Ukuran Sopan Santun

Anak sulung saya beserta kelurganya tinggal di Jakarta, sedangkan anak nomor dua dengan kelurganya memilih tinggal di Bandung.

Ketika saya menengok cucu yang di Jakarta itu kelas 2 SD, keberatan jika Akinya yaitu saya, yang coba-coba berbicare ala Jakarte. Saya menyebutkan diri saya “gue” hanya iseng-iseng dengan istri.
“Mamah Aki bilang “gue”!” Laporan kepada ibunya. Saya baru tahu bahwa menyebutkan diri dengan “gue” bagi anak-anak dianggap tidak sopan.

Lain kali, cucu yang di Jakarta itu berkunjung ke Bandung dan bertemu dengan cucu saya yang urang Bandung banget kelas 3 SD. Nampaknya cucu yang orang Jakarte biasa sekali menyebutkan nama temannya atau adiknya didahului dengan panggilan “Si”
Giliran cucu, yang saya sebut orang Bandung itu, lapor kepada ibunya: “Mamah Dafif memanggil orang pakai “Si”!”
Saya hanya tersenyum.

Sewaktu masih muda, karena pekerjaan, saya merantau dan tinggal sekeluarga cukup lama di Kalimantan Timur. Kebetulan kakak laki-laki ikut serta ke sana. Suatu saat dia mengemukakan kekesalannya hanya karena rekan sekerjanya yang seumur memanggil dia dengan sebutan “kamu”.
Kamu dalam bahasa Sunda adalah maneh atau sia. Dan itu menurutnya kasar sekali.

Apa sih kesopanan itu, menurut KBBI adalah adat sopan santun, tingkah laku tutur kata yang baik, tata krama. Meski dengan catatan bangsa-bangsa di dunia mempunyai nilai kesopanan yang berbeda-beda.

Bahasa Sunda Banten, bahasa yang dipakai adalah ragam bahasa yang sama. Sama dalam arti tidak mengenal undak-usuk bahasa seperti bahasa Sunda Priangan termasuk Bandung, atau apalagi bahasa Jawa. Bahasa yang sama, kaprah, setara, tidak mengenal tingkatan-tingkatan kata bahasa asing disebut egaliter (Ki Hasan). Bukan hanya bahasa Banten yang bangga dengan bahasa yang bersifat egaliter, dan demokratis juga budaya Minangkabau. Bahasa sangat besar pengaruhnya pada budaya. Orang Minang bahwa bahasa mereka adalah bahasa yang egaliter, demokratis, dan tidak feodalis.

Bahasa minang hampir sama dengan bahasa Melayu yang punya sipat egaliter. Kita bangsa Indonesia beruntung para pendiri negeri ini memilih bahasa Indonesia yang egaliter dan tidak feodalis.

Posted from WordPress for Android

One thought on “Ukuran Sopan Santun

  1. menurut pendapat saya, bahasa daerah mulai dibatasi penggunaannya oleh masing-masing kita, misalnya digunakan pada lingkungan keluarga, lingkungan teman sedaerah, khususnya penggunaannya akan lebih baik dikantor kita menggunakan bahasa Indonesia, walaupun kantor tersebut ada di Bandung, atau kalau sedang ngobrol, ada teman kita yang berasal dari suku lain, kita jangan menggunakan bahasa daerah, karena kurang cantik sepertinya” bukankah kita sudah berikar pada tanggal 28 Oktober 1928 bahwa “berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia” bukan bermaksud menghilangkan semangat kedaerahan……tetapi kita harus membangun “nasionalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s