan, apalagi ikan kecil gampang-gampang susah. Yang paling leukleuk; lama adalah ketika membersihkan ikan kecil satu demi satu, kalau ratusan ikan bisa berjam-jam. Kalau bumbunya sih gampang saja saya juga sejak kecil sudah bisa.

Caranya ikan-ikan yang sudah dibersihkan ditaburi garam secukupnya, lalu diberi jeruk nipis atau beberapa tetes cuka encer, diamkan beberapa saat biar bumbunya meresap, kalau saya biasanya disimpan dulu lebih lama lebih baik, sehingga terasa meresap asam asinnya. Kemudian ikan digoreng terendam minyak yang sudah masak di penggorengan, setelah kuning baru diangkat, harusnya dimakan segera karena masih panas, renyah, dan rangup.

Sungguh, pulang mudik kali ini selain bernostalgia suasana perkampungan juga disuguhi makan dan ikan goreng sebagai lauk pauknya, sedaap.

Peuyeum Sampeu Ciamis

Lapak Peuyeum Ciamis

Peuyeum sampeu (tape singkong) sudah lama sangat populer sebagai oleh-oleh tradisional dari Bandung. Di pinggir jalan dipajang di lapak-lapak berkaca dan tape singkongnya digantung.

Selain kelihatan di Bandung lapak-lapak tape singkong tersebut juga sering kelihatan di sepanjang jalan Rajamandala dan Citatah jika dari Bandung menuju Cianjur.

Juga saya pernah melihat tape singkong yang digantung dipajang di pinggir jalan ketika berkunjung ke Serang Banten.

Ketika saya pulang mudik ke Ciamis dari Bandung, terlihat lapak-lapak penjual tape singkong gantung berderet sepanjang dari Imbanagara sampai kota Ciamis. Ini peuyeum Bandung ala Ciamis memang rasanya manis dan kering tidak basah atau lembek.

Jika Anda penasaran cara membuat peuyeum sampeu maka ini caranya:

Singkong dikupas kulitnya, kemudian dicuci dan
dipotong  – potong, setelah itu lalu dikukus sampai
matang, kemudian didinginkan sambil diberi ragi
tape. Dibungkus memakai  daun waru atau daun
pisang, disimpan selama satu atau dua malam sampai menjadi lunak. sumber

Peuyeum Ciamis

Terus terang peuyeum sampeu Bandung ala Ciamis yang dipajang dan digantung itu relatif baru munculnya di Ciamis, dahulu setidaknya lima tahun yang lalu saya tidak pernah melihatnya.

Jadi jika mencari raja tape lalu kelupaan membelinya di Bandung, jika arah anda ke sebelah timur atau selatan maka jangan lupa membeli tape singkong ala Ciamis. Manis dan pepel jadi oleh-oleh Ciamis tidak hanya galendo tetapi juga ada tape singkong.

Pecel Lele

RM Pecel Lele

Tahun 60-an ketika saya mulai datang ke Kota Bandung sepertinya tidak pernah menemukan pedagang pecel lele. Karena kalau tidak salah itu adalah makanan khas Jawa Timuran. Bahkan saya baru tahu bahwa ada makanan yang bernama pecel lele pada tahun 80-an ketika berkesempatan datang ke kota Surabaya.

Jika orang Bandung menyebutkan makanan bernama pecel itu dimaksudkan semacam makanan yang penuh sayuran seperti gado-gado yang berbumbu sambal kacang. Makanya pada saat ke Surabaya saya sangat penasaran untuk mencobanya dan diapakan itu lele.

Eh, ternyata makanan yang bernama pecel lele itu adalah – sederhananya – berupa goreng ikan lele yang diletakan diatas cobek yang berisi sambal terasi, itu saja, jadi sekali lagi sama sekali tidak ada unsur sambal kacangnya.

Iya memang tidak masalah apapun namanya asal eanak rasanya fine-fine saja, karena sejak saat itu saya jadi ketagihan makan pecel lele.

Saat ini di Bandung yang namanya pecel lele sudah tidak asing lagi, sudah banyak, bahkan ada rumah makan bernama “Pecel Lele” meskipun tidak hanya menjual khusus pecel lele.

Sepanjang manusia hidup terus berjenis makanan makin merata tidak hanya di daerah tertentu saja. Juga makanan Bandung merambah kemana-mana.