Better Late than Never “I Love You Istriku”

Saya ingin berterus terang bahwa saya ini termasuk pria yang tidak romantis, tidak tahu mengapa apakah pendidikan sejak kecil atau pengaruh lingkungan masa saya dibesarkan, jelasnya  tidak pernah menyatakan baik dengan kata maupun dengan tulisan kata-kata cinta. Kalau dengan hati dan perbuatan tentu saja diekspresikan  bahwa saya mempunyai rasa cinta. Saat sebelum menikah dan selama dalam ikatan pernikahan terhadap istri saya hampir lupa kapan saya mngucapkan kata cinta. Lagi pacaran juga rasanya tidak pernah, hanya harapan mudah-mudahan dimaklumi saja bahwa saya mencintainya.

Bersamaan dengan bertambahnya umur dan pengalaman hidup demikian juga pengalaman berumah tangga apalagi setelah mempunyai anak perempuan saya semakin sadar bahwa ternyata demikian besar peran perempuan dalam mengelola rumah tangga, menyayangi suami, bekerja keras mengurus pekerjaan rumah dari mulai matahari terbit sampai mata suami terpejam (kalimat terakhir diambil dari ucapan salah seorang pembela perempuan).

Persepsi baik saya terhadap perempuan memang sudah saya sadari sedari muda bahwa mereka memang luar biasa dan perlu dihormati. Yang mengilhami saya adalah ajaran agama yang harus menghormati kaum Ibu bahwa sorga ada ditelapak kaki Ibu, terus tentang ajaran nabi bahwa  siapakah yang duluan harus dihormati atau disayangi atau dicintai, nabi sampai menyataka tiga kali bahwa “Ibumu, Ibumu, Ibumu, setelah itu baru ayahmu”.

Terus saya juga tersadarkan ketika memperhatikan anak perempuan saya ternyata perempuan juga berprestasi baik atas pelajaran baik di sekolah atau dimanapun jika diberi kesempatan. Bahkan saya merasa kagum bahwa baik di sekolah maupun di perguruan tinggi predikat juara sering dimenangkan oleh perempuan.

Terus perjalanan hidup semakin panjang, jasa kaum Ibu semakin saya sadari sangat besar, sebagai penghormatan terhadap kaum perempuan, secara pribadi saya tidak pernah terlibat pada pembicaraan, dengan sesama lelaki  dalam membicarakan soal beristri lebih dari satu misalnya.  Pada saat bapak-bapak sering guyon tentang perempuan, biasanya di kantor saat bekerja atau beristirahat, membicarakn  soal poligami, saya tidak begitu tertarik. Biar saja  misalnya disebut atau digolongkan  sebagai komunitas suami takut istri. Karena saya selalu teringat atas Ibu, istri, dan anak saya yang mereka itu perempuan. Bagaimana sedihnya jika Ibu, saudara, bahkan anak perempuan saya dipoligami oleh suaminya, itu pendapat saya.

Berikut saya menyaksikan cucu saya, mereka diajarkan oleh ibunya (mantu) untuk pertama belajar mengucapkan “terima kasih”, juga belajar menyatakan “sayang” jika memang menyayangi seseorang, dalam ukuran anak tentu sayang terhadap Ibu Bapaknya, kepada kakek dan neneknya, bahkan kepada gurunya misalnya. Cucu saya tujuh tahun, kalau berkunjung ke rumah sering menyatakan kepada saya “Aki, aku sayang Aki!” atau kepada istri saya “Aku sayang Ninin!”. Demikian juga adiknya yang berumur 2 tahun meskipun belum lancar bicara mengekspresikan kesayangannya dengan cara membuka kedua tangannya mengajak berpelukan, bahkan tangannya menepuk-nepuk punggung saya.

Kerja keras kaum perempuan atau jelasnya mereka kaum ibu tentu saja patut mendapat penghargaan dan pengakuan dari suaminya dimana mereka “berbakti”, dan itu perlu dengan bahasa lisan utamanya perasaan kasih sayang dan cinta khususnya dari suami.

Pada tanggal 22 Desember 2012, hari itu adalah hari Ibu,  seusai sholat subuh berjamaah hanya berdua, saya pertama mengucapkan “Selamat Hari Ibu, Saya mencintai mu!”. Istri saya membalasnya dengan mengucapkan terima kasih. Kelihatan matanya berbinar, wajahnya sumringah bahagia.

Entah mengapa  perasaan saya demikian plong.

8 thoughts on “Better Late than Never “I Love You Istriku”

  1. Untunglah Pak Eman, akhirnya kata sederhana itu juga terucap juga dan masih di dengar oleh Ibu. Saya ikut bahagia membaca notes bapak ini🙂

  2. terkadang perhatian dan perlakuan kepada orang yg kita cintai lebih berarti daripada ucapan ya pak, walau tentunya semua istri akan bahagia sekali andai sang suami mengatakan kata cinta🙂

  3. Saya sangat senang membaca tulisan Bapak yg satu ini.
    Walaupun tanpa maksud memberi motivasi orang lain, buat saya ini memotivasi diri saya sendiri kepada istri untuk berbuat yg sama … Salam

  4. Jika kita menyayangi seseorang dengan tulus, khususnya mereka yang kita cintai yaitu keluarga, tak terasa kita akan mendapatkan hal serupa dari mereka

  5. seandainya para suami seperti bapak…………, alangkah bahagianya para istri, mungkin tak kan ada lagi kasus KDRT yg berujung pada perceraian……

  6. Heni, jangan berlebihan menilai saya, saya pun banyak kelemahan, tapi KDRT jangan sampai terjadi!, makanya sejak perkenalan dengan calon suami harus diperhatikan ke arah “perilaku menyimpang”. Terima kasih, wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s