Gaya Dan Mode Berpakaian Bandung Tempo Dulu

Dahulu tahun 60-an, jadi sekira 40 tahun yang lalu, gaya dan mode berpakaian ala Bandung sudah mulai aku perhatikan, yang saat itu sedang menginjak usia remaja, Misalnya ketika  itu sedang musimnya celana cut bray, dibagian paha sempit terus melebar di bagian bawah kaki sampai berkibar-kibar saking lebarnya. Terus potongan celana itu terbalik dari cut bray ke bray cut, dimana di bagian atas lebar terus bagian bawah menyempit, seperti pakaian zaman gerilya.

Potongan celana terus berkembang dari cut bray ke bray cut, terus ke bray bray betul-betul ukurannya lebar-lebar dari atas ke bawah. Demikian juga ada masanya celana tidak sampai menutupi bagian atas sepatu tapi dibiarkan menggantung seperti kekurangan bahan, itu ada maksudnya, yakni sedang mulai banyaknya warna-warni kaus kaki nylon, dan itu bagian dari bergaya perlu diperlihatkan.

Ada saatnya warna-warni pakaian juga baik pria maupun wanita seperti sepakat untuk bersama-sama memakai batik yang saat itu tidak asing lagi namanya “batik Wonogiri” dimana-mana orang berpakaian batik dengan corak bunga-bunga dengan latar kuning atau merah. Sesudah bosan itu hampir se kota Bandung mewabah baju warna biru laut, namanya  biru benhur, karena sewaktu itu sedang inn film “Benhur”.

Karena aku sudah mulai beger, senang melihat wanita cantik berpakaian menarik, jadi termasuk agak memperhatikan cara berpakaian para gadis, saat di SMA dimana seragam belum dianjurkan, sudah ada teman perempuan sekelas bermini yakni berpakaian rok mini, rok ukuran pendek di atas lutut, tidak peduli sulit duduk di beca atau di kendaraan bemo. Berikutnya tidak dipakai ke sekolah,datang musim  rok potongan midi tidak panjang dan tidak pendek yakni rok memanjang sampai setengah betis, dan sempat terperhatikan rok yang sampai menyapu jalan disebut potongan longdress, biasa dipakai pada saat-saat resmi.

Bukan hanya warna dan potongan pakaian yang dikenakan akan tetapi sejak tahun 60-an banyak bahan pakaian mulai dari bahan kain katun paling sederhana jenis mori, kaci, balacu, dan berkolin, selanjutnya sepedrill, dan berikutnya masa bahan pakaian non katun yang praktis dari bahan tetoron kadang tidak perlu disetrika. Baju kaus bahan nylon demikian kaus kakinya sangat populer saat itu.

Ternyata gaya dan mode berpakaian di Bandung ada diceritakan oleh penulis misalnya cerita zaman kolonial Belanda dalam bukunya “Braga Jantung Parijs van Java” oleh Ridwan Hutagalung ( 2008) berbicara tentang mode pakaian para nonih Belanda belanja pakaian mahal dan modern di sepanjang Bragaweg.

Berikut Syarif Amin (1907-1991) dalam bukunya “Keur Kuring Di Bandung” (Saat Aku Di Bandung) zaman baheula, beliau menulisnya sampai 8 halaman dengan judul “Prak-Prakan Dangdan” (Cara-Cara Berpakaian).

Selanjutnya sasterawan yang lebih muda adalah Us Tiarsa R. dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Saat Bandung Masih Berembun) 2011,  bercerita tentang “Modeu”, “Koboy Peot”, dan “Klirmaker”.

Buku yang menyebut tentang pakaian di Bandung zaman ayeuna  (sekarang) ada pada buku “Wisata Paris van Java” 2011 oleh Her Suganda dengan judul: “Pasar Baru Bukan Pasar Biasa”, “Jalan Tamim Sisa Masa Lalu”, “Factory Outlet”, “Distribution Outlet Supaya Tampil Beda”, “Celana Cowboy dari Cihampelas”, “Mahanagri”, sampai ke “Rajutan Dari Binongjati”, “Cibaduyut”, dan “Biar Bekas Tetap Diburu”.

Pada tahun 1900-1930 terdapat toko-toko dan butik pakaian dengan mode terbaru dari Paris misal Au Bon Marche, Au Chat Noir, dan bermacam Maison. Toko-toko yang berada di Bragaweg (jalan Braga). Orang-Orang Belanda selalu memakai djas toetoep (satu jenis jas biasanya warna putih kancingnya sampai ke atas mendekati leher) sudah merasa menjadi Belanda modis. Demikian juga para nonih Walanda yakni para juffrouw dan mevrouw berebut fesyen di kota Bandung kata Ridwan Hutagalung 2008.

Itu untuk bangsa Belanda, pribuminya tidak mau kalah untuk golongan menengah dan sekolahan tulis Syarif Amin: Saat itu sedang musimnya memakai baju tutup sejenis jas lengkap dengan kancing depan dan kancing lengan. Ada yang aneh saat memasang celana panjang katanya didahulukan memakai sepatu, baru celana (apa tidak susah masuknya ya?). Katanya bepergian masih memakai dasi berbagai cara memasangnya juga jangan lupa membawa sapu tangan dengan cara dilipat tertentu dan kelihatan nongol di saku baju depan, dan jangan lupa saat itu masih memakai tutup kepala yang bernama bendo.

Demikian sementara Gaya Dan Mode Berpakaian Bandung Tempo Dulu, ceritanya masih panjang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s