Meresmikan Tali Kasih di Bukittinggi

Sampai usia pensiun yakni 55 tahun saya belum pernah menginjak tanah Sumatra, padahal cita-citanya sebelum tua renta, selagi masih kuat dan sehat, sangat ingin datang ke sana. Suatu kali pernah akan diajak anak cikal ke Palembang diajak menikmati makanan khasnya pekmpek, tapi ternyata tidak terlaksana. Demikian juga mantu pernah mengajak ke seberang saja ke kota Lampung, sekedar ada cerita pernah datang ke Pulau Andalas, eh gagal juga. Akhirnya hampir putus asa (padahal jangan berputus asa, sebab putus asa adalah dosa!) karena usia terus merayap sampai berumur 67 tahun belum juga ada kesempatan ke sana.

Milik teu pahili-hili, bagja teu paala-ala, demikian peribahasa Sunda menyebutkan bahwa artinya rizki tidak akan tertukar, kalau sudah kepastiannya begitu, ya terjadilah. Asal mulanya anak bungsu lelaki saya yang masih bujangan tertarik kepada seorang gadis asal Bukittinggi. Demikian kuatnya rasa cinta, tingginya tarikan kasih, sampai kepada keinginan membuktikan tali kasih itu menjadi sebuah tali pernikahan. Seiring berjalannya waktu ternyata jalan ke arah perkawinan semakin mendekati kenyataan. Kami sebagai orang tua setelah melihat bahwa anak saya demikian menyayangi dan mencintai anak daro dari rantau, anak Minang, dan sekali lagi putri dari Bukittinggi. Akhirnya kedua orang tua sepakat untuk menikahkannya di Sumatra Barat, di Ranah Minang, di pangkuan bundo kanduang, di tingginya perbukitan Bukittinggi.

Dan… akhirnya, tariknya jodoh yang dicanangkan oleh yang empunya penentu nasib, dua insan, satu lelaki dari tanah Sunda dan satu lagi anak daro cantik asal Bukittinggi ketemu di akad nikah, bersanding di pelaminan. Kami sadulur dari Bandung, dan pihak besan serta ninik mamak dari Ranah Minang turut bersyukur dan berbahagia atas pernikahan anak-anak kami tersebut.

Saya beserta istri ditambah anak dan mantu, ditambah lagi cucu empat total sebelas orang dari jauh sebelumnya telah booking tiket pesawat dari JKT – PDG pp. Kemudian peserta menjadi bertambah banyak karena beberapa saudara dan juga keluarga besan dari si cikal turut serta, sehingga total jendral 25 orang. Saya sangat terharu karena mereka termasuk keluarga anak-anak saya datang dengan mengeluarkan biaya sendiri. Tak disangka penerimaan besan di Bukittinggi juga demikian senang atas kedatangan kami. “Serasa banyak yang menyetujui dan banyak yang merestui” kata pihak besan, ketika saya memohon maaf atas banyaknya anggota yang datang, karena batin saya pribumi akan kerepotan karena ternyata pribumi sering sekali menjamu makan, maklum lima hari begitu…

Kami pihak pria telah menyerahkan segala acara yang akan dilalui sepanjang akad dan resepsinya kepada pemangku hajat yaitu pihak wanita. Ciri sabumi cara sadesa, yang artinya setiap tempat punya tradisi sendiri, atau dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tentu memang masing-masing mempunyai budaya sendiri-sendiri. Tapi insya allah mereka terutama pengantin baru dapat membina rumah tangga yang diridhai Allah SWT penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan harus dicari dan diperjuangkan, bahkan mungkin pengorbanan perasaan dan ego masing-masing, insya allah sekali lagi kebahagiaan akan datang.

So… saya aki-aki tujuh mulud hejo cokor badag sambel, pasti banyak yang tidak mengerti artinya, tentu saja saya juga tidak begitu faham maksudnya. Hanya akhirnya sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, saya dengan bangga memproklamirkan bahwa saya telah pernah menginjakan kaki di Pulau Sumatra, dan bukan main-main di tanah sejuk nan paginya berembun, tanah berbukit dan bertebing, tanah elok tak terperi di Bukuttinggi.

Sekian dahulu…

4 thoughts on “Meresmikan Tali Kasih di Bukittinggi

  1. Alhamdulillah akhirnya dijabah Allah niatnya ya, Pak, sampai di Bukittinggi..:)

  2. oh iya bu evi, saya sangat bersyukur bisa datang ke Bukittinggi. terima kasih sudah berkunjung

  3. Kang, abdi Iwan ti Majalah KARSA Bandung. Ieu teh memang majalah ekonomi, da nu kagunganana ge Pa Burhanuddin Abdullah (ex-Gub BI), tapi taya lepatna pami lalampahan salira urang pidangkeun, babakuna nu aneh-aneh ti daerah. Mugi we sing aya mangpaatna kanggo balarea. Nuhun

    Iwan Tega
    Rmh: 022 – 87880011
    HP: 0852 2065 2045
    Email: iwantega62@gmail.com

  4. Kanggo Iwan Tega, mangga teh teuing ari kaango mah, pribados mah atoh bae nu aya. Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s