Aki-Aki Piknik Ke Bali, Yang Unik Yang Menarik

Sebetulnya aku sudah dua kali menginjakkan kaki di Pulau Seribu Puri ini, pertama sendirian tahun 1982 naik bus dari Surabaya ke Denpasar, tak masalah menyusuri jalan darat karena usia masih muda umur 36 tahun. Keduanya tahun 1987 datang lagi ke Pulau Dewata berlima bersama keluarga saat itu anak-anak masih kecil. Dan ketiga kalinya mudah-mudahan jangan yang terakhir, kemarin tanggal 19 sampai 23 Januari 2013 saat Jakarta hampir tenggelam oleh banjir.

Brosur Wisata, sejak dari Airport

Brosur Wisata, sejak dari Airport

Inilah wisata keluarga, meskipun tidak keluarga besar anak cucuku, kami berenam terlaksana mengunjungi Pulau Bali. Perjalanan kami dari mulai Cengkareng – Ngurah Rai – Kuta – Nusa Dua – Belanja oleh-oleh di Sukawati – Jimbaran – Pura Luhur Tanah Lot – Garuda Wisnu Kencana – Belanja oleh-oleh di “Krisna” – sampai kembali ke Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta.

Bali dari kacamata seorang kakek selalu menarik, apalagi selama 12 tahun terakhir aku kurung batok seperti katak dalam tempurung tinggal di Bandung. Memang iya meskipun Bandung punya daya tarik sendiri atas wisata belanja, kuliner, dan wisata bangunan peninggalan budaya khususnya peninggalan zaman kolonial Belanda, tapi Bandung tetap beda dengan Badung dan umumnya Pulau Bali itu.

Entah apa sebab atau asal muasalnya, beberapa kata dalam bahasa Sunda sama artinya dengan kata dalam bahasa Bali diantaranya:  jelema berarti manusia,  polo berarti otak, panganggo – pakaian, uyah – garam, baraya – keluarga, kuren – kawin, lami – lama, pisan – amat, linyok – ingkar janji atau bohong,  kiwa – kiri, kirang – kurang, jalma – manusia, pireng – dengar, alit – kecil, panggih – jumpa, sareng – turut. dan beberapa lagi, didapat dari buku “Istilah Indonesia – Bali” oleh I Nengah Tinggen. Bisa jadi atau mungkin saja kata-kata tersebut sama berasal dari bahasa Jawa dimana sejarah leluhurnya suku bangsa Bali berasal dari P. Jawa.

Sebagaimana penutur bahasa Sunda di tanah Sunda Parahyangan demikian juga percakapan dalam bahasa Bali di tanah Para Dewata sangat kental dipergunakan ditengah penduduknya. Para sasterawan Bali giat menulis dalam bahasa Bali. Itulah sebabnya Hadiah Sastra Rancage (arti Rancage adalah cakap atau pandai) adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, yang didirikan oleh budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S, dan beberapa tokoh lainnya. Dimana mulai tahun 1998 hadiah Rancage juga diberikan kepada sastra Bali.

Misal Hadiah Rancage untuk dua tahun terakhir, tahun 2011 Sastra Sunda Karya: Us Tiarsa untuk kumpulan cerpen Halis Pasir. Sastra Jawa Karya: Herwanto untuk kumpulan cerpen Pulo Asu. Sastra Bali karya IDK Raka Kusuma untuk kumpulan sajak Sang Lelana. Tahun 2012 sastra Sunda karya Acep Zamzam Noor untuk kumpulan sajak Paguneman, Sastra Jawa karya Yusuf Susilo Hartono untuk kumpulan sajak Ombak Wengi. Sastra Bali karya Komang Adnyana untuk kumpulan cerpen Metek Bintang (dari Wikipedia)

Berjenis bunga untuk sesajen

Berjenis bunga untuk sesajen

Sejak mula turun di Bandara Ngurah Rai, sudah tercium bau harum dupa, semilir angin wangi bunga yang ditaroh di beberapa sudut dalam wadah berupa sesajen. Orang bali berbicara bahasa Bali yang dengan logatnya yang kental. Juga sudah mulai kelihatan para pendatang berpakaian sebagaimana layaknya para turis pakaian praktis manis dan sekaligus minimalis.

Karena Pulau Dewata ini juga sudah terbiasa menerima para turis baik asing maupun domestik mereka sudah berpengalaman menanganinya, cepat, ramah, dan memuaskan. Para pekerja sektor pariwisata di Bali ini sepertinya sudah terbiasa berbicara tiga bahasa yaitu bahasa Bali, Indonesia, dan Inggris.

Demikian juga para pekerja itu tidak piduit atau mata duitan, membayar sesuai apa yang disepakati sebelumnya. Mungkin hanya pengalaman aku beberapa kali di tempat parkir pemberian uang ditolak. Demikian juga baik dalam belanja maupun misalnya salah satu contoh dalam penyewaan mobil merasa tidak ada unsur penipuan, nampaknya orang Bali mengutamakan kejujuran.

Tempat persembahan sesajian di depan galery Seni Sukawati

Tempat persembahan sesajian di depan galery Seni Sukawati

Penduduknya juga kelihatan begitu sholeh dalam ibadah ritual, ketika aku menunggu kaum ibu belanja di Sukawati, tak hentinya orang yang beribadat membawa sesajen di Pura kecil di depan Pasar Seni Sukawati tersebut. Kelihatan kesemuanya dilakukan oleh perempuan, mungkin laki-laki dalam ibadah lain.

Satu lagi, meskipun banyak yang berpakaian minim tapi tidak berbau mesum atau asusila, dan aku juga tidak menemukan preman atau semacam jawara, sekali lagi itu dari kacamata aku. Dan ada lagi Pulau Bali ini, karena aku terkonsentrasi di P. Bali bagian selatan terus sebelah barat, timur, maupun selatan nampak pantai yang indah bersih dan asri yang bisa melihat sunset dan sunrise yang dipenuhi para turis asing yang berjemur, terpaksa sebagai seorang Aki harus meungpeun carang alias pura-pura menutup mata.

Kebanyakan orang Bali adalah seniman, memang asal muasalnya dahulu menurut cerita adalah para raja dan tentu beserta para bangsawan dari P. Jawa yang eksodus, bedol desa,  membawa para seniman, budayawan, cerdik pandai, sehingga keturunannya terlihat sampai sekarang. Pulau yang indah terus dikelola oleh tangan terampil yang mempunyai selera dan cita rasa seni yang tinggi. Tak heran di setiap sudut terlihat patung yang mengagumkan, dan di setiap tempat ada pertunjukan berbagai macam tarian

Hampir di setiap rumah punya pura, kelihatan dari tingkat 3 hotel Bakungsari. Mungkin seperti mushola di rumah muslim

Hampir di setiap rumah punya pura, kelihatan dari tingkat 3 hotel Bakungsari. Mungkin seperti mushola di rumah muslim

Memang iya agak mengalami kendala ketika aku sebagai muslim jika saatnya waktu sholat tiba, jarang sekali ditemukan mushala atau masjid, masuk akal di Bandung juga mungkin tidak akan ditemukan Pura. Tapi kan bagi yang bepergian jauh bisa diatasi dengan keringanan yaitu dengan sholat dijama. Satu lagi makanan agak susah, tapi kalau dicari kerap ketemu makanan Jawa, Madura, bahkan makanan Sunda yang halal.

Masjid Al Fattah di jl Danau Bratan kawasan Nusa Dua Bali

Masjid Al Fattah di jl Danau Bratan kawasan Nusa Dua Bali

Dan akhirnya aku menemukan masjid tak jauh dari rumah sewa. Lihat ornamen atap dan gapuranya. Betul-betul ciri sabumi cara sadesa, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Galendo Ciamis

Di usia senjaku 66 tahun, yang tinggal jauh dari kampung tempat dilahirkan,  terkadang suka menghayalkan saat-saat yang paling membahagiakan, saat masih kecil usia sekolah dasar. Termasuk kenangan akan makanannya, tidak peduli mahal atau murah pokoknya makanan yang pernah dilahap zaman dahulu itu.

Sederhana saja, makanan tersebut, saat itu makanan yang berada di sekitar kita, aku menyebutnya galendo, galendo adalah produk sampingan dari minyak goreng yang bahannya dari kelapa. Dan menurut aku galendo itu enak.

Yang paling aku ingat tentang makanan yang bernama galendo itu termasuk makanan paling murah, apalagi pembuat home industry  minyak kelapa banyak berada di sekitar rumah di kampung sana jauh di Ciongka Ciamis.

Nah, pada hari ketujuh lebaran 2012, aku sudah berada di kota Ciamis yang terus terang terkenal galendonya sampai ke luar kota, itu dahulu, zaman susah makanan, zamannya sering terjadi kelaparan, dan perkampungan sering diranjah dan dibakar oleh gerombolan DI/TII, yang turun dari gunung Sawal.

Aku ingin galendo yang original yang baru dikeluarkan dari alat pemerasnya yang disebut pangampaan. Pencarian galendo dimulai selagi masih pagi hari, aku berjalan kaki ke pasar kota Ciamis, hari ke 7 lebaran ternyata pasar Ciamis mulai menggeliat, banyak barang dan banyak pembeli. Akan tetapi ketika bertanya di lapak-lapak ternyata galendo tidak dijual di pasar itu, tapi dengan ramahnya (orang pasar Ciamis masih ramah-ramah lho!) menunjukkan tempat mencari galendo yakni di kampung Cigarowek (cigarowek banget ya?), tapi semakin cigarowek semakin semangat aku.

Eh, ternyata hampir di setiap pembuatan minyak kelapa, masih sepi belum ada kegiatan, jelas galendonya tak ada. Dengan ramahnya pula tukang ojek motor terus mengantar ke beberapa pamarudan kelapa dan akhirnya ditemukan pamarudan yang akan mulai membuka tempat membuat minyak kelapanya itu.

Ketika aku menanyakan galendo, pegawai pamarudan tersebut agak heran dalam batinnya barangkali ngomong: “Ada ya orang yang subuh-subuh mencari galendo disaat suasana lebaran, masaih banyak makanan dan kue yang enak-enak, malah ini mencari galendo, dasar aki-aki!”. tapi kan kata-kata itu tidak keluar, hanya perkiraanku yang lebih banyak salahnya, buktinya dia senang saja galendonya ada yang membeli.

Pangampaan Galendo

Ceritanya ketika galendo itu diambil dari jerangan yang minyak kelapanya sudah dipisahkan, galendo tersebut lalu dibungkus dengan semacam bungkusan yang dianyam dari bambu, terus dibungkuskan menjadi empat persegi panjang, lalu dipres atau ditekan dengan alat buatan sendiri yang disebut pangampaan.

Galendo Cigarowek

Dan inilah galendo yang baru dikeluarkan dari pangampaan tersebut. Masih baru (maksudnya kemaren) jadi galendonya masih segar tidak berbau minyak tengik.

Memang iya rasanya masih sama dengan setengah abad yang lalu, tapi ketika diberikan kepada anakku untuk  mencobanya, yang satu tidak mau menyentuh, anak yang lain mencobanya ternyata komentarnya “tidak enak”. Ya ialah, masa rasanya seperti tiramisu.

Aku merenung, bahwa mungkin meskipun sudah banyak dimodifikasi menjadi berbagai rasa seperti rasa coklat, strowberi, dsb, makanan ini tinggal menunggu waktu untuk punah, entah ya itu hanya pendapatku.

Buku-Buku Tentang Bandung

Sampai saat ini sudah banyak buku tentang Bandung telah ditulis, jika Anda ingin mengetahui isi perutnya Kota Bandung, ada baiknya membaca dulu tentang Bandung lewat buku-buku tersebut. Buku-buku itu ada di toko buku, perpustakaan, atau di tempat penjualan buku-buku bekas yang berada di Kota Bandung.

Gambar cover 19 buah buku tersebut saya pajang di bawah ini dari berbagai sumber, mengapa diposting di sini, alasannya biar berkumpul menjadi satu, dan dengan harapan agar mudah mencarinya karena sudah melihat foto covernya.

Seharusnya iya memang buku-buku tersebut dibuat keterangannya lebih jelas,  apalagi jika oleh saya dibaca terus dibuat sinopsis atau resensinya, akan tetapi pertama itu baru cita-cita, keduanya dari sebagian buku-buku tersebut,  saya belum pernah menyentuhnya apalagi memilikinya.

1) Semerbak Bunga di Bandung Raya Oleh: Haryoto Kunto

2) Wajah Bandoeng Tempo Doeloe

3) Braga Jantung Parijs Van Java

4) Bandung Dalam Hitam Putih

5) Balai Agung di Kota Bandung

6) Album Bandung Tempo Doeloe

7) 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur!, Pikiran Rakyat

8) Where To Go Bandung

9) Jendela Bandung Perjalanan Bersama Kompas

10) Peta 100 Tempat Jajan Dan Makan Legendaris di Bandung

11) Jajanan Kaki Lima Khas Bandung

12) Ayo Ke Bandung, Peta Kuliner dan Wisata

13) 100 Bangunan Cagar Budaya Di Bandung

14) Oud Bandoeng Dalam Kartu Pos oleh: Sudarsono Katam

15) Pada Suatu Hari oleh: Alinafiah Lubis

16) Made in Bandung

17) Wisata Parijs van Java oleh: Her Suganda

18) Ciri Perancangan Kota Bandung

19) Ramadhan di Priangan Tempo Dulu oleh: Haryoto Kunto

Ke Cirebon? Sega Jamblang Atuh!

Bandung – Cirebon, sebetulnya dekat saja itu! Kira-kira 130 Km, dengan mengemudi yang tidak terburu-buru dalam 4 jam juga sudah sampai.  Sebagai driver saya sih ok-ok saja dan merasa sangat sanggup mengemudikan mobil menempuh jarak tersebut. Tapi istri saya sebagai co-pilot he he he, selalu bertanya “sanggup nggak?”, “ngantuk nggak?’, maklum umur saya sudah 65 tahun.

Kali ini pergi ke Cirebon untuk menghadiri acara silaturahmi keluarga, waktu penyelenggaraannya hampir 2 minggu setelah lebaran tahun 2011 ini. Mengapa saya sangat PD untuk mengemudikan sendiri, karena jalanan insya allah tidak lagi macet, karena para pemudik sudah berada di tempatnya masing-masing. Disamping itu sekarang adalah musim kemarau biasanya hambatan di jalan karena hujan deras nampaknya tak akan terjadi.

Masih pagi yang jualan tahu sudah siap

Dimana ada kemauan di situ ada semangat, akhirnya dengan hanya berdua saja dengan istri, pada hari H saya sudah sampai di Sumedang pada jam 06:45, maklum berangkat dari Bandung jam 05:00 pagi. Dan sesuai dengan cita-cita dan rencana singgah dahulu untuk makan tahu Sumedang yang masih panas, terlaksana sudah. Perasaan saya setiap makan tahu Sumedang selagi panas-panasnya sepertinya tidak begitu terasa asinnya, baru terasa jika tahunya sudah dingin.

Ternyata di perjalanan selanjutnya lancar saja tuh, habis tidak dipikirkan tentang sulitnya perjalanan, santai saja, bahkan yang diingat hanya makanan.

Sesampai di Cirebon sekitar jam 09:00 langsung ke Pasar Pagi untuk membeli oleh-oleh, kan acara silaturahminya nanti jam 10:00.

Lihat saja macam oleh-oleh yang berada di Pasar Pagi Cirebon seperti di bawah ini:

Ikan asin jambal roti

Ikan asin tipis kering

Kerupuk melarat

Kerupuk kulit

Dan, sesampainya di lokasi silaturahmi ternyata telah disambut oleh makanan pembuka yakni soto, pasnya di Cirebon disebut empal gentong. Daging yang digunakan adalah jeroan berupa  usus, babat, dan lainnya, juga daging sapinya sendiri. Empal gentong ini sudah sering saya makan terutama pada resepsi pernikahan, biasanya disajikan berupa stand khusus empal gentong.

Adapun makanan seriusnya setelah selesai acara silaturahmi adalah sega jamblang atau nasi jamblang.

Sega jamblang

Sega Jamblang (Nasi Jamblang) adalah makanan khas masyarakat kota Cirebon. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah barat kota Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Nasi jamblang dengan lauk pauknya yang lengkap akan tetapi dimasak dalam bentuk keringan, jadi nampaknya tidak ada kuahnya, dan khasnya adalah sambalnya yang berwarna merah memang dari sambal irisan cabe merah. Lihat menu nasi jamblang ada sambal goreng, tahu goreng, tempe goreng, semur hati, perkedel, sate telur puyuh, telur dadar, dan goreng ikan. Ok, enak juga.

Karena acara silaturahmi cepat selesai maka waktu maghrib sore harinya saja sudah berada di Bandung lagi, dengan perut masih kenyang sega jamblang.

Sensasi Pedasnya Keripik Singkong Ma Icih

Iklan keripik Ma Icih

Pernahkah Anda mendengar tentang keripik singkong produk dari Ma Icih? Saya sudah lama mendengarnya, tapi tidak begitu diperhatikan karena itulah cuma sekedar keripik apalagi keripik singkong apa anehnya.

Tapi suatu kali saat saya ngabuburit lewat jalan Peta di Bandung tiba-tiba anak saya yang sedang mengemudi sekonyong-konyong mebelokkan mobil ke tepi dan selanjutnya berhenti.

Ternyata anak saya melihat mobil yang sedang parkir di pinggir jalan, yang  sedang berjualan keripik Ma Icih itu.

Cara berjualannya begitu saja sekumpulan anak muda pakai mobil kemudian langsung saja parkir di tepi jalan, dimana saja sekehendaknya, karena sudah tahu nanti juga pembeli akan berdatangan sendiri.

Mula-mula yang mendatangi mobil penjual kripik itu adalah hanya kami bertiga yaitu saya, istri, dan anak saya.

Penjajanya anak muda bermobil

Eh berikutnya hanya dalam hitungan menit banyak mobil menepi sengaja ingin membeli yaitulah kerikip singkong buatan Ma Icih.

Dalam beberapa saat pembeli berdatangan

Kemasan keripik tersebut adalah seperti ini, setiap bungkus yang dikemas secara apik seberat 1/4 Kg dengan mematok harga Rp 20.000.

Kemasan keripik singkong Ma Icih

Setelah tiba saatnya berbuka puasa anak saya yang mula-mula mencicipi karena demikian penasaran. Dia berteriak-teriak merasakan kepedasan, tapi katanya ingin terus-terusan memakannya.

Menurut saya kalau rasa keripiknya biasa saja tapi memang pedasnya demikian menendang lidah. Mengapa yang “hanya keripik singkong” demikian banyak digemari pembeli. Kemungkinan besar karena rasanya yang pedas menyengat bahkan  mempunyai level kepedasan yang berurut semakin pedas yaitu level 3, level 5, dan level 10.

Terus sensasinya ini diberitakan dari mulut ke mulut, dijual oleh anak-anak muda bermobil jadi cenderung kelas bergensi. Tambahan lagi cara pengemasannya yang sengaja menarik tidak cenderung murahan.

Meski begitu saya suka agak heran dengan jenis makanan yang sederhana bisa menarik demikian banyak peminat, kalau lagi hoki keripik singkong pun bisa naik daun.

Sekali Lagi “Bebecek” Bandung

Satukan dalam panci dan langsung dipanaskan sampai agak kering

Sudah saya tulis mengenai bebecek yaitu kakaren atau sisa-sisa tumis atau sanga masakan dari kenduri atau lebaran. Caranya yaitu beraneka macam masakan yang tidak habis saat lebaran misal tumis buncis, sanga kacang, sekumpulan rendang dan semur, juga beraneka masakan bahan mie dan juga sudah saya sebutkan tumis besengek yang super pedas. Kesemua-muanya dimasukan kedalam satu tempat dan kemudian dipanaskan sampai menjelang kering, diangkat dan langsung dihidangkan.

Jangan malu-malu hidangkan di meja makan

Rasanya memang sejuta, dan ada semi-semi asem, dan karena besengek itu jadinya lumayan pedaaas. Jangan ragu memakannya dengan nasi hangat yang agak pera atau dengan ketupat sisa atau sudah saya sebutkan pasangan paling serasi adalah ulen ketan atau uli kata orang Jakarta.

Eh, yang disamping bebecek yang di wadah besar itu adalah ikan ayam yang telah menjadi abon, asalnya dari kare ayam karena pengunduran lebaran sudah keburu basi. Makanya air karenya dibuang, kemudian dengan bersemangat agak dibasuh sedikit, dan dipanaskan diorak-arik dibuang tulang ayamnya maka jadilah abon yang tak kalah sedapnya.

Kalau saja, sekali lagi kalau, jadi agak sering buang air ke belakang biarkan saja nanti juga sembuh paling-paling karena kepedasan. Kalau saja sih makan bebecek terus-terusan, maklum istri lagi belum ada ide untuk memasak lagi, ya tak apa-apa juga tuh!

“Bebecek”, Kakaren Lebaran

Lebaran tahun ini 2011 atau 1432 H agak istimewa, mengapa?  Karena banyak keluarga yang mengira lebaran akan kompak jatuh pada hari Selasa 30 Agustus, eh ternyata pemerintah mengumumkan lebaran hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Bagi khususnya ibu-ibu di dapur tidak mempersoalkan mengapa lebaran saja sampai tidak kompak, akan tetapi masalah managemen makanan atau pasakan khas lebaran, yang bukan hanya kue yang tahan lama akan tetapi pasakan basah yang mempunyai masa kadaluwarsa.

Banyak rumah tangga yang mempersiapkan ketupat dan kare ayam sejak hari Senin , maksudnya biar buka terakhir sudah bisa takjil langsung kuah ketupat dan kare ayam. Tetapi ternyata itu bukan buka puasa terakhir namun besoknya harus puasa lagi. Oke, tak masalah puasa lagi tapi bagaimana ini, pasakan basah dan tumis-tumis kan makanan yang tidak tahan lama alias cepat basi. Tapi juga itu tidak terlalu persoalan besar karena selalu ada jalan keluar.

Kakaren kalau diterapkan di makanan adalah makanan sisa hajatan atau sisa lebaran. Tumis-tumis, yang kalau di Ciamis disebut sanga, yaitu berupa sanga kentang pakai ati dan petai, sanga kacang, sanga besengek masakan dari bahan cabe yang pedaaas sekali, opor ayam, kare ayam, dan sebagainya. Nah, lebaran ini, karena persiapannya lebih awal jadinya ketika tiba saatnya lebaran tumis-tumis atau sanga-sang sudah mulai basi, dan kalau basi itu rasanya sudah mulai asam.

Seperti tadi saya sebutkan bahwa ibu-ibu di dapur selalu punya jalan keluar agar jangan sampai makanan itu terbuang percuma maka jadilah masakan tersebut menjadi kakaren yang masih sedap kalau disantap. Caranya masakan basah tersebut dimasak dicampurkan menjadi satu dalam kuali yang besar dan orang Bandung punya nama yakni bebecek. Tak peduli campuran masakan itu akan “sejuta rasanya” tapi terus terang kalau dimakan pada hari ketiga atau seterusnya rasanya enak dan nikmat.

Rupa-rupanya saja bebecek yang adalah makanan daur ulang tersebut telah dilakukan ibu-ibu secara turun temurun, sehingga lidah orang Bandung selalu ketagihan makanan kakaren berupa bebecek yang kalau mau jujur dan terus terang rasanya agak sedikit basi malahan sedikit rasa asam, yang kemudian malah jadi enak itu.

Berikutnya karena sekarang zaman rekayasa, coba saja sebagai contoh kopi luwak, aslinya kan memungut buangan biji kopi dari kotoran luwak liar di kebun kopi, akan tetapi selanjutnya malahan sengaja memelihara luwak dan buangan kototorannya itu yang diolah, kan tidak orisinil kali? Demikian juga dengan bebecek bahwa tidak selalu setiap lebaran ada kakaren bahkan boro-boro ada kakaren yang akan dibuat bebecek malahan makanan lebaran sudah habis sebelum hari-hari lebaran berakhir.

Tapi, sekali lagi selalu ada jalan agar tiap tahun merasakan masakan bebecek itu, yaitu dengan sengaja khusus membuat tumis-tumis atau sanga-sanga spesial untuk bebecek beberapa hari sebelum lebaran tiba dan begitu lebaran makanan tersebut sudah bisa dijadikan bebecek yang pasangan disantapnya  akan lebih nikmat dengan ulen ketan dan sekali lagi itu bisa direkayasa dipersiapkan sebelumnya.

Dan bebecek pun di hari lebaran sudah menjadi menu pilihan

bade nyobian bebecek oge aya!” (“mau mencoba bebecek juga ada!”) kata pribumi.