Belajar Membaca Novel Klasik

Meskipun tidak secara berlebihan jadi hanya ukuran biasa saja dan menurut perasaan saya bahwa saya ini termasuk gemar membaca. Media yang dibacanya kelas koran, majalah, atau tabloid, terus kolom-kolomnya berita-berita yang nyata, aktual, dan kekinian. Rubrik lain semisal, budaya dengan seninya, puisi dan sajaknya, sastra dengan segala seluk-beluknya hanya dilirik sepintas saja atau dibaca selintas judulnya saja. Jadi puisi, fiksi, atau cerita rekaan lainnya kalau kata anak sekarang, saat itu, bukan aku banget. Tapi itu sekali lagi dulu ketika masih muda, ketika masih aktif bekerja, masih membanding-bandingkan dan mencari pekerjaan yang take home pay-nya lumayan. Dan terus mengejar pekerjaan dan karir sesuai dengan profesi dan bidang yang digeluti. Itulah juga sebabnya membaca koran atau buku hanya yang penting-penting saja, yang praktis-praktis saja, dan yang nyata-nyata saja, tidak yang fiksi-fiksian.

Ketika usia semakin bertambah mulai berubah, misal dalam bidang atau masalah keyakinan dalam agama tidak cukup hanya mendengarkan kata ustad atau ujar kiai saja, tetapi juga membaca langsung dari sumbernya. Dan untuk mengerti hal-hal baru harus banyak belajar dengan membaca dari berbagai sumber. Dan ilmu atau pengertian-pengertian baru itu harus didekati sehingga sejuta pertanyaan satu demi satu berguguran dengan ditemukan berbagai jawabannya.

Demikian juga saya pernah ingin tahu pengetahuan baru cara budidaya jamur tiram. Pengetahuan mengenai jamur sangat asing dan hal yang baru, jadi harus ada kemauan, ada upaya, ada usaha, banyak melihat, banyak bertanya, dan banyak membaca tentang cara-cara bercocok tanam dan berusaha bidang atau hal jamur yang bisa dikonsumsi itu. Dan karena terus didekati dan ditekuni segala pertanyaan atau kepenasaran ada jawabannya dan ada solusinya. Dan hasilnya saya merasa lumayan mengerti tentang jamur tiram itu, setidaknya jika orang lain berbicara tentang itu saya cepat mengerti.

Kembali ke membaca khususnya puisi dan novel fiksi yang dahulu kalau membaca hanya selewat akan tetapi belakangan ini mulai menyukainya. Biarkan dulu puisi, saya akan mulai menggarap membaca buku-buku novel fiksi klasik, sesuai dengan usia yang semakin senja sukanya cerita masa silam, masa lampau zaman dahulu kala. Tidak hanya tulisan-tulisan pengarang pujangga tanah air saja akan tetapi juga roman-roman klasik dunia.

Tapi, karena dahulu membaca buku novel atau bahkan membaca cerpen pun sangat jarang, maka pengetahuan mengenai sastranya atau seluk beluknya novel fiksi klasik lagi adalah pengetahuan baru yang harus didekati, dipelajari, bahkan dicari jawaban-jawaban pertanyaan mengenai hal tersebut agar bisa merasakan nikmatnya membaca buku novel fiksi yang klasik itu.

Saat ini saya sedang mulai membaca buku novel klasik karya Victor Hugo yaitu “Si Cantik dari Notre Dame” terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Kendala saya dalam membaca novel fiksi yang klasik itu lumayan misal saya belum mengenal gaya menulisnya Victor Hugo, belum lagi banyak tidak mengerti tentang budaya negara lain pada abad ke 15. Jadi saya perlu tahu tentang siapa itu Victor Hugo, dan bagaimana keadaan Prancis saat tahun 1400-an.

Dimana ada kemauan di situ ada jalan, biasanya segala yang ingin kita ketahui yang tadinya tersembunyi mulai banyak yang menampakkan diri. Apalagi zaman sekarang era internet, segala pertanyaan ada jawabnya, tinggal kita yang mempertimbangkannya. Tida lain sekali lagi saya ingin menikmati dalam membaca novel khususnys novel fiksi zaman bahari zaman klasik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s