Ke Yogya Naik Kereta Lodaya

Ke Yogyakarta naik kereta api adalah pilihan yang patut dipertimbangkan karena PT KAI telah melakukan berbagai perbaikan agar penumpang bisa menikmati perjalanan. Kali ini saya ingin bercerita tentang kami tiga bersaudara dengan pasangan suami istri sehingga menjadi rombongan kecil para lansia berjumlah enam orang, melakukan perjalanan Bandung – Yogyakarta pp. Perbaikan PT KAI dimaksud adalah semisal sejak dari Bandung ditemukan beberapa kemudahan seperti stasiun kelihatan lebih tertib, lebih bersih, tidak ada calo tiket, dan tidak ada pedagang asongan yang biasanya berseliweran.

Entah karena apa mungkin angka harapan hidup orang Indonesia naik, ketika mulai masuk gerbong ternyata banyak teman sesama seragam uban. Betul-betul seperti sepasukan “laskar tak bergune” alias sekumpulan para pensiunan. Menjadi lansia usia diatas 60 tahun tidak selalu berwarna kelabu tapi banyak hal yang membawa kebahagiaan. Misal harga tiket KA mendapat potongan 20%, harga tiket kelas eksekutif yang seharusnya Rp 185.000, hanya membayar Rp 148.000 saja.

Di setiap stasiun yang dilewati memang lumayan nyaman tidak direcoki oleh pedagang asongan, tapi disisi lain tidak bisa menikmati kuliner khas tempat yang disinggahi kereta api tersebut.

Maksud utama kami ke Yogya adalah mengunjungi saudara yang sedang sakit. Bepergian rombongan para nini dan aki perlu persiapan yang matang seperti transportasi, penginapan, dan makanan harus yang relatif baik, sehat, aman, dan murah… apa ada ya? Ada misal penginapan, menemukan homestay yang bangunannya bergaya kolonial bernama penginapan “Ndalem Suratin” yang terletak di jalan AA Sangaji Yogyakarta. Tarif per malam disebut “Tulip Room” Rp 298.000 dengan perlengkapan biasa ac, water heater, free coffee, dan sarapan pagi, tempatnya untuk keluarga ok, hanya sayang agak jauh dari Stasiun harus naik kendaraan minimum naik beca.

Meskipun maksud utama bersilaturahmi tapi ketika segala urusan sudah beres maka seperti peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, atau jangan kena ungkapan “ke Mekah tak ke Madinah” maka sekalian ke Yogya tidak lupa plesiran ke Solo untuk sedikit belanja oleh-oleh di Pasar Klewer dan tidak lupa wisata kuliner.

Sewa kendaraan kijang 12 jam Rp 275.000, tambah bensin Rp 150.000, ngajak sopir makan, dan tip Rp 50.000. Dan kami pergi ke Solo tak lupa kaum ibu membeli pakaian batik, terus karena dapat informasi kuliner kami tidak ingin melewatkan kesempatan bagitu saja. Yang kami nikmati adalah serabi Notosuman yang rasanya emh kenyal dan lembut, terus Soto Gading memang istimewa dan enak rasanya, satu lagi sosis Solo yang beda dan gurih. Dua jam saja kami di Solo.

Di Jogya pun kami mencoba berbagai gudeg pertama gudeg “Bu Citro” yang agak kering dan hebat, kemudian gudeg “Yu Djum” yang untuk oleh-oleh, dicoba juga gudeg pinggir jalan penjualnya si mbok yang ngambil ayamnya dengan tangan begitu saja, tapi ya enak dan nikmat juga.

Demikian perjalanan 2 hari para gaek ke Yogyakarta, perjalanan yang cukup memuaskan dan relatif tidak menemukan kesulitan.

One thought on “Ke Yogya Naik Kereta Lodaya

  1. wah senang sekali menemukan blog Anda dari blognya ibu Made (saya tidak tau harus memanggi Anda dengan sebutan Bapak, Kakek, atau Opa?) hehe. Kebetulan saya tinggal di Solo dan sepertinya anda melewatkan satu kuliner yang maha dahsyat yang harus dicoba di Solo: Nasi Liwet😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s