Remy Sylado Di Atas Viaduct

Di Atas Viaduct

Kumpulan Puisi Kota Bandung

Banyak penulis, sastrawan, juga wartawan yang teringat atau terkenang atau terinspirasi oleh Kota Bandung. Maka dari itu Kota Bandung tidak hanya dinikmati sebagai kota tujuan wisata tapi juga dalam karya sastra seumpama puisi.

Ahda Imran penulis puisi, cerpen dan esai, telah menyuguhkan kota Bandung dalam bentuk sekumpulan puisi atau sajak dari berbagai penulis yang telah dia pilihkan dalam sebuah buku “Di Atas Viaduct” (Bandung dalam puisi Indonesia). Pada pengantar buku tersebut beliau menyebutnya atau mempersamakan dengan buku lain yang bermaksud menulis arsitektur kota dalam puisi.

Viaduct adalah jembatan kereta api,  yang ada di Kota Bandung ini dibuat agar tidak mengganggu jalan kendaraan lain, di bawah viaduct  selain jalan kendaraan mobil juga ada sungai yang membelah kota Bandung yaitu sungai Cikapundung. Yang disebut Viaduct di Kota Bandung ada dua satu di sebelah baratnya setelah setasiun Bandung yakni viaduct jalan Pasirkaliki, sedangkan viaduct yang dimaksud buku ini adalah viaduct yang ada di Kebonjukut sebelum Stasiun Bandung dari arah timur.

Kalau nama Remy Sylado tentu tidak bireuk lagi beliau adalah penulis novel dan puisi yang lahir di Ujungpandang12 Juni 1945, mengasuh Puisi Mbeling di majalah Aktuil Bandung 72 – 75. Kumpulan puisinya adalah “Puisi Mbeling”.

Puisi adalah kumpulan kata-kata indah, penuh makna, penuh permainan bahasa yang memikat dan sebagainya. Dalam KBBI puisi adalah 1 ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak.

Lalu kalau puisi mbeling yang dikomandani Remy Sylado adalah dalam KBBI juga disebutkan pusi mbeling adalah sajak ringan yg tujuannya membebaskan rasa tertekan, gelisah, dan tegang; sajak main-main. Tentu Remy Sylado tidak mau disebutkan main-main, beliau serius karena puisinya di buku ini termasuk paling panjang satu judul sampai 8 halaman.

Dalam puisi mbeling tulisannya di buku ini berjudul “Kota Kita”, Remy Sylado telah menulis puisi tersebut menceritakan Kota Bandung, ditulis tahun 1971, betul-betul bahasa yang campur aduk dalam bahasa Indonesia, Sunda, Inggris, bahkan Belanda. Bukan hanya bahasanya yang mungkin beberapa penikmat puisi tidak bisa mengerti maknanya, juga kata dan kalimatnya betul-betul edun (edan) dan pas kalau disebut mbeling.

Beliau Remy Sylado itu, dalam ke-mbelingan-nya tidak ragu menulia kata-kata ungkluk, ublag, dan bagong lieur untuk  menyebut pelacur yang demi sopan santun dalam bahasa umum diganti dengan wts atau pramu nikmat. Dan ini yang kalau anak-anak Sunda menyebutkannya bisa dijewer telinga oleh ibunya, yaitu secara terang terangan menulis, maaf, heunceut, itu adalah sebutan maaf sekali lagi, alat kelamin wanita.

Tapi demi kebebebasan berekspresi atau karena di KBBI juga terdapat ungkapan puisi mbeling, nampaknya pembaca telah memaklumi atau memberikan legitimasi kepada Remy Sylado untuk menulis kata atau kalimat yang jorang atau “cabul”. Barangkali disitulah nikmatnya membaca puisi mbelingnya Remy Sylado

Kalau Anda berkenan silakan membaca puisinya di bawah ini

4 thoughts on “Remy Sylado Di Atas Viaduct

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s