Pengarang Lawas Cerita Tentang Aloen-Aloen Bandoeng

Alun-alun Bandung 1900

Alun-alun Bandung 1900

Ketika aku membaca buku “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) karya Haryoto Kunto disebutkan pada tahun 1900-an di tengah kota yakni Alun-alun Bandung pagi-pagi demikian sejuk, dan yang istimewa, masih kelihatan halimun atau kabut, kalau sekarang ini tahun 2012 bahkan lama sebelum itu mana ada kelihatan halimun turun gunung ke alun-alun.

Sehubungan dengan cerita mengenai Jalan Asia Afrika Bandung, dimana jalan ini mempunyai sejarah panjang sejak zamannya Herman Williem Daendels membuat jalan dari Anyer ke Panarukan pada tahun 1810-1811. Nah, di sepanjang jalan tua ini berderet juga bangunan yang tak kalah tuanya, seperti disebutkan oleh Bandung Heritage ada banyak bangunan yang ada di tepi jalan Pos tersebut, Walanda menyebut jalan tersebut groote posweg.

skyscrapercity.com. Alun-Alun Bandung tahun 80-an (1987-1988)

skyscrapercity.com. Alun-Alun Bandung tahun 80-an (1987-1988)

Adapun letak alun-alun Bandung dibatasi sebelah selatan jalan Dalemkaum sebelah utara Jl Asia Afrika, sebelah timur jl Alun-alun Timur, dan di barat kelihatan Masjid Agung Bandung dan Hotel Swarha.

Bangunan-bangunan zaman baheula yang ada disekitar Alun-alun Bandung atau di sepotong jalan Raya Pos, sekarang masih tetap berdiri yaitu Kantor Pos Besar atau Posten Telegraf Kantor (1928-1931), Bank Mandiri (1915), P.T. Asuransi Jiwasraya tahun (1917-1920) Bank Mandiri (1912).

Ngomong-ngomong apa sih alun-alun itu? Alun‑alun adalah sebuah lapang­an terbuka di pusat kota, yang meru­pakan ciri tradisional kota‑kota di Pulau Jawa. Menurut Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. Alun-alun bisa di desa, kecamatan, kota maupun pusat kabupaten.

Sejak masa Islam alun-alun sebelah baratnya dilengkapi dengan berdirinya sebuah masjid tempat beribadah, demikian juga di Alun-alun Bandung terdapat masjid yang dahulu bentuk atapnya umpak tiga dengan kerucut ke atas dimana saat itu orang Bandung menyebutnya Bale Nyungcung.

Yang lumayan banyak cerita mengenai Alun-alun Bandung kata Kang Hawe Setiawan adalah Sjarif Amin atau Muhammad Koerdie (Ciamis, 7 September 1907 – Bandung, 1991). Sjarif Amin adalah tamatan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sekolah zaman Belanda setingkat SMP kini. Di MULO murid-murid belajar menguasai bahasa Belanda. Bahasa inilah–selain bahasa Sunda dan bahasa Melayu yang suka dipakai untuk menerjemahkan karya sastra Eropa terbitan Balai Pustaka–yang turut menghubungkan Sjarif Amin dengan sastra dunia, tak terkecuali dengan karya Karl May.

Buku Karangan Syarif Amin

Buku Karangan Syarif Amin

Dalam buku tulisan Sjarif Amin  “Keur Kuring Di Bandung” 1983  (Saat Aku Di Bandung) judul tulisannya “Sampalan Tengah Nagara” (Tegalan Tengah Negara) bercerita tentang alun-alun itu . Saat menulis buku ini beliau berusia 76 tahun, beliau meninggal pada usia 84 tahun.

Buku “Keur Kuring Di Bandung”, kalau saja saat Amien main di Alun-alun Bandung sewaktu masih main kejar-kejaran, sebutlah usia 10 tahun, Perkiraan almarhum menceritakan tentang alun-alun Bandung yaitu pada tahun 1917.

Alun-alun Bandung betul-betul masih tegalan masih banyak bunga dom-doman yang menempel di sarung, masih ada pohon beringin, masih ada burung ungkut-ungkut, sirit uncuing di pohon beringin di alun-alun itu.

Selanjutnya katanya di alun-alun itu dahulu ada berbagai tontonan termasuk pertunjukan kesenian berupa angklung, calung, naek jambe, panahan, maen bola, dan sirkus. Kalau ada tontonan main bola lapangan ditutup dengan wide dari bambu. Gawang bola terletak di utara dan selatan. Sudah ada nama keindonesiaam PSSI dimana klub Bandung disebut PSIB yang kemudian menjadi PERSIB.

5 thoughts on “Pengarang Lawas Cerita Tentang Aloen-Aloen Bandoeng

  1. Sampurasun abah, manawi ngagaleuh bukuna Alm, Syarif Amin “Keur Kuring DI Bandung” dimana? nuhun😀

  2. kangope, nyaeta ieu teh kaetang buku langka, tos teu aya di toko buku zaman ayeuna mah, ayana di Perpustakaan Jabar di ruangan “Pojok Jabar” teu kenging ditambut dicandak ka bumi, dibaca di tempat bae, padahal eta teh foto copy-an margi aslina mah disimpen. Wassalam

  3. Ya atuh bah nuhun. Saur PT Granesia sasih ayeuna (Januari 2013) bade nyetak ulang buku ALm. Haryoto Kunto anu “Semerbak Bunga di Bandung Raya” sareng “Wajah Bandung Tempo Doeloe”😀

  4. Tah kitu atuh, hidup PT Granesia! tapi eta pangaosna buku “Semerbak Bunga Di Bandung Raya” geura, margi eta buku teh nya beurat nya kandel.

  5. Rupinamah nu “Semerbak Bunga di Bandung Raya” mah antawis 450 rb dugi 600rb an, anu “wajah bandung tempo doeloe” antawis 200rb – 300rb panginten😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s