Sepiring Ikan Mujahir…

Sepiring Ikan Mujahir

Sepiring Ikan Mujahir

Baru-baru ini saya pulang dari kampung halaman yaitu dari Ciamis bagian utara, kalau menyebutkan Ciamis bagian utara termasuk Baregbeg, Cipaku, Kawali, Panjalu, Panawangan, dan lainnya lagi kesemuanya termasuk nama kecamatan dari Kabupaten Ciamis, jawa Barat.

Sewaktu kembali ke Bandung dioleh-olehi makanan khas Ciamis kaler tersebut, salah satunya sebungkus goreng ikan mujahir. Sesampai di Bandung oleh istri saya ikan mujahir tersebut digoreng kembali terus disimpan di meja makan. Dan tiba-tiba saja saya teringat akan masa kecil usia sekolah SD dan SMP tahun 50-an sampai awal 60-an cerita tentang ikan, khususnya ikan mujahir. Maka saya ambil kamera dan jadilah judul postingan “Sepiring Ikan Mujahir”.

Di Ciamis kaler tahun 50-an dimana air mengalir di parit, di sungai, tergenang di kolam, masih jernih seperti baru keluar dari mata air. Tak mengherankan jika air di sawah oleh para petani yang mencangkul jika kehausan langsung diminum. karena demikian melimpah ruahnya air yang keluar dari mata air, maka banyak keluarga yang memiliki kolam pemeliharaan ikan untuk dikonsumsi sendiri atau kalau ada kelebihannya dijual.

Dalam cerita-cerita pendek berbahasa Sunda sering disinggung mengenai bagaimana kalau Bupati dizaman kolonial turun ke Desa, menyalurkan kesukaannya akan menangkap ikan di sungai, dan cerita bagaimana nikmatnya menikmati pepes ikan. Pepes Ikan mas bibit adalah ikan yang biasa dijadikan indukan untuk dipijahkeun biar didapat anak-anak ikan baru. Ikan mas bibit tentu ada telurnya, telur ikan itulah yang melengkapi kelezatan pepes ikan mas bibit.

Karena budaya memelihara ikan di kolam dilakukan secara turun temurun tentu saja kemampuan warganya dalam mengelola ikan dan kolam sudah lihai. Misalkan saja bagaimana cara memijahkan ikan, membesarkan, dan cara-cara menangkap ikan yang paling aman tidak mengganggu ikan yang lain. Demikin juga dalam hal memasaknya dari mulai digoreng, dipanggang, dibakar, dipindang, disop, dan dibuat dendeng biar ikan tahan lama.

Ikan kolam juga berkasta-kasta ha ha ha, yang paling tinggi dan bisa disuguhkan ke Bupati adalah ikan gurami atau ikan mas bibit. Berikutnya adalah kelas perasmanan biasa yaitu sejenis tawes, tambak, nilem, beureum panon. Kemudian kelas terakhir adalah termasuk kelas paria hehe he yaitu ikan mujahir. Tidak tahu mengapa ikan mujahir hak azasinya demikian dipinggirkan, kemungkinan karena ikan mujahir itu, apalagi kurang pelihara, kepala besar, banyak tulangnya, dan tulang ikan mujahir termasuk keras.

Zaman saya kecil dimana kala hari raya ibi-ibu membawakan penganan lengkap masing-masing ke masjid, untuk dimakan lagi sendiri setelah dipanjatkan doa, disebut sidekah, tidak ada yang berani membawa mujahir kasta paria itu, gensi atuh.

Meski mujahir dianggap ikan tidak berkelas, akan tetapi zaman sekarang telah dibudidayakan menjadi ikan nila. Juga menurut saya ikan mujahir bujigjrig itu enak jika dipindang manis dengan gula jawa hingga empuk ketulang-tulangnya, atau diambil ketika masih keci alias baby mujahir dan digoreng garing sehingga krauk..krauk..

Yang lucu sepiring ikan mujahir yang saya sebutkan di awal ternyata akhirnya habis juga, termasuk dimakan oleh saya yang mulanya menolak…

4 thoughts on “Sepiring Ikan Mujahir…

  1. Walau dimasukkan ikan kurang berkelas tapi dagingnya enak Pak Eman. Aku suka banget kalau dikuningin

  2. Bu Made, ibu anda tahu bahwa yang namanya ikan adalah sumber protein, mangkanya Bu Made pintar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s