Dasar, Si Borokokok…!

Anda pernah mendengar tokoh imajinatif budaya Sunda Si Kabayan? Si Kabayan adalah tokoh yang dianggap lucu, polos, bisa cerdas, tapi juga bisa menjadi tokoh pemalas atau tokoh yang tidak patut untuk ditiru. Seperti tokoh lain Abu Nawas atau Nasrudin cerita mengenai Si Kabayan telah ditulis oleh banyak pengarang Sunda diantaranya Si Kabayan oleh Utuy Tatang Sontani (1959), Si Kabayan Manusia Lucu oleh Achdiat Karta Mihardja (1997), Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang oleh Achdiat Karta Mihardja, Si Kabayan dan beberapa dongeng Sunda lainnya oleh Ayip Rosidi (1985), Si Kabayan jadi Wartawan oleh Muhtar Ibnu Thalab (2005), Si Kabayan jadi Dukun oleh Moh. Ambri, Kabayan Bikin Ulah (2002, komik kompilasi), dan ada beberapa lagi.

Bukan hanya berbentuk buku cerita tentang Si Kabayan ditulis orang, akan tetapi juga dalam rupa film, seperti film Si Kabayan (1975), Si Kabayan Saba Metropolitan (1992), Si Kabayan Cari Jodoh (1994), Kabayan Jadi Milyuner (2010), dan beberapa lagi film lainnya. Dalam film Si Kabayan itu ada tokoh lain yaitu Nyi Iteung sebagai istri Si Kabayan, dan mertua lakinya dalam bahasa Sunda mertua itu disebut mitoha. Nah, karena Si Kabayan ini tokoh yang malas dan meskipun seringnya lucu, dalam pandangan mitohanya Si Kabayan itu menyebalkan (pikasebeleun) dan punya gelar “Si Borokokok”.

Perilaku-perilaku lain yang pikasebeleun dalam ungkapan bahasa Sunda ada beberapa lagi misal “Si Atah Adol”, “Si Tukang Ngabuhiam” Si Purunyus”, “Si Bangkawarah”, bahkan “Si Dodol” ini semua kalau mau mengambil istilah dari Pak Mario Teguh adalah perilaku yang “not cool” lawan dari perilaku “not cool” atau yang terpuji adalah yang “cool”, dan kebalikan dari “Si Borokokok” dalam cerita Si Kabayan itu dipuji sebagai “Si Kabayan tea atuh!”.

Perilaku tidak terpuji dari para pemimpin baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yaitu  korup, kolusi, dan nepotis adalah juga termasuk kelompok yang perlu disebut Si Borokok! Dari kelompok eksekutif umpama para pemimpin daerah misal bupati seyogianya menjadi contoh tauladan atau panutan warganya. Makanan berupa dodol dari Garut memang enak tapi kalau pemimpin daerah yang dodol! Termasuk kategori Si Borokokok!

Memang kita tidak perlu heran dengan para pemimpin daerah semisal dari 400-an lebih Bupati dan walikota se Indonesia ada saja yang dodol atau Si Borokokok! itu.

Apakah ada hubungannya dengan perilaku beberapa Bupati zaman dahulu saat kolonial Belanda? sewaktu zaman menak yang biasa dimemenan dan dienak-enak, banyak saja perilaku para Bupati yang patut diberi gelar Si Borokokok ini. Misal saja dari tiga godaan bagi para pejabat yaitu harta, tahta, dan wanita, banyak yang tidak tahan dengan wanita.

Bupati dan Bawahannya di daerah

Bupati dan Bawahannya di daerah

Dalam eseynya A Sobana Hardjasaputra berjudul “Nyangrah” yang dimuat di majalah bulanan Sunda Cupumanik bulan September 2008 bahwa perilaku pejabat pemerintah yang tidak harus ditiru sebagai berikut:

Di Tatar Sunda dahulu, sampai ke akhir abad ke 19 yang disebut “nyangrah” diterapkan kepada salah satu hak istimewa bupati, yaitu meminta sesuatu kepada bawahan atau rakyat di wilayah kekuasaannya.

Kebiasaan begitu utamanya jika bupati turni ke wilayah kekuasaannya. Kalau sedang berkunjung disediakan pesangrahan dan selalu disertai lurah atau kuwu di tempat itu. Kalau ada kemauan biasanya bertanya dahulu. Misalnya melihat seekor kuda yang bagus yang bupati seperti menginginkannya. “Bagus kuda itu, Siapa pemiliknya Lurah?” Dijawab Ki Lurah: ”Itu kan milik dalem sendiri…” Kuda itu biasanya diberi tanda dengan digunting bulu surinya. Seterusnya kuda tersebut diantarkan ke pusat kota sekalian mengantar bupati.

Kalau kuda biarlah hanya binatang, Bagaimana kalau bupati melihat yang bening? Mojang langsing. Kalau sudah disangrah nggak bisa menolak. “Anak itu begitu cantik, anak siapa itu Lurah?” begitu kata bupati kalau melihat gadis yang disukainya. Ki Lurah, Orang tua anak itu, demikian juga Nyi Mojang tidak bisa lagi menolak meskipun bakal menjadi selir bupati yang ke sekian belas atau bahkan yang ke sekian puluh.

Juga dalam bukunya “Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800 – 1942” Dr. Nina H. Lubis pada judul Perkawinan dan Konkubinasi menulis: Kaum menak Priangan pada umumnya melakukan poligami (beristri lebih dari satu) dan konkubinasi (berselir banyak). Disamping istri resmi (yang dinikahi) ada juga istri-istri tidak resmi (yang tidak dinikahi). Salah seorang istri resmi berkedudukan sebagai garwa padmi yang setaraf dengan permaisuri seorang raja. Istri yang bukan padmi biasa disebut garwa leutik. Istri yang tidak dinikahi biasa disebut parekan (selir).

Jika menemukan bupati yang not cool sebut saja “Si Borokokok!” tapi kalau ada pemimpin atau dalam istilah Majalah Tempo sebagai Bukan Bupati biasa karena jasa-jasanya memajukan wilayahnya sebut saja bupati cool atau “Siapa dulu bupatinya atuh!”.

 

3 thoughts on “Dasar, Si Borokokok…!

  1. Meunii pikaseurieun eta dongeng na , atur nuhun x kabayan atas dongeng na . Tong hilap si iteung na cangcang ameh t0nk lepas .

  2. Enya atuda bagimana atuh pejabat koruptor teh mani teu euih-euih, teu boga kaera, teu boga kasieun dasar Si Borokokok!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s