Bandung Baheula Dalam Cerita

Tentang Kota Bandung zaman lawas sering ditulis orang, yang paling banyak membuat buku tentang Bandung tidak diragukan lagi orangnya adalah Haryoto Kunto, saking menguasainya sampai detil tentang Bandung, beliau sering digelari Kuncen Bandung. Misalkan saja bukunya yang telah ditulis: Bandoeng Tempo Doeloe, PT Granesia 1984, Semerbak Bunga Di Bandung Raya. PT Granesia 1986, Ramadhan Di Priangan (Tempo Doeloe). PT Granesia 1996, dan Balai Agung Di Kota Bandung. PT Granesia, 1996.

Ada seorang lagi sastrawan dan sekaligus wartawan, ini angkatan diatas Haryoto Kunto adalah Sjarif Amin atau Mohamad Kurdie. Ada tiga buku novel roman yang disamping cerita fiksi tentang percintaan itu, pengarang ini selalu menggambarkan tentang keadaan zaman saat itu.

Buku Manehna & Babu Kajajaden

Misal buku berbahasa Sunda yang cukup terkenal yakni  Manehna, Kiblat Buku Utama 2001, Babu Kajajaden, Kiblat Buku Utama 2012, dan Nyi Haji Saonah, Kiblat Buku Utama 2005,

Manehna ( Si Dia) bercerita tentang perjalanan zaman dahulu naik kereta api ke Pangandaran pantai selatan Jawa Barat, dan yang paling banyak menceritakan kondisi zaman kolonial Belanda di Bandung adalah Babu Kajajaden (babu/pembantu rumah tangga jadi-jadian).

Buku Nyi Haji Saonah

 

 

 

 

Sedangkan buku Nyi Haji Saonah bercerita tentang zaman gerombolan DI

Apa dan siapa Sjarif Amin atau Mohamad Kurdie itu diceritakan kembali secara detil oleh sastrawan angkatan muda yakni Kang Hawe Setiawan

Sjarif Anin atawa Moehamad KurdieSjarif Amin atau Muhammad Koerdie (Ciamis, 7 September 1907 – Bandung, 1991) adalah salah seorang pengarang terkemuka di lingkungan sastra Sunda.

Ia juga dikenal sebagai wartawan surat kabar “Sipatahoenan”, dan mendapatkan penghargaan sebagai Perintis Pers dari menteri Penerangan.

Makanya tidak aneh kalau dalam buku cerita romannya tidak lepas dari data dan fakta serta kondisi zaman itu.

Beliau Sjarif Amin yang sepertinya menguasai betul bahasa Belanda dalam bukunya Babu Kajajaden kerap mencantumkan kata atau kalimat dalam bahasa itu, yang karena saking banyaknya istilah Belanda di akhir bukunya perlu mencantumkan lampiran tentang arti kata atau kalimat tersebut.

Sjarif Amin adalah tamatan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sekolah zaman Belanda setingkat SMP kini. Di MULO murid-murid belajar menguasai bahasa Belanda.

Buku "Keur Kuring Di Bandung"Buku non fiksi yang bercerita khusus tentang Bandung Baheula adalah “Keur Kuring Di Bandung” (Sewaktu Aku Di Bandung).

Buku karyanya yang legendaris dan lumayan susah dicari berjudul “Keur Kuring Di Bandung”. Konon lebih otentik data yang ditampilkan karena selain beliau sebagai wartawan yang biasa selalu menulis berdasarkan data dan fakta, ia juga hidup dijaman “Bandoeng normal” (dikutip dari airologikadotmultiplydotcom).

Gambar cover buku “Keur Kuring Di Bandung” (Sewaktu Aku Di Bandung)  difoto baru-baru ini di Bapusda (badan Perpustakaan Daerah) Jabar Bandung. Sampai dengan  saat ini belum sempat membacanya (karena buku tersebut walau kopian tidak boleh dipinjam dibawa ke rumah), mudah-mudahan lain waktu cerita tentang Bandung dari buku ini bisa diposting.

2 thoughts on “Bandung Baheula Dalam Cerita

  1. feriyadiramen, teu sawios tos teu aya aki oge, kantun ngorehan di aki google. terima kasih sudah berkunjung, blogna hebat yeuh, sok atuh sing rajin posting, teu acan komentar yeuh, engke ari tos salse. wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s