Resensi Buku “Teu Pegat Asih” Soeman Hs.

Buku Teu Pegat AsihJudul buku: Teu Pegat Asih, Pengarang: Soeman HS., Didongengkan dalam bahasa Sunda oleh: Moh. Ambri, Penerbit: PT. Kiblat Buku Utama, Cetakan ke 2 tahun 2007, jumlah halaman: 62, jenis kertas: HVS, harga buku Rp 20.000

Yang menarik dari buku ini pertama sangat tipis hanya 62 halaman sehingga harganya terjangkau, kedua ditulis dalam bahasa Sunda oleh Moh. Ambri penulis terkenal pada zamannya, ketiga pengarang aslinya Soeman Hs., seorang penulis Angkatan Balai Pustaka.

Dua-duanya adalah pengarang terkenal, Moh. Ambri  (Sumedang, 1892 – Jakarta, 1936) adala sastrawan realis Sunda. Beliau menerbitkan 6 judul buku karangan asli dan 16 buku terjemahan dan saduran diantaranya buku “Teu Pegat Asih”. Soeman Hs. (Bengkalis, Riau, 1904 – Pekanbaru, Riau 1999) siapa yang tak kenal akan beliau seorang sastrawan angkatan Balai Pustaka. Dari 6 buku karyanya satu diantaranya berjudul “Kasih Tak Terlarai” pertamakali terbit tahun 1930 oleh Penerbit Balai Pustaka. “Kasih Tak Terlarai” inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi  “Teu Pegat Asih”.

Ceritanya dimulai dengan: Ada seorang jejaka bernama Taram anak pungut orang biasa ketua kampung, dan ada seorang gadis bernama Nurhaida anak seorang berada, remaja berparas cantik bintang kampungnya yang sangat dicintai oleh Taram, ternyata kasihnya tidak bertepuk sebelah tangan.

Akan tetapi ketika Taram melalui orang tuanya mengajukan lamaran dengan serta merta ditolak oleh orang tuanya  yakni Ence Abas. Ence Abas adalah orang kaya yang menginginkan menantunya kelak juga orang kaya, bermartabat, dan seorang yan alim ilmu agama. Tentu saja Taram sangat kecewa dan sakit hati.

Nurhaida berikrar dan bersumpah dalam hatinya bahwa tidak akan mempunyai suami selain kepada Taram. Pada suatu malam seluruh kampung ramai bahwa Nurhaida menghilang. Ternyata dibawa oleh Taram yang dalam pelariannya itu menyamar sebagai seorang Cina yang sedang mengurus penyembelihan dan pengiriman hewan babi. Selanjutnya dibawa merantau ke Singapura, kemudian menikah dengan wali hakim. Diceritakan karena Taram adalah seorang yang rajin berusaha dan bekerja maka hidup berumah tangganya penuh kesenangan akan harta dan kebahagiaan dalam percintaannya.

Akan tetapi lama kelamaan istrinya merasa rindu akan orang tua dan kampung halamannya, atas ajakan kerabat Nurhaida yang tak bosan-bosannya merayu untuk pulang ke orang tuanya. Lama kelamaan Nurhaida terbujuk juga saking sudah rindunya untuk pulang. Sementara tentu suaminya belum lagi akan mengijinkan, maka disaat Taram sedang pergi, sehubungan dengan usahanya yang memakan waktu 2 malam, Nurhaida dan kerabatnya pergi tanpa pamit menuju kampung orang tuanya, dan Nurhaida diterima baik oleh bapaknya Ence Abas.

Lama kemudian ke kampung Ence Abas datang seorang Arab yang usahanya berjualan obat-obatan, dan diceritakan orang itu sangat alim dan dipercaya oleh orang kampung untuk menjadi guru agama yang dari dahulu sangat dibutuhkan, demikian oleh Ence Abas bahwa Syeh tersebut sangat disayangi bahkan akan dikawinkan dengan anaknya Nurhaida yang sudah janda karena dicerai oleh suaminya terdahulu.

Cerita berakhir dengan happy ending sebab meski mula-mula Nurhaida tak suka, akhirnya berbuah kebahagiaan karena belakangan ketahuan bahwa Syekh tersebut adalah Taram yang dicintainya.

Menarik dari buku ini karena bahasanya mudah dipahami, tidak berbelit-belit, meskipun mula-mula si tokoh cerita mendapatkan kesukaran untuk berjodoh tapi karena cintanya yang tak lekang berakhir dengan kebahagiaan juga. Buku asli karya Soeman Hs. ini dicetak tahun 1930 tentu saja banyak cerita lama yang jauh sangat berbeda dari masa kini, misal diceritakan bahwa Taram dan orang tua angkatnya baru saja masuk agama Islam.

Kelemahan terletak pada akhir cerita dimana Taram tahan lama menyamar sebagai Syekh yang memakai kumis dan janggut palsu, lama penyamaran tidak terbongkar, padahal sangat mungkin cepat ketahuan misalnya dari postur dan suara. Sedangkan terjemahan ke dalam bahasa Sunda oleh Moh. Ambri dalam buku itu sama sekali tidak disebutkan judul  buku asalnya meskipun memang penulis aslinya disebutkan.

Kebaikan buku ini adalah seperti kata Duduh Durahman, bahwa Moh. Ambri telah berhasil memindahkan suasana “asing” kepada suasana yang kena dengan rasa orang Sunda, sambil “keasingannya” masih tetap utuh.

Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh remaja hingga tua, untuk mengenal budaya lain pada zaman dahulu, bagi pemula berkenalan dengan pengarang sastrawan bermutu Angkatan Balai Pustaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s