Naik Spoor Mundur…

Aku tinggal di Bandung, adik sekeluarga berdomisili di Cirebon, dan adik bungsuku itu merencanakan mengawinkan anak laki-lakinya di Semarang. Terus dengan sangat, meminta agar aku sebagai sesepuh yang menyerahkan calon pengantin pria kepada keluarga calon besan, itu dilakukan sehari sebelum hari pernikahan dalam acara seserahan. Maka tidak ada pilihan lain aku dan istri harus datang ke Semarang pada waktunya. Kalau bepergian, sepanjang tidak ada aral melintang aku selalu ok saja, asal badan sehat, dan satu lagi ada bekalnya…

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Posisi duduk di kelas eksekutif KA Harina

Adapun jadual kereta api Bandung – Semarang adalah dari Bandung berangkat malam jam 20:30 dan sampai di Semarang pukul 05:06 (8.5 jam) keesokan harinya. Demikian juga dari Semarang ke Bandung berangkat pukul 20:30 dan sampai di Bandung keesokan harinya jam 04:58.

Tarifnya kalau pemberangkatan hari-hari week end yakni Sabtu dan Minggu lebih mahal ketimbang hari-hari week day. Misal aku dan istri berangkat hari Kamis di bulan September 2012 tarifnya kelas eksekutif Rp 155.000, kelas bisnis dewasa Rp 110.000 dan bisnis anak Rp 88.000. Sementara untuk Semarang – Bandung pada hari Sabtu tiketnya adalah kelas eksekutif Rp 185.000, kelas bisnis dewasa 140.000 dan anak-anak Rp 118.000.

Yang aku dan istri tumpangi adalah kereta api Harina kereta api eksekutif  yang melayani Bandung – Semarang Tawang. Nama Harina konon diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah kijang. Rute yang dilewati cukup unik, dari Bandung tidak ke arah timur melainkan ke arah barat dulu menuju Cikampek, sampai Cikampek kemudian lokomotifnya diputar dan terus berbalik ke arah timur melewati Cirebon, Tegal, Pekalongan, sampai Semarang Tawang.

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Spoorweg, Peta rel KA masa dibuat dahulu

Ceritanya aku dan istri sudah ada di atas kereta api Harina tersebut, pikiranku melayang ke belakang, meskipun aku tidak mengalami, tapi dari buku yang aku baca yaitu buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” oleh Haryoto Kunto bahwa pemasangan rel kereta api dari Batavia ke Bandung, lewat Bogor dan Cianjur, diresmikan pada tanggal 17 Mei 1884.

Berikutnya Staats Spoor yaitu Perusahaan Kereta Api Negara saat zaman kolonial Belanda, juga membuat rel kereta pada tanggal 23 Februari 1918 yaitu jalur  K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali (kesemuanya ada di sekitar Bandung). Sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, namun tak pernah menjadi kenyataan.

Lima puluh tahun kemudian sejak sambungan dari Batavia ke Bandung lewat Bogor, pada tanggal 1 November 1934 diresmikan  jalan baru melalui Cikampek Purwakarta.

Jalur K.A. :  Bandung – Rancaekek – Jatinangor – Tanjungsari – Citali,  yang sebetulnya direncanakan terus ke Sumedang, tidak pernah menjadi kenyataan, bahkan jika saja Bandung – Sumedang rampung, maka ada kemungkinan dibuat rel kereta apai Sumedang – Cirebon.

Karena jalan Bandung – Cirebon dengan kereta api jalannya tidak dibuat oleh Staatsspoor, maka pertama KA Harina harus ke utara barat dahulu sejauh 75 km, keduanya penumpang naik kereta Harina dari Cikampek ke Semarang Tawang terus-terusan sejauh 466 km-an dalam posisi mundur.

Meskipun jalan KA harina mundur, karena kursi tidak bisa diputar, kecuali kesepakatan bersama penumpang lain, tidak masalah, apalagi perjalanan malam hari dimana penglihatan ke luar gelap gulita, atau gelap-gulita karena kebanyakan tidur ya?

Naik KA Harina Bandung – Semarang atau sebaliknya Semarang Bandung secara umum relatif memuaskan, apalagi di Stasiun lebih tertib, bersih, dan nyaman pertama tidak ada calo, kedua aman karena tidak sembarangan orang bisa masuk Stasiun, terus juga pedagang, termasuk pedagang asongan sudah tidak ada.

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

KA Harina saat pulang dari Stasiun Semarang Tawang menuju Bandung

Demikian perjalanan Bandung – Semarang pp dengan KA Harina berjalan dengan lancar dan cukup memuaskan. Demikian juga dengan acara pernikahan keponakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang berjalan dengan sukses.

Saat pulang ke Bandung harus posisi mundur lagi yaitu dari Cikampek ke Bandung sejauh 75 Km, tak masalah karena tidur lagi…

One thought on “Naik Spoor Mundur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s