Taman Maluku di Kota Bandung

Taman Maluku koleksi Sudarsono Katam & Lulus Abadi

Ketika saya membuka buku “Album Bandung Tempo Doeloe” karya Sudarsono Katam & Lulus Abadi terdapat uraian mengenai taman dan lahan terbuka di Kota Bandung.

Salah satu taman itu namanya, pada saat zaman kolonial, disebut Molukkenpark yang selanjutnya disebut Taman Maluku. Kemudian saya jadi teringat pada tahun 1964 sewaktu saya masih sekolah menengah. Saya sering lewat di taman ini karena memang jajalaneun kalau pulang pergi sekolah. Sering singgah di taman ini hanya untuk membaca atau menghapal pelajaran maklum di rumah banyak keponakan karena saya tinggal bersama salah seorang kakak.

Karena saya tidak punya foto Taman Maluku pada tahun 1964 jadi tidak bisa menunjukan bagaimana keadaan taman itu pada tahun tersebut. Namun di buku yang saya baca tersebut ada foto tahun 1938 yang menurut saya tidak banyak berubah dengan apa yang saya lihat pada tahun 1964.  Seperti foto terlampir di atas.

Empat puluh tujuh tahun kemudian, saya sangat ingin bernostalgia duduk sesaat di taman tersebut syukur sambil membaca dan mengenang masa lalu, terutama saat itu di jalan Saparua, disamping Taman Maluku, ada tukang mie kocok yang perasaan pada saat itu mie kocoknya rasanya enaaak sekali. Mie kocok adalah mie kuah yang tidak ada baksonya akan tetapi penuh dengan kulit kaki sapi yang gurih dan empuk. Walah.. menghapalnya sedikit malah kenyang dengan mie kocok.

Pintu masuk taman dikunci digembok rapat

Maka ketika ada kesempatan, pada bulan Desember 2011 ini saya sengaja datang ke Taman Maluku ini. Akan tetapi saya lumayan agak kecewa karena taman Maluku yang berada diantara jln Sulawesi, jln Ambon, jln Saparua, dan jln Aceh ini dipagar rapat setinggi kurang lebih 2 meter dan ada tiga pintu masuk namun digembok dikunci rapat.

Kemudian saya hanya bisa melihat dari luar dan terus berkeliling taman yang luasnya 6.000 meter persegi sambil memotretnya. Mengapa taman yang tadinya terbuka jadi dipagar setinggi itu, alasannya  adalah “selain demi estetika kota dan revitalisasi Taman Maluku bertujuan untuk menghilangkan praktik asusila yang kerap terjadi di taman tersebut. Oleh karena itu, pagar setinggi 2,5 meter itu dipasang rapat dan tanpa tiang palang sehingga menyulitkan orang untuk meloncatinya.

Selama ini, area taman tersebut juga kerap dijadikan tempat tinggal para tunawisma. Menurut Mustofa, di arena taman terdapat belasan tunawisma yang setiap hari tidur dan bertempat tinggal.”Nanti, kalau sudah dipugar dan dikunci pagarnya, mereka tidak bisa lagi tinggal di taman,” ujarnya.” Demikian dikutip dari koran Bandung.

Saat ini bulan Desember tahun 2011, karena dikunci dengan gembok, pengujung tidak bisa masuk juga dengan sendirinya tidak ada lagi kaum tuna susila juga tidak kelihatan para tuna wisma. Taman kelihatan lebih rimbun dengan pohon-pohon yang sudah menjulang tinggi, sejuk dan semakin enak kalau duduk-duduk di Taman ini sambil.. makan mie kocok.

Inilah foto-foto yang saya buat dijepret dari luar pagar:

Taman Maluku dengan kolamnya

Taman Maluku dengan pepohonan yang sudah menjulang tinggi

Taman Maluku ada jembatan dan saluran air yang rapi

Patung Pastor Verbraak penungu Taman Maluku, kesepian tanpa pengunjung

Disatu sisi memang Taman Maluku jadi terpelihara keindahannya, bersih tidak ada sampah plastik, tidak ada PSK, tidak ada para tuna wisma, akan tetapi di sisi lain taman tidak berfungsi maksimal karena pengunjung tidak boleh masuk. Oleh karena itu kepada pemerintah daerah saya usulkan:

  1. Tolong taman ini segera dibuka untuk umum dan tentu saja harus ada penjaganya agar tidak dipakai hal-hal negatif.
  2. Dan jika memungkinkan tolooooong kembalikan tukang mie kocok, karena ketika saya lewat jalan Saparua angkringan mie kocok sudah tidak ada bekasnya lagi, he he he..

8 thoughts on “Taman Maluku di Kota Bandung

  1. Pak Eman ini konsisten sekali menulis tentang Bandung yang memang penuh inspirasi. Banyak hal-hal yang bisa saya pelajari dari tulisan Pak Eman. Semoga tulisan-tulisan Bapak semakin memberikan inspirasi bagi setiap orang untuk lebih mencintai kotanya masing-masing..

  2. Kalau taman dibengkalaikan dan tak diurus emang akan beralih fungsi jadi tempat yg enggak2 Pak. Mestinya Pemda tidak membengkalaikan taman yg penuh sejarah ini, menyisihkan sedikit anggaran untuk keperluan tersebut. Atau karena namanya menyandang nama Maluku, bisa kerja sama dengan pemda Maluku dalam perawatannya.

  3. wow ….. tamannya hijau sekali ya pak, cantik walau dipagar begitu. Melihat foto lama taman ini jadi inget di sekitar kampung saya di sini sekarang, pemandangannya juga sama, taman dibiarkan terbuka begitu saja tanpa ada pagar penutup dengan pohon2 raksasa yg rindang dan hamparan rumput menghijau

    susah juga ýa kalau byk tunawisma dan tunasusila memanfaatkan taman ini pak jika terbuka begitu saja sayang sekali kalau taman ini tidak dimanfaatkan ya, setuju sama usul bapak, tamannya dibuka dan ada yang menjaga .

    jadi pengen juga merasakan mie kocok🙂

  4. Seperti makan buah simalakama dimakan bapak mati tidak dimakan ibu mati. Pemda sedang mendengarkan suara binatang tokek. tokek.. buka, tokek.. tutup, tokek.. buka, tokek.. tutup, dst.
    Mie kocok yang lengkap adalah mie kuah tambah kecambah, tambah sedikit sayur sawi, dan itu yang menggoda adalah kulit kaki sapi yang dipotong-potong kecil tebal dan empuknya itu, makannya dengan kerupuk kampung biasa itu, dan biasa sambil berdesak-desakan karena laku dan banyak penggemarnya. Di Bandung ada penjual mie kocok di jalan Kebon Kawung persis kalau keluar dari Stasiun Bandung. Dagangnya di roda dorong dan nangkring di dekat toko kue Kartika Sari.

  5. Atau menunggu sampai kesejahteraan bangsa secara umum membaik dulu, mudah-mudahan gepeng, tuna wisma, tuna susila, pkl yang memenuhi trotoar jalan akan sedikit berkurang dan pengawasan taman tidak terlalu berat

  6. Maunya begitu Bu, biar banyak orang lebih peduli terhadap lingkungan hidup dan keindahan kotanya. Jadi tempat tinggal kita tetap terpelihara keasrian dan kenyamanannya

  7. Pak, apa benar Patung Pastor Verbraak itu mistis kalau malam. Katanya, matanya itu bisa bergerak dan melihat-lihat gitu ya. Saya dapat kabar ini dari temen2 yg sering kesana

  8. Dit, saya belum pernah ke sana malam-malam, tapi rasanya tak mungkin kan itu hanya patung biasa tak ada sama sekali perasaan angker atau merinding apalagi ada hal-hal mistis, benar-benar patung, hanya sekedar patung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s