Jasa Kentongan dan Beduk di Tanah Sunda

Bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi, Komunikasi dengan menggunakan cara-cara tertentu yang sudah disepakati bersama seperti lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tongtong juga adalah alat komunikasi (“Komposisi” 1980 oleh Dr. Gorys Keraf). Di Priangan – juga di tempat lain –  sudah sejak lama alat bunyian kentongan dan beduk telah dipergunakan untuk mengadakan komunikasi antara anggota masyarakat.

Ilustrasi Bale Nyungcung Kota Bandung dan Beduk. Dari Ramadhan di Priangan oleh Haryoto Kunto

Ilustrasi Bale Nyungcung di Kota Bandung dan Beduk. Dari Ramadhan di Priangan oleh Haryoto Kunto

Kentongan atau dalam KBBI disebut kentungan adalah bunyi-bunyian dibuat dari bambu atau kayu berongga (dibunyikan atau dipukul untuk menyatakan tanda waktu atau tanda bahaya atau untuk mengumpulkan massa). Sedangkan beduk masih dari KBBI adalah gendang besar (di surau atau masjid yang dipukul untuk memberitahukan waktu salat).

Beduk sebagai hiasan terletak di luar Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Beduk sebagai hiasan terletak di luar Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Tidak hanya kentongan dan beduk saja yang memberikan informasi waktu, menurut Ari Andriansyah dalam Cupumanik Juni-Juli 2012 bahwa sebelum akrab dengan tanda waktu berupa jam tangan, beker, dan jam dinding, orang Sunda untuk menyebutkan waktu dalam sehari semalam berdasar pada kejadian alam, posisi matahari, dan kebiasaan hewan berbunyi akan menjadi petunjuk waktu. Contoh nama-nama waktu di Tanah Sunda seperti: wanci tumorek (waktu sedang sepi sekali) sekitar jam 00.30, wanci disada rorongkeng (sebangsa suara binatang insekta), atau suara ayam berkokok sekira jam 02.30,  wanci janari kira-kira jam 04:00, wanci pecat sawed (saat alat bajak sawah dilepas dari kerbau penghela) sekitar jam 10.00-11.00, wanci manceran (saat matahari ada di atas ubun-ubun) sekira jam 12:00, wanci tunggang gunung (matahari ada di atas gunung) sekira jam 16:00, wanci sareupna (mulai gelap) jam 18:00 – 18:30, dan seterusnya sampai wanci tengah peuting (waktu tengah malam) jam 24:00.

Selanjutnya sebagai petunjuk waktu ditambah dengan tanda waktu datangnya perintah sholat. Kentongan dan beduk ditempatkan di masjid dipukul pada saat-saat sholat maghrib, isya, shubuh, zuhur, dan ashar.Memukul kentongan dan beduk ada caranya dan itu di masjid besar dilakukan oleh petugas yang disebut merebot. Misal ketika datangnya waktu sholat shubuh, ashar, maghrib, dan isya, yang dipukul kentongan dulu tong..tong ..tong..tong..lalu dipukul beduk dua kali dug..dug, lalu ulangi sekali lagi memukul kentungan dan beduk. Agak berbeda dengan waktu sholat zuhur yakni memukul dulu kentongan 4 kali terus dipukul beduk dengan ritme yang sama dan dari suara yang pelan dahulu lalu semakin keras dan semakin keras, terus juga menurun semakin pelan dan akhirnya sampai tidak kedengaran. Terus beduk diulang dipukul seperti tadi dari pelan ke keras dan sebaliknya, dilakukan sampai tiga kali naik turun. Lalu diakhiri dengan tong..tong..tong..tong.. dug..dug suara beduk dipukul dua kali. Mengapa berbeda barangkali suka-suka saja sepanjang disepakati oleh warga.

Menurut Asep Saeful Muhtadin dalam “Cupumanik” Mei 2012 ,selain untuk memberi tahu waktu sholat, kentongan dan beduk juga digunakan untuk memberi tahu warga akan terjadinya sesuatu yang penting/keadaan darurat seperti ada pencuri, kebakaran, ada orang meninggal, dan banyak lagi. Cara memukulnya bermacam-macam atau berbeda-beda sesuai dengan apa yang mau disampaikan. Yaitu seperti telah disebutkan cara memukulnya sesuai dengan kesepakatan diantara warga masyarakat..

Kentongan atau kohkol (bhs Sunda) sangat akrab dengan masyarakat Parahyangan, pengalaman penulis tahun 50-an zaman masih merajalelanya gerombolan DI di Ciamis utara  Jawa Barat mereka yang tak bosan-bosannya menjarah, membunuh, membakar rumah warga, dan teroro-teror lainnya. Disinilah kentongan sangat berperan penting untuk memberitahu warga tentang kondisi keamanan saat itu. Ronda terdiri dari beberapa laki-laki dewasa kadang disertai anggota OKD (Organisasi Keamanan Desa) keliling kampung sambil sesekali memukul kentongan kecil yang terbuat dari bambu. Jika terdengar “laporan” bahwa ada gerombolan DI di tempat yang cukup jauh akan dibunyikan kentongan besar yang digantung di Pos Ronda cara memukulnya tiga kali-tiga kali dengan jeda sesaat, secara terus menerus.

Warga akan bertanya: “Dimana gerombolannya Mang?”

Ronda yang lewat menjawab: “Masih jauh di Cicanggong, jangan terlalu lelap tidurnya!”

Kalau sekira si gerombolan DI tidak akan datang ke kampong tersebut maka akan dibunyikan kentongan dipukul sekali- sekali dengan jeda yang cukup, secara terus menerus, dan warga bisa melanjutkan tidurnya. Lain lagi dengan tongtong dibunyikan secara terus menerus dengan jeda waktu yang cepat itu tandanya bahaya sudah dekat dan si gerombolan DI sudah dekat dan warga diharuskan untuk bersembunyi di tempat-tempat aman dibimbing oleh para ronda dan OKD itu.

Kentongan dan beduk bekerja keras saat bulan Ramadhan tiba, selain dipukuli setiap saatnya waktu sholat tiba juga akan ditabuh kala munggah beduk ditabuh sepanjang hari menandakan bahwa esok hari puasa atau saum dimulai. Kemudian memukul beduk yang disebut ngadulag juga dilakukan pada hari tanggal lilikuran yakni malam tanggal 21, 23, 25, dan 27,  memberi tahu bahwa esok adalah hari ganjil malamnya banyak berzikir siapa tahu bertepatan dengan malam lailatul qadar.

Demikian juga kentongan dan beduk terus ditabuh saat esok hari akan Lebaran, terus malamnya beduk bertalu mengikuti yang bertakbir. Terakhir ngadulag adalah saat selesai sholat Ied dimana memukulnya kadang-kadang seenaknya saja tidak berinduk pada irama pakem yang telah ditentukan orang tua.

Zaman sekarang kentongan dan beduk banyak menganggur terutama di kota-kota, sejak ada speaker atau pengeras suara banyak kentongan dan beduk diam istirahat. Mengingatkan waktu sholat cukup dengan didengungkannya suara adzan, terus berbagai pengumuman cukup dengan “halow-halow pengumuman!” terdengar dari menara masjid.

Kentongan dan beduk di Masjid Agung Bandung yang  pada zaman baheula, karena masih sepi, konon kedengaran suaranya sampai ke lapangan Tegallega atau Pasar Balubur di bagian utara Bandung, kini boro-boro kentongan dan beduk kedengaran  sedangkan adzan yang dengan memakai pengeras suara saja juga mustahil bisa didengar.

Beduk dan Kentongan yang masih difungsikan dengan baik di Masjid Agung Jawa Tengah Semarang

Beduk dan Kentongan yang masih difungsikan dengan baik di Masjid Agung Jawa Tengah Semarang

Ukuran Beduk Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Ukuran Beduk Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Beduk di masjid besar Bandung memang kelihatan ada tetapi hanya dijadikan hiasan, beda dengan beduk besar di Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang, selain dipajang jadi kebangaan juga sewaktu sholat Jumat, setengah jam sebelum waktu tiba beduk dipukul terus-terusan sementar jamaah berdoa, bahkan ada penghapal Alquran yang menampilkan kemampuannya.

2 thoughts on “Jasa Kentongan dan Beduk di Tanah Sunda

  1. jtxtop, terima kasih jika berkenan apalagi menginspirasi, senang rasanya bisa berbagi, wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s