Nikah Urang Bandung di Bale Nyungcung

Masa kecilku tahun 50-an di kampung sana Ciamis Jawa Barat, acara pernikahan yaitu akad nikah dilakukan di masjid sedangkan resepsi pernikahannya diselenggarakan di rumah pengantin perempuan, tradisi sekarang tidak begitu terperhatikan, mungkin saja sampai sekarang masih melakukan akad nikah di masjid atau di Kantor Urusan Agama (KUA) yang biasanya terletak di dekat masjid juga.

Pelaksanaan walimatul urusy dalam hal ini akad nikahnya dilaksanakan di masjid kemudian selamatannya di rumah. Seingatku pengantin perempuan mengenakan kebaya, terus pengantin pria berpakaian sederhana saja bercelana panjang baju hem biasa, terus berkopiah hitam. Sebelum akad nikah dimulai pengantin perempuan dijajal kemampuannya atau diperlihatkan kebisaannya membaca ayat suci Alquran, beberapa ayat (tentusaja jauh sebelumnya sudah diajarkan bagaimana membaca Alquran dengan tajwid yang baik).

Setelah selesai akad nikah terus kedua pengantin dengan berjalan kaki pulang ke rumah dan dimulai acara adat biasanya acara nginjak telur, buka pintu, dan terakhir nyawer. Kemudian kedua pengantin duduk di pelaminan sederhana, terkadang duduk di bawah dengan hanya diberi tilam seadanya saja untuk menerima ucapan selamat dari para undangan.

Pangantenan di Bandung diceritakan oleh Us Tiarsa R. dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Ketika Bandung Masih Berembun). Tahunnya adalah tahun 1951, disebutnya saat itu sedang segala susah, bahkan hajatannya disebut siduru isuk (memanaskan badan pagi-pagi di depan tungku dapur) saja untuk menyebutkan kesederhanaan penyelenggaraannya. Meskipun hanya siduru isuk tapi seserahan dan upacara  adat dilakukan lengkap.

Pelaksanaan akad nikah saat itu belum lajim dilakukan di rumah akan tetapi di masjid, urang Bandung menyebutnya kaum. Ada dua kaum yang dipakai menikahkan yaitu di Alun-alun (Kaum Bandung) dan kaum Cipaganti.

Kendaraan yang digunakan untuk berangkat ke kaum adalah delman atau kretek, kereta ditarik kuda. Pakaian perempuan di kepala memakai makuta kemudian memakai sleyer yang panjang sampai ke belakang.

Waktunya menikahkan biasanya mengambil bulan Rayagung (bulan Zulhijah), jadi bulan itu ramai yang kawinan. Jika banyak yang ditikahkan terpaksa ngantri jadi penghulu sibuk dibuatnya, pengantin dan pengantar pada nunggu di emperan kaum, sudah cape dangdan dan memakai sleyer yang panjang sampai menyapu jalan, terpaksa menunggu selonjoran di emperan bahkan ada yang jajan sirop segala, calon pengantin merasa haus barangkali.

Selesai akad nikah kembali naik delman yang sudah menunggu dibariskan di depan kaum, terus kuda dipacu dan bel delman dibunyikan, nong nang, nong nang.  Umumnya pengantin dan pengiring tidak pulang dulu ke rumah tapi jalan-jalan dahulu pengantin diarak ada yang keliling kota Bandung, ada yang ke Derenten (kebun binatang), ke Situ Aksan, bahkan merasa perlu untuk lewat dulu di depan Hebe (Gedung Sate).

Masjid atau kaum itu disebut  Bale Nyungcung, bale adalah bangunan, kalau nyungcung bahasa Sunda yang artinya kerucut seperti bentuk limas runcing ke atas. Menyebut bale nyungcung di Bandung  tak diragukan lagi merujuk ke penyebutan masjid atau kaum itu. Bahkan dipercakapan hari-hari kalimat “pulang dari bale nyungcung” adalah habis dinikahkan.

2 thoughts on “Nikah Urang Bandung di Bale Nyungcung

  1. Terima kasih atas kunjungannya, semoga usahanya Lancar selalu. Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s